LOGINAruna terjebak dalam misi nekat. Dia harus menjadi sekretaris pribadi sang CEO yang dingin dan tak tersentuh demi mendapatkan bonus besar untuk menebus ayahnya dari penjara. Namun, bagi sang CEO, Aruna hanyalah bayangan yang tidak terlihat. Di tengah rasa frustrasinya, Aruna justru menjadi incaran sang General Manager yang karismatik dan sang Direktur yang penuh rayuan. Saat Aruna mulai goyah dan menikmati perhatian kedua pria itu, sang CEO yang selama ini acuh tiba-tiba terbakar cemburu. Kini, Aruna terjebak di antara tiga pria paling berpengaruh di perusahaan. Siapa yang akan dia pilih saat garis antara misi dan nafsu mulai kabur?
View More“Jika ingin ayahmu bebas, siapkan uang 200 juta dalam dua bulan ke depan!”
Suara parau sang sipir penjara masih terngiang jelas di telinga Aruna, berputar-putar layaknya kaset rusak yang menyiksa batinnya.
Angka itu bukan sekadar nominal; itu adalah harga dari nyawa dan kehormatan ayahnya yang kian merapuh di balik jeruji besi.
Di depan cermin toilet lantai 50, Aruna menatap bayangannya sendiri. Jemarinya gemetar saat ia merapikan kemeja putihnya yang terlalu sering dicuci hingga sedikit kusam.
Dia sudah satu tahun bekerja untuk Max Kendrick. Satu tahun dia berdiri dalam bayang-bayang pria itu, namun satu kali pun dia tak pernah dianggap ada sebagai manusia.
Dia hanya 'Aruna sang sekretaris', entitas yang harus hadir sebelum matahari terbit dan pulang setelah bulan bertahta.
Aruna menarik napas panjang, mencoba menghalau sesak yang menghimpit dadanya. “Aku harus melakukannya,” batinnya lirih. “Hanya Tuan Max yang bisa membantuku.”
Aruna melangkah keluar menyusuri lorong panjang menuju ruangan paling ujung yang dibatasi pintu mahoni raksasa.
Biasanya, dia akan mengetuk tiga kali, menunggu jawaban dingin, lalu masuk dengan kepala menunduk. Namun hari ini, dia sengaja melanggar protokol itu. Dia butuh sesuatu yang drastis agar Max benar-benar melihatnya.
Tanpa mengetuk, Aruna mendorong pintu berat itu.
Cklek.
Pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat jantung Aruna seolah berhenti berdetak.
Di dekat jendela besar yang memperlihatkan cakrawala kota Astraea, Max Kendrick sedang berdiri membelakangi pintu, tidak mengenakan kemeja.
Punggungnya yang lebar, kokoh, dan berotot terpampang jelas, memancarkan aura maskulin yang menyesakkan napas.
Aruna mematung. Wajahnya memanas, rasa malu menjalar hingga ke ujung jari. Ia segera menundukkan kepala sedalam mungkin hingga dagunya menyentuh dada.
“Ma–maafkan saya, Tuan Max! Saya tidak bermaksud,” ucap Aruna gemetar.
Max tampak tidak terkejut. Dia bahkan tidak berbalik dengan tergesa.
Dengan tenang, dia meraih kemeja sutra hitamnya dari sandaran kursi, memakainya dengan gerakan yang sangat efisien, dan mulai mengancingkannya dari bawah ke atas.
Keheningan di ruangan itu begitu mencekam, hanya menyisakan detak jantung Aruna yang kian tak beraturan.
“Letakkan laporannya di meja,” suara Max terdengar berat dan datar, sama sekali tidak terganggu oleh kehadiran Aruna yang tiba-tiba.
Aruna melangkah maju dengan lutut lemas dan meletakkan berkas di atas meja kerja yang bersih.
Matanya melirik sedikit ke arah Max, berharap pria itu akan menanyakan alasannya tidak mengetuk pintu, atau setidaknya menegurnya agar ada percakapan yang bisa dia manfaatkan untuk memohon bantuan.
Namun, Max tetaplah Max. Dia duduk di kursi kebesarannya, meraih pena, dan tanpa melirik Aruna sedikit pun, ia menggeser setumpuk dokumen baru ke arah wanita itu.
“Selesaikan ini sebelum jam lima sore. Ada revisi di halaman dua puluh empat,” ucap Max tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitornya.
Aruna meremas jemarinya. “Tuan, bolehkah saya memohon waktu Anda sebentar? Ini mengenai hal yang sangat mendesak.”
