LOGINWARNING: This book unapologetically contains very dark, raw, and mature content. It is not advisable for underage readers. If you're not into reading erotica, do not open this book. But if you dare, prepare to be captivated by a world of intense desire and forbidden love. For Pleasure Only is a compilation of dirty, erotic romance story you can only imagine and find in books. This book is capable of opening and ushering you into an erotica world you have no idea about. This compilation of erotic romance stories will keep you on the edge of your seat, offering a tantalizing escape into a world where passion knows no bounds and desires are unapologetically fulfilled.
View MoreTepat dua tahun sudah, Kanaya meninggalkan kota kelahirannya. Kota yang meninggalkan banyak kenangan indah dan pahit bagi dirinya. Berparas cantik dan manis itulah yang melekat di diri seorang designer berbakat itu. Demi melunasi hutang ayahnya, ia harus bekerja keras untuk melunasinya seorang diri.
Pagi yang cerah secerah senyum manis Kanaya. Kedua matanya yang berwarna coklat, lentik bulu matanya yang tebal tak berhenti mengerjap menatap pemandangan yang berlari mengikuti laju kendaraan yang ia tumpangi saat ini
"Akhirnya, aku bisa pulang!" kata Naya yang seakan tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Karena pekerjaannya yang menumpuk, kanaya tidak bisa mendapatkan cuti seperti teman-temannya yang lain. Sebuah tanggung jawab yang harus ia pikul seorang diri menjadi seorang designer di tempat kerjanya.
Perlahan, kedua bola mata indah itu mulai terpejam. Sebuah rumah yang merupakan peninggalan terakhir dari ayahnya, mulai melintas dalam pikirannya. Banyak kenangan indah dan manis yang ada di rumahnya tersebut.
"Naya, mama dan Laura akan ke Bogor. Mama juga sudah merenovasi rumah sesuai dengan keinginan kamu!" Perkataan mama Dina yang terucap dua hari sebelum Kanaya mengambil cuti. Kanaya membuka kedua matanya kembali. Ia tersenyum lebar saat dirinya telah tiba tepat di depan rumahnya.
Kedua kakinya yang mulus mulai turun dari taksi yang telah mengantarkannya sampai rumah. Jaket tebal merah yang melekat di dirinya membuat Naya terjaga dari dinginnya udara di kota kembang tersebut.
Naya membuka kacamata hitamnya, manik bola matanya berbinar menatap rumah yang mempunyai banyak kenangan indah bagi dirinya. Tak ada yang berubah. Halaman rumah, tanaman bunga peninggalan mamanya bermekaran begitu indah. Banyak kupu-kupu yang hinggap dan seakan tak mau jauh dari bunga tersebut.
"Kalian begitu indah! Aku tak menyangka, mama Dina dan Laura mau merawat kalian selama aku pergi!" ucap Naya memegang kelopak bunga mawar dan mencium aroma wanginya.
Naya tersenyum. Kedua matanya berputar mencari keberadaan pak Udin yang merupakan satpam di rumahnya tersebut. Ia mulai berjalan ke arah pos jaga yang biasanya menjadi tempat bagi pak udin untuk melakukan pekerjaannya.
Naya mengernyit. Ia sama sekali tak menemukan pak Udin di tempat pos jaga.
"Ke mana pak Udin? Apa beliau ada di dalam?" tebak Naya menoleh ke arah rumahnya."Yach, mungkin pak Udin ada di dalam. Pasti lagi mengecek keadaan rumah!" gegas Naya menuju ke dalam rumah seraya menggeret koper miliknya.
Ceklek
Sepi dan hening.
Sesaat, Naya terkejut ketika ada yang berbeda dengan rumahnya. Kondisi rumahnya yang masih sama seperti dua tahun yang lalu dan tak ada renovasi seperti apa yang ia inginkan.
"Ke mana foto keluargaku? Kenapa nggak ada?" Kedua matanya berputar mencari keberadaan foto keluarganya yang biasa tidak terpajang di dinding.
"Apa mama Dina membuangnya?" tanyanya memicing. Ia mulai melangkah dan melihat isi rumahnya yang benar-benar tak ada yang berubah. Hanya foto keluarga besarnya yang hilang dari rumahnya.
"Kenapa jadi seperti ini? Bukankah mama Dina bilang sudah merenovasinya?" Naya bingung sembari melipat bibirnya. Rasa kecewa mulai menghampiri wanita cantik dan putih itu. Ia tak menyangka jika mama tirinya tega berbohong kepadanya akan hal ini.
