LOGINAlena menatap rumah dengan pagar tinggi berwarna hitam yang ada di seberang jalan. Ia mendapatkan alamat rumah ini dari Banyu. Entah darimana Banyu tahu tentang alamat rumah Rachel. Yang bisa Alena lihat adalah rumah itu cukup ramai karena ada beberapa mobil box yang keluar masuk dari rumah itu.
"Si Dipta pakai pelet apaan, ya? Dibuang sama Gadis masih bisa dapat Rachel yang punya usaha bes
Alena tertawa terbahak-bahak dibalik kemudi mobil Gavriel. Ia masih tidak habis pikir dengan kejadian yang terjadi di rumah keluarga Gadis. Tak pernah Alena sangka jika Aryanti akan begitu antusias mendengarkan cerita tentang Leander dan berakhir dengan keinginannya bertemu bocah itu secepatnya.Gavriel yang duduk di kursi penumpang depan mobil rasanya ingin melemparkan bantal leher yang ada di lehernya ini ke arah Alena andai saja perempuan itu tidak sedang menyetir.Sejak dua jam yang lalu mereka sudah pamit dari rumah orangtua Gadis. Yang membuat Gavriel tidak enak adalah selain masalah Leander, ia yang datang ke sana bersama Alena hanya memberikan dua kotak bakpia favorit Aryanti namun pulang dengan berbagai macam oleh-oleh yang memenuhi bagasi belakang mobilnya. Mulai dari serabi notosuman, serundeng kelapa, ampyang, ram
"Satu... Dua... Tiga.... Kok kurang satu? Ayah mana?" Tanya Leander kala ia memasuki rumah sepulang sekolah dan bertemu dengan Aditya, Wilson serta Elang di ruang keluarga.Aditya yang melihat Leander sudah menitikkan air matanya lagi. Hal ini membuat Wilson menghela napas panjang sedangkan Elang langsung menggiring Leander menuju ke kamar bocah itu."Ayah lagi di Solo.""Kok Ayah duluan sih? Bukannya masih lama pikniknya, Pa?""Aduh, Papa enggak tahu. Kita ke kamar kamu aja, ya?""Aku mau telepon Ayah ya, Pa?""Iya, kita ke kamar dulu ganti baju. Takut Om Adit nanti sedih lagi kalo lihat kamu."
Selama perjalanan menuju ke rumah orangtuanya, Gadis lebih banyak diam. Ia biarkan Gavriel fokus pada kemudi mobil. Lagipula Gadis merasa sedang membutuhkan ketenangan setelah huru hara di dalam ruang sidang tadi. Pelan-pelan Gadis menutup kedua matanya. Rasa lelah yang menyergap dirinya membuatnya berkelana di alam mimpi siang hari ini.Gavriel yang melihat Gadis sudah tertidur di sampingnya hanya bisa tersenyum. Ini jauh lebih baik daripada Gadis marah-marah atas kesaksian Hamdani dan Susan di pengadilan. Meskipun tidak mengatakannya secara gamblang, namun Gavriel bisa membaca kekecewaan yang hadir di dalam diri Gadis dari wajah perempuan itu.Saat sampai di depan pagar rumah orangtua Gadis, Gavriel mencoba mengamati rumah ini. Dari pagar rumah setinggi dua meter lebih ini saja Gavriel bisa tahu bahwa orangtua Gadis bukanla
Gadis berusaha menahan senyumannya kala mendengar permintaan Angela selaku pengacaranya untuk memberikan hak kepemilikan rumah di Bontang kepadanya sebagai kompensasi atas sakit hati yang ia rasakan. Sayangnya, pengacara Pradipta tidak menyetujuinya sehingga persidangan berjalan cukup alot hingga Gadis lelah mengikuti prosesnya. Sayangnya ia tak bisa kabur dari tempat ini sesuka hatinya.Kini setelah satu jam lebih, persidangan perceraian antara dirinya dan Pradipta baru selesai. Dan tetap saja pengacara Pradipta kekeuh tidak menyetujui permintaannya. Padahal dari bukti yang sudah tersaji di meja persidangan, semua sudah cukup jelas bahwa Pradipta terbukti melakukan perselingkuhan di belakangnya hingga melakukan KDRT. Benar-benar memalukan bagi Gadis karena Pradipta yang berbuat zinah, tapi Pradipta sendiri yang tantrum. Entah kenapa ia bersyukur karena Pradipta tidak menunggu tig
Gavriel mencoba menarik napas dalam-dalam dan pelan-pelan ia embuslan perlahan. Beberapa kali ia melakukan hal itu hingga dadanya yang terasa sesak dan jantungnya yang berdegup di atas normal kembali stabil. Alena yang duduk disebelahnya tidak henti-hentinya memegang lengannya. Dari telapak tangan Alena yang menempal pada tangannya saja Gavriel bisa tahu jika Alena sedang berkeringat dingin.Kini saat dirinya dan Alena diminta masuk ke ruang sidang, pelan-pelan Gavriel berdiri diikuti Alena. Melihat Alena yang tampak panik, Gavriel mencoba menenangkannya."Enggak usah takut, Len. Kita ini cuma mau jadi saksi persidangan cerai bukan jadi terdakwa.""Mules gue, Gav.""Tahan dulu. Sekarang kita masuk."
Gavriel menatap Gadis yang duduk di sebelahnya. Meskipun sedikit bingung harus memulai dari mana, Gavriel memilih menyodorkan kertas yang ia sedang pegang. Gadis yang melihat kertas itu hanya bisa tersenyum dan segera meraihnya. Ia sudah selesai mengisi data diri Gavriel serta Alena di form saksi perceraian."Tanggal pernikahan aku? Tempat kerja Dipta?" Ucap Gadis sambil membaca kertas yang diberikan Gavriel kepadanya."Iya, Dis. Aku butuh data itu buat jaga-jaga karena takutnya hakim bakalan tanya.""Iya, Gav. Aku paham itu," Jawab Gadis sambil mengisi kertas yang ada di pangkuannya ini.Begitu Gadis sudah selesai mengisi semua ini, ia sodorkan kembali kertas itu kepada Gavriel.
Suasana di dalam mobil yang hanya berisi Gavriel dan Gadis sudah sesepi kuburan pada malam hari. Tidak ada yang berniat membuka percakapan lebih dulu sepanjang perjalanan menuju ke daerah Jakarta Selatan ini. Deringan telepon Gadis membuat Gavriel m
Gadis : Malam ini bisa ketemu sebentar enggak? Gue ada titipan dari Mas Banyu buat lo.Berkali-kali Gadis menatap pesan yang ada di layar handphone miliknya. Sudah satu jam yan
Gavriel duduk di ruang kerjanya yang ada di lantai satu. Ia tinggalkan Gadis di kamarnya seorang diri. Pikirannya terus memikirkan sikap gila yang Gadis ambil malam ini. Sepanjang dirinya mengenal Gadis, Gavriel tahu bahwa Gadis adalah sosok wanita
Seharusnya rasa lelah setelah penerbangan dari Solo ke Jakarta ditambah menghambur-hamburkan uang pulihan juta di mall cukup membuat Gadis lelah dan mudah menuju ke alam mimpi. Sayangnya itu tidak terjadi. Kedua matanya sulit untuk terpejam