LOGINGavriel duduk di teras belakang rumahnya sambil memikirkan apa yang ia lihat semalam di rumah Rachel. Sosok Pradipta ada di sana tanpa adanya Gadis yang menemaninya. Mengingat dirinya bukan orang yang senang mengurusi kehidupan orang lain, Gavriel memilih diam dan seakan-akan tidak tahu menahu urusan mereka bertiga. Sayangnya saat ia sampai di rumah, pikirannya justru memikirkan Gadis. Apakah Gadis tahu jika suaminya menemui perempuan lain? Tiba-tiba Gavriel bergidik ngeri kala membayangkan bagaimana ngamuknya Gadis jika mengetahui hal ini. Bisa-bisa piring gelas serta teman-temannya di dapur habis tak bersisa karena dibanting oleh Gadis.
Suara bel pintu rumah membuat Gavriel kembali ke realitas. Ia langsung berdiri dan berjalan ke arah ruang tamu. Sambil berjalan, ia melihat jam di dinding rumahnya yang ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia langsung tersenyum kala menyadari jika kemungkinan besar itu adalah sang kakak yang mengatakan akan mampir hari ini. Benar saja, Gabriella yang sering disapa Ella datang bersama anaknya (Moanna) .
"Om Gavriel....," Sapa Moanna dengan suara cerianya. Ia lalu melangkahkan kakinya untuk memeluk pamannya begitu pintu sudah terbuka lebar. Gavriel langsung berlutut dan membalas pelukan keponakan tunggalnya ini.
Ella membiarkan Gavriel bersama Moanna dan ia langsung memasuki rumah adiknya ini untuk sidak. Ia curiga Gavriel menyembunyikan perempuan di rumah ini karena ia jarang mengunjungi Bali sekedar untuk menengok dirinya.
Melihat kelakuan Ella, Gavriel segera menyusulnya sambil menggandeng Moanna di tangan kanannya.
"Nyari apa sih, Mbak?"
"Pacar kamu. Siapa tahu kamu simpan di rumah ini."
"Enggak punya pacar aku."
Ella menghentikan pencariannya dan ia membalikkan tubuhnya untuk menatap sang adik. Ia tatap Gavriel dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Apa mungkin adiknya masih jomblo? Rasa-rasanya sedikit mustahil apalagi saat Mamanya mengatakan bahwa Gavriel pernah menyebutkan nama perempuan dalam tidur lelapnya beberapa bulan lalu ketika sang Mama mengunjunginya ke rumah ini.
"Yang bener? Mama aja waktu nginap di sini dengar kamu ngigau nyebut nama perempuan. Enggak mungkin kalo enggak ada apa-apa."
Gavriel menelan salivanya. Mamanya benar-benar tidak bisa dipercaya untuk menyimpan rahasia minimal dari kakaknya yang selalu berubah menjadi manusia paling kepo sedunia jika sudah menyangkut urusan love live-nya.
"Sudah enggak usah dibahas. By the way, kenapa enggak mau aku jemput di bandara aja?"
"Kalo bisa sendiri, kenapa juga harus merepotkan orang lain."
Pembicaraan Gavriel dan Ella terpotong karena Moanna meminta Gavriel mengantarnya ke kamar. Tentu saja ia segera mengantar Moanna menuju kamar tamu yang ada di lantai dua rumah ini. Saat Ella menemani Moanna, Gavriel memilih turun dan membuatkan teh hijau untuk kakaknya itu. Tidak sampai setengah jam kemudian, Ella turun tanpa ditemani Moanna yang membuat Gavriel langsung menanyakan keponakannya.
"Moa mana, Mbak?"
"Tidur," Ucap Ella sambil berjalan ke arah sofa yang ada di depan televisi.
Melihat sang kakak duduk di sana, Gavriel juga mengikutinya sambil membawa teh yang sudah ia buat untuk mereka berdua lalu duduk di sampingnya. Sejak kedua orangtuanya bercerai dan sang Mama mengajak dirinya beserta kakaknya pulang ke Indonesia, kehidupan Gavriel benar-benar berubah. Daripada dengan sang Mama, ia bahkan lebih dekat dengan kakaknya karena Gavriel merasa hanya kakaknya yang bisa merasakan penderitaannya dulu ketika harus tinggal jauh dari sang Papa yang notabennya adalah orang yang paling dekat dengan dirinya.
