MasukWhen I was seven, my father brought home a beautiful lady who gave me a mango. That day, my mother watched me happily eating the mango while she signed her name on the divorce papers. After that, she jumped off the roof of our building. From then on, mangoes became the nightmare of my life. So on my wedding day, I told my husband, Alan Holt, "If you ever want a divorce, just give me a mango." Alan pulled me into his arms, quiet. From then on, mangoes became off-limits for him, too. On Christmas Eve of our fifth year of marriage, Alan's childhood sweetheart, Larissa Fennimore, left a mango on his desk at the office. The very same day, Alan announced he was cutting ties with Larissa and fired her from the company. That day, I truly believed he was the man I was meant to be with. Half a year later, I flew back from overseas, having just closed a partnership deal worth about 200 million dollars. At the celebration dinner, Alan handed me a drink. After I had finished half the glass, his so-called childhood sweetheart, the woman who had been kicked out of the company, stood behind me with a big grin and asked, "Does the mango juice taste good?" I stared at Alan in disbelief, and he was trying hard not to laugh. "Don't be mad. Larissa insisted I played a little joke on you. I didn't actually give you a mango; I just gave you a bottle of mango juice. But I think she's right. The fact that you don't eat mangoes is a real problem. You were really enjoying that juice just now." My face went cold. I lifted my hand and threw the rest of the mango juice in his face, then turned around and walked away. Some things are never a joke. I wouldn't kid around with mangoes or divorce.
Lihat lebih banyak"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGLosing the Vespera project was already a disaster, but the scandal I exposed about Alan cheating on me with Larissa, made everything even worse.His company's reputation tanked, and his own name became poison in the industry. Nobody dared work with him anymore.At first, Larissa still had some fire left in her. She worked overtime, trying to write proposals while secretly stalking my progress overseas.But the better my career became, the worse her jealousy grew.By the third month, when Holt Enterprise couldn't even afford payroll and was patching financial holes by borrowing everywhere, she finally exploded."For hell's sake, do you even know how to run a company?! Keep this up, and we'll crash! Forget being Mrs. Holt, I'll be out on the street begging for scraps!"Alan was already frustrated, staring at his laptop full of business terms he didn't even understand. Larissa yelling at him only made it worse."Oh, you're yelling at me? What exactly do you have that compares to My
"I'm sorry, Myra. I didn't know. I'm sorry for the joke. Please forgive me. It's all my fault. You can hit me. Go ahead, hit me."He grabbed my hand and started forcing it against himself over and over.My anger flared instantly. With no hesitation, I slapped him hard across the face and snapped, "Have you lost your mind?! I'm not telling you this so you'll apologize to me. I'm telling you because we're done. Mangoes are my bottom line, and you crossed it for Larissa. That means we can never go back. Do you understand that?"However, he looked at me like he really didn't understand at all. His voice was thick with pain."Do you hate me that much? Enough to take the Vespera project and let Holt Enterprise collapse? Just to get back at me?"I shook my head. "You're overthinking it. I was already in charge of Vespera. I'm just taking something that was mine from the start. Now, stop pestering me."Alan didn't hear a word. He looked hollow, as if his soul had slipped out of his body.
Alan never had to put in effort for anything, so what would he ever need to beg anyone for?I suddenly became curious about what other hurtful nonsense he could possibly churn out with that mouth of his. So instead of pulling away again, I let him hold my hand and walked into a café nearby.I checked my watch and set a ten-minute timer in my head."Myra, where have you been all this time? Do you know how long I've been looking for you?"Alan was still the same as always, spinning pretty words like they were nothing.When I took the Vespera project and officially joined another company, even a clueless fool would've known where I was. Yet, he was acting like I had vanished into thin air just to make himself look devoted.I lifted my wrist and glanced at my watch."If you're going to spend all ten minutes talking nonsense, then we don't need the remaining eight."Alan froze, caught off guard. He swallowed his irritation and said, "Why are you being so hostile toward me? I rea
"And also what?" Alan asked, his face dark as stone.The secretary swallowed hard and whispered, "And… The social media posts Ms. Fennimore had made about you that were only visible to Ms. Mendez."Her voice got smaller and smaller until it nearly disappeared, but everyone understood anyway.It was only then that Larissa snapped out of her fantasy. She rushed forward and grabbed the secretary's arm, half shouting and half panicking."What did you say?! Who gave her the right to do that? That witch!"Since Larissa dared to be someone's mistress, she had to know that if the truth ever came out, the public would drown her in spit.And my post, with the divorce papers and her secret posts attached, was basically the nail in the coffin.So, the public didn't think of me as ruthless for taking the Vespera project. Instead, they were praising me for being smart, calm, and refusing to let myself be walked all over.The moment Larissa finished screaming, Alan slapped her hard. Her cheek












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan