登入BAB 6
Sky sudah tertidur ketika Lizie Merangkak naik ke atas ranjangnya dan menggoyang-goyang tubuhnya. "Sky, aku tidak bisa tidur." Sky yang terkejut langsung kembali terbangun, menyalakan lampu di samping ranjang. Sky masih seperti bermimpi ketika melihat Lizie sudah duduk bersimpuh di atas hamparan selimutnya. Gadis itu hanya memakai kaos longgar tanpa celana dan Sky yakin dia juga sedang tidak memakai bra. "Kepalaku semakin sakit karena tidak bisa tidur," keluh gadis itu sambil memijit pelipisnya. Sudah dua malam Lizie belum tidur sama sekali dan tadi sepanjang siang dia cuma bisa berguling-guling di atas kasur tanpa dapat memejamkan mata. Sky pulang dari kantor juga langsung kembali sibuk sendiri dengan sisa pekerjaannya yang masih terus menuntutnya seperti mesin sampai dia lupa untuk memastikan anak itu. Sky bangkit untuk mengambil botol kecil di laci meja nakas kemudian memberikan satu kapsul yang tadi juga dia telan. "Apa ini?" tanya Lizie ketika memperhatikan kapsul kecil yang sudah berada di telapak tangannya. "Minum saja itu akan membantumu cepat tidur." Lizie cuma menatap Sky sebentar sambil cemberut baru kemudian langsung beringsut turun dari kasur dan keluar. Entah ini bencana atau kutukan, seketika Sky kembali menjatuhkan tubuhnya sambil menghembuskan nafas kasar. Sky sampai harus berulang kali mengingatkan jika dirinya sekarang tinggal dengan seorang gadis yang mulai beranjak dewasa, dan hanya berdua dalam satu rumah. Gadis remaja yang juga agak sembrono untuk menjaga diri. Selama ini Sky selalu tinggal sendiri bahkan dia tidak pernah membawa teman wanita pulang, jadi dia tidak pernah menyangka bakal ada yang ikut merangkak naik ke atas tempat tidurnya di tengah malam. Sky mulai merasa tidak sehat karena setelah itu justru dirinya sendiri yang jadi tidak bisa memejamkan mata sampai harus kembali menelan dosis obat yang lebih tinggi. Sky memang memiliki masalah insomnia. Dokternya sudah meresepkan beberapa jenis obat mulai yang ringan sampai cukup berat. Siapa bilang hidup sukses seperti dirinya lantas cuma tinggal berfoya-foya saja, karena nyatanya tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Selama ini Sky sudah bekerja keras seperti mesin untuk bisa sampai pada posisinya seperti sekarang. Sky mencengkram kulit kepalanya yang terasa kaku, sepertinya dia memang perlu segera menunjuk profesional untuk membantu pekerjaannya. Entah jam berapa akhirnya mata Sky kembali terpejam karena saat dia bangun hari sudah terang benderang dan dirinya masih menggeliat di atas tempat tidur dengan selimut kusut. Alarm sengaja tidak dia aktifkan di akhir pekan tapi Sky tetap terbangun karena suara berisik di luar. Sky segera ingat jika sekarang dirinya tidak hidup sendiri, buru-buru ia turun dari tempat tidur menggosok gigi dan keluar untuk memastikan jika Lizie tidak membuat kekacauan. Setelah berhasil tidur nyenyak, pagi-pagi Lizie sudah bangun. Sky melihat gadis itu sedang sibuk di meja pantry. Ternyata Lizie sedang membuat kopi dari