Max melirik jam tangan Rolex-nya selama satu detik. Tatapannya kemudian beralih ke tumpukan berkas, lalu kembali ke layar. Dia sama sekali tidak menatap mata Aruna. Baginya, Aruna tidak lebih penting dari grafik penjualan yang sedang dia amati.
“Kau punya tugas, Aruna. Aku membayar gaji untuk efisiensi, bukan untuk mendengar keluhan pribadi,” sahut Max dingin.
“Tapi Tuan, ini mengenai keluarga saya. Saya sangat membutuhkan—”
“Keluar,” potong Max tajam. “Kau terlambat dua detik dari jadwal pengumpulan laporanmu yang seharusnya. Jangan biarkan aku kehilangan menit berharga lainnya hanya karena ketidaksopananmu hari ini.”
Aruna menelan ludahnya karena kerongkongannya terasa kering dan perih. Dia ingin menangis, ingin berteriak bahwa ayahnya sedang menderita, namun yang keluar dari bibirnya hanyalah kata-kata yang sudah mendarah daging sebagai bawahan.
“Baik, Tuan. Maafkan saya. Saya akan segera menyelesaikannya,” bisik Aruna lemah.
Dia pun berbalik sambil membawa tumpukan berkas yang berat itu dengan hati yang lebih berat lagi. Frustrasi itu membuncah hingga ke ubun-ubun.
Satu tahun pengabdiannya tidak bernilai apa pun di mata pria itu. Dia hanyalah sebuah bayangan yang tidak memiliki hak untuk memiliki masalah.
Air mata mulai menggenang di sudut matanya, membuat pandangannya sedikit kabur saat ia melangkah menuju pintu keluar.
Aruna keluar dari ruangan Max dengan langkah gontai. Pikirannya kalut. “Dua ratus juta. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu jika Max bahkan tidak mau mendengarkanku?”
Karena pikirannya yang melayang, Aruna tidak menyadari ada seseorang yang sedang berdiri di lorong, tepat di depan lift eksekutif.
Buk!
Aruna menabrak dada bidang seseorang. Berkas-berkas di tangannya berserakan ke lantai marmer.
Aruna yang kehilangan keseimbangan hampir saja terjatuh ke belakang, namun sebuah tangan kekar dengan cepat melingkar di pinggangnya, menahan tubuh mungilnya agar tidak menghantam lantai.
“Hati-hati, Aruna. Dunia tidak akan kiamat hanya karena setumpuk kertas ini,” sebuah suara lembut dan penuh karisma menyapa indra pendengarannya.
Aruna mendongak dengan napas tersenggal lalu menatap wajah Bastian Pratama, sang General Manager yang selalu terlihat sempurna dengan senyum tipisnya.
Bastian tidak melepaskan tangannya dari pinggang Aruna; dia justru menarik Aruna sedikit lebih dekat hingga aroma parfum sandalwood-nya yang menenangkan memenuhi rongga dada Aruna.
“Tu–Tuan Bastian, maafkan saya. Saya tidak melihat jalan,” ujar Aruna dengan suara serak sambil berusaha melepaskan diri dengan sopan namun tubuhnya terasa terlalu lemas.
Bastian menatap mata Aruna yang kemerahan karena menahan tangis kemudian mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat menyentuh dagu Aruna, mengangkat wajah wanita itu agar terus menatapnya.
“Kau habis dari ruangan Max?” tanya Bastian dengan nada pelan.
Aruna hanya bisa mengangguk kecil, tak mampu berkata-kata.
Bastian terkekeh rendah, sebuah suara yang sangat kontras dengan nada bicara Max yang tajam.
Dia lalu menundukkan kepalanya dan mendekatkan bibirnya ke telinga Aruna hingga napasnya terasa hangat di kulit leher Aruna.
“Bos kita memang kaku, Aruna. Dia tidak tahu bagaimana menghargai permata yang ada di depan matanya,” bisik Bastian provokatif.
Aruna mematung hingga seluruh tubuhnya meremang karena kedekatan yang tidak biasa ini.
“Tapi aku ….” Bastian menjeda kalimatnya dan memberikan tekanan lembut pada jemarinya di pinggang Aruna, “Aku tahu cara membuat harimu lebih manis, Aruna. Jangan menangis untuk pria yang buta.”
Aruna menelan salivanya dengan pelan mendengar ucapan Bastian barusan.
“Mari, makan siang denganku. Setidaknya kau akan tahu apa yang akan terjadi pada si kaku itu setelah melihat sekretaris pribadinya diajak makan siang olehku.”
Aula utama Grand Astraea Ballroom disulap menjadi hutan kristal putih yang megah. Ribuan bunga lili segar menggantung dari langit-langit, menyebarkan aroma harum yang menenangkan di tengah hiruk-pikuk para elit bisnis, politikus, dan bangsawan kota yang hadir.Aruna berdiri di samping Max, mengenakan gaun pengantin yang telah disesuaikan sedikit pada bagian pinggangnya. Wajahnya merona alami, memancarkan aura kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.Max berdiri tegap dengan tuksedo hitam pekat, tangannya tidak pernah lepas dari pinggang Aruna, seolah-olah ia sedang menjaga permata paling berharga di dunia. Di meja utama, Johan Sastro duduk dengan bangga, mengenakan setelan jas formal yang membuatnya kembali terlihat seperti singa bisnis yang disegani.Saat acara bersulang dimulai, Johan bangkit berdiri. Ia memegang gelas kristalnya dengan tangan yang sedikit bergetar, bukan karena lemah, melainkan karena emosi yang meluap.“Hadirin sekalian,” suara Johan bergema melalui pengeras suara
Kesibukan di butik pengantin utama Astraea mencapai puncaknya. Aroma lilin aromaterapi vanilla dan melati memenuhi ruangan, bercampur dengan suara gemerisik kain sutra dan renda Prancis yang sedang dipasang oleh para asisten butik.Aruna berdiri di atas podium kecil, tubuhnya dibalut gaun pengantin yang sudah hampir sempurna, sebuah karya seni putih bersih dengan detail kristal yang berkilauan setiap kali ia bergerak.Max duduk di sofa kulit di sudut ruangan, sementara matanya tidak lepas dari Aruna. Ia masih tampak seperti penguasa, namun kali ini ada ketenangan yang berbeda di wajahnya setelah kemenangan di pengadilan.“Bisakah kau berputar sedikit, Aruna?” tanya desainer utama butik itu sambil memegang jarum pentul. “Aku perlu memastikan bagian ekor gaun ini jatuh dengan sempurna.”Aruna mencoba bergerak, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat ringan. Pandangannya yang tadi jernih mendadak berputar. Cahaya lampu gantung di atasnya seolah menyatu menjadi satu titik putih yang menyi
Malam itu, apartemen mewah Max Kendrick terasa lebih hangat dari biasanya. Aroma masakan Prancis yang dipesan khusus memenuhi ruang makan, sementara botol sampanye terbaik telah terbuka di atas meja marmer.Johan Sastro duduk di kursi kebesaran, tampak jauh lebih segar meskipun tubuhnya masih perlu banyak pemulihan. Aruna duduk di samping ayahnya, sesekali menyuapkan potongan buah, matanya berbinar melihat tawa kecil yang mulai kembali ke wajah Johan.Max berdiri di dekat jendela besar, menyesap wiskinya dalam diam sembari memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Ia tampak puas, namun tetap waspada seperti biasanya.Saat perayaan kecil itu berlanjut, Max mendapatkan panggilan telepon penting dan harus beralih ke balkon. Aruna, yang ingin mengambilkan obat untuk ayahnya, melangkah menuju ruang kerja Max.Ia melihat tas kerja kulit buaya milik Max tergeletak terbuka di atas meja kerja kayu mahoni yang berat. Niatnya hanya ingin memindahkan tas itu agar tidak menghalangi jalan, namun s
Gedung Pengadilan Negeri Astraea dikepung oleh barisan pengawal bersenjata lengkap dari Kendrick Group. Atmosfer di dalam ruang sidang utama terasa begitu berat, seolah oksigen di sana telah menipis.Aruna duduk di barisan depan dengan jemari yang saling bertaut erat, matanya tak lepas dari sosok ayahnya, Johan Sastro, yang duduk di kursi pesakitan dengan wajah pucat namun sorot mata yang mulai kembali berpendar.Di seberang ruangan, Surya Atmadja dan Robert Tan duduk dengan angkuh. Mereka sesekali berbisik dengan pengacara mereka, melempar senyum meremehkan ke arah Max yang duduk tenang di samping Aruna dengan setelan jas hitam yang memancarkan aura dominasi mutlak.“Sidang Peninjauan Kembali atas kasus penggelapan dana dengan pemohon Johan Sastro dinyatakan dibuka,” ketok palu Hakim Ketua bergema nyaring, memecah kesunyian yang mencekam.Tonny, pengacara Max, berdiri dengan sikap tegap. Ia membuka sebuah map kulit dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen asli yang selama ini disembu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews