LOGINDi dunia kultivasi yang kejam di mana yang lemah ditakdirkan untuk hancur, dua anak yatim piatu, Ling Yue dan Ling Er, menemukan perlindungan di gua terpencil milik seorang pertapa abadi yang legendaris, Wang Yue. Hatinya sedingin es dan kekuatannya setara dewa, Wang Yue setuju untuk melatih Ling Yue, mengubah keputusasaan anak itu menjadi kekuatan yang tak terbayangkan melalui pelatihan yang brutal. Namun, saat ikatan guru dan murid yang dingin itu perlahan mencair menjadi sesuatu yang lebih dalam, bayangan dari masa lalu Wang Yue datang untuk menuntut utang darah, memaksa mereka pada pengorbanan terakhir. Bertahun-tahun kemudian, warisan kedamaian yang mereka perjuangkan di Lembah Awan Berkabut diuji kembali. Xiao Li, sang penjaga lembah yang tenang dan kesepian, dihadapkan pada seorang penantang—Lin Feng, seorang jenius yang brilian dan kejam yang keyakinannya ditempa dari tragedi yang sama. Ketika dua jiwa yang lahir dari api kehilangan yang identik bertemu sebagai musuh bebuyutan, perang ideologi pun dimulai. Apakah jalan kekuatan absolut yang tanpa ampun akan menang? Ataukah luka yang paling dalam sekalipun bisa disembuhkan oleh welas asih yang tak terduga, membuktikan sekali lagi bahwa cinta adalah Langkah Kultivasi yang tertinggi? "Lembah Awan Berkabut" adalah sebuah saga Xianxia Danmei epik lintas generasi tentang bagaimana kekuatan sejati tidak ditemukan dalam kemampuan untuk menghancurkan dunia, tetapi dalam keberanian untuk menyembuhkan satu jiwa.
View MoreSetiap tarikan napas adalah perjuangan melawan udara dingin yang terasa seperti ribuan jarum es menusuk paru-paru Ling Yue. Kabut tebal yang memeluk Lembah Awan Berkabut bukanlah selimut yang menenangkan, melainkan kain kafan lembab yang merampas sisa-sisa kehangatan dari tubuhnya. Di sampingnya, Ling Er, adiknya, tidak lagi hanya menggigil; tubuh mungilnya bergetar dalam kejang-kejang kecil yang tak terkendali, sebuah pertanda mengerikan bahwa api kehidupannya hampir padam.
“Dingin… Kakak… sangat dingin…” Bibir Ling Er yang membiru nyaris tak bergerak saat ia berbisik, matanya yang besar dan biasanya lincah kini setengah terpejam, kusam karena kelelahan dan demam ringan yang mulai menyerangnya. Hati Ling Yue terasa seperti sebongkah es di dalam dadanya. Ia menarik jubahnya yang basah dan compang-camping lebih erat ke tubuh adiknya, sebuah tindakan sia-sia yang lebih merupakan doa daripada solusi. “Aku tahu, Xiao Er. Bertahanlah,” jawabnya, suaranya serak dan pecah. “Kita akan segera menemukan tempat yang hangat. Kakak janji.” Janji. Kata itu terasa pahit di lidahnya. Janji apa yang bisa ia berikan? Ia telah berjanji untuk melindungi desa mereka. Ia telah berjanji pada ayah dan ibunya di saat-saat terakhir mereka untuk menjaga Ling Er. Dan ia telah gagal. Bayangan malam yang mengerikan itu kembali menghantuinya, raungan monster-monster berkulit manusia, jeritan tetangganya yang tercabik-cabik, dan bau darah yang menyengat bercampur dengan bau hangus rumah-rumah kayu. Mereka adalah satu-satunya yang selamat, dan kini kelangsungan hidup itu terasa lebih seperti kutukan daripada berkah. Ia merangkak maju, lutut dan telapak tangannya mati rasa karena menekan tanah yang membeku. Ia harus terus bergerak. Berhenti berarti mati. Di dunia yang baru dan kejam ini, hanya ada satu aturan: teruslah bergerak. Tiba-tiba, sebuah suara menembus desau angin dan gemerisik daun yang monoton. Suara gemuruh yang konstan dan ritmis. Bukan suara monster, bukan pula suara badai. Itu adalah suara air, banyak air yang jatuh dari ketinggian. Penasaran dan didorong oleh sisa-sisa harapan terakhir, Ling Yue mengangkat kepalanya. Pandangannya yang kabur karena kelaparan mencoba fokus. Di kejauhan, menembus selubung kabut, ia melihatnya. Sebuah dinding batu raksasa yang menjulang tinggi, dan dari celahnya, sebuah air terjun mengalir deras seperti surai perak raksasa. Pemandangan itu sendiri sudah cukup menakjubkan, tetapi bukan itu yang membuat jantung Ling Yue berhenti berdetak. Di balik tirai air yang tebal itu, ada secercah cahaya biru lembut yang berdenyut-denyut, dan yang lebih penting, ia bisa merasakan bahkan dari jarak ini, gelombang kehangatan yang samar namun nyata. Sebuah gua. Nalurinya berteriak untuk berlari ke sana. Kehangatan. Perlindungan. Keselamatan. Tapi kewaspadaan yang lahir dari trauma menahannya. Gua di hutan belantara adalah tempat tinggal bagi binatang buas yang kuat atau, lebih buruk lagi, ahli penyendiri yang mungkin tidak akan menyambut dua pengemis kecil yang kotor. Keajaiban sering kali adalah jebakan yang paling indah. Tapi apa pilihan kita? Pikirnya getir, melirik Ling Er yang napasnya semakin dangkal. Mati di sini dalam kedinginan adalah kepastian. Mati di dalam sana setidaknya adalah sebuah kemungkinan. “Kakak…” panggil Ling Er lagi, menarik lengan bajunya dengan sisa tenaga terakhir. Keputusan telah dibuat. “Aku melihat sesuatu, Xiao Er,” bisiknya, mencoba menyuntikkan semangat pada suaranya. “Sebuah gua. Mungkin hangat di dalam. Ayo, kita coba.” Mengumpulkan seluruh kekuatannya, ia membantu adiknya berdiri dan mereka berjalan tertatih-tatih menuju air terjun. Semakin dekat mereka, semakin kuat aura yang mereka rasakan. Bukan hanya kehangatan fisik, tetapi juga tekanan energi spiritual yang begitu murni dan padat hingga membuat Ling Yue merasa pusing. Ini bukan sarang binatang. Ini adalah tempat tinggal seorang ahli yang sangat kuat. Rasa takut kembali mencengkeram hatinya, tetapi sudah terlambat untuk mundur. Di dalam keheningan absolut guanya, Wang Yue melayang setengah meter di atas Lempeng Giok Es Abadi. Meditasinya dalam dan tak terganggu. Selama tiga ratus tahun, ia telah mengasingkan diri di sini, membangun sebuah benteng kedamaian yang terbuat dari Qi murni dan kesendirian yang dingin. Dunia luar, dengan segala kekacauan, ambisi, dan pengkhianatannya, hanyalah gema samar dari kehidupan yang telah lama ia tinggalkan.Lin Feng mengamati pria yang mendekat, ia terkejut di dalam hatinya. Inikah Penjaga Lembah yang di bicarakan? Ia mengharapkan seorang tetua berjanggut putih atau seorang idealis naif yang lemah. Tapi yang ia lihat adalah seorang pria seusianya, yang kekuatannya tak terbantahkan namun terasa begitu terkendali, begitu tenang. Ketenangan itu, lebih dari apa pun, seperti menghinanya dalam diam. Itu adalah ketenangan seseorang yang tidak pernah benar-benar menderita, atau seseorang yang menyembunyikan kelemahannya dengan topeng. Begitulah yang ia pikirkan. “Aku Xiao Li, Penjaga Lembah Awan Berkabut,” kata Xiao Li, suaranya memecah keheningan. Ia memberi hormat dengan formal dan tanpa ancaman. “Selamat datang. Bolehkah aku tahu tujuan kedatanganmu?” Lin Feng tertawa kecil, suara yang kering dan tanpa humor, penuh cemooh. “Tujuan?” Ia memberi isyarat ke sekelilingnya, menunjuk ke patung Wang Yue dan Ling Yue di kejauhan. “Aku datang untuk melihat dongeng ini
Beberapa minggu setelah deklarasi ambisiusnya, Lin Feng akhirnya tiba. Ia berdiri tersembunyi di antara pepohonan di punggungan gunung seorang diri tanpa pengikut, ia menatap ke bawah ke arah Lembah yang tersembunyi. Formasi alam yang melindungi lembah itu tidak lagi menjadi benteng tapi sekarang itu adalah sebuah kaca pembesar yang memantulkan keindahan yang memuakkan. Dari tempatnya, ia bisa merasakan energi spiritual yang begitu murni dan melimpah, seperti sebuah danau surgawi yang belum tersentuh, sebuah cadangan kekuatan mentah yang luar biasa. Insting pertamanya sebagai seorang kultivator dan predator adalah keinginan untuk memiliki, untuk menyerap semua kekuatan itu bagi dirinya sendiri, untuk menjadikannya miliknya. Namun, saat ia mengamati lebih jauh, ia melihat pemandangan yang membuatnya mencibir, menguji batas kesabarannya. Ia melihat para murid yang berlatih dengan gerakan yang lembut dan defensif, bukan postur agresif sep
“Kehormatan?” ulangnya, suaranya dingin dan menusuk, diperkuat oleh Qi hingga mencapai setiap sudut arena. Itu bukan pertanyaan, melainkan sebuah hinaan. “Kehormatan adalah kemewahan bagi mereka yang tidak pernah melihat keluarga mereka dibantai di depan mata mereka sendiri,” Lin Feng berbicara seolah-olah mengutip kitab suci yang gelap. “Belas kasihan adalah kebohongan yang kalian ceritakan pada diri sendiri agar tidak perlu menjadi monster yang diperlukan untuk bertahan hidup di dunia ini.” Ia menatap lurus ke mata tetua agung itu, tanpa rasa takut. “Dulu, sekteku, Sekte Pedang Bayangan, juga percaya pada kehormatan yang kamu sebutkan. Kami percaya pada aliansi dan negosiasi. Kami percaya pada belas kasihan. Dan suatu malam, para sekutu kami berkhianat. Mereka menyerang kami saat kami lengah, membantai semua orang, pria, wanita, dan bahkan anak-anak hanya untuk merebut tambang spiritual kami. Aku selamat, bukan karena kehormatan, tetapi karena aku b
Jauh dari kedamaian dan harmoni Lembah Awan Berkabut, di kota benteng Tianlu yang ramai dan keras, udara dipenuhi oleh bau baja yang berkarat, arak fermentasi, dan darah kering. Di pusat kota, sebuah arena duel raksasa yang terbuat dari batu hitam dan tempaan logam menjadi panggung bagi para kultivator yang ingin mengukir nama mereka dengan darah dan besi. Hari ini, arena itu penuh sesak dengan orang-orang. Bukan karena ada festival, tetapi karena ada satu nama yang sedang menjadi buah bibir di seluruh penjuru negeri yaitu Lin Feng. Di tengah arena berpasir, seorang pemuda berdiri dengan tenang. Ia mengenakan jubah hitam sederhana tanpa lambang sekte, kontras dengan gemerlap baju besi para peserta lainnya. Rambutnya yang sehitam malam sebagian menjuntai menutupi matanya yang tajam dan dingin sebagian lagi di ikat longgar, matanya seperti celah jurang yang memantulkan ketiadaan emosi. Ia adalah Lin Feng. Lawannya adalah Grandmaster Yun












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.