"Apa maksud mama Dina membohongiku seperti ini?" gumam Naya seraya memegang kedua tangan di pinggangnya. Tatapan matanya memicing menatap ke arah kaca yang memantulkan barang yang ada di belakangnya. Sosok beberapa orang yang bertubuh besar, mengenakan jas hitam tersenyum ke arahnya.
"Selamat Siang, Nona Inzen!" sapa seseorang yang membuat Naya kaget dengan panggilan itu. Nama yang tak pernah lagi ia dengar sejak ayahnya menikah dengan mama Dina.
Naya menoleh dan terkejut melihatnya. Kedua mata indahnya tak berhenti mengerjap, kedua tangannya seketika gemetar melihat mereka yang terlihat begitu menyeramkan.
"Si-a-pa kalian? Kenapa kalian masuk ke rumah saya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu!" tanya Naya menghentikan langkah mereka.
Mereka hanya tersenyum dan menyodorkan seberkas surat yang ada di dalam map berwarna hitam.
"Apa ini?" tanya Naya mengernyit dan mulai membuka surat tersebut dan membacanya secara perlahan.
Sejenak, Naya terbelalak kaget dengan isi surat yang mencantumkan atas nama Lukman Argantara sebagai pemilik rumahnya yang sah.
"Apa maksud semua ini? Kenapa rumahku menjadi milik pak Lukman Argantara?" tanya Naya dengan mata berkaca-kaca.
"Pak Lukman sudah menunggu Anda, Nona Inzen. Beliau akan menjelaskannya tentang masalah ini," tutur Roy, salah satu kepercayaan pak Lukman Argantara.
Naya menghela nafas panjang. Ia bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Spontan, ia mengusap air mata yang menetes begitu saja. Tenggorokannya kering dan terasa sakit saat salivanya tertegak dengan paksa.
"Mari Nona!"
"Kenapa pak Lukman ingin bertemu dengan saya? Dan kenapa beliau juga tidak datang ke sini untuk menjelaskannya?" tanya Naya penasaran.
"Saya tidak tau, Nona!" jawab Roy.
Alih-alih tidak mau berdebat dengan mereka. Naya memilih untuk diam dan mengikuti perintah mereka yang akan membawanya untuk bertemu dengan rentenir yang sudah meminjamkan uang pada ayahnya dulu.
*****
Semua bertepuk tangan menyambut pimpinan terbaru Hotel De Lena. Tampan, cool dan begitu perfect itulah yang di miliki pewaris tunggal dari keluarga Towsar. Alen Towsar, putra tunggal dari Elena Towsar yang sebelumnya berprofesi sebagai pembalap motor.
Demi keinginan sang ibunda tercinta, Alen terpaksa meninggalkan pekerjaan sekaligus hobinya itu. Memimpin beberapa hotel yang telah di bangun oleh sang bunda.
"Ya ampun, aku tak menyangka kalo Alen Towsar adalah anak dari ibu presdir. Sungguh seperti mimpi!" kata Agnes, salah satu karyawan hotel yang juga mengidolakan Alen Towsar.
"Iya, tapi dengar-dengar ia berhenti menjadi seorang pembalap demi menggantikan ibu presdir!" sahut Nita.
"Benarkah? Oh No! Jadi, sekarang aku tak bisa melihatnya memakai baju balap lagi, dong!" kata Agnes mengernyit menatap ketampanan Alen yang terlihat begitu jauh dari dirinya."Tapi nggak apa, deh! Setiap hari aku 'kan bisa melihatnya secara langsung, tidak di layar televisi lagi," ucap Agnes sumringah sembari memegang kedua pipinya.
Sepanjang perjalanan, Naya menyandarkan kepalanya seraya memejamkan mata.
"Yang saya tau, Ibu dina telah menjual rumah ini untuk membayar hutang ayah nona yang bertumpuk di pak Lukman. Rumah ini juga belum bisa melunasi hutang ayah nona sendiri. Dan, sebagai kurangannya, pak lukman menginginkan nona untuk menjadi istrinya." Perkataan orang suruhan pak Lukman mulai melintas kembali diingatannya.
Naya spontan membuka kedua matanya. Ia melirik ke arah mereka yang duduk di depan dan di samping dirinya. Ia merasa seperti seorang tawanan yang ada di film yang biasa ia tonton. Sangat sulit baginya untuk melarikan diri dari semua ini.
