Home / Romansa / Forbidden Lover / Chapter 4: Disainer

Share

Chapter 4: Disainer

Author: Romaneskha
last update Last Updated: 2021-02-22 06:50:25

Ana menghela napas, ada perasaan bersalah merangkulnya jika saja ia menyendok makanan berkuah di hadapannya. Entah kenapa kata-kata Dokter Ruin menjadi penting pada moment-moment itu. "Pikirkan tentang Vanessa!" Kata-kata itu seperti satu-satunya senjata bagi Dokter Ruin agar Ana patuh. Dokter muda itu telah menuliskan daftar menu makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh Ana. Dan tentu saja Ana mengabaikannya. Anehnya, "tentang Vanessa" yang selalu menjadi penutup pembicaraan mereka, Ana menjadi tahu semua hal yang baik dan yang akan memperburuk keadaannya. Mungkin tak semua pengetahuan tentang bagaimana ia harus bertahan hidup ia pelajari dari Dokter Ruin, ada lebih banyak pengalaman yang membuatnya merasakan sakit dan akhirnya membuatnya jera.

"Aku telah banyak berpikir tentang ini," lirihnya. Bukankah cepat atau lambat akan sama saja. "Aku akan mati juga," pikir Ana seraya menyendok kuah mie instant. Tak peduli setelah itu ia akan bisa tidur atau tidak, perempuan itu seperti ingin menyiksa dirinya sendiri.

[...Selamat siang pemirsa! Sekarang saya berada di Paris, Perancis. Di sini sedang berlangsung acara tahunan yang pasti dinantikan oleh semua pecinta mode dunia dan akan menjadi kiblat trend fashion tahun ini. Ya! Paris Fashion Week. Dan percaya kah Anda... kalau ternyata... ada desainer muda Indonesia yang juga ikut andil dalam acara hari ini. Siapakah dia... langsung saja kita temui...]

"Julian!"

Ana tertegun di depan televisi. Bukan sebuah kejutan hanya dengan mendengar nama itu diucapkan oleh seseorang. Hanya saja, sudah lama ia tak melihat senyum itu. Senyum sederhana yang meneduhkan. Senyum dari seorang laki-laki yang ia kenal.

Sejenak Ana meneteskan air matanya, sejenak kemudian ia mulai tersenyum. "Desainer?" lirihnya. "Bagaimana mungkin seorang berandalan bisa menjadi desainer?"

Bibir Ana bergetar ketika sekali lagi ia menjejali mulutnya dengan makanan di hadapannya. Julian yang ada dalam pikirannya, Ana sudah putus asa menanti kehadiran orang itu. Dan sekarang Ana melihat Julian, meski hanya dari televisi, itu seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

"Setidaknya dia baik-baik saja," Ana mulai berkompromi dengan hatinya. Ada perasaan benci mengingat orang yang ia sebut Kakak, meninggalkannya begitu saja dan selama enam tahun tak memberi kabar. Ana ragu jika orang seperti itu yang disebut keluarga. "Paris!" lirih Ana lagi. "Kenapa pergi sejauh itu?" Julian yang ia tahu, yang selalu menungggunya di gerbang sekolah hanya untuk menjemputnya, yang akan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng jika saja ada sesuatu yang akan melukai Ana. Orang seperti itu, bagaimana mungkin pergi begitu saja. Kecuali ada sesuatu yang salah di diri Ana dan Ana tak menyadarinya. Ana memikirkan itu sejak lama. Hal yang hampir membuatnya gila. Sesuatu yang membuat Julian tak mau melihatnya lagi, ia samasekali tidak tahu apa itu.

<>

Sudah dua jam Ana diam saja, tatapannya kosong pada satu-satunya foto Julian yang ia simpan. Foto yang Ana ambil diam-diam hampir sepuluh tahun lalu di depan gerbang sekolah. Tidak banyak yang berubah dari penampilan orang itu, hanya saja Julian yang sekarang bukan anjing peliharaan ayahnya lagi. Ia telah bebas, ia punya sayap yang kuat hingga terbang sangat jauh. Ana tak sanggup mengejarnya dan Ana tak punya cukup waktu lagi untuk melakukan itu, hanya untuk bertanya "Kenapa tiba-tiba pergi? Apa karena aku? Aku yang selalu menjadi beban buatmu? Benarkah itu?"

