LOGINArjuna Wiwaha, seorang sopir taksi sederhana, menjalani kehidupan yang keras bersama Aleya, istrinya. Setiap hari ia bekerja tanpa lelah, menahan lapar dan lelah demi memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Namun, semua pengorbanan itu seolah tak pernah cukup di mata Aleya. Hingga pada hari ulang tahunnya, Arjuna justru dihadapkan pada kenyataan paling pahit—Aleya meminta cerai dan memilih pria lain yang lebih kaya, meninggalkannya tanpa sedikit pun penyesalan. Dunia Arjuna runtuh seketika. Harga dirinya diinjak, cintanya diabaikan, dan hidupnya terasa kehilangan arah. Namun takdir berkata lain. Di tengah kehancurannya, seorang penumpang misterius masuk ke dalam taksinya. Sosok tua itu menatap Arjuna dengan mata bergetar, seolah menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Saat turun, pria itu berkata pelan namun tegas, “Cucuku… kamu adalah cucuku yang selama ini aku cari. Kamu adalah pewaris seluruh kekayaan yang aku miliki.”
View MoreHujan deras mengguyur kota Metropolis malam itu, menampar kaca jendela apartemen kecil yang nyaris rapuh. Di dalamnya, Juna duduk di sofa tua, memijat pelipis dengan lelah.
Tatapannya sesekali beralih ke pintu, menunggu Aleya, istrinya, pulang dari bekerja.
Hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Juna memilih pulang lebih awal. Ia ingin melakukan sesuatu yang sederhana, tapi mungkin akan sangat berarti menurut Juna, merayakan ulang tahun Aleya dengan caranya sendiri.
Di atas meja, sebuah kue kecil sudah tertata rapi. Lilin belum dinyalakan, seolah menunggu momen yang tepat.
Klak—
Pintu akhirnya terbuka.
Aleya masuk dengan wajah masamnya.
Juna segera berdiri, berusaha menampilkan senyum terbaiknya. Di tangannya, kue ulang tahun itu kini terasa seperti harapan yang rapuh.
Ia menatap kue dengan satu lilin sederhana itu, lalu kembali menatap Aleya, "Sayang, Selamat ulang tahun.”
Tangannya yang berurat tampak sedikit gemetar saat merogoh saku jaket yang terasa sempit. Sesaat, ia seperti menahan napas.
Tak lama, senyumnya kembali merekah. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu menyodorkannya dengan hati-hati. “Aku tahu ini tidak seberapa, tapi aku harap kamu suka.”
Aleya menatap kotak itu dengan ekspresi jijik, lalu mengalihkan pandangannya pada Juna dengan sorot mata penuh amarah.
“Apa lagi ini? Kamu beli barang rongsokan seperti ini di mana? Aku bisa gatal kalau memakainya!” katanya, lalu menyandarkan tubuh ke sofa dengan sikap acuh, jelas tidak tertarik.
Juna terdiam. Dadanya terasa sesak. Barang yang ia beli dengan susah payah, dari hasil menyisihkan penghasilannya seharian, kini terasa begitu tidak berarti. “Aku tahu ini tidak mewah, tapi….”
“Jun, sudahlah! Aku lelah!” potong Aleya tajam. “Setiap ulang tahun, kado darimu tidak pernah berubah! Perhiasan-perhiasan yang kamu kasih itu, bahkan dijual lagi pun tidak laku. Kamu pikir aku bahagia dengan semua ini?”
Entah mengapa, udara malam terasa semakin dingin, merayap pelan hingga menusuk ke tulang. Namun, dingin itu masih kalah kejam dibandingkan kata-kata yang baru saja keluar dari bibir Aleya.
“Juna, mari bercerai,” ucapnya tanpa jeda, tanpa ragu.
Nada suaranya datar, nyaris tanpa emosi.
Seolah yang ia ucapkan hanyalah hal biasa, bukan keputusan yang mampu menghancurkan segalanya. Seolah tahun-tahun yang mereka lewati bersama tidak pernah benar-benar berarti.
Juna terpaku. Tatapannya mengunci pada Aleya yang berjalan santai menuju sofa, lalu duduk dengan anggun, seakan sedang meletakkan dirinya di atas sesuatu yang menjijikkan. Kontras dengan Juna yang masih berdiri kaku, mencoba memahami kenyataan yang terasa begitu tiba-tiba.
“Cerai? Al… ini tidak lucu…” suaranya pecah, bergetar, bukan karena marah, melainkan karena hatinya yang mulai runtuh.
Aleya mengangkat dagunya sedikit, menatapnya dengan dingin yang tak lagi ia kenali. “Tidak ada yang sedang bercanda di sini. Aku sangat serius, Arjuna Wiwaha.”
Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tajam, lebih menusuk.
“Aku muak. Dan benar kata orang… wajah tampanmu tidak akan pernah membuat seseorang kenyang.”
Jantungnya seolah dihantam palu godam berkali-kali. Juna bangkit, berdiri tepat di hadapan Aleya. Matanya memerah, menahan sesak yang terasa menyesakkan dada, menatap wanita itu dengan amarah yang bercampur luka.
“Muak?” suaranya bergetar, namun penuh tekanan. “Apa maksudmu wajah tampanku tidak bisa membuatmu kenyang?”
Ia menarik napas kasar, berusaha mengendalikan emosinya yang mulai meluap.
“Kamu lupa?” lanjutnya, nadanya meninggi. “Siapa yang dulu memintaku menikah? Siapa yang bersikeras bahwa kita bisa hidup bersama, apa pun keadaannya?”
Tatapannya semakin tajam, suaranya kini lebih dalam, sarat kecewa.
“Kenapa sekarang justru wajahku yang kamu hina? Ingat, Aleya… ingat dulu alasanmu memintaku menikahimu.”
“Itulah kebodohanku. Karena itu, aku ingin menghentikan kebodohan ini! Aku tidak bisa melihat masa depan bersamamu,” balas Aleya dengan nada dingin yang menusuk.
“Aku merasa terjebak dalam hubungan ini. Kamu terlalu sibuk mengejar pekerjaan yang masa depannya tidak jelas. Aku butuh lebih dari ini, Jun… dan kamu bukan orangnya.”
Juna terpaku, seolah baru saja ditampar keras. Dadanya naik turun menahan emosi. “Aku sudah bekerja keras, Al. Aku berusaha memberikan yang terbaik. Kamulah yang selalu merasa kurang! Kamu—”
“Iya, betul! Aku memang merasa kurang!” sergah Aleya, suaranya kini meninggi, penuh tekanan.
“Kamu bekerja sampai larut malam setiap hari, tapi hasilnya apa? Uang yang kamu bawa pulang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan kita. Aku harus membeli skincare, makeup, bahkan pakaian dengan uangku sendiri! Bukankah itu tanggung jawabmu sebagai suami?”
“Al, kamu tahu penghasilanku tidak seberapa, tapi aku sedang berusaha. Aku selalu mengusahakannya, Al… semua ini untuk kamu,” ucap Juna. Meski amarah menguasainya, ia masih berusaha menyelamatkan rumah tangga mereka yang nyaris runtuh.
“Berusaha? Dengan jadi sopir taksi, itu cukup?” balas Aleya, suaranya meninggi, hampir seperti teriakan.
“Aku yang seperti ini harus menikah denganmu? Ini benar-benar bencana! Seharusnya aku bisa mendapatkan yang lebih kaya darimu. Jangan paksa aku hidup susah seperti ini!”
Juna mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. “Jadi maumu apa, Aleya? Kamu mau meninggalkanku begitu saja? Setelah semua yang aku lakukan untukmu? Kamu tahu seberapa keras aku bekerja hanya untuk memastikan kita bisa hidup nyaman?”
Aleya mendengus, lalu melipat tangan di dada. Tatapannya merendahkan. “Hidup nyaman? Dengan kamu jadi sopir taksi? Sampai kapan, Jun? Janjimu itu sudah basi. Aku sudah mendengar kata ‘berusaha’ itu selama bertahun-tahun!”
Jawaban itu membuat darah Juna mendidih. Ia menatap Aleya tajam, suaranya berubah berat dan dingin.
“Jadi benar kamu ingin bercerai?” jedanya singkat, napasnya tertahan. “Kamu tidak akan menyesal?”