"Gadis siapa, Gav?"
"Mantan teman kerja aku."
"Oh, mbak kira sudah jadi mantan pacar."
"Sudah, Mbak enggak usah dibahas. Sudah jadi istri orang. Lagian enggak pernah terjadi apa-apa diantara aku sama dia kecuali persaingan target di kantor."
Ella yang sangat mengenal adiknya cukup tahu jika ada sesuatu yang coba disembunyikan oleh Gavriel darinya.
"Kamu tahu 'kan kalo kamu enggak pernah bisa bohong sama Mbak? Sekarang kamu coba cerita tentang apa yang membuat kamu gelisah begini?"
"Aku enggak gelisah."
"Ekspresi kamu itu sama persis dengan saat kamu mencoba menolak keputusan Mama untuk menikah lagi. So, lebih baik kamu cerita ke Mbak daripada menyimpannya sendiri dan membebani hati kamu."
Gavriel diam. Di dalam kepalanya terus mempertimbangkan permintaan Ella. Ia tahu kakaknya adalah orang yang cukup bisa berpikir dan bertindak bijak dalam menghadapi suatu masalah.
"Aku bingung harus cerita dari mana karena sebenarnya aku enggak paham dengan perasaanku sendiri."
Ella menganggukkan kepalanya, namun ia masih menunggu Gavriel untuk bercerita. Cukup lama Gavriel terdiam hingga Ella berdiri dari sofa yang ia duduki.
"Kalo enggak mau cerita enggak pa-pa. Yang penting fokus kamu buat karier dan bisnis jangan sampai terganggu."
Setelah mengatakan itu, Ella mulai melangkahkan kakinya untuk menuju ke arah tangga, namun langkahnya terhenti kala mendengar suara Gavriel.
"Aku kemarin mergokin suaminya Gadis di rumah Rachel."
Ella juga mengenal Rachel dengan cukup baik karena mereka sama-sama sering mengorder barang dari Vietnam dan Cina. Yang Ella tahu selama ini Rachel adalah perempuan yang cukup memiliki integritas serta harga diri hingga tidak mungkin ia mau menjalin hubungan dengan suami orang. Apalagi sejak Rachel putus dari pacarnya seakan ia menutup diri dari lawan jenisnya. Itulah yang Ella tahu selama ini.
"Rachel?" Gumam Ella sambil membalikkan tubuhnya menghadap Gavriel.
Gavriel yang mendengar gumaman kakaknya itu menganggukkan kepalanya. Segera saja Ella berjalan kembali menghampiri Gavriel. Tentu saja Gavriel tahu bahwa kini ia harus menceritakan semuanya kepada Ella tanpa ada yang ditutup-tutupi lagi.
"Suaminya Gadis itu Dipta, mantan pacarnya Rachel. Siapa sangka kalo selama Dipta menjalin hubungan dengan Gadis, dia masih jalan sama Rachel."
"Jangan asal nuduh, Gav. Kita sama-sama tahu Rachel gimana."
"Aku enggak nuduh, Mbak. Rachel bilang sendiri ke aku."
"Gadis tahu?"
"Akhirnya tahu tapi dia tetap nekat nikah sama Dipta."
"Stupid girl!"
"Ya, Mbak bukan orang pertama yang menyematkan gelar itu ke Gadis. Antonio sudah lebih dulu meskipun dengan alasan yang berbeda."
"Wait... wait.... wait... tadi kamu bilang kalo kemarin kamu mergokin Dipta di rumah Rachel, berarti mereka masih berhubungan setelah Dipta nikah sama Gadis?"
"Kemungkinan besar begitu, Mbak. Aku bingung harus kasih tahu Gadis apa enggak sekarang. Kalo pun aku kasih tahu belum tentu juga dia percaya."