mesin 'coffe maker' yang sudah dia pencet berulang-ulang dengan ujung jari telunjuknya yang gemas. "Untuk siapa kau membuat kopi sebanyak ini?" Sky heran melihat beberapa cangkir yang sudah berbaris di meja. "Aku coba menemukan varian yang pas tapi sama sekali tidak ada yang cocok di lidahku." Sky melihat Lizie masih kembali memasukkan kapsul kopi ke dalam mesin 'coffe maker'. Semua tulisan di kapsul tersebut menggunakan bahasa Prancis yang mengejanya pun Lizie tidak bisa. Jadi solusinya dia coba saja semua varian yang ia temukan satu-persatu. "Sudah hentikan yang itu rasanya juga akan sama saja di lidahmu, karena seharusnya kau masih minum susu bukan kopi!" "Berhentilah menganggap ku anak-anak. Jangan lupa umurku sudah delapan belas tahun tiga bulan lagi!" Sky cuma pura-pura mendengarkan. "Kenapa kau tidak pernah percaya jika kubilang umurku sudah dua tahun lebih tua! " protes Lizie yang masih terus coba memasukkan kapsul varian rasa yang lain ke dalam mesin sambil kembali melirik Sky. "Bahkan aku sudah pandai mencium pria!" goda Lizie dengan mengangkat alis dan mengigit sudut bibir bawahnya sendiri. "Oh!" Sky langsung berpaling tidak mau mendengar ocehannya. "Aku serius." Lizie malah kembali mengedip jahil kepada Sky yang masih menolak menghiraukan leluconnya. "Aku belajar dengan teman-teman," santai Lizie untuk terus memancing Sky. "Kau tinggal di asrama perempuan memangnya siapa yang kau ajak berciuman!" Sky yakin Lizie cuma membual, sampai tiba-tiba Sky sadar. "Teman perempuan?" Sky melotot untuk ucapannya sendiri. Sementara gadis itu tetap santai, dia cuma mengedikkan alis untuk menanggapi keterkejutan Sky yang ternyata terlihat lucu menurut Lizie. "Ya, kami hanya saling bertukar pengalaman, aku masih normal dan tetap lebih menyukai bibir pria." "Oh, Tuhan... jagan bilang kau juga sudah mencium pria di asrama wanita?" "Hanya beberapa kali," enteng Lizie sambil menjentikkan jari. "Jadi kau mencium tukang pemotong rumput!" Karena seingat Sky hanya tukang potong rumput satu-satunya laki-laki yang berkeliaran di asrama. "Guru di gimnasium masih jauh lebih menarik dari pada tukang pemotong rumput." "Oh, brengsek! sungguh aku akan menuntutnya jika benar dia telah menciummu!" Sky langsung berjengit marah dan berdiri dari duduknya. "Tidak ada paksaan jadi tidak ada kejahatan," kelit gadis itu masih tidak merasa berdosa sama sekali setelah bercerita pernah mencium gurunya, sedangkan kepala Sky sudah seperti mendidih. "Kau masih anak-anak dan dia pria dewasa, jadi itu tetap pelecehan!" tegas Sky. "Tapi dia tampan dan punya badan yang bagus kami semua menyukainya." "Oh, tentu karena setiap hari dia cuma berada di gimnasium dan menggoda anak-anak remaja!" Sky benar-benar ingin terus memaki. "Sungguh aku akan melaporkan pengecut brengsek itu ke dewan sekolah!" "Kenapa kau selalu marah-marah sejak bangun tidur?" Lizie malah mengoreksi penampilan Sky dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pria itu masih memakai celana pendeknya semalam tapi