Share

Bab 7

Terdengar suara dering telepon dari balik saku celana, Candra meraih benda pipih itu dan menempelkannya di samping telinga.

"Candra, pulang lah ke rumah utama, mama sudah menyiapkan acara makan malam"

suara seorang wanita paruh baya terdengar dari seberang telpon.

"Baik aku akan datang" balas Candra singkat lalu memutuskan panggilan nya.

Dirinya bertanya-tanya apa maksud ibunya mengajak dirinya untuk ikut hadir di acara makan malam itu, bukan kah biasanya papa dan mamanya itu tidak pernah mengatur acara seperti ini. Kalau pun ada acara pertemuan keluarga biasanya akan di lakukan di restoran tidak di kediaman utama.

"Tuan, mau saya antar kemana? tanya Farhan yang sedari tadi menunggu perintah.

"Kita kerumah utama"

Farhan melaju menuju rumah utama, sesampainya di sana Candra melangkah masuk menuju ke arah taman yang di sana sudah hadir beberapa orang. Dari kejauhan Candra mengamati pasangan laki-laki dan perempuan yang jika di lihat perbedaan umur keduanya hampir sama dengan orang tua Candra. Namun mata Candra teralihkan kepada sosok wanita muda yang berada tepat di sebelah kedua pasangan itu, Candra sendiri tidak mengenali wanita itu.

Langkah Candra semakin mendekat ke arah meja yang disana sudah terdapat beberapa macam hidangan mewah.

"Candra, kenalin ini Tante Monik dan om Gilang" ucap ayahnya.

Candra mengalihkan pandangan ke arah yang di maksud lalu mengulurkan tangan untuk memberi salam.

"Candra"

"Dan ini Aqila, putri tante Monik dan om Gilang,, kalian bisa kenalan dulu dan ajak ngobrol Aqila supaya kalian bisa lebih akrab" sambung mamanya lagi.

Candra yang tadinya sudah di posisi duduk kembali bangkit dan menyalami tangan Aqila, lalu kemudian ia kembli duduk.

Candra seperti mengetahui maksud orang tuanya mengundang dirinya ke acara makan malam ini, sehingga untuk memastikan ia pun bertanya langsung kepada orang tuanya.

"Ma ada acara apa mengundang ku datang kesini"?

Mendengar pertanyaan Candra ini sontak beberapa dari mereka yang tadinya bersiap makan menatap ke arahnya. Ibunya pun mencoba menjelaskan maksud mereka mengundang Candra di tempat itu.

"Begini Candra, umur mu sudah cukup dewasa, ibu pikir sudah saat nya kamu memikirkan untuk berumah tangga, dan maksud kami mengundangmu ke sini ingin mengenal kan kamu dengan Aqila, kalian sangat cocok dan ibu ingin kalian menjadi pasangan"

Candra mengernyitkan keningnya pasalnya orang tua nya ini selalu saja sibuk memikirkan mencari calon untuk dirinya.

"Aku bukan anak kecil, aku bisa mencari pasangan sendiri, kenapa kalian selalu ikut campur urusan pribadiku"

Beberapa orang tersentak mendengar ucapan Candra yang seperti tidak memikirkan perasaan orang lain yang padahal masih ada Aqila dan kedua orang tuanya disana. Suasana pun nampak sangat menjadi canggung. Ibu Candra yang sebagai tuan rumah pun berusaha mencairkan suasana supaya acara makan malam ini tidak menjadi kacau.

"Pak Gilang Bu Monik maafkan anak kami, dia memang seperti ini ucapannya tadi harap tidak di ambil hati, dan Mereka juga butuh waktu supaya bisa terbiasa satu dengan yang lain"

Helena buru-buru memberi isyarat kepada putranya itu agar bersikap sedikit lebih sopan kepada tamu nya.

"Jika acaranya sudah selesai aku pamit pulang, masih ada pekerjaan lain yang harus aku selesaikan" Candra berdiri bersiap meninggalkan tempat itu.

Melihat itu Helena buru-buru menarik tangan anaknya, supaya putranya itu bisa mengkondisikan diri dan tidak membuat malu keluarga nya.

"Ajaklah Aqila ngobrol di dalam"

Namun Candra tetaplah Candra, ia tidak akan mau berbasa-basi.

"Aku sedang sibuk"

Candra menarik tangannya dan berlalu meninggalkan tempat itu.

Tak lama setelah Candra pergi Aqila dan kedua orang tuanya pun ikut pamit untuk pulang.

Namun sebelum mereka meninggalkan tempat itu Helena yang sebagai tuan rumah meminta maaf kembali kepada ketiga orang itu atas sikap putranya.

"Aqila, pak Gilang, Bu Monik maafkan anak kami, acara makan malam ini jadi terasa tidak nyaman, saya harap ini bukan pertemuan terakhir kita" kata Helena yang merasa sangat bersalah atas tindakan putranya tadi.

"Tidak apa-apa Helena, yang kamu katakan benar. Mereka baru mengenal tentu akan butuh waktu untuk bisa beradaptasi, dan acara makan malam ini menjadi suatu kehormatan bagi kami sekeluarga, jika ada waktu kami juga bermaksud ingin mengundang kalian untuk datang keacara makan malam di rumah kami"

jawab pak Gilang.

"Baiklah pak Gilang, kami akan mengatur waktu untuk bisa menghadiri undangan acara makan malam kalian, terimakasih sudah menyempatkan waktu kalian" balas pak Anton.

"Kalau begitu kami permisi" kata Gilang

yang setelah mengucapkan itu ia berbalik menuju mobil yang terparkir di halam rumah di susul istirnya dan anak nya yang mengikuti dari belakang.

"Saya pamit Tante" ucap Aqila

"Iya sayang, maafkan putra Tante ya"

Helena mengelus-elus bahu Aqila

"Iya Tante gak apa-apa"

Setelah kepergian tamunya Anton menjadi sangat murka, Pasalnya dari tadi ia menahan amarah melihat sikap putranya itu. Menurut Anton Candra dan Aqila sangat cocok, apa lagi keduanya sama-sama berasal dari keluarga berada sehingga apapun alasannya tidak ada yang boleh menentang perjodohan mereka.

Aqila sendiri adalah putri dari bapak Gilang Prayoga Rosewood dan istrinya Monica Rosewood. Aqila berusia 25 tahun yang meniti kariernya sebagai seorang model internasional.

Keluarga Wijaya dan Rosewood sendiri memang sudah saling mengenal cukup lama, itu lah kenapa kedua keluarga ini sepakat akan menjodohkan anak mereka. Aqila sendiri tentu menerima perjodohan itu dengan senang hati karena ia mengenal sosok Candra CEO tampan kaya raya itu, wanita mana yang menolak dijodohkan dengannya. Aqila sangat merasa bahagia, apa lagi dirinya mendapat restu dari keluarga Wijaya, sehingga dirinya tidak perlu epprot untuk bisa memiliki CEO tampan itu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status