INICIAR SESIÓNArga hanyalah seorang pemuda sederhana yang hidupnya diisi dengan kerja keras dan tanggung jawab. Tiba-tiba saja ia dijodohkan dengan Aluna, putri tunggal keluarga Wiratama —konglomerat yang dihormati dan disegani di daerahnya. Tidak ada cinta, tidak ada restu. Hanya pernikahan yang dibangun atas dasar kebohongan besar. Keluarga Wiratama menutupi aib kehamilan Aluna dengan menjadikan Arga kambing hitam —pria miskin yang rela menikah demi membayar hutang ayahnya pada sang tuan besar. Seperti yang sudah bisa dibayangkan, pernikahan yang didasari oleh utang piutang, tak mungkin berjalan mulus layaknya rumah tangga pada umumnya. Lantas, bagaimana kehidupan yang harus Arga lalui setelah menjadi bagian dari keluarga kaya raya dan menjadi suami perempuan paling cantik di daerahnya itu? **
Ver másHujan turun deras malam itu. Butir-butir air menetes dari atap seng rumah reyot, menimbulkan bunyi gemericik yang tak pernah berhenti. Di dalam rumah berdinding papan itu, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun tengah duduk di sisi ranjang besi, menggenggam tangan ayahnya yang kurus kering.
“Pak … obatnya udah diminum? Kalau sudah sekarang Bapak istirahat aja dulu, ya?” Suara Arga bergetar, setengah berusaha tegar, setengah menahan air mata. Ayahnya, Pak Darsa, hanya mengangguk lemah. Nafasnya tersengal, sesekali batuk kecil terdengar, diikuti darah tipis di ujung tisu. “Arga, kalau besok ada orang datang nyari Bapak, jangan takut, ya. Mereka cuma nagih uang hutang.” Arga terdiam. Jemarinya semakin menggenggam tangan ayahnya. “Tenang aja, Pak. Arga bakal beresin semuanya. Arga udah janji, enggak akan biarin siapa pun ganggu Bapak lagi.” Pak Darsa tersenyum samar, tapi matanya menatap kosong ke langit-langit. “Janji itu berat, Nak. Kadang untuk menepatinya, kita harus jual sesuatu yang enggak bisa dibeli lagi.” Sebelum Arga sempat bertanya, suara ketukan keras di pintu depan memecah malam. Dua orang pria berbadan besar berdiri di ambang pintu, wajahnya gelap seperti niat mereka. “Arga Darsa?” “Iya, saya.” “Bos kami menyuruh panggil kamu. Katanya, ada urusan penting yang enggak bisa ditunda.” Arga mengernyit. “Bos kalian siapa?” Salah satu pria itu menyeringai. “Tuan Wiratama. Katanya, kamu tahu kenapa kamu dipanggil.” Nama itu membuat jantung Arga berhenti sesaat. Tuan Wiratama — pengusaha besar, pemilik lahan tempat bengkel kecil tempat Arga bekerja berdiri. Orang yang dulu membantu ayahnya saat jatuh miskin, tapi sekaligus yang kini menagih hutang dengan bunga mencekik. “Ayah saya lagi sakit,” kata Arga pelan. “Sakit enggak sakit, perintah tetap perintah,” jawab pria itu dingin. “Ayo ikut, sekarang!” Pak Darsa mencoba bangkit, tapi Arga menahannya. “Pak, Arga pergi sebentar aja. Nanti balik lagi.” Pak Darsa menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. “Hati-hati, Nak. Dunia orang kaya enggak pernah adil buat kita.” ** Mobil hitam menerjang genangan air di jalanan desa. Arga duduk di kursi belakang, diam menatap jendela. Pikirannya kacau. Kenapa Tuan Wiratama memanggilnya malam-malam begini? Apa hutang ayahnya akan ditagih paksa? Atau ada hal lain? Begitu tiba di rumah megah bercat putih, dua penjaga mengantar Arga masuk ke ruang tamu luas berlampu kristal. Tuan Wiratama duduk di sofa, mengenakan kemeja abu-abu dengan wajah serius. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya tampak menatap Arga dengan tatapan sinis —tak suka. “Arga Darsa,” ucap Tuan Wiratama tenang tapi tegas. “Aku punya tawaran yang akan mengubah hidupmu.” Arga menelan ludah. “Tawaran, Pak?” “Ya. Sebuah penawaran sebagai pembayaran semua hutang ayahmu." Arga diam sesaat. Hutang ayahnya lumayan banyak —bila dihitung dengan bunga yang diberikan, dan sekarang Tuan Wiratama menawarkan sesuatu demi agar hutangnya lunas. "Kalau boleh tahu, tawaran apa yang Anda berikan?" Arga menahan napas sebelum mendengar jawaban yang akan dilontarkan. "Pernikahan.” Arga mengerutkan dahi, tak paham. “Maaf, saya kurang mengerti.” Tuan Wiratama meletakkan map di atas meja. “Kau akan menikah dengan putri saya, Aluna Wiratama. Pernikahan akan dilakukan minggu depan. Semua sudah kami siapkan.” Ruangan itu mendadak terasa hening. Hanya detak jam di dinding yang terdengar. Arga hampir tertawa karena merasa ini lelucon. Tapi, ekspresi mereka tak menunjukkan gurauan. Sesaat kemudian ia menatap map coklat di atas meja. Sebuah map yang isinya ia yakini adalah sebuah kertas berisi perjanjian antara dirinya dengan pria paruh baya di depannya itu. “Kenapa… saya?” “Karena kau satu-satunya yang bisa kami percaya untuk menjaga rahasia keluarga ini,” jawab Ny. Wiratama dingin. “Dan seperti yang suami saya katakan tadi, sebagai gantinya semua hutang ayahmu kami anggap lunas. Bahkan kami akan berikan modal kerja baru.” Arga menatap mereka, bingung, marah, dan takut bercampur jadi satu. “Bagaimana kalau saya menolak?” “Bapakmu akan kehilangan rumahnya besok pagi. Dan mungkin juga nyawanya,” jawab sang Tuan tenang. Arga menunduk, menatap telapak tangannya yang kasar. Ia ingat wajah ayahnya, napas yang berat, dan janji untuk melindungi. Hujan di luar terdengar semakin deras, seolah menertawakan nasibnya. Dengan suara bergetar, ia bertanya, “Siapa sebenarnya yang ingin kalian lindungi dari aib ini?” Tak ada jawaban. Hanya senyum tipis dari Ny. Wiratama. Dan di balik pintu kaca lantai atas, seseorang berdiri mengintip —seorang gadis muda bergaun hijau lumut, perutnya mulai membesar. Matanya basah oleh air mata dan ketakutan. Itulah pertama kalinya Arga melihat Aluna Wiratama, calon istrinya —dan sekaligus awal dari kehidupan yang akan menghancurkan, sekaligus membentuknya kembali. ***Arga berjalan menuju kamarnya dengan langkah pelan. Ekspresinya tak terbaca. Hanya ada lelah yang membuat Aluna tak tahan untuk bertanya. "Jangan pedulikan ucapan ayah."Arga menghentikan langkah sebelum sampai pintu kamarnya. Ia lalu menoleh, menatap Aluna dengan senyum tipis —nyaris tak terlihat. "Bagaimana pun beliau ayahmu."Aluna tampak tak senang. "Tapi, ia tak bisa terus menerus mengekang kehidupanku.""Bukan mengekang. Tapi, menjaga.""Ia hanya peduli dengan nama baik keluarga."Arga benar-benar tersenyum sekarang. Melihat kekesalan pada wajah Aluna tentang ayahnya, ia merasa bahwa hubungannya sekarang seolah sudah tak lagi ada jarak. "Kau tahu, aku baru memahami sekarang, bahwa betapa beratnya menjadi seorang kepala keluarga. Terutama keluarga terpandang seperti kalian."Aluna terdiam. Tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya. Arga menatap pintu kamarnya seolah memastikan bahwa ia dan Aluna memang tidak boleh melewati batas seperti yang sudah diucapkan oleh sang mert
Arga masih menatap layar ponsel Bara.Foto itu hanya memperlihatkan dua orang yang berdiri di depan sebuah gedung lama.Tn. Wiratama. Dan ayahnya. Tidak ada sesuatu yang luar biasa dari foto tersebut.Namun bagi Arga, melihat wajah ayahnya berdiri di samping pria yang selama bertahun-tahun menentukan nasib keluarganya sudah cukup membuat pikirannya dipenuhi pertanyaan.“Foto itu dari mana?” tanya Arga.“Dari salah satu wartawan,” jawab Bara.“Dia tahu siapa yang mengirimnya?”“Belum.”Arga mengangguk pelan.Aluna yang sejak tadi memperhatikan foto itu akhirnya bertanya,“Ayah pernah bekerja sama dengan ayahmu?”Arga menggeleng.“Aku tidak tahu.”“Kau tidak pernah mendengar nama perusahaan itu?”“Tidak.”Bara kemudian berkata, “Dari informasi yang kami dapat, ayah Arga memang pernah bekerja di perusahaan yang saat itu memiliki hubungan kerja dengan salah satu perusahaan milik keluarga Wiratama.”Aluna menatap Bara.“Jadi bukan sesuatu yang aneh?”“Tidak. Setidaknya dari informasi yang
Kabar itu membuat Aluna terdiam cukup lama. Ia menatap Arga, lalu ponsel di tangan pria itu. Ekspresinya masih belum berubah meski Arga sudah memintanya untuk tidak khawatir. “Siapa yang mulai mencari tahu?”“Belum jelas.”Arga mengunci layar ponselnya.“Bara hanya bilang beberapa wartawan mulai menanyakan latar belakangku.”Aluna mengerutkan kening.“Latar belakangmu?”“Ya.”“Kenapa?”Arga tersenyum tipis. “Karena mereka ingin tahu kenapa seorang pria yang tidak pernah dikenal di lingkungan bisnis tiba-tiba menikah dengan putri keluarga Wiratama.”Keduanya diam sejenak. Aluna tahu pertanyaan itu akan muncul cepat atau lambat.Namun ada sesuatu dalam cara Arga mengatakan kalimat tersebut yang membuatnya merasa tidak nyaman. Seolah pria itu sudah tahu ada bagian dari hidupnya yang lambat laun akan muncul ke permukaan.“Dan apa yang akan mereka temukan?” tanya Aluna pelan.Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya turun sesaat.“Kebenaran. Fakta tentang siapa aku.”Jawaban itu membuat
Kalimat itu sederhana. Namun terasa jauh lebih tajam dibanding bentakan sebelumnya.“Kau tetap harus tahu batasanmu, Arga.”Tatapan Tn. Wiratama lurus tertuju padanya. Dingin. Tegas. Mengingatkan posisi yang sejak awal sudah ditentukan.Arga diam.Beberapa detik berlalu tanpa suara. Namun dalam diam itu, sesuatu terasa berubah. Karena kali ini —untuk pertama kalinya—kalimat itu tidak lagi terdengar seperti aturan biasa. Melainkan peringatan.Aluna langsung menoleh ke arah ayahnya. “Ayah—”“Aku sedang bicara dengannya.”Nada suara Tn. Wiratama memotong cepat. Membuat hening kembali turun. Dan tatapan pria itu tidak bergeser dari Arga sedikit pun.“Jangan lupa kenapa kau ada di rumah ini.”Setiap katanya terdengar jelas.“Kau ada untuk menjaga situasi tetap terkendali.”Sunyi kembali menyapa.“Bukan untuk mulai merasa memiliki sesuatu yang bukan milikmu.”Kalimat terakhir itu menggantung lama di udara. Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ke ruangan itu —rahang Arga mengeras jelas. Nam
Hari Minggu sore, rumah besar keluarga Wiratama dipenuhi tamu.Ada pesta kecil untuk merayakan “pernikahan bahagia” Aluna dan Arga —setidaknya begitu yang tertulis di undangan.Tapi, di balik senyum palsu dan tawa yang terdengar di aula utama, semua orang tahu satu hal, ini bukan pesta cinta, tapi
Hari pertama setelah pernikahan itu seperti pagi tanpa matahari.Rumah besar keluarga Wiratama tampak indah di luar, tapi di dalamnya, hawa dingin terasa menusuk —bukan karena pendingin udara, tapi karena tatapan dingin sang nyonya muda rumah itu kepada suaminya sendiri.Aluna berdiri di depan cerm
Langit pagi tampak kelabu, seperti menyesuaikan dengan isi hati dua orang yang akan dipertemukan bukan karena cinta, tapi karena kebohongan. Di ruang tamu rumah megah keluarga Wiratama, Aluna duduk diam di kursi rotan dekat jendela besar. Matanya menatap jauh ke luar, tapi pikirannya melayang ent
Hujan turun deras malam itu. Butir-butir air menetes dari atap seng rumah reyot, menimbulkan bunyi gemericik yang tak pernah berhenti. Di dalam rumah berdinding papan itu, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun tengah duduk di sisi ranjang besi, menggenggam tangan ayahnya yang kurus kering.“P












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.