LOGINPerjodohan tiba-tiba antara Arabella Swastika dan Rengga Aditama. Mendapat tanggapan yang berbeda dari keduanya. Rengga Aditama seorang pewaris dengan kecenderungan yang tidak diketahui banyak orang termasuk keluarganya sekalipun. Sempat frustasi oleh paksaan menikah dari Mamanya. Akhirnya menyetujui rencana tersebut setelah melihat foto gadis yang akan di jodohkan dengannya. Sekilas perhatian Rengga teralih pada gadis dalam foto tersebut. Membuat dirinya benar-benar tertarik dan antusias dengan rencana perjodohan tersebut. Lain halnya dengan Arabella yang lebih di kenal dengan sebutan Bella. Terkejut bahkan ingin menentang rencana orang tuanya. Namun setelah pertemuan pertama dengan Rengga. Berhasil mengubah pikiran Tika akan sebuah perjodohan. Berpikir mungkin inilah saatnya untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Dengan menerima perjodohan ini. Rencana pernikahan berjalan, tanpa diketahui oleh Bella. Bahwa Rengga memiliki sebuah kecenderungan seksual yang menyimpang. Hal ini menjadi tantangan dan kepuasan tersendiri untuk Rengga. Stelah mengetahui perasaanya berkembang untuk Bella. Rengga sering kali menjadi bimbang dan plin plan akan sikapnya. Di satu sisi dia ingin menadapatkan kepuasan dengan terus membuat Tika hamil tapi juga tidak tega untuk menyakiti Bella. Sedangkan Bella, dengan segala sikap baik hatinya. Mampu menerima Rengga apa adanya tanpa mengetahui penyimpangan seksual suaminya. Akankah Bella bisa bertahan atau Rengga memilih untuk menekan kecenderungannya. Hingga sembuh dari penyimpangan tersebut.
View MorePOV Bella Pagi hari sebelum matahari menampakkan cahayanya. Mas Rengga sudah membangunkanku dengan cara kesukaannya. Berjalan pelan ke tepi pantai. Kami bertelanjang kaki menikmati air laut. Yang menjilat kaki kami seiring deburnya yang menepi. Lalu sedikit menjauh, duduk diatas pasir. Tanpa meminta, Mas Rengga sudah mengerti. Dengan menarikku perlahan untuk duduk dengan nyaman. Sweternya sudah membukus setengah badanku. Melindungi dari terpaan hawa dingin dipagi hari. Semalam, dengan telaten dia membereskan pakaian kami, ke dalam lemari yang sudah disediakan. Dan diluar dugaanku, dia bertahan tanpa menyentuhku. Walau setiap kali bersama, dia hampir lepas kendali. Posisiku begitu nyaman,
POV Bella Hari selanjutnya, aku dikejutkan dengan kehadiran Dokter Brian saat makan siang. Mas Rengga juga memilih makan siang dirumah. Padahal jarak antara kantor kerumah ini, lebih jauh. Setelah berbincang santai dengan dokter Brian. Aku mulai paham, alasan kenapa dia datang. Bayangan yang memaksa hadir dalam pikiranku tersebut. Menjadi ketakutan tersendiri untukku. Setiap kali melihat ranjang dari sofa, yang berada bersebrangan. Selalu mengingatkanku, pada pesan Renita. Kemudian ulasan bayangan Rengga dan Renita. Bergumul dibawah selimut yang sama. Dengan tanpa satu helai kain yang menutupi tubuh mereka. Agaknya sering kali mengganggu pikiran dan mempengaruhi moodku. Selama sisa kami berad
POV Rengga Andre datang setelah 15 menit kami menunggu. Aku silahkan dia memeriksa kondisi Bella, yang masih belum sadar. Aku was-was, menunggu hasil pemeriksaan Bella. Melihat raut wajah tenang Andre. Kini terasa tampak lebih mengkawatirkan. Dia sudah merapihkan alatnya, memasukkan kedalam tas. “Apakah Bella pernah punya riwayat gangguan kecemasan?” tanya Andre tenang. Pertanyaan Andre jelas tidak biasa. Mengingat Bella selalu tampak tenang, diam juga ceria. “Dia pernah mengalami sedikit trauma dibangku SMA Dok. Apakah ada hubungannya dengan keadaannya saat ini?” tanya Ibu cemas. Andre masih terlihat mengamati Bella yang belum sadar. “Sejauh ini. Itu diagnosa yang bisa saya berikan. Mung
71 POV Bella Setelah perjalanan yang cukup lama. Karena dihadang kemacetan jakarta. Akhirnya kami sampai dikedai es krim. Yang biasa aku kunjungi bersama Mas Rengga. Dia membantuku turun dari mobil. Sedangkan kedua anak lelakiku, sudah gesit menarik kedua tanganku. “Hati-hati Aldo, Ares ingat kondisi Mama,” kata Mas Rengga dengan nada tegas. Aku usap kedua puncak kepala mereka. Berusaha mencairkan suasana, dengan senyuman lembut. Sedangkan Amira sudah digendong Mas Rengga, mengikuti dari arah belakang. “Papa hanya kawatir sayang,” ucapku menenangkan. Setelah kami sudah duduk didepan kedai.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.