Share

BAB 7 ALASAN

"Anak kecil memang seperti itu. Mereka memperlihatkan ke-bandel-an hanya untuk diperhatikan, mereka tak suka diabaikan." Suara bariton itu mengejutkanku. Spontan aku menoleh ke belakang. 

"Anu ...." Aku mengeratkan pegangan pada tali tas. Dalam situasi seperti ini ada rasa canggung menyergap. 

Laki-laki itu menatapku seperti biasa, dingin dan menyeramkan, setidaknya itu pendapat pribadiku. Tatapan dingin itu membuat nyaliku menciut. Aku sudah bersiap dengan konsekuensi hukuman jika saja itu terjadi. 

Alis tebal itu tertaut, dia berjalan melewatiku mendekati bocah laki-laki itu.

"Perkenalkan Sean, umurnya 10 tahun, dia adik saya. Hari ini saya mau kamu menjaganya. Terserah, mungkin mau jalan-jalan atau bermain saya izinkan. Semuanya saya yang tanggung." Tangan kekar itu memegang bahu bocah laki-laki bernama Sean. Tak lama kulihat mengulas senyum pada si bocah.

Adik? Sebentar ... sebentar. Sebelumnya lelaki ini mengatakan aku akan menjadi babysitter anaknya. Lalu sekarang kenapa malah adiknya yang disuruh aku menjaga? 

Lalu selisih berapa tahun memangnya mereka. Kenapa aku berpikir bahwa Pak Malik adalah Om-nya si bocah? Aku berdehem kecil menutup mulut agar tak terdengar jika aku sedang menertawakannya. 

"Yey!"

Bocah itu berteriak girang. Diambilnya bola di tanganku dengan cekatan lalu mendekat pada Pak Malik. 

"Kamu pasti ngira saya Om-nya, 'kan?" Dia mendekat padaku. Aku mundur menghindarinya. Langkah kaki lelaki itu tertarik ke belakang karena si bocah menyeretnya.

"Bang, hari ini Sean mau ke Mall. Banyak game yang mau Sean mainin," ujar si bocah. Aku cuma menanggapinya dengan manggut-manggut. Yah, aku tau pasti kemauannya sulit diganggu gugat. Karena bagi anak kecil pada umumnya kesenangan itu nomor satu.

"Boleh, nanti Abang suruh Pak Slamet buat anterin kalian. Soal biaya ... saya percayakan kartu ATM platinum ini sama kamu, Nada." 

Pak Malik mendekat, dia menyodorkan kartu berwarna perak. Aku menerimanya walau masih kebingungan. Bagaimana cara menggunakan? Itu adalah salah satu pertanyaan paling membayangi kepalaku.

"Nggak, Abang harus ikut! Kali ini aja pliss. Udah lama kita enggak jalan bareng lagi," rayu si bocah pada lelaki itu dengan memohon. Matanya berbinar menggemaskan. 

Dan, aku baru sadar ternyata bocah laki-laki itu agak mirip dengan Pak Malik terutama di bagian hidung. Sama-sama mancung. Juga alis hitam dan tebal itu menambah kesan menawan pada dirinya meski pakaiannya amburadul sekalipun tetap tak mengurangi kesan tampan itu pada diri si bocah. 

Duh, aku jadi insecure dibuatnya. 

Rasanya aku hanyalah remahan rengginang jika berada didekat mereka.

"Enggak bisa, Sean. Abang banyak pekerjaaan," sahut Pak Malik. Tatapanku beralih pada si bocah. Dia merengut tak suka pada jawaban Kakak-nya. Bola yang ada di tangannya dibanting, dia beranjak menjauh dari teras berlari menuju Gazebo. 

Pak Malik mengedikkan bahu.

Aku berjalan mendekat pada Pak Malik. Dalam jarak kami dua langkah, aku berujar padanya, 

"Apa enggak sebaiknya Bapak ikut. Kasian Sean dia juga pengen punya waktu sama Kakaknya. Tolong dipikir lagi, Pak." Setelah selesai berbicara aku sedikit membungkuk padanya lalu berjalan melewatinya. 

Langkahku berhenti saat memasuki Gazebo. Sekilas, kulihat ukiran itu sungguh menakjubkan, sangat detail. 

Hah, aku lupa ternyata orang kaya memang senang menghabiskan uang untuk hal yang bahkan tidak terlalu penting seperti ini. Kalau saja aku punya banyak uang seperti mereka, rasanya ada banyak hal baik yang ingin kulakukan. 

Mungkin salah satunya cara, adalah dengan cara membeli tanah panti itu, agar tak ada lagi yang bisa semena-mena menyuruh mereka pindah, tanpa solusi dimana mereka selanjutnya harus tinggal.

Kalau sudah begini aku pasti kembali teringat Panti Asuhan tempat Ayah sering membawaku dulu waktu masih kecil. Mengenalkan banyak anak-anak dari panti untuk sekedar bercengkerama dengan mereka lalu diakhir pertemuan Ayah akan memberikan amplop yang entah apa isinya. Tapi, setelah sudah se-dewasa ini aku yakin ayah memberikan sedikit uang untuk membantu pengurusan panti. 

Bu Saudah-pengurus panti yang berusia 52 tahun itu mengatakan tak lama lagi bangunan itu akan segera digusur karena berdiri di tanah milik negara. Sebab, pemilik tanah bilang mereka akan membangun toko di atasnya untuk kepentingan perusahaan, mereka menyuruh pihak panti agar segera mengosongkan tanah. 

Bu Saudah bilang jika panti itu akan segera digusur dalam waktu dekat, mereka tak akan punya tempat tinggal untuk menampung anak-anak panti yang berjumlah sekitar kurang lebih 40 orang.

Sebenarnya bisa saja mereka tinggal di rumahku tapi sepertinya tidak akan muat menampung mereka yang sangat banyak. 

Maka dari itu Bu Saudah menolak tawaranku, tidak ingin merepotkan katanya. Aku sempat merasa bersalah karena tak bisa membantu mereka. Sejauh ini aku berharap ada malaikat baik hati yang mau dengan ikhlas membantu mereka.

"Sean, boleh Kakak masuk?" 

Bocah itu tak menjawab dan memilih membelakangiku. Sepertinya dia memang kesal dan meluapkannya pada orang sekitar. Lucu menurutku. Sebab, Alif pun juga seperti itu saat sekecil Sean. 

Berjalan 2 langkah, aku ikut duduk di sebelahnya dengan jarak satu meter. 

"Abang selalu enggak punya waktu main sama aku! Kenapa? Apa kerjaan memang penting banget sampe lupa sama keluarga?" 

Mataku membelalak. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seakan menyihirku, terdengar tajam dan menusuk. Aku membeku. 

Aku rasa di usianya yang masih terbilang kecil dia sudah memiliki pemikiran yang sudah seperti orang dewasa. 

"Abang kerja buat Sean, buat masa depan Sean juga," ujarku berusaha menenangkannya. 

Sean berbalik menatapku. 

Bulir bening di sudut matanya segera dia sapu. Aku menggeleng lalu membawanya ke dalam dekapan. 

"Semuanya buat Sean. Jangan sedih lagi ya." Aku mengelus rambut bocah itu lembut. Sean terisak dalam dekapan. Bisa kurasakan airmatanya membasahi bajuku

Aku tertawa kecil menanggapinya.

"Anak kecil nggak boleh cengeng dong. Masa nggak malu sama Kakak?" 

Dia melepaskan pelukan. Kembali merengut dan memanyunkan bibir. Kedua tangannya disilangkan dan dia memalingkan wajah.

"Sean, Abang ikut," sahut suara bariton itu dari dekat, di belakangku. 

Aku sampai tidak sadar kalau lelaki itu sudah sedekat ini. Menggeser posisi agar berjauhan, rasanya  sekarang jantungku  berdegup gila. 

Didekati oleh lelaki dalam jarak sedekat itu secara tiba-tiba membuatku ingin mengumpat. Untungnya aku sadar dan mengurungkan niat itu. Karena bisa saja langsung dipecat setelah mengumpat. Itu bukanlah ide yang bagus.

Seolah tak terjadi apa-apa aku menatapnya kikuk. 

"Hari ini, Sean mau kemana dulu?"

Sean masih terlihat kesal, dengan menyilangkan tangan di depan dan dan membuang muka. 

Pak Malik tertawa kecil lalu bangkit dari duduknya. Dia mendekat pada Sean, mengacak gemas rambut itu.

"Ahh!" Sean protes dengan menepis tangan Pak Malik. 

"Kemana aja deh, Abang janji ikut. Tapi, janji jangan marah lagi ya, plis."

Pak Malik berjongkok untuk menyamakan tinggi mereka lalu mengulurkan jemari kelingkingnya pada Sean. 

Diluar dugaan, Sean malah memeluk erat Pak Malik. Lelaki itu membalas pelukan sang adik dan mengelus punggung kecil itu penuh kasih sayang.

Aku tersenyum  memperhatikan mereka berbaikan. Sejahat-jahatnya seorang kakak, di dalam hati kecil mereka juga menginginkan adiknya selalu bahagia dan senang. Melindungi mereka dan tidak ingin membuat adik mereka bersedih.

Sebagai seorang kakak aku juga melakukan hal yang sama untuk adikku. Menjaganya, memberi kebahagian, membantunya. Aku senang melakukan semua hal itu untuknya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status