"Dan belum tentu juga apa yang kita lihat dengan mata itu selalu sesuai dengan kenyataan yang ada," Sambung Ella yang membuat Gavriel menganggukkan kepalanya.
Beberapa saat mereka berdua terdiam kembali hingga Ella menjadi orang pertama yang memecah kesunyian di ruang keluarga ini.
"Gav?"
"Hmm..."
"Jangan ikut campur urusan mereka. Lebih baik kamu simpan semuanya sendiri."
"Tapi, Mbak..."
"Mbak tahu kalo kamu pasti tidak tega melihat Gadis diperlakukan seperti ini, tapi kamu tidak memiliki kapasitas untuk berbicara. Lebih baik wait and see."
"Jadi penonton lagi?"
Ella tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Melihat tanggapan kakaknya ini, Gavriel hanya bisa mengehela napas panjang.
Ella menepuk-nepuk pelan pundak Gavriel sambil berkata, "Iya, siapa tahu suatu saat nanti kamu akan akan mendapatkan kesempatan untuk masuk menjadi pemeran pendukung di dalamnya."
Gavriel hanya menatap wajah kakaknya yang terlihat memiliki keyakinan penuh meskipun dirinya yang mengalami hal ini justru merasa sebaliknya.
***
Pradipta menatap martabak manis yang ada di atas meja dengan tatapan penuh keheranan. Tumben sekali Gadis mengiriminya makanan seperti ini. Biasanya juga Gadis melarang dirinya untuk makan serta ngemil ketika jam sudah lebih dari pukul tujuh malam."Kamu kenapa sih, Dip?""Aneh aja, Hel. Enggak biasanya Gadis kirimin aku kaya beginian.""Dia lagi kangen kali. Kamu mudik aja.""Dia lagi di Solo. Makanya aku minta kamu ke sini.""Kamu mau bicarakan apa?" Tanya Rachel sambil mulai duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.Mau bagaimanapun, sejak Pradipta menikah dengan Gadis, rumah ini adalah salah satu nerak
Gadis menatap tas ransel Fjallraven Kanken yang dulu sering ia pakai untuk kuliah. Berbeda dengan dulu ketika tas ini berisi laptop, alat tulis dan berbagai macam tugas kuliahnya, kini tas ini berisi baju dan perlengkapan pribadinya. Kali ini misinya harus berhasil meskipun ia harus sedikit berbohong pada kedua orangtuanya.Tok... Tok... Tok.... "Masuk," Ucap Gadis sambil segera menutup resleting tas berwarna merah marron itu.Gadis tersenyum kala melihat Banyu berdiri di ambang pintu kamarnya."Mas, masuk. Jangan disitu aja."Mendengar perkataan Gadis, Banyu segera melangkahkan kakinya untuk mendekati adik semata wayangnya ini. Baru saat sampai di dekat Gadis, Banyu memilih untuk duduk di pinggiran ranjang berukuran king. Ia tatap adiknya yang tampak bahagia. Berbeda dengan dua hari yang lalu kala mereka berdebat hebat, hari ini seakan Gadis sudah melupakan semua kejadian itu."Kamu serius mau ke Jogja sendiri?""Iya, Mas.""Biar Mas antar aja atau pak Manto. Lebih enak naik mobil
Gadis : Gue sekarang jadi tahanan.Alena : ketangkap kasus apa lo? ada di Polsek mana?Gadis : kasus dibodohi dan dimanipulasi oleh keluarga Dipta. Bukan polsek tapi rumah orangtua gue.Alena : lo belum jadi pergi ke tempat Dipta buat cek langsung?Gadis : maunya hari ini tapi gue sudah terlanjur jadi tahanan. Lo punya cara enggak buat gue kabur dari rumah?Alena : berani bayar berapa lo kalo gue kasih ide?Gadis : gue bayar pakai kakak gue aja gimana? Eneg gue lama-lama di rumah bareng Mas Banyu.Alena : gue mau sama kakak lo tapi belum tentu dia mau sama gue yang bentukannya begini.Gadis : alhamdulillah, sadar juga lo sama kapasitas diri.Alena : bangke lo, Dis!Gadis : buruan lo kasih ide.Alena : gue pikirin dulu. Nanti gue kasih kabar habis makan siang. Okay?Gadis : okay.Setelah membaca pesan dari Gadis, Alena memilih segera menutup handphone miliknya. Ia segera berdiri dari kursi kerjanya sambil membawa handphone serta dompetnya."Gil, gue lunch bareng lo, ya?" Ucap Alena kal
Gadis tersenyum kala melihat rumah kedua orangtuanya yang bergaya Jawa modern. Halaman depan rumahnya yang luas dan terdapat air mancur serta taman ini membuatnya benar-benar merasa nyaman di sini. Rumah yang sudah ia huni sejak lahir, tempat ia tumbuh dan dewasa, benar-benar menyimpan banyak kenangan di hidupnya yang tak mungkin ia lupakan sampai akhir hayatnya.Ketika sampai di depan pintu, Gadis segera membunyikan bel. Tidak lama menunggu, akhirnya seorang asisten rumah tangga muda yang baru kali ini Gadis temui muncul di sana.Begitu mempersilahkan Gadis masuk, Sari segera mendorong koper cabin size Gadis. Baru sekali ini Sari bertemu dengan Gadis. Nama yang beberapa hari ini sering terdengar di rumah ini."Assalamu'alaikum, Mama," Ucap Gadis sambil berjalan cepat untuk menuju ke Mamanya yang sedang membaca majalah."Waalaikum salam," Ucap Aryanti sambil memeluk Gadis."Papa mana, Ma?" Tanya Gadis setelah mengurai pelukannya pada sangat Mama."Belum pulang.""Jam segini masih di k
Gadis menatap pasangan muda yang sedang berfoto bersama kedua anaknya. Dari apa yang terlihat oleh matanya, pasangan itu seusia dirinya dan Dipta. Melihat mereka bahagia dengan keluarga kecilnya entah kenapa ada perasaan iri dalam dirinya. Kenapa ia dan Dipta tidak bisa seperti itu? Terlebih sejak 5 bulan yang lalu saat ia dan Dipta datang ke dokter kandungan dan dokter kandungan mengatakan jika sel telurnya terlalu kecil untuk dibuahi. Ini membuatnya belum kunjung hamil hingga saat ini. Vitamin dan promil sudah ia lalui 5 bulan ini meksipun ia jarang datang bersama Pradipta ke dokter kandungan."Enggak usah dilihat sampai begitu. Coba belajar bersyukur dengan apa yang kita punya sekarang," kata Alena sambil mulai duduk di samping Gadis dan membuka botol minum air mineralnya."Gue yang bermasalah. Sel telur gue kecil-kecil, makanya enggak isi-isi."Alena menghela napas panjang. Entah kenapa ia justru merasa bersyukur karena Gadis belum hamil sampai saat ini. Alena tak bisa membayangka
Mengingat kali ini dirinya pergi bersama Gadis, Alena sama sekali tidak menyentuh minuman beralkohol. Tentu saja ini ia lakukan karena dirinya tidak mau membuat Gadis kerepotan. Mereka berdua bahkan hanya duduk sambil melihat orang-orang yang sedang menikmati suasana malam hari ini."Jangan diam aja, Dis. Kita ke sana, yuk. Joged biar enggak stress.""Lo aja. Gue tunggu di sini.""Dis, udah deh... lo enggak usah mikirin laki lo sampai segininya. Dia aja belum tentu mikirin lo yang sudah rela mengorbankan segalanya buat dia.""Andai di dunia ini beneran ada time travel, rasanya gue mau balik ke masa di mana gue mengenal Dipta."Alena jadi merasa bersalah karena ia adalah orang yang mengenalkan Gadis pada Pradipta. Seketika ia terdiam dan teringat kenangan hampir empat tahun yang lalu. Kala itu Alena baru saja selesai bertemu dengan salah satu nasabah prioritas yang ingin mengajukan kredit di bank untuk menambah modal pembangunan hotel miliknya yang ada di Lombok. Sebelum ia pulang, nas