Kembali untuk Merebut Kekayaan

Kembali untuk Merebut Kekayaan

last updateLast Updated : 2026-01-20
By:  Villain25Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
9Chapters
13views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Meskipun mati ribuan kali, tapi aku tetap akan bangkit dari kematian hanya untuk membalas dendam terhadap kalian para perampas harta milik keluargaku!" Jay, seorang pemimpin kelompok bandit kota yang sebenarnya adalah salah seorang ahli waris dari dua keluarga konglomerat paling terkenal di Kota Permata. Ia berkonflik dengan ibu tirinya yang menyebabkan Jay dan kakaknya mengalami kecelakaan hingga pemuda itu dikabarkan tewas masuk ke jurang maut. Namun, takdir berkata lain, Jay bangkit dari jurang kematian dan siap merampas kembali semua miliknya yang hilang.

View More

Chapter 1

Chapter. 01

Hujan deras memukul aspal dengan keras, mengubah jalanan pinggir Kota Permata menjadi cermin hitam yang memantulkan sedikit cahaya lampu jalanan, mengiringi sosok Danny Wijaya yang tengah menarik handle gas dalam-dalam hingga mesin motor Honda Repsolnya meraung, membelah kegelapan malam.

"Pelan-pelan saja, Kak Danny. Jadi terlalu terburu-buru!" Jay memeluk pinggang sang kakak lebih erat, tubuhnya gemetar, entah karena dingin atau ketakutan. "Jalanan terlalu licin. Kita jangan sampai celaka."

"Kita harus cepat sampai di rumah." Danny menoleh sekilas, melihat wajah adiknya yang pucat. "Kakak tidak ingin kamu sakit. Besok kamu masih harus bertanding, kan?"

Ketika Jay hendak menjawab, bayangan tiga lampu motor muncul dari tikungan belakang yang baru saja mereka lewati. Cahayanya menyorot tajam, memotong kegelapan seperti pisau. Suara mesin motor-motor meraung-raung, seperti sengaja mereka gunakan untuk mengancam lawan.

"Kak Danny." Jay menoleh ke belakang, dadanya sesak. "Sepertinya ada yang aneh dengan para pengendara motor di belakang itu."

Danny Wijaya melirik spion kiri, lalu kanan.

"Mungkin mereka cuma orang yang sedang jalan searah dengan kita," sahut Danny, suaranya dibuat santai.

Tapi nada suara Danny tidak meyakinkan. Tangannya menggenggam stang lebih kencang sampai buku-buku jarinya agak memutih.

Tiba-tiba, sebutir batu melayang dari kegelapan, dan ....

Trang!

Benda itu menghantam spakbor belakang, memantul ke aspal dengan bunyi nyaring. Motor yang dikendarai Danny tersentak, ban belakang bergeser sedikit ke kiri.

"Astaga! Hampir saja!" Danny menjerit, setengah kaget, setengah panik, sambil berjuang mengendalikan kemudi.

"Sial!" Jay melirik ke belakang, matanya melebar. "Kak, mereka benar-benar menguntit kita!"

"Kakak tahu!" Danny menarik gas habis-habisan. Angin hujan menghantam wajah mereka seperti cambuk. "Berpegangan erat-erat, Jay!"

Jay kala itu baru berusia dua puluh tahun hanya mengangguk, tangannya melingkar erat di pinggang Danny yang hanya selisih tiga tahun dari usianya.

"Tetap hati-hati, Kak!" Jay terus mengingatkan.

"Kamu tenanglah." Danny bersiap tancap gas lebih kuat. "Ingatlah kalau kakakmu ini adalah seorang pembalap yang belum terkalahkan di kota ini!"

Motor-motor di belakang semakin dekat. Salah satu melaju sejajar, pengendaranya, pria bertopeng hitam yang menatap mereka dengan pandangan mata dingin. Klakson dibunyikan berulang kali, memekakkan telinga. Gas digeber keras-keras, menciptakan harmoni setan di malam yang kelam.

Jalanan mulai menanjak, di kanan mereka jurang menganga seperti mulut raksasa. Tidak ada pembatas, hanya kegelapan yang menelan segalanya. Jay bisa mendengar detak jantungnya sendiri, lebih keras dari suara hujan.

"Kak, awas!" teriak Jay, panik.

Terlambat.

Motor dari arah kiri melesat dengan kecepatan gila, menabrak keras motor Danny. Bunyi benturan logam memecah malam.

Danny kehilangan kendali. Motor berputar, tubuh mereka terlempar. Dunia menjadi kacau, aspal, langit, lampu, semuanya berputar dalam pusaran mengerikan.

Danny berguling, punggungnya membentur tanah berulang kali. Motor jatuh menindihnya, knalpot panas menyentuh pahanya. Rasa sakit meledak di sekujur tubuh, tapi satu-satunya yang ia pikirkan adalah adiknya.

"Jay!"

"Jay!" Suaranya pecah, penuh kepanikan. "Di mana kamu?"

Danny merangkak, menyeret tubuhnya keluar dari bawah motor. Setiap gerakan seperti pisau mengiris daging. Darah bercampur air hujan di tangannya, membuatnya licin dan merah muda.

"Jay, apa kamu baik-baik saja?"

Bunyi mesin motor mendekat. Danny mendongak, terlalu lambat, sebuah roda depan sepeda motor besar melindas kedua kakinya.

Kretek!

Danny menjerit. Suara yang keluar bukan lagi manusiawi, melainkan seperti jeritan binatang yang terluka. Tulangnya remuk, daging robek, saraf-saraf berteriak dalam agoni yang tak terbayangkan.

Danny jatuh telentang, rambutnya yang panjang tersebar di genangan air bercampur darah. Hujan membasuh wajahnya, tapi tidak bisa membasuh rasa sakit.

"Kak Danny!"

Suara teriakan Jay terdengar lemah, ketakutan, datang dari sebelah kiri. Danny memaksakan kepala menoleh. Adiknya berdiri tertatih, tapi sebelum sempat melangkah, pria berbadan besar berpakaian serba hitam sudah menghadangnya.

Bogem pertama menghantam pipi Jay. Kepala pemuda itu terpelanting. Tinju kedua mengenai perut, membuatnya membungkuk. Ketiga, keempat, kelima, tinju itu tidak berhenti. Jay tersungkur, muntah darah di aspal basah.

"Siapa ... siapa kamu?" Jay terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirnya.

Pria itu tidak menjawab. Hanya melanjutkan pukulan dengan metodis, seperti mesin pembunuh.

"Tidaaak!" Danny berteriak, suaranya serak. Ia mencoba merangkak, tapi kakinya tidak merespons, hanya daging hancur dan tulang patah.

"Jangan! Tolong lepaskan adikku!"

Dua pria lain muncul dari kegelapan. Mereka mengangkat tubuh Jay yang nyaris tak sadarkan diri, menyeretnya ke tepi jurang. Kaki-kaki Jay menggantung di udara kosong.

"Kalau kalian ingin harta, tinggal katakan saja!" Suara Danny memelas, air mata bercampur darah di wajahnya. "Kalau kalian menginginkan nyawaku, tinggal ambil saja! Tapi tolong ... tolong bebaskan adikku!"

Mereka tidak peduli.

Dengan gerakan acuh tak acuh, mereka melemparkan Jay ke dalam jurang.

"Kak Danny!"

Tubuh pemuda itu menghilang dalam kegelapan. Tidak ada teriakan. Tanpa bunyi benturan. Hanya kesunyian yang lebih mengerikan dari apa pun.

"Jaaaaaay!" Danny menjerit sampai suaranya hilang, tenggorokannya serasa robek. "Jay!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Zhu Phi
Zhu Phi
Bagus ceritanya...
2026-01-20 13:11:07
1
1
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status