Se connecterBab 67 Pagi itu, suasana kampus kembali ramai. Deretan mahasiswa memenuhi halaman fakultas, sebagian tertawa lepas, sebagian sibuk menunduk menatap ponsel, sisanya berlalu-lalang dengan wajah bersemangat. Setelah beberapa waktu terasa sunyi, kampus itu kini kembali bernapas hidup seperti sediakala.Celina melangkah masuk melewati gerbang utama, jemarinya mencengkeram tali tas ransel di pundak. Ini hari pertamanya masuk kuliah lagi. "Celina!" panggil Vina berlari memeluk tubuh sahabatnya itu. Hari yang indah adalah berkumpul bersama mereka. Tak ada perbedaan usia yang ada kesehatan dan umur panjang Hari ini Vina sangat cantik mengenakan dress yang ia beli kemarin. Merah muda soft bercampur putih menjadi pilihannya. "Baju baru. Cantik sekali." Vina berputar-putar seperti model. Rambutnya ia buat sendikit bergelombang. "Lihatlah!" Vina menunjukkan sesuatu di pergelangan tangannya. Jam tangan merah muda. "Wah. Cantik banget. Cocok dengan dress kamu." "Papa yang membelikannya." W
Bab 65 "Kamu kenal?" Celina keluar dari mobil dan ikut berlari. Suasana rumahnya sepi tak seperti tadi pagi. Mungkin acaranya sudah selesai. Apalagi langit sudah gelap. "Orang itu sepertinya tak asing. Aku kenal mobilnya. Aku akan mengejar saja."' Andreas berlari dan menuju ke mobil yang dibiarkan menyala. "Andreas hati-hati!" Mobil Andreas melewatinya. Pria itu nekad mengejar. "Kak kenapa? Dia siapa? Kok, masuk ke toko. Jangan-jangan dia mencuri." "Entahlah. Kakak juga gak tahu. Kita masuk aja dan cek." Celina dan Riana mengecek toko. Tak ada barang yang hilang. Gerak geriknya memang mencurigakan. Tapi kenapa Andreas mengejarnya. Mesin mobil Andreas meraung keras saat pedal gas diinjak penuh. Lampu depan menembus gelap malam, membelah jalanan yang mulai lengang. Di kejauhan, mobil hitam itu melaju cepat, berusaha kabur setelah tertangkap basah berlari di depan rumah Celina. Ia seperti mencari sesuatu. Andreas menambah kecepatannya. Mobil itu juga melaju cepat ketika melihat
Bab 64 "Siapa, sih Tuan Luis itu. Aku pernah lihat nama kontak di ponsel Kakak sering janjian juga." "Oh, dia itu bos Kakak dan dosen di kampus. Jadi wajar janjian membahasa pekerjaan dan tugas." "Ah, Bos. Tapi kok janjian terus?" Riana yang polos asal berkata. Aneh baginya. Dia saja tak pernah seperti itu dengan gurunya. "Dia Bos aku juga." Andreas ikut menjawab. Riana gadis yang ingin serba tahu apalagi yang menyangkut kakaknya. Riana paham jadi Andreas dan kakaknya bertemu karena memiliki satu pekerjaan. Ia langsung diam setelah tahu siapa itu Tuan Luis. Membayangkan wajahnya pasti tua dan perutnya buncit. Tidak mungkin Celina mau dengan pria itu. Mereka berjalan menuju bioskop. Membeli minuman dan popcorn. Film yang mereka tonton film pertulangan, Andreas pun suka film itu. Dua jam di dalam bioskop membuat perut mereka lapar dan ingin segera di isi. Riana memilih tempat makannya. Tapi berubah pikiran mengingat sesuatu. "Di rumah saja. Masakan Ibu lebih enak." Celina menga
Bab 63 Celina hanya memandang punggung Luis yang menjauh. Sebelum ia pergi sempat mengecup kening Celina. Tapi entah kenapa Celina merasa kalau Luis akan menjauh. Suara kendaraan berlalu lalang. Celina duduk di teras rumah di temani secangkir teh melati. Biasanya Celina tak suka aroma ini. Mungkin ia bosan dan mencoba hal baru. Suasana di rumahnya sedang ramai. Ada acara di ujung jalan hingga banyak kendaraan yang melintas rumahnya. Warung pun ramai banyak pembeli datang. Entah membeli jajanan anak-anak maupun kebutuhan lainnya. "Kak, disuruh makan sama Ibu." Kepala Riana muncul di jendela. Ia baru pulang sekolah dan hanya mengenakan kaos dalam saja. Sejak kepulangan Celina, kakaknya jarang sekali makan. Ia lebih suka menyendiri. Denada melihat perubahan putrinya merasa curiga. Beberapa kali mencuri pandang ke putrinya ada perubahan dari wajah dan tubuh anaknya setelah pergi ke kota lain untuk bekerja sampingan. Celina membawa hasil memuaskan. Ia bilang dapat dari hasil lomba p
Bab 62 Bel berbunyi berkali-kali, Celina yang terlelap di ranjang membuka matanya. Ia bergegas bangun dan merapikan pakaian yang sempat kusut. Suara bel berbunyi lagi. Sepertinya yang datang tak sabaran ingin masuk. "Sebentar." Celina menatap dirinya di pantulan kaca. Riasannya sedikit luntur. Rambutnya acak-acakan. Ia langsung menyisir cepat rambut panjangnya. Celina membuka pintu. Luis berdiri dengan tubuh sempoyongan. Ia pasti mabuk. Supir yang sama mengantar Luis ke hotel itu. Ia juga yang menuntun majikannya sampai ke depan pintu. Setelah itu pergi dan bukan urusannya lagi. "Tuan, Anda mabuk?" Celina langsung memapah tubuh Luis ke dalam. Jarang sekali pria itu mabuk. Padahal Luis termasuk orang yang kuat dengan alkohol. "Kamu tidak menyambutku?" Walau mabuk Luis masih ingat permintaannya. Ia terkekeh dan menatap Celina. Gadis sederhana yang ia sukai. Luis ingin disambut ketika pulang dan melihat wajah manis Celina tersenyum menyapanya. "Maaf, Tuan. Aku ketiduran. Tuan lama
Bab 61 Celina menunggu mobil yang akan menjemputnya pulang. Kali ini Andreas tak bisa menemani. Ia harus keluar kota untuk urusan bisnis. Celina sudah berpamitan dengan karyawan di Brain Mave. Semua baik kepadanya memberikan bingkisan terakhir sebagai kenang-kenangan. Mereka juga menjenguk Celina sewaktu di rumah sakit. Banyak ilmu yang ia dapatkan di tempat itu dan kenangan yang tak akan terlupakan. Luka-luka Celina juga sudah menghilang walau masih samar. Setidaknya tak terlalu menonjol dan mencurigakan. Ibunya pasti cemas dan marah. "Nona maaf telat," sapa supir berdiri di di hadapannya. "Jalanan macet parah." Celina paham apalagi siang hari begini. Wajah supir itu terlihat lelah dan takut. Kedua tangan bergetar. Ia masih beberapa bulan kerja. Tak ingin dipecat karena telat satu jam. "Tak apa. Ada koper satu lagi di kamar lantai atas. Tolong ambilkan. Ada minuman dingin di kulkas. Minumlah dulu. Aku masih ingin duduk di sini."Celina melihat wajah sopir merasa iba. Setelah men







