登入Dania tidak pernah berniat menjadi “Danie”, tapi kesalahan sistem membuatnya terdaftar sebagai mahasiswa laki-laki. Ia hanya perlu bertahan satu semester di asrama pria agar beasiswanya selamat. Dengan rambut yang dipangkas pendek dan identitas baru, Dania masuk ke dunia yang seharusnya tak pernah ia pijak. Namun, Gathan, teman sekamarnya membuat segalanya menjadi sulit. Gathan yang dingin perlahan mulai meruntuhkan tembok pertahanan Dania. Di tengah riuhnya kehidupan asrama dan risiko penyamaran yang bisa terbongkar kapan saja. Dania terjebak dalam dilema besar. Bagaimana jika Gathan menemukan rahasianya? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika Dania ternyata jatuh cinta padanya?
查看更多"Berani sekali kamu!"
Gathan mencengkeram kedua tangan Dania dengan kasar. Kekuatan tangan laki-laki itu bukanlah sesuatu yang bisa dilawan. Dalam satu gerakan sentak, Gathan menarik kedua pergelangan tangan Dania ke atas kepala, mendorongnya hingga punggung gadis itu menghantam tembok kamar dengan bunyi "gedebuk" yang cukup keras. Dania tersentak. Napas yang sedari tadi ditahannya lolos begitu saja, tertahan di kerongkongan saat wajah Gathan mendekat. Mata gelap laki-laki itu berkilat marah, tajam seperti pisau yang siap menguliti kebohongannya. Jarak mereka sangat dekat, hingga Dania bisa mencium aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuh Gathan. Aroma yang biasanya menenangkan, kini terasa sangat mengancam. "Aku sudah bilang, jangan sentuh barang-barangku, Bocah!" Begitulah Gathan memanggilnya sejak pertama kali Dania menginjakkan kaki di kamar 302 asrama putra tersebut. Suaranya selalu penuh penekanan, seolah menganggap Dania hanyalah anak berusia dua belas tahun yang salah masuk kamar. Tekanan tangan Gathan di pergelangan tangan Dania membuatnya meringis. Ia bisa melihat urat-urat di tangan Gathan mengeras, menunjukkan betapa marahnya laki-laki itu hanya karena meja belajarnya yang berantakan sedikit digeser. "Aku ... aku cuma mau merapikan meja, Gathan. Buku-bukumu berserakan sampai ke area mejaku. Aku tidak bisa meletakkan laptopku di sana," sahut Dania, berusaha sekuat tenaga menjaga nada suaranya agar tetap stabil. Dania menelan ludah dengan susah payah. Di posisi sedekat ini, ia merasa sangat tak berdaya. Ia harus memastikan jaket hoodie oversize yang dikenakannya tetap pada posisinya, menutupi lekuk tubuh yang mati-matian ia sembunyikan selama ini. "Area meja?" Gathan tertawa sinis. Tawa itu tidak terdengar lucu, melainkan merendahkan. Wajahnya makin merunduk, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Dania memalingkan wajah, takut Gathan bisa mendengar detak jantungnya yang menggila. "Dengarkan aku baik-baik, Danie. Di kamar ini, tidak ada yang namanya areamu. Semuanya milikku. Kamu itu cuma 'tamu tak diundang' yang terdampar di sini. Jadi, jangan berlagak seperti kamu punya hak atas tempat ini." Hati Dania mencelos. Tamu tak diundang. Kalimat itu menghantamnya telak karena Gathan benar. Kalau saja staf administrasi kampus tidak salah mengetik namanya dari Dania menjadi Danie, ia tidak akan berakhir di sarang penyamun ini. Ia seharusnya berada di asrama putri, memakai piyama yang nyaman, tanpa perlu merasa terancam setiap kali ingin mandi. Sayangnya, beasiswa penuhnya bergantung pada tempat tinggal ini. Jika ia protes, identitasnya akan terbongkar, dan mimpinya untuk kuliah akan musnah. Gathan melepaskan cengkeramannya secara tiba-tiba. Sentakan itu membuat Dania hampir limbung jika tidak segera berpegangan pada pinggiran tempat tidur susun mereka. Gathan kembali ke mejanya, menyambar botol parfum beraroma kayu manis lalu menyemprotkannya ke udara dengan brutal. "Satu lagi," Gathan berbalik perlahan, menyandarkan pinggulnya di meja sambil melipat tangan di dada. Matanya kembali menelusuri Dania, dari sepatu kets yang kebesaran hingga ke puncak kepalanya. "Kenapa kamu selalu pakai jaket tebal di dalam kamar? AC kita mati sejak kemarin. Aku bahkan berkeringat hanya dengan memakai kaos dalam, tapi kamu malah pakai hoodie itu seolah kita sedang di kutub utara." Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Dania. Pertanyaan itu adalah ranjau darat. "Aku sedang tidak enak badan. Aku mudah kedinginan kalau sedang demam," kilah Dania cepat. Gathan menyipitkan mata, seolah sedang memindai kebenaran di balik mata Dania. "Demam, tapi tidak pernah minum obat. Kamu bahkan tidak pernah melepas jaket itu saat tidur. Kamu itu aneh, Danie." Laki-laki itu mulai berjalan mengelilingi Dania. Langkah kakinya yang berat di atas lantai terdengar seperti lonceng kematian. Gathan tampak seperti serigala yang sedang mengitari mangsanya. "Suaramu juga," lanjut Gathan, kini berdiri tepat di belakang Dania, membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Kenapa suaramu selalu terdengar seperti orang yang sedang menahan napas? Kamu belum puber? Atau memang sengaja ingin terdengar seperti bocah ingusan?" Dania memejamkan mata sesaat, mengatur emosinya. "Aku punya masalah pernapasan, Gathan. Radang tenggorokan kronis sejak kecil. Dokter bilang suaraku memang tidak akan pernah seberat orang lain." Ia langsung berbalik, menyambar handuk dan tas mandi dari bawah kolong tempat tidur. "Aku mau mandi. Tolong jangan ganggu aku lagi." "Mandi jam segini?" Gathan melirik jam dinding digital yang menunjukkan pukul lima sore. "Biasanya kamu mandi jam empat pagi saat semua orang tidur. Apa kamu akhirnya punya keberanian untuk mandi bareng anak-anak asrama lain?" Langkah Dania terhenti di ambang pintu. Sindiran itu telak menghantam titik terlemahnya. Selama dua minggu, ia bertahan dengan strategi bangun sebelum matahari terbit. Namun, hari ini ia tidak punya pilihan. "Aku cuma suka air dingin di sore hari," jawab Dania pendek. Ia baru saja hendak melangkah keluar, tapi suara Gathan kembali menginterupsi, kali ini dengan nada yang sedikit lebih serius. "Tunggu dulu, Danie." Dania membeku. "Apa lagi?" "Jangan pakai bilik nomor tiga di ujung kanan. Pintunya rusak, tidak bisa dikunci dari dalam. Tadi Revan hampir mendobraknya saat ada orang di dalam. Kamu tidak mau kan ada orang yang tiba-tiba masuk?" Jantung Dania berdegup kencang. Dingin menjalar di sepanjang tulang belakangnya. Jika ia tidak berdebat dengan Gathan tadi, mungkin ia sudah masuk ke bilik itu tanpa tahu bahayanya. "Makasih," gumam Dania sangat pelan. Ia segera melesat keluar, membelah kerumunan mahasiswa laki-laki di koridor. Begitu sampai di kamar mandi dan menutup pintu bilik, Dania bersandar pada dinding, mengatur napasnya yang terengah-engah. Tangannya masih gemetar saat menyentuh bekas merah di pergelangan tangannya. Setiap hari di sini adalah peperangan bagi Dania. Peperangan melawan kecurigaan Gathan, melawan keterbatasan fisiknya, dan yang paling menakutkan ... melawan degupan jantungnya sendiri yang mulai tidak tahu diri. Ia menyalakan kran air, membiarkan suaranya menyamarkan isak kecil yang hampir lolos. Dania tahu, ia harus bertahan setidaknya satu semester lagi. Namun, melihat bagaimana Gathan mulai memperhatikannya dengan cara yang tidak biasa, ia sadar bahwa rahasia ini mulai terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian. Dania menatap pantulan dirinya yang samar di air. Apakah ia benar-benar bisa bertahan?Pria itu berdiri di sana, masih mengenakan jaket olahraga tim basketnya dengan tudung yang sengaja ditarik untuk menutupi rambutnya yang acak-akan. Napas Gathan tampak sedikit memburu, seolah-olah ia baru saja berlari cepat melintasi kompleks kampus yang luas dari gedung olahraga menuju fakultas bahasa hanya untuk mencari Dania.Wajahnya terlihat luar biasa tegang, dan matanya yang tajam langsung memindai tubuh Dania dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan bahwa juniornya itu tidak kurang satu apa pun."Gathan? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Dania setengah berbisik, matanya melirik cemas ke arah mahasiswa lain yang berjalan melewati mereka di koridor. "Bukannya kamu masih ada jadwal rapat evaluasi tim dengan Pelatih?"Gathan tidak langsung menjawab. Ia melepaskan cengkeramannya di lengan Dania, tapi matanya tetap menatap tajam. Mengunci pergerakan gadis di hadapannya."Aku sudah bilang padamu semalam, Danie. Jangan pergi ke mana-mana sendirian.""Aku kan cuma pergi ke kelas k
Sebelum Dania sempat memikirkan jawaban untuk menyelamatkan diri dari jebakan pertanyaan Revan, sebuah hantaman keras terdengar dari arah lapangan tengah.Brakkk!Bola basket melesat dengan kecepatan tinggi, menghantam papan pembatas di dekat meja dengan suara dentuman nyaring. Bola itu mamantul liar ke lantai, memotong pembicaraan antara Revan dan Dania secara paksa.Beberapa mahasiswa di tepi lapangan bahkan sampai tersentak kaget. Gathan berjalan mendekat dengan langkah tegap dan mengintimidasi. Napasnya memburu berat, dengan keringat yang membanjiri seluruh jersi hitam tanpa lengannya.Otot-otot tubuhnya tampak berkilat di bawah lampu aula olahraga. Sorot mata elangnya berkilat penuh permusuhan dan kemarahan yang tertahan saat melihat posisi Revan terlalu dekat, condong ke arah Dania."Revan, waktu istirahatmu sudah habis lima menit yang lalu," desis Gathan. Suaranya terdengar seperti geraman rendah seorang alfa yang wilayah kekuasaannya sedang diusik secara terang-terangan. "Kemb
Gathan yang baru saja hendak melangkah menuju tempat tidurnya seketika menghentikan pergerakannya. Kalimat pendek dari Danie seolah-olah menjadi pukulan telak yang menyinkronkan rasa takut di dalam kepalanya dengan realitas di depan mata.Pria itu membalikkan tubuh dengan cepat. Matanya yang tajam langsung mengunci sosok Danie yang kini terduduk lesu di pinggiran ranjang bawah. Ia memperhatikan detail penampilan juniornya itu. Napas yang masih tersengal, keringat dingin membasahi pelipis, dan kedua tangan meremas lututnya sendiri dengan erat."Diikuti?" Gathan mengulang kata itu dengan nada yang sangat rendah, hampir menyerupai bisikan berbahaya.Ia berjalan mendekat, memperkecil jarak di antara mereka hingga bayangan tubuh tegapnya menenggelamkan sosok Danie yang rapuh. "Siapa? Sejak kapan?"Dania mendongak, sedikit terkejut dengan reaksi Gathan yang terkesan sangat intens, jauh lebih agresif daripada biasanya."A-aku tidak tahu pastinya. Sejak aku naik bus kota
Di kamar 302, Gathan sedang sendirian. Buku teks kuliahnya terbuka di atas meja, tapi fokusnya sama sekali tidak berada di sana.Biasanya, jam segini Danie sudah kembali dari kegiatannya, entah itu mengeluh panjang lebar karena ototnya yang pegal akibat latihan fisik, atau ribut sendiri mondar-mandir mencari catatan kuliah yang hilang di kolong ranjang. Namun, sore hari ini kamar terasa terlalu sunyi dan hampa.Tanpa sadar, Gathan melirik ke arah ranjang bawah yang kosong melompong. Meja belajar Danie di sudut ruangan juga tampak terlalu rapi. Tidak ada tumpukan buku yang berserakan, tidak ada botol minum yang tertinggal setengah penuh, atau barang-barang kecil yang biasa membuat matanya sakit.Pria itu mendecakkan lidahnya dengan gusar, menutup buku tebal di depannya dengan sentakan kasar."Berisik sekali kalau ada di kamar, tapi ternyata jauh lebih mengganggu kalau tidak ada," bisik Gathan dengan nada kesal yang tidak ia mengerti dari mana asalnya.Gathan mencoba mengabaikan perasaa
Dania berdiri terpaku di depan wastafel toilet, menatap pantulan wajahnya yang pucat. Jantungnya masih bertalu-talu akibat "bom" yang baru saja dilemparkan Gathan. Calon suami? Rasanya ia ingin tertawa histeris jika saja situasinya tidak sedang segetir ini.Baru saja ia hendak membuka pintu toilet,
Dania berdiri di depan pintu ruang gawat darurat yang masih tertutup rapat, lampu merah di atasnya seolah mengejek kecemasannya yang memuncak. Ia mondar-mandir tak keruan, langkah kakinya yang masih mengenakan sepatu hak tinggi kini terasa sangat menyiksa.Sesekali, Dania berhenti untuk menggigiti
Gathan mematung di tengah ruangan yang hancur itu. Pupil matanya melebar, menatap sosok gadis berambut panjang dengan dress bunga-bunga yang kini berada dalam dekapan kasar seorang pria bermasker. Pikirannya seolah tersangkut pada satu frekuensi suara yang baru saja menyerukan namanya.Suara itu me
Hari Sabtu itu terasa seperti napas buatan bagi paru-paru Dania yang sudah hampir mati terimpit perban dan kebohongan. Setelah dua bulan terjebak dalam penyamaran, ia akhirnya memutuskan untuk pulang.Dania merindukan aroma masakan ibunya, kehangatan pelukan sang ayah, dan yang paling penting menja
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.