Home / Young Adult / From Bully to Love Me / 7. Jangan ikut campur

Share

7. Jangan ikut campur

last update publish date: 2026-03-11 10:46:30

Gavriel duduk di teras belakang rumahnya sambil memikirkan apa yang ia lihat semalam di rumah Rachel. Sosok Pradipta ada di sana tanpa adanya Gadis yang menemaninya. Mengingat dirinya bukan orang yang senang mengurusi kehidupan orang lain, Gavriel memilih diam dan seakan-akan tidak tahu menahu urusan mereka bertiga. Sayangnya saat ia sampai di rumah, pikirannya justru memikirkan Gadis. Apakah Gadis tahu jika suaminya menemui perempuan lain? Tiba-tiba Gavriel bergidik ngeri kala membayangkan bagaimana ngamuknya Gadis jika mengetahui hal ini. Bisa-bisa piring gelas serta teman-temannya di dapur habis tak bersisa karena dibanting oleh Gadis.

Suara bel pintu rumah membuat Gavriel kembali ke realitas. Ia langsung berdiri dan berjalan ke arah ruang tamu. Sambil berjalan, ia melihat jam di dinding rumahnya yang ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia langsung tersenyum kala menyadari jika kemungkinan besar itu adalah sang kakak yang mengatakan akan mampir hari ini. Benar saja, Gabriella yang sering disapa Ella datang bersama anaknya (Moanna) .

"Om Gavriel....," Sapa Moanna dengan suara cerianya. Ia lalu melangkahkan kakinya untuk memeluk pamannya begitu pintu sudah terbuka lebar. Gavriel langsung berlutut dan membalas pelukan keponakan tunggalnya ini.

Ella membiarkan Gavriel bersama Moanna dan ia langsung memasuki rumah adiknya ini untuk sidak. Ia curiga Gavriel menyembunyikan perempuan di rumah ini karena ia jarang mengunjungi Bali sekedar untuk menengok dirinya.

Melihat kelakuan Ella, Gavriel segera menyusulnya sambil menggandeng Moanna di tangan kanannya.

"Nyari apa sih, Mbak?"

"Pacar kamu. Siapa tahu kamu simpan di rumah ini."

"Enggak punya pacar aku."

Ella menghentikan pencariannya dan ia membalikkan tubuhnya untuk menatap sang adik. Ia tatap Gavriel dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Apa mungkin adiknya masih jomblo? Rasa-rasanya sedikit mustahil apalagi saat Mamanya mengatakan bahwa Gavriel pernah menyebutkan nama perempuan dalam tidur lelapnya beberapa bulan lalu ketika sang Mama mengunjunginya ke rumah ini.

"Yang bener? Mama aja waktu nginap di sini dengar kamu ngigau nyebut nama perempuan. Enggak mungkin kalo enggak ada apa-apa."

Gavriel menelan salivanya. Mamanya benar-benar tidak bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia minimal dari kakaknya yang selalu berubah menjadi manusia paling kepo sedunia jika sudah menyangkut urusan love live-nya.

"Sudah enggak usah dibahas. By the way, kenapa enggak mau aku jemput di bandara aja?"

"Kalo bisa sendiri, kenapa juga harus merepotkan orang lain."

Pembicaraan Gavriel dan Ella terpotong karena Moanna meminta Gavriel mengantarnya ke kamar. Tentu saja ia segera mengantar Moanna menuju kamar tamu yang ada di lantai dua rumah ini. Saat Ella menemani Moanna, Gavriel memilih turun dan membuatkan teh hijau untuk kakaknya itu. Tidak sampai setengah jam kemudian, Ella turun tanpa ditemani Moanna yang membuat Gavriel langsung menanyakan keponakannya.

"Moa mana, Mbak?"

"Tidur," Ucap Ella sambil berjalan ke arah sofa yang ada di depan televisi.

Melihat sang kakak duduk di sana, Gavriel juga mengikutinya sambil membawa teh yang sudah ia buat untuk mereka berdua lalu duduk di sampingnya. Sejak kedua orangtuanya bercerai dan sang Mama mengajak dirinya beserta kakaknya pulang ke Indonesia, kehidupan Gavriel benar-benar berubah. Daripada dengan sang Mama, ia bahkan lebih dekat dengan kakaknya karena Gavriel merasa hanya kakaknya yang bisa merasakan penderitaannya dulu ketika harus tinggal jauh dari sang Papa yang notabennya adalah orang yang paling dekat dengan dirinya.