kali ini sudah berpakaian meski kemejanya belum sempurna dikancingkan, Sky benar-benar memiliki wujud seorang pria dewasa yang menarik. "Ingat kau masih remaja jangan sembarangan mencium lelaki!" "Itu hanya ciuman, jangan terlalu ribut! " "Oh, Tuhan....apa memangnya yang terjadi dengan remaja jaman sekarang...."Sky kembali memijit pelipisnya karena frustasi sendiri. "Aku baru tahu kau rajin berdoa seperti suster di asrama." Lizie tersenyum kecil karena Sky sudah beberapa kali menyebut nama Tuhan sepanjang pagi. "Sudah kemarin kan kopimu biar aku minum!" Sky menyerah jika harus berdebat dan memilih mengabaikan ejekan Lizie. "Aku bisa sakit perut jika minum sebanyak ini."Sky memperhatikan lagi barisan cangkir yang disodorkan gadis itu. "Habiskan sendiri yang lainnya!" "Aku tidak mau!" tolak Lizie. Sky diam untuk memelototi Lizie agar takut tapi Lizie malah mengambil permen karet dari kantongnya dan mulai mengunyah dengan tak acuh. Bagaimana Lizie bisa takut jika yang memelototinya pria tampan. *****"Selamat ulang tahun. " Di musim semi ulang tahun Lizie yang ke sembilan belas. Sky mengangkat Lizie untuk duduk di atas pangkuannya, mereka hanya berdua memandang ke luar dari jendela kaca besar yang menghadap langsung ke sisi pegunungan Alpen. "Aku ingin kita seperti ini dulu," bisik Sky ketika mempererat lengannya di pinggang Lizie dan menghirup puncak kepalanya dengan tarikan napas dalam. "Aku ingin memilikimu untuk diriku sendiri." Sky menyarukkan rahangnya yang terasa kasar dan menggelitik sisi leher gadis mudanya yang hangat dan lembut. "Aku adalah milikmu, kau boleh memilikiku sesuka hatimu." Sentuhan Sky adalah apa yang juga akan selalu Lizie inginkan.
Walaupun tangan kirinya masih di perban tapi Sky bersikeras bisa menyetir sendiri untuk membawa lizie pulang bersamanya. Sky memang keras kepala, padahal Tobias sudah sengaja datang pagi-pagi untuk mengantarkan mereka pulang. Lizie terpaksa masuk ke dalam mobil Sky dan melambai pada Tobias Harlot untuk sekaligus minta maaf. Lizie benar-benar merasa tidak enak karena bagaimanapun selama ini Tobias sudah sangat baik pada mereka. "Tulangku hanya retak bukan cacat!" kata Sky setelah Lizie duduk di sampingnya. "Ya, aku percaya." Lizie pilih setuju saja dibanding harus berdebat karena dia tahu Sky tidak suka diremehkan dan hal itu sudah jadi sifat dasarnya yang sulit dirubah. Sky memang masih bisa mengemudi dengan baik, lengan kirinya j
Tobias Harlot sudah coba menjelaskan dengan tenang tapi nyatanya air mata Lizie tetap merembas hangat dari masing-masing sudut matanya. Lizie meraba kembali perutnya yang sudah kembali rata dengan jemari tangannya yang agak kurus. Rasanya tetap pedih walaupun sudah tidak ada yang terasa perih lagi. "Jadi bayiku tidak selamat? " Tobias hanya berani mengangguk pelan. "Anak-anak akan berada di surga kau tidak perlu cemas." "Aku bahkan tidak sempat melihatnya." "Kau sudah berjuang dengan hebat, Sky pasti juga akan tetap bangga padamu." Lizie mulai menunduk dan terisak pelan.
