Share

Aktifitas di Bawah Selimut

Penulis: Miss Wang
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-04 18:09:40

"Alexa... Aku tak sanggup lagi menahannya..." bisik Arsenio, suaranya bergetar di antara desir nafas yang mengguncang dadanya.

"Tapi... kamu masih sakit, Arsenio," balas Alexa pelan, napasnya tercekat, matanya penuh perlawanan namun tubuhnya mulai merasakan gelora yang sama.

"Aku tak peduli." Kata itu terucap dengan tekad membara, membakar semua ragu dalam dirinya.

Hasrat yang lama terpendam meledak tanpa bisa dibendung, menyatu dengan denyut jantung keduanya.

Dengan tangan gemetar, Arsenio mematikan lampu utama—gelap mulai merayap, cahaya lampu tidur temaram — kekuningan lembut — jatuh pelan di permukaan kulit Alexa, membuat segala sesuatu terasa seperti lukisan surealis yang bergerak. Seolah waktu melambat dengan sengaja.

"Aku pernah kehilangan rumah,” Arsenio berbisik serak, “Bertahun-tahun. Dunia tidak pernah memberi aku tempat yang bisa kusebut pulang…”

Alexa menunduk, suaranya lembut, hampir tak terdengar, “Dan sekarang?”

Ia mengangkat dagu Alexa dengan dua jari, sedemiki
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Tenang

    Hari-hari setelah badai terasa seperti hadiah yang tak berani mereka minta, namun akhirnya diberikan juga. Mansion itu tidak lagi dipenuhi langkah tergesa atau bisik-bisik tegang. Pagi datang dengan cahaya lembut, sore ditutup dengan senja yang hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, waktu berjalan pelan—dan tidak ada yang ingin mengejarnya. Alexa berdiri di depan cermin kamar, kedua tangannya menopang perut yang kini jelas membulat. Gaun rumah berwarna krem jatuh longgar, menyisakan siluet kehamilan yang membuatnya tersenyum tanpa sadar. Ada kehidupan di sana. Ada masa depan. Arsenio muncul di belakangnya, tanpa suara. Tangannya melingkar pelan di pinggang Alexa, lalu naik menutup kedua tangannya di perut itu. “Kamu makin cantik,” ucapnya lirih, nyaris seperti doa. Alexa tertawa kecil. “Atau makin sensitif?” “Dua-duanya,” jawab Arsenio sambil tersenyum. Ia menunduk, menempelkan kening ke bahu Alexa. Dulu, ia selalu berdiri dengan punggung tegang, mata waspada. Kini,

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Penyesalan

    Pagi itu datang tanpa gemuruh. Tidak ada sirene. Tidak ada kilatan kamera. Hanya cahaya matahari yang masuk perlahan ke mansion—lembut, hangat, seolah dunia akhirnya memberi izin untuk bernapas. Dania berdiri di depan jendela kamar, menatap taman yang basah oleh embun. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa ringan. Tidak ada ketakutan yang menekan. Tidak ada suara di kepalanya yang menuduh. Yang tersisa hanya lelah… dan lega. Pintu diketuk pelan. “Dania?” suara itu lirih, ragu. Ia menoleh. Di ambang pintu, Ny. Eli berdiri—bebas. Tanpa borgol. Tanpa seragam tahanan. Wajahnya masih pucat, tubuhnya tampak lebih kurus, tapi matanya… hidup. Penuh penyesalan yang tak lagi disembunyikan. Dania menelan ludah. Kakinya melangkah pelan, berhenti beberapa langkah dari wanita yang telah menjadi ibu baginya