"Gadis siapa, Gav?"

"Mantan teman kerja aku."

"Oh, mbak kira sudah jadi mantan pacar."

"Sudah, Mbak enggak usah dibahas. Sudah jadi istri orang. Lagian enggak pernah terjadi apa-apa diantara aku sama dia kecuali persaingan target di kantor."

Ella yang sangat mengenal adiknya cukup tahu jika ada sesuatu yang coba disembunyikan oleh Gavriel darinya.

"Kamu tahu 'kan kalo kamu enggak pernah bisa bohong sama Mbak? Sekarang kamu coba cerita tentang apa yang membuat kamu gelisah begini?"

"Aku enggak gelisah."

"Ekspresi kamu itu sama persis dengan saat kamu mencoba menolak keputusan Mama untuk menikah lagi. So, lebih baik kamu cerita ke Mbak daripada menyimpannya sendiri dan membebani hati kamu."

Gavriel diam. Di dalam kepalanya terus mempertimbangkan permintaan Ella. Ia tahu kakaknya adalah orang yang cukup bisa berpikir dan bertindak bijak dalam menghadapi suatu masalah.

"Aku bingung harus cerita dari mana karena sebenarnya aku enggak paham dengan perasaanku sendiri."

Ella menganggukkan kepalanya, namun ia masih menunggu Gavriel untuk bercerita. Cukup lama Gavriel terdiam hingga Ella berdiri dari sofa yang ia duduki.

"Kalo enggak mau cerita enggak pa-pa. Yang penting fokus kamu buat karier dan bisnis jangan sampai terganggu."

Setelah mengatakan itu, Ella mulai melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah tangga, namun langkahnya terhenti kala mendengar suara Gavriel.

"Aku kemarin mergokin suaminya Gadis di rumah Rachel."

Ella juga mengenal Rachel dengan cukup baik karena mereka sama-sama sering mengorder barang dari Vietnam dan Cina. Yang Ella tahu selama ini Rachel adalah perempuan yang cukup memiliki integritas serta harga diri hingga tidak mungkin ia mau menjalin hubungan dengan suami orang. Apalagi sejak Rachel putus dari pacarnya seakan ia menutup diri dari lawan jenisnya. Itulah yang Ella tahu selama ini.

"Rachel?" Gumam Ella sambil membalikkan tubuhnya menghadap Gavriel.

Gavriel yang mendengar gumaman kakaknya itu menganggukkan kepalanya. Segera saja Ella berjalan kembali menghampiri Gavriel. Tentu saja Gavriel tahu bahwa kini ia harus menceritakan semuanya kepada Ella tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.

"Suaminya Gadis itu Dipta, mantan pacarnya Rachel. Siapa sangka kalo selama Dipta menjalin hubungan dengan Gadis, dia masih jalan sama Rachel."

"Jangan asal nuduh, Gav. Kita sama-sama tahu Rachel gimana."

"Aku enggak nuduh, Mbak. Rachel bilang  sendiri ke aku."

"Gadis tahu?"

"Akhirnya tahu tapi dia tetap nekat nikah sama Dipta."

"Stupid girl!"

"Ya, Mbak bukan orang pertama yang menyematkan gelar itu ke Gadis. Antonio sudah lebih dulu meskipun dengan alasan yang berbeda."

"Wait... wait.... wait... tadi kamu bilang kalo kemarin kamu mergokin Dipta di rumah Rachel, berarti mereka masih berhubungan setelah Dipta nikah sama Gadis?"

"Kemungkinan besar begitu, Mbak. Aku bingung harus kasih tahu Gadis apa enggak sekarang. Kalo pun aku kasih tahu belum tentu juga dia percaya."

"Dan belum tentu juga apa yang kita lihat dengan mata itu selalu sesuai dengan kenyataan yang ada," Sambung Ella yang membuat Gavriel menganggukkan kepalanya.

Beberapa saat mereka berdua terdiam kembali hingga Ella menjadi orang pertama yang memecah kesunyian di ruang keluarga ini.

"Gav?"

"Hmm..."

"Jangan ikut campur urusan mereka. Lebih baik kamu simpan semuanya sendiri."

"Tapi, Mbak..."

"Mbak tahu kalo kamu pasti tidak tega melihat Gadis diperlakukan seperti ini, tapi kamu tidak memiliki kapasitas untuk berbicara. Lebih baik wait and see."

"Jadi penonton lagi?"

Ella tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Melihat tanggapan kakaknya ini, Gavriel hanya bisa mengehela napas panjang.

Ella menepuk-nepuk pelan pundak Gavriel sambil berkata, "Iya, siapa tahu suatu saat nanti kamu akan akan mendapatkan kesempatan untuk masuk menjadi pemeran pendukung di dalamnya."

Gavriel hanya menatap wajah kakaknya yang terlihat memiliki keyakinan penuh meskipun dirinya yang mengalami hal ini justru merasa sebaliknya.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • From Bully to Love Me   175. Bersyukur dan Ikhlas

    Sebulan sejak acara pernikahannya dengan Gadis, akhirnya Gavriel bisa merasakan berumah tangga seutuhnya karena Gadis sudah mengikuti dirinya untuk pindah ke Jakarta. Meksipun rumahnya tak sebesar rumah keluarganya, namun Gavriel bersyukur karena Gadis sama sekali tidak pernah protes atas semua keadaan ini. Ia masih tetap bekerja di bank seperti biasanya, Gadis pun juga masih bekerja di perusahaan keluarganya yang sejak seminggu ini sudah membuka kantor cabang baru di Jakarta. Semua ini dilakukan bukan hanya karena Gadis tinggal mengikuti dirinya namun lebih daripada itu karena memang sudah cukup banyak kerjasama yang dilakukan dengan rekan bisnis yang bertempat tinggal di Jakarta. Untuk lebih menghemat biaya perjalanan dinas serta waktu, maka dengan membuka kantor cabang di kota ini segera dilakukan sebagai solusinya. Sejak menikah pun Gavriel dan Gadis sepakat untuk tidak mengg

  • From Bully to Love Me   174. Kejutan dari penghuni lapak dosa

    Untuk pertama kali di hidup Gavriel ia merasa gugup, cemas, was-was bercampur sedikit tegang. Keringat dingin sudah membasahi telapak tangannya. Di hadapannya sudah duduk seorang penghulu dan Sudibyo Bimantara. Rasanya cukup sekali ia berada di situasi ini. Kehadiran Gadis yang duduk di sampingnya nyatanya tak efektif membuatnya merasa tenang sama sekali. Meskipun sudah menghafalkan semuanya sejak semalam dan ada catatan di atas mejanya agar ia tidak salah saat mengucapkan ijab qobul namun tetap saja tidak membuatnya merasa lebih tenang. "Bisa kita mulai sekarang?" tanya penghulu itu dengan pelan namun Gavriel hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya. Setelah itu tidak lama setelahnya Gavriel menjabat tangan Sudibyo. Ternyata bukan hanya dirinya yang sedikit tegang dan takut menghadapi situasi ini. Sudibyo bahkan ju

  • From Bully to Love Me   173. Makan Malam Bersama

    Satu Tahun Kemudian...Setelah pengajuan cuti nikah ditambah dengan cuti tahunan diambil, maka praktis Gavriel memiliki jatah seminggu untuk libur kali ini. Tentu saja mau tidak mau acara pernikahannya dengan Gadis harus dilakukan di Solo. Jatah 30 undangan yang tahun lalu ia minta pada akhirnya tetap saja kurang karena para tetangganya yang pernah bertemu dengan keluarga Gadis (salah satunya ibu RT) meminta untuk hadir dalam acara pernikahannya. Meskipun ingin menolak namun Gavriel tak kuasa yang akhirnya membuatnya menyewa sebuah bus pariwisata berkapasitas 60 orang. Untung saja keluarga Gadis tidak mempermasalahkan jika para tetangga dan beberapa rekan kerjanya datang menggunakan bus saat acara. Niat hati ingin berhemat pun tak bisa dilakukan karena pada akhirnya ia harus memesan sebuah hotel sebanyak 20 kamar untuk para tamu yang datang menggunakan bus.

  • From Bully to Love Me   172. Mencoba Bicara Pada Orangtua

    Gavriel menatap sekeliling ballroom hotel bintang lima di Jogja ini yang kini sudah disulap seperti berada di negri dongeng. Seketika Gavriel sadar jika pernikahan Joe dan Angi ini kemungkinan besar menghabiskan biaya yang tidak sedikit jumlahnya. Dirinya yang kini tengah duduk di samping Gadis dan menikmati jalannya acara ini semakin takjub karena doorprize yang diberikan untuk para tamu undangan benar-benar membuat kedua matanya membelalak. Di mulai dari sekedar smart tv, logam mulia, paket liburan ke Bali selama tiga hari dua malam hingga motor 155 cc.Wow, demi apapun juga jika melihat hadiah yang seperti ini, Gavriel berharap ia akan menerima salah satunya. Toh, lumayan juga balik modal isi amplop sumbangan. Sayangnya ia harus gigit jari karena tidak satupun dari salah satu nomer tamu undangan yang beruntung itu adalah nomernya. Kala sal

  • From Bully to Love Me   171. Enggak mau acara ribet

    Gavriel menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 21:30 WIB dan ia sudah sampai di stasiun Tugu Yogyakarta bersama Gadis yang duduk di sampingnya. Sebenarnya Gavriel masih ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi berdua bersama Gadis di kamar hotelnya namun Gadis yang sudah bermain dua ronde bersamanya sepertinya tidak akan memaafkannya jika ia sampai ketinggalan kereta malam ini. "Gav, kamu masuk ke peron dulu. Tinggal lima belas menit lagi keretanya sampai.""Nanti aja kalo kurang lima menit. Masih mau temani kamu duduk di sini.""Kita ini masih bakalan ketemu lima hari lagi di nikahan Angi.""Aku belum cari tiket, Dis. Kayanya aku naik pesawat aja turun Solo.""Turun Jogja. Aku sama keluarga aku sudah di Jogja sejak hari Rabu. Nanti aku carikan tiket buat kamu, buat masalah tempat tinggal nanti kamu tidur di kostan Mas Banyu. Masi

  • From Bully to Love Me   170. Kita Bikin Panas Malam ini

    "Apanya yang mau di-packing ini, Gav? barang-barang kamu sudah di dalam koper semua tinggal diangkut aja," ucap Gadis saat sudah selesai mengelilingi isi kamar hotel ini. Sudah Gadis tidak ada barang pribadi Gavriel yang tertinggal di sini. Bukannya menjawab perkataan Gadis, Gavriel langsung memeluk pacarnya itu dari arah belakang. Mendapatkan perlakuan seperti ini secara dadakan, Gadis cukup terkejut hingga ia menegang di tempatnya berdiri saat ini. Baru juga Gadis akan memprotes perilaku Gavriel kepadanya ini, namun bisikan kata-kata rindu yang dipadukan dengan kecupan-kecupan kecil di sekitar leher hingga tengkuknya membuat Gadis melupakan semuanya. Yang terjadi pada dirinya saat ini adalah ia yang sudah mulai lupa dengan akal sehatnya dan terbawa suasana. Kelakuan Gavriel berhasil membuat Gadis merinding. Apala

  • From Bully to Love Me   6. Kenapa harus aku?

    Gavriel tak menyangka jika Gadis sudah resign dari kantor selama enam bulan lamanya. Selama itu pula pekerjaannya semakin banyak. Kini tak ada lagi yang membuatnya bersemangat untuk mencapai target. Mungkin karena ia tidak memiliki saingan baru yang kompetitif seperti Gadis. Rata-rata rekan kerjany

  • From Bully to Love Me   5. Aku mau hakku, Mas!

    "Mas, kamu enggak mau temani aku buka kado nikahan kita?" Tanya Gadis ketika Pradipta baru saja ke luar dari kamar mandi."Enggak deh, kamu aja. Aku capek, Dis."Meskipun sedikit kecewa dengan jawaban sang suami, Gadis mencoba menutupinya dengan senyuman. Kini ia mulai membuka kado demi kado yang d

  • From Bully to Love Me   2. Cinta Segitiga

    Barang pesanan lo sudah bisa diambil sekarang. Buruan lo ke sini. Gavriel membaca sebuah pesan Whatsapp yang dikirimkan oleh supplier-nya, barang-barang pesanannya sudah tiba dan ia harus menambah beberapa stock barang yang sedang laku dan hits di pasaran e-commerce. Keuntungan penjualan barang-ba

  • From Bully to Love Me   1. Si paling menjengkelkan

    Kau masih gadis atau sudah janda...Tolong katakan jangan malu-malu... Suara sumbang yang memekakkan telinganya membuat Gadis mencengkeram sendok serta garpu yang ada di tangannya. Suara Gavriel Erlando, teman satu kantornya ini sangat setia menemani lima tahun masa kerjanya di sini. Entah kenapa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status