Ana mengambil ponselnya, mencari sesuatu tentang Julian di mesin pencari. Tidaklah sulit. "Julian", desainer yang menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku mode dunia atas karyanya yang baru-baru ini muncul di Paris Fashion Week dan mendapatkan penawaran tertinggi atas karyanya Le Reve, sebuah gaun pengantin yang sederhana, namun membuat banyak wanita bermimpi ingin memilikinya.

Julian d'Art, sebuah butik di Paris yang tentu saja didirikan oleh Julian. Ada alamat dan nomor kontak yang bisa dihubungi. Ana tak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan. Sudah seharusnya ia berhenti untuk memikirkan Julian. Julian tidak berarti apa-apa dibanding hidupnya sendiri dan Vanessa. Tapi, seakan-akan ada yang belum selesai di antara mereka, yang membuat Ana tak puas. Ana menekan nomor kontak butik tempat Julian berada, tanpa berharap itu terhubung atau seseorang menerima panggilannya.

"Good Morning! Julian's Boutiq. Can I help you?"

Seorang peempuan menyahut. Ana mulai merasa gugup.

"May I...," kata-kata Ana tertahan.

"Yes?"

"May I speak to Mr. Julian Andreas Segovia, please?" lanjut Ana.

"Sorry?"

Agaknya nama Segovia tidak muncul dalam artikel yang sempat dibaca Ana.

"I mean Mr. Julian?" ralat Ana.

"Oh,... ok. But, I'm sorry. He is not here at the moment. Would you like to leave a message?"

Ana menghela napas. "No, thanks," katanya.

"May I tell him who's calling?"

Cukup lama Ana terdiam, sampai ia menekan tombol merah di ponselnya. Tidak ada yang istimewa ia kira jika ia sebutkan namanya. Seharusnya cukup tahu Julian baik-baik saja. Cukup untuk mengganggunya dan menjadikan dirinya anjing peliharaan. Cukup untuk membuat Julian lelah. Sudah seharusnya membiarkan laki-laki itu hidup dalam dunianya sekarang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Forbidden Lover    Chapter 53: Epilog (END)

    Namaku Juliana Segovia. Ayahku seorang desainer terkenal dunia, namanya Julian Andreas Segovia. Ibuku, maksudku... ibu tiriku adalah model terkenal bernama Isabel Clara Denova. Sepanjang ingatanku, aku tidak pernah meninggalkan Paris kecuali untuk berlibur. Itu pun terbatas hanya negara-negara di Eropa saja. Tahun ini usiaku 18 tahun, akhir-akhir ini aku sering bertengkar dengan ayah karena urusan laki-laki. Aku dan ayah, kami bertengkar seperti sepasang kekasih. Dia bilang dia cemburu melihatku dengan laki-laki lain yang tak jelas kepribadiannya. Kutanyakan padanya tentang alasannya yang tak masuk akal itu. Tentang untuk apa ia cemburu? Dan dia diam saja. Namun, sehebat-hebatnya pertengkaran kami, aku tidak pernah memenangkan orang lain karena aku tahu ayahku adalah orang yang paling meyayangiku. Dulu, sebenarnya aku tidak berpikir seperti itu. Sampai usia sembilan tahun, ayah jarang b

  • Forbidden Lover    Chapter 52: Good Bye My Love

    "Aku takut," ucap Julian sambil memegang tangan Ana. Julian menciumi tangan itu berkali-kali. Ana, dia tersenyum dengan wajahnya yang pucat. Perempuan itu masih terbaring di tempat tidur di ruang perawatan. Ia sedang menunggu giliran untuk operasi Caesar. "Anak kita akan baik-baik saja," ujarnya. "Tapi, bagaimana denganmu? Apa kau akan baik-baik saja?" tanya Julian dalam hati. "Aku hanya menginginkanmu," tegas Julian seolah-olah tidak peduli pada bayi dalam kandungan Ana. Sampai hari itu ia masih tak ikhlas menerima ada bayi di rahim Ana yang membuat perempuan itu harus menghentikan pengobatan kankernya selama hampir sepuluh bulan. "Julian, sayang! Dengarkan aku," Ana meminta Julian fokus kepadanya. "Berjanjilah padaku kau akan me