Salva tertidur pulas di atas ranjang setelah meminum obat penurun demam yang diberikan dokter. Wajahnya masih tampak pucat. Bahkan saat tidur pun, alisnya sedikit berkerut seolah tubuhnya masih berjuang melawan sesuatu. Juna duduk di kursi di samping ranjang, memperhatikan istrinya dalam diam. Ia seharusnya senang. Berita yang selama ini menghancurkan mereka akhirnya berbalik arah. Hasil tes DNA yang diumumkan Satya membuat publik mulai mempertanyakan Aleya. Banyak orang yang sebelumnya menghujat Juna kini berbalik menyerang mantan istrinya. Namun anehnya, Juna tidak merasakan kemenangan apa pun. Karena selama tiga hari terakhir, pikirannya hanya dipenuhi oleh Salva. Keadaan wanita itu terus memburuk. Demamnya naik turun dan nafsu makannya hampir hilang sepenuhnya. Ia juga mulai menghindari cahaya matahari. Bahkan saat tirai dibuka sedikit saja, Salva akan memejamkan mata dan mengeluh pusing. Belum lagi rasa mual yang datang tanpa peri
Seminggu berlalu, dan alih-alih mereda, skandal tentang Juna justru membara. Nama Juna Wiwaha menjadi santapan harian media yang berlomba-lomba mengangkat narasi klise. Satya awalnya memilih diam, karena ia tahu dalam dunia bisnis, tidak semua serangan layak dibalas. Namun, ketika fitnah tersebut mulai menyeret nama besar keluarga Wiwaha dan menggerogoti harga saham La Grande, kesabarannya mencapai titik nadir. Pagi itu, sebuah konferensi pers mendadak diumumkan. Ruang utama La Grande dipadati awak media. Tak ada yang menyangka Satya akan muncul sendiri. Pria tua itu berjalan masuk dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi, didampingi Vicky dan jajaran pengacara dari firma hukum paling bergengsi. Kilatan kamera segera membabi buta, memenuhi ruangan dengan cahaya yang menyilaukan. Satya duduk di depan mikrofon. Wajahnya datar, tanpa ekspresi, yang justru membuat suasana ruangan terasa jauh lebih mencekam. "Kalian s
Juna dan Salva sama sekali tidak tahu bahwa di belahan dunia lain, nama mereka sedang menjadi bahan perbincangan panas. Saat berbagai portal berita dan akun gosip bisnis sibuk menyebarkan narasi tentang seorang pria yang menghamili mantan istrinya lalu kabur ke luar negeri demi menikahi wanita lain, keduanya justru sedang duduk tenang di ruang konsultasi dokter. Dokter yang menangani Juna tampak jauh lebih ceria dibanding kunjungan-kunjungan sebelumnya. Ia membuka hasil pemeriksaan terbaru sambil tersenyum lebar. "Perkembangannya sangat baik, Tuan Juna." Salva yang duduk di samping suaminya langsung terlihat lega. "Benarkah, Dok?" Dokter mengangguk mantap. "Jauh lebih baik dari yang kami perkirakan. Setelah operasi terakhir, respons saraf dan ototnya meningkat signifikan. Saya bahkan ingin mulai mengurangi ketergantungan Anda pada kursi roda." Mata Salva langsung berbinar. "Maksudnya?" "Kita mulai latihan menggunakan kruk,"
Ruang rapat utama La Grande pagi itu dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa disentuh. Para pemegang saham utama, jajaran direksi, dan komisaris duduk mengelilingi meja panjang berlapis kayu mahoni. Di ujung meja, Satya duduk tenang dengan ekspresi yang sulit ditebak, sementara di sisi kanan, Raga tampak rapi dan professional, seolah ia tidak sedang memimpin sebuah kudeta halus di balik topeng ketenangannya. "Baik," ujar Satya sambil meletakkan dokumen di hadapannya. "Karena rapat ini diminta secara resmi, saya ingin mendengar alasan-alasannya." Seorang direktur senior segera membuka suara. "Kita tidak bisa memungkiri bahwa Tuan Juna sudah cukup lama tidak menjalankan tugas secara langsung." Beberapa orang mengangguk setuju. "Seluruh keputusan operasional tertunda," sahut yang lain. "Koordinasi lintas divisi menjadi lambat, dan investor mulai mempertanyakan stabilitas perusahaan." Satya hanya mendengarkan. Ia tidak membela Juna, pun tidak menyela
Kulit mereka kini tak lagi terhalang sehelai benang pun, menciptakan hawa panas yang seolah sanggup melelehkan dinding kamar. Salva menatap Juna dengan sorot mata yang berkabut, bibirnya digigit perlahan hingga memerah, menyuarakan keraguan yang tertahan, "Apakah ini akan sakit, Mas?"
Suasana kamar itu terasa semakin hangat, kontras dengan udara dingin yang menyelinap dari balik jendela kastil. Juna bersandar pada bantal tinggi yang diatur sedemikian rupa, matanya terus mengikuti pergerakan Salva. Istrinya itu mondar-mandir merapikan gaun pernikahan yang baru saja mereka lepas
Halaman belakang kastil itu benar-benar disulap menjadi tempat yang sakral. Latar belakang hutan pinus yang diselimuti kabut tipis Jerman memberikan suasana yang tenang, magis, dan sangat intim. Juna duduk di kursi roda dengan setelan jas putih yang tampak kontras dengan hijaunya pepohonan, ditem
Jerman bukan sekadar tempat pengasingan, melainkan sebuah dunia baru yang dingin namun menenangkan. Rumah mewah bergaya kastil di pelosok desa itu berdiri kokoh, dikelilingi hutan pinus yang menghijau dan puncak pegunungan yang tertutup kabut tipis. Bagi Juna, tempat ini adalah pelarian yang semp






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.