MasukGavriel mencoba menarik napas dalam-dalam dan pelan-pelan ia embuslan perlahan. Beberapa kali ia melakukan hal itu hingga dadanya yang terasa sesak dan jantungnya yang berdegup di atas normal kembali stabil. Alena yang duduk disebelahnya tidak henti-hentinya memegang lengannya. Dari telapak tangan Alena yang menempal pada tangannya saja Gavriel bisa tahu jika Alena sedang berkeringat dingin.Kini saat dirinya dan Alena diminta masuk ke ruang sidang, pelan-pelan Gavriel berdiri diikuti Alena. Melihat Alena yang tampak panik, Gavriel mencoba menenangkannya."Enggak usah takut, Len. Kita ini cuma mau jadi saksi persidangan cerai bukan jadi terdakwa.""Mules gue, Gav.""Tahan dulu. Sekarang kita masuk."
Gavriel menatap Gadis yang duduk di sebelahnya. Meskipun sedikit bingung harus memulai dari mana, Gavriel memilih menyodorkan kertas yang ia sedang pegang. Gadis yang melihat kertas itu hanya bisa tersenyum dan segera meraihnya. Ia sudah selesai mengisi data diri Gavriel serta Alena di form saksi perceraian."Tanggal pernikahan aku? Tempat kerja Dipta?" Ucap Gadis sambil membaca kertas yang diberikan Gavriel kepadanya."Iya, Dis. Aku butuh data itu buat jaga-jaga karena takutnya hakim bakalan tanya.""Iya, Gav. Aku paham itu," Jawab Gadis sambil mengisi kertas yang ada di pangkuannya ini.Begitu Gadis sudah selesai mengisi semua ini, ia sodorkan kembali kertas itu kepada Gavriel.
Gadis menatap penampilannya di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Ia perhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Rasanya ia puas dengan pakaian yang ia pilih bernuansa merah kali ini. Setidaknya ia harus terlihat 'cetar' kala menghadiri sidang perceraiannya. Jika perlu Pradipta harus sadar jika dirinya telah membuang batu berlian hanya untuk memungut batu kali. Demi terlihat sempurna, Gadis bahkan melengkapi penampilannya dengan set perhiasan berlian milik sang Mama. Ini juga permintaan sang Mama hingga Mamanya memintanya menenteng tas hermes. Meskipun ini bukan style-nya yang selalu menenteng barang-barang branded, tetapi demi mengintimidasi Pradipta, Gadis rela melakukannya.Saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Gadis segera turun ke bawah. Saat sampai di ruang makan, Mama dan Papanya sudah menunggunya di sana untuk
"Cukup atlet anggar sama reporter aja yang enggak bisa bersatu, lo sama Gavriel harus bersatu." Komentar Alena saat Gadis selesai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya dan Gavriel."Ck... Lo tahu 'kan, Len kalo status gue masih abu-abu saat ini."Alena memutar kedua bola matanya dengan malas. Ia lalu mengulurkan handphone miliknya. Ia biarkan Gadis melihat hasil rekaman video yang ia ambil. Gadis hanya bisa diam dengan mulut sedikit terbuka."Lo lihat sendiri 'kan kalo laki lo aja bisa begini. Ngapain lo harus tolak-tolak Gavriel sedemikian kuat? Asal lo tahu aja ya, Dis banyak lho cewek-cewek di kantor yang masih single itu berharap Gavriel ngelirik mereka. Tapi buat karyawan lama kaya gue ini pasti tahu, bahwa satu-satunya perempuan yang sering d
"Gimana, Dis?" Tanya Gavriel kala melihat Gadis tampak menggigit ujung kuku jarinya setelah menelepon Alena."Alena belum balik. Kamu kasih tugas apaan sih di kantor?""Kenapa mesti tanya kalo kamu sendiri tahu apa yang dia kerjakan.""Iya-iya, aku paham, tapi kalo dia setiap hari lembur begini, kapan dia bakalan dapat jodoh?""Memangnya penting punya pasangan kalo cewek itu sudah mandiri secara finansial?""Tergantung individunya.""Kalo kamu?""Aku?"Gavriel menganggukkan kepalanya. Ia bisa mel
Alena menatap rumah dengan pagar tinggi berwarna hitam yang ada di seberang jalan. Ia mendapatkan alamat rumah ini dari Banyu. Entah darimana Banyu tahu tentang alamat rumah Rachel. Yang bisa Alena lihat adalah rumah itu cukup ramai karena ada beberapa mobil box yang keluar masuk dari rumah itu."Si Dipta pakai pelet apaan, ya? Dibuang sama Gadis masih bisa dapat Rachel yang punya usaha besar begini," Kata Alena pelan dibalik kemudi mobilnya.Sebagai seorang amatiran, Alena masih bingung tentang apa yang harus ia lakukan di tempat ini. Namun saat sebuah mobil sedan keluar dari halaman rumah, Alena memilih mengikutinya. Entah kenapa Alena yakin jika ini adalah mobil milik Rachel. Dengan menjaga jarak aman, Alena mengikuti mobil berwarna merah ini hingga akhirnya memasuki sebuah mall. Saat pengemudi itu keluar dari mobil untuk
Pagi-pagi buta seperti ini memang jalanan Jakarta cukup ramah untuk dilewati karena tidak ada macet di mana-mana. Sepanjang perjalanan juga Gadis lebih banyak diam dan menatap jalanan dari jendela mobil.
Suasana di dalam mobil yang hanya berisi Gavriel dan Gadis sudah sesepi kuburan pada malam hari. Tidak ada yang berniat membuka percakapan lebih dulu sepanjang perjalanan menuju ke daerah Jakarta Selatan ini. Deringan telepon Gadis membuat Gavriel m
Gadis : Malam ini bisa ketemu sebentar enggak? Gue ada titipan dari Mas Banyu buat lo.Berkali-kali Gadis menatap pesan yang ada di layar handphone miliknya. Sudah satu jam yan
Sepi. Itulah yang Gadis rasakan kala dirinya mencoba menuruni tangga rumah Gavriel siang ini. Tidak ada orang sama sekali di rumah ini. Seharusnya ia merasa lega atas semua situasi ini, tapi entah kenapa Gadis justru sedikit takut. Bagaimanapun juga