  • Forbidden Lover    Chapter 51: Aku, Kamu dan Kita

    "Sampai kapan kau akan merahasiakan ini dari Julian? Apa kau sadar, mempertahankan janin dalam kandunganmu bisa berarti membunuh dirimu sendiri, atau justru membunuh kalian berdua." "Ya. Aku dan bayiku, kami mungkin akan mati bersama, itulah kemungkinan terburuknya," Ana tersenyum. "Tapi, jika aku mati dan dia hidup, maka Julian akan hidup. Dan jika aku membunuhnya sekarang, maka aku, Julian dan bayiku, kami semua akan mati." Akhirnya Ruin mengatakan ia gila berkali-kali. Ana mengakui itu, ia menjadi tidak waras karena cintanya pada Julian. Tempat mereka tinggal sekarang, seperti vila yang berada di tepi danau yang indah. Tempat di mana mereka memupuk mimpi dan berusaha mewujudkannya berdua saja. Namun, saat ini tempat itu tertutup kabut. Gelap dan dingin. Julian bilang tidak apa-apa jika ia harus berada di sana, asalkan bersama Ana.

  • Forbidden Lover    Chapter 50: Pilihan

    Julian naik ke atas tempat tidur."Dari mana saja?" lirih Ana. Dia pura-pura tidak tahu apa yang Julian lakukan di bawah. Kata-kata Julian pada ayah yang tidak sengaja di dengarnya, membuat Ana merasa ngeri sendiri. Sesuatu yang membuat Ana yakin Julian tidak akan baik-baik saja jika suatu saat dirinya pergi. Dan Ana tak tahu harus berbuat apa agar orang itu berubah pikiran.Ruin memang berbohong, tapi Ana jauh lebih tahu tentang kondisi tubuhnya sendiri. Sakit dan perasaan lelah yang sangat, yang lebih banyak ia pendam. Julian tidak menyadari itu. Ana memeluk Julian dan Julian balas memeluknya lebih erat. Sekali lagi Ana berpura-pura tidak tahu, bahwa Julian gelisah dan mencoba meredam isakan tangisnya di bahu Ana. Ana berpura-pura tidak tahu betapa ketakutan akan kehilangan menyergap laki-lakinya sekarang. Ana terpikir satu kali

  • Forbidden Lover    Chapter 49: Bayangan Mengerikan

    "Kamu kelihatannya senang banget?" Julian menarik botol air mineral dari dalam kulkas. Ia menyandarkan pantatnya di meja makan sambil memutar tutup botol."Hari ini pulang cepat, nggak?" tanya Ana.Julian berpikir ada baiknya Ana langsung meminta padanya kalau memang menginginkan dirinya pulang cepat hari itu. Bahkan jika Ana memintanya tetap di rumah, Julian tidak akan menolak. Lagi pula, bukankah jam pulangnya jauh lebih cepat dari yang pernah perempuan itu ingat tentang siapa Julian. Seseorang yang pergi ke kantor di jam Ana remaja masih belum bangun dan pulang ketika Ana sudah terlelap. Sekarang, jadwal pulang terlambat bagi Julian adalah pukul enam sore lewat satu menit dan selebihnya."Memang kenapa?""Orang tua Dokter Ruin mau

  • Forbidden Lover    Chapter 48: Keluarga

    "Ada apa denganmu?" Ana menyentuh sudut mulut Julian. Perlahan jemarinya juga mengusap kening laki-laki itu dan menyingkap rambutnya. "Bagaimana mungkin kau tidur seperti ini?" pikirnya lagi sambil memperhatikan Julian yang terpejam dengan kening berkerut.Julian kelelahan. Tentu saja, ia seperti prajurit yang usai berjuang di medan pertempuran. Kemudian datang pada Ana untuk meluapkan stress dan rasa putus asanya. Ana masih ingat jelas bagaimana ia terengah-engah dan hampir menangis ketika mereka seharusnya berada di puncak kenikmatan."Apa aku terlihat hebat?" tanya Julian sesaat setelah ia bisa mengontrol napasnya lebih baik.Ana tersenyum. Ia kira Julian mencoba bercanda dengannya. Tapi, Julian tidak pintar berakting samasekali. Ana sadar ada yang membebani Julian saat itu. Sesuatu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status