Sky berjalan kembali ke mobilnya, berusaha mencengkram kemudinya dengan mantap untuk menguatkan langkahnya. Sky tidak boleh menyerah karena Lizie juga sudah berjuang dengan sangat keras. Sky menoleh pada buket bungan matahari di samping tempat duduknya dan kembali menghela napas dalam untuk memenuhi paru-parunya yang sesak. Sky sudah bersumpah pada Gerald untuk menjaga putrinya. Walaupun mungkin sahabatnya itu sudah lebur bersama tanah tapi sumpah Sky akan tetap berlaku untuknya. Sky tidak akan menyerah dia harus tetap hidup demi Lizie dan demi putri mereka yang sudah pergi tanpa sempat menangis. Sky berjalan melalui lorong dingin yang juga sudah dia lalui setiap hari tanpa pernah berubah. Semuanya masih sama, tidak ada perubahan berarti sejak dua bulan berlalu. Sky mengganti bunga matahari di dalam vas kaca dengan yang baru dia bawa,
Sky menoleh kembali tempat tidur di sampingnya yang kosong dan dingin, hampir tiga bulan berlalu tapi rasanya masih sulit dipercaya ia harus menjalani hidup seperti ini. Ini adalah musim dingin paling beku di sepanjang hidupnya . Sky tidak pernah tahan tiap kali mulai memikirkannya, hidup tanpa Lizie dan tanpa bayi mereka. Sky masih tertelungkup di atas tempat tidurnya setelah semalam Tobias menyeretnya pulang dari kekacauan yang dia buat di klub. Tobias sampai harus memukul Sky karena Celine menemukanya mabuk di klub dan berkelahi. Ternyata bukan hanya kesendiriannya yang sulit untuk dijalani, tapi kewarasannya juga semakin sulit untuk dijaga belakangan ini. Sky benar-benar tidak sanggup menjalani hidup seperti ini. Seolah dia hanya berjalan dan bernapas tanpa pernah benar-benar bisa hidup lagi. Sky masih ingat di mana dia menyimpan senjata apinya yang selalu siap sedia untuk mengakhiri segala penderitaan, godaan itu semakin menggoda untuk dituruti dan akan segera menjadikannya pen
Selama Mark bicara dengan Lizie, Sky sudah membuat keributan. Sky mengancam akan menuntut pihak rumah sakit jika mereka tidak segera mengambil tindakan. Tapi pihak rumah sakit juga tidak bisa melakukan pembedahan paksa tanpa persetujuan pasien. Sky tahu Lizie memanggil Mark Walder untuk meminta pertolongannya dan Sky sudah benar-benar kehilangan akal karena sikap keras kepala Lizie. Begitu melihat Mark baru keluar dari kamar Lizie Sky langsung menghampiri pria itu dan memukulnya. Sky memukul cukup keras sampai sudut bibir Mark langsung berdarah. Mark tidak membalas pukulan Sky karena dia tahu pemuda itu sedang sinting. Mungkin dia pun juga akan demikian jika berada di posisi Sky sekarang. "Jangan pernah merasa kau bisa menjadi pahlawan untuk Lizie ku!" ancam Sky sambil menunjuk Mar
BAB 3 ALIZIA MORIS Tanpa sepengetahuan siapapun Sky terbang sendiri ke Seattle, dia berencana untuk mengambil Alizia Moris dari sekolah asramanya. Kedengarannya memang agak gila tapi jika memang anak itu yang sekarang menjadi kuncinya, maka Sky harus menguasai gadis itu, dan menyembunyikannya dari
BAB 2 KEMATIAN GERALD DAWSON Gerald Dawson meninggal dunia beberapa jam setelah mengalami serangan jantung. Kabar itu membuat Sky terpaku cukup lama di dalam jet pribadinya. Sulit dipercaya... Pria yang selama ini menjadi partner bisnis, mentor, sekaligus orang tua kedua baginya, kini telah tiada.
BAB 1 PLAYBOY Sky Adington dan Gerald Dawson sukses bekerjasama membangun sebuah perusahaan multi nasional bernilai triliunan dolar. Mereka memiliki 80% saham mutlak dari perusahaan yang telah berdiri lebih dari satu dekade. Sudah hampir tujuh tahun Sky mengencani putri tunggal Gerald. Bukan tanp
BAB 5 Kantor Sky masih berada di kawasan jalan utama Fourth Avenue. Tidak jauh dari apartemennya. Dia cuma memerlukan waktu tidak sampai sepuluh menit untuk sampai di kantor tersebut. Gedung empat puluh tiga lantai itu sekarang sudah dia jadikan sebagai aktor utama untuk induk perusahaannya. Sebu