Ya Tuhan, apa maksud mama dina? Bagaimana bisa aku dijadikan jaminan untuk menjadi istrinya pak lukman? Seharusnya, uang yang aku kirim setiap bulan itu sudah bisa membayar sebagian hutang ayah. Tapi, kenapa hutang dan bunga ayah semakin banyak? batin Naya bertanya.
“Your claws, right?” Daisy asked her. “In case you haven't noticed, the strange energy in the air died along with Asper. Whatever magic he was using is now gone, and so are your false powers. You're just plain old Neena now.”Neena looked up in horror. “No, no, this can't be happening. Please, don't kill me. I could still be of use to you. Keep me as a slave or anything.” She collided with Appa as she backed away and he shoved her angrily. Smiling, Aiden turned to look at Daisy. “Do you want to do the honors?”“With pleasure,” she replied, licking her lips. “No, please,” Neena pleaded and so did Abut Daisy ignored their cries as she extended her claws. Neena turned to run but Daisy suddenly appeared at her side. “When you see Leon on the other side, be sure to tell him I sent you, and that I did it happily,” Daisy said and Neena looked at her with dismay.With one vicious slash, Daisy sunk her claws into her. But she didn't stop there. She continued slicing her, just like Neena had
I heard a satisfying cry from him but he still didn't give up. The earth rumbled as we struggled with each other, hoping to get the upper hand. We inflicted several injuries on ourselves, yet, none of us gave in to the other. The longer we fought, the more energized I felt. I guessed it was the same with him because his attacks became more and more intense. He tried to throw me to the ground, but I held fast and when I saw that he was concentrating all his energy on that one move, I reached out with my second paw and swept him off his feet. He didn't move after that and I turned back in Aiden's direction. He was sitting with his back against the wall of a nearby house and Neena was standing close to him. I growled and started running in their direction but I had only gone a few meters when I heard teeth gnashing behind me.“Daisy! Behind you!” Aiden yelled, pointing in my direction. I turned as fast as I could but it wasn't fast enough to defend myself from Asper's attack. His pa
I'd never felt so much hatred for anyone than I did myself in that moment. Since I had nowhere else to go, Aiden's pack was the only place I could return to, even though it was the last place I wanted to go. That was the only place that still felt like home and it was Aiden that made it feel that way.Now, with his absence, I wasn't sure it was going to feel like that again. Dejected, I walked away from the burnt house and headed back. As I walked through the woods, I stayed on alert, ready to defend myself against anyone that might attack.I knew Neena and Asper would still be looking for me, and if they happened to come across me as I was heading back, then I would have to be the one to defend myself. I held my claws ready as I went, jumping at every slight movement or sound. But I had no trouble on my way back. At some point, I realized I was heading in the direction of the cottage and changed directions immediately. Nothing could ever make me go back to that dreary place. I was r
The pressure of his leg on my neck restricted my airflow and I found it hard to breathe. I struggled against him but he was too strong and when I realized that struggling was only making things worse for me, I gave in, ready to accept whatever was going to happen. Jeff was still unmoving and he had also returned back to human form. Neena was the only one still in her wolf form and she maintained her distance from Asper. She was still scared of him even now that she had the advantage. Asper pressed my neck harder, making me cough as I inhaled dirt in an attempt to breathe. Forcing my hand to move, I brought it up to pat his leg repeatedly but he kicked it away with force. I winced from the pain that shot up my arm and I could hear my own heartbeat thudding against the ground as I anticipated what was going to happen next. That was probably the end of the road for me. Neena was the only person that could possibly help me in that situation and I couldn't trust her to do that, not if A
“You all should stand aside,” I said calmly, hoping that my words will resonate with them. “If you fight me, I will not hold back.”“Then don't hold back!” someone yelled. “We're tired of your rule!”“Yes! Like Appa said, it has brought nothing but death and destruction!” Their words broke my hea
It was just a question, but the expression on Matt’s face told me all I needed to know. It was obvious that ever since the last battle, the pack was still in turmoil.Appa gave me a side glance, but I shook my head to tell him not to bother revealing that I could hear the conversation. He turned ba
“Don't be stupid.” He had a vexed expression. “He can handle himself. He didn't become a feared Alpha for nothing. You, on the other hand, have more likelihood of failure than of success.”I paused and turned. “What?”“You'd only slow him down.” His expression was grim. “Whatever he's doing, let hi
“There's no moon in the sky, you fool, and it's not even night yet,” Jack chided. Thankful that their attention had been directed away from her, Neena took the opportunity to put more distance between herself and them. She'd only gone a few meters when one of them suddenly turned in her direction.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews