Masuk"Tubuhmu begitu menggoda," bisik seorang pria yang kini sedang bersama dengan seorang gadis di sebuah kamar. Malam itu, Tamara dijadikan wanita penghibur, ia akan dinikmati oleh pria yang menghadiri pesta tertutup di sebuah mansion milik pria kaya raya yang membeli Tamara. Namun, malam itu yang mendatangi Tamara bukanlah pria tua, melainkan seorang pria bertubuh kekar dan berparas tampan. Tamara yang bekerja sebagai pengasuh Tuan muda gila di mansion itu, tidak mengetahui siap pria tersebut. Ia bekerja sebagai pengasuh tuan muda Abidzar yang memiliki gangguan mental dan juga buruk rupa, padahal usianya sudah 30 tahun. Sejak kejadian malam itu, Tamara merasa ia telah jatuh cinta kepada pria yang telah menghabiskan malam bersamanya. Siapakah pria itu? Akankah Tamara kembali bertemu dengan pria tersebut? Atau, justru pria itu adalah laki-laki yang sering bersamanya setiap hari?
Lihat lebih banyakSemua pelayan terlihat sibuk menyajikan berbagai hidangan ke atas meja makan, termasuk Ruby yang juga ikut membantu. Sementara Tamara masih terdiam mematung, sorot kedua mata gadis itu tertuju ke arah pintu utama mansion. Ada dua orang pengawal yang masuk terlebih dahulu, setelah itu seorang pria paruh baya berjalan di depan tiga orang wanita paruh baya tapi wajahnya masih terlihat cantik dan fresh. Pria itu adalah Tuan Damian yang berjalan di depan ketiga istrinya. Ya, semua orang tahu kalau pemilik mansion itu memiliki tiga orang istri. Tamara memperhatikan seorang wanita yang memakai gaun berwarna emas, tubuhnya sedikit berisi, rambutnya hitam dan dicepol ke belakang. Wanita paruh baya itu memakai make-up tipis dan terlihat anggun dengan balutan gaun sebatas mata kaki. Sementara dua wanita yang memakai gaun berwarna silver, dari wajahnya terlihat lebih muda dari wanita paruh baya tadi. Sepertinya itu adalah istri kedua dan ketiga tuan Damian. Dari riasan waja
“Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa kamu malah memperhatikan obat-obat itu? Cepat obati luka Tuan muda! Satu lagi, kamu juga harus tahu, itu semua adalah obat yang harus diminum Tuan muda setiap hari dan kamu harus membantu Tuan muda untuk meminum obat itu, jangan sampai terlewati sekalipun. Jika obatnya habis, kamu harus segera melapor kepada saya!” gertak Alan dengan tegas. “Ba-baik.” Tamara membalas singkat, meskipun banyak pertanyaan yang tumbuh di kepalanya. Akan tetapi, ia tidak sampai melemparkan pertanyaan itu kepada Alan, karena ia takut terkena hukuman lagi. Tamara segera mengambil salep dan akan mengoleskan pada luka Abidzar. Gadis itu mengeluarkan sedikit salep dan meletakkan pada ujung jari telunjuknya. Ia memegang tangan kanan Abidzar dan akan segera mengoleskan salep itu pada lukanya. Namun, hal tak terduga terjadi. “Lancang sekali kau memegang tanganku!” Brak!Abidzar langsung mendorong tubuh Tamara dengan kasar sampai membuat gadis itu terjatuh ke atas lantai.
“Cepat!” bentak Abidzar yang membuat Tamara langsung terlonjak kaget. “I-iya, Tuan.” Gadis itu segera membuka ikat pinggang Abidzar dengan tangan gemetar. Tamara benar-benar merasa takut, ia masih terbayang hukuman yang baru saja diterimanya. Ia tidak mau kembali merasakan setruman itu, oleh karenanya ia akan mengusahakan untuk berlaku benar agar tidak kembali mendapatkan hukuman. “Jangan sentuh kulitku! Sekali tanganmu menyentuh kulitku, akan ku kupas kulit tanganmu itu!” bentak Abidzar lagi yang membuat Tamara semakin merasa ketakutan. ‘Ya Tuhan … sudah berapa pelayan yang mati di sini? Ini bukan cuma gangguan mental, tapi juga psikopat,’ gumam Tamara hanya dalam benaknya saja. Gadis itu membuka ikat pinggang yang dikenakan Abidzar dengan sangat hati-hati, ia takut jari lentiknya itu menyentuh kulit perut Abidzar. Bahkan, Tamara sampai menahan nafas ketika melakukan hal itu. Tetapi, kedua matanya terbuka lebar, ia dapat melihat jelas kulit putih milik Abidzar serta dada bida
Refleks Tamara langsung menutup kembali gorden pada jendela di hadapannya, ia langsung membalikkan badan ke arah pintu. Seorang wanita yang berusia tak jauh berbeda dengannya, masuk sambil membawa sesuatu pada tangannya. Tamara masih terdiam, ia memperhatikan wanita yang memakai baju serta rok berwarna biru muda itu. Sebelumnya Tamara melihat beberapa orang wanita di tempat itu memakai pakaian yang sama, berarti itu memang seragam pelayan di sana. “Hai, perkenalkan namaku Rubby … aku salah satu pelayan di sini dan aku diperintahkan untuk menemui kamu,” ucap wanita berambut sebahu itu sambil mengulurkan tangan ke hadapan Tamara. “Namaku Tamara,” balas Tamara sambil menerima uluran tangan dari wanita yang memiliki tubuh ramping dan tinggi sekitar seratus lima puluh sentimeter itu. Jika berdiri sejajar, sepertinya Rubby hanya sebatas leher Tamara. “Senang berkenalan denganmu, Tamara. Emmm … aku datang ke sini diperintahkan untuk memberikan baju seragam pelayan ini untukmu dan juga
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.