LOGINBab 52 "Lalu kenapa ia menginap di sini. Kamu bawa wanita kotor ini ke sini?" Suara Mommy mulai emosi. Tidak punya hubungan apa-apa, tapi tidur seperti memiliki cinta yang besar. Itu yang dilihat dengan matanya. "Kenapa Luis? Jawab!" hardik Raina tak mendapatkan informasi yang jelas keduanya patut dicurigai. "Kalau aku di hotel pasti banyak yang tahu, Mom. Jadi aku menyimpannya di sini." "Oh, jadi wanita simpananmu?" Suara Riana semakin meninggi padahal ia sudah tenang tadi. "Maaf, Nyonya. Kalau kehadiran aku membuat Nyonya risih. Saya akan pergi." "Bagus kalau kamu sadar diri. Kamu itu hanya wanita rendahan yang hanya bisa jadi simpanan saja. Semua di rumah ini tak pantas untukmu. Mereka calon Nyonya Luis harus memiliki pendidikan yang tinggi dan attitude yang baik. Tidak seperti kamu hanya lulusan yang tak pantas." Suara Riana semakin meninggi, merendahkan Celina dengan pendidikan. Jika Riana tahu siapa Celina dan berapa nilai yang diraihnya tidak mungkin wanita tua itu berka
Bab 51 Kali ini Riana tak akan membiarkan anaknya jatuh ke pelukan wanita yang salah. Sudah cukup satu kali kebodohan yang dibuat Luis tentang wanita. Tangan Riana semakin membabi buta. Ia tak akan membiarkan Celina lepas dari jeratannya. "Mommy, jangan!" cegah Luis ia menarik tubuh ibunya hingga terhuyung ke belakang. Suara benturan antara meja dan tubuhnya mengema di udara hingga botol parfum di atas meja rias pecah tak terbentuk lagi. Aroma menyeruk ke penjuru ruangan. Celina merasakan nyeri di kepala baru saja bangun tidur sudah dihajar habis-habisan oleh ibunya Luis. Ia berusaha tenang agar semua tak kembali lebih kacau. Sudah cukup wajah dan tubuhnya kena. Sorot mata Riana tajam hingga menusuk ke hati Luis. Wanita yang telah melahirkannya terjatuh dan terbentur meja rias. Wajah Luis penuh penyesalan, tapi ibunya sudah sangat keterlaluan. Luis pikir ini adalah tempat yang aman untuk menyembunyikan Celina. Tapi ternyata keamanan Luis kebobolan juga. Luis mendekati ibunya unt
Bab 50 Langkah Sofia semakin dekat. Salah satu tangannya menyentuh gagang pintu. Di dalam begitu gelap baru saja terbuka sedikit bau pengap langsung menyeruk ke hidungnya. Hingga kedua netra terbelalak melihat di dalam ruangan ini. "Argh!" Sofia terperanjat ketika seekor binatang keluar dari tempat itu. Tubuhnya terduduk di lantai, wajah pucat dan napas tersengal."Nona Sofia. Anda tak apa?" Andreas menghampirinya dan membantu berdiri. "Andreas. Aku dengar suara seseorang memanggil Luis di dalam." Andreas melirik ke dalam. Ruangan memang gelap. Ia segera menutup pintu itu hanya melihat dua bayangan yang tak terlihat jelas di pojokan."Lebih baik jangan masuk. Tempat itu gelap dan bisa saja ada sesuatu. Contohnya seperti tadi." Wajah Sofia memucat, ia menutup wajahnya. Binatang tadi loncat ke tubuhnya. Andreas tahu kalau tuannya berada di dalam bersama Celina. Ia hanya menunggu agak jauh. Ketika ponselnya berdering, Andreas menjauh karena sinyal kurang bagus. "Andreas, aku mau
Bab 49 "Tuan. Banyak orang di luar sana," bisik Celina berusaha menghindari Luis. Ia menahan dada Luis dengan tangannya. Tapi tenaga Luis lebih besar darinya. "Diamlah. Jangan berisik." Luis melanjutkan aksinya. Ia marah sekaligus rindu. Luis tak rela jika Celina disentuh pria lain walau hanya bergandeng saja, tapi membuat Luis emosi yang berlebihan, baru berhadapan dengan Celina langsung menyantapnya seperti binatang buas yang kelaparan. "Ini hukuman kamu." Suara Luis begitu berat hingga ia tak bisa menahan diri. Celina begitu cantik dan mengoda. "Aku salah apa, Tuan." Celina memejamkan mata. Tangan Luis berkeliaran ke mana-mana. "Jangan di sini. Bahaya." Luis tak menjawab ia melakukan aksi yang lebih gila. Tubuh Celina dibawa ke tempat pojok ruangan gelap dan pengap. Tapi bagi mereka ruangan itu penuh hal yang menantang. Ruangan gelap dan menyeramkan berubah menjadi romantis dan tak terlupakan. Baru kali ini Luis melakukan aksi lebih gila apalagi penyebebab itu semua karena C
Bab 48 Tangan Celina menyambut hangat Andreas. Musik waltz mengalun lembut dan sangat cocok untuk suasana malam ini. Mereka bergerak ke tengah lantai dansa. Andreas mengandeng Celina lembut dan langkahnya mantap Celina mengikutinya. Gaunnya sangat anggun dan berkelas. Luis yang memilih gaun itu. Jarak mereka sangat dekat. Celina meletakkan tangannya di bahu Andreas. Posisi yang sangat dekat. Tatapan Andreas tak lepas dari Celina. Saat ini ia juga ingin berdansa seperti yang lainnya. "Maaf kalau gerakkanku kaku." Beberapa kali Celina salah melangkah. Andreas membantu Celina agar seimbang dengannya. Hanya beberapa kali instruksi saja wanita itu sudah paham. "Kamu hentakkan kanan, kiri, kanan, kiri. Perlahan saja tak usah buru-buru. Rumus ini digunakan dengan nada seperti ini." Andreas mengarahkan apa yang harus dilakukan Celina ketika berdansa. Untung saja lagi yang dimainkan sangat lembut hingga gerakkan mereka mengikuti alunan musik. "Mudahkan?" tanya Andreas melihat Celina m
Bab 47 "Cel, apa sudah selesai proyekmu?" Celina memberikan laporannya ke pemimpin proyek. Ia mengecek agar tak ada kesalahan. Kepalanya hanya manggut-manggut saja. "Bagus. Istirahatlah. Nanti pulang kerja bersiaplah. Kita akan menghadiri pesta. Pastikan kamu harus datang." "Pesta apa?" tanya Celina tak tahu kalau ada acara itu."Pesta ulang tahun perusahaan. Semua wajib ikut. Apa Tuan Andreas tak memberitahukan kamu? Semua wajib membawa pasangannya." "Tapi aku hanya anak magang. Apa harus ikut?" "Tentu saja ikut. Semua wajib datang. Jangan lupa pakai pakaian serasi dengan Tuan Andreas mungkin saja ia akan melamarmu." Sejak kejadian itu semua orang kantor menganggap Celina adalah kekasih Andreas. Ketika di tanya Celina menjawab singkat. Kadang ia diam jika membahas masalah pribadi Andreas. Takut mengatakan hal yang salah. Celina hanya mengulum senyum. Ia berpamitan untuk pergi ke toilet. Tangan Celina mencari ponsel menghubungi Andreas, kekasih palsunya."Kenapa kamu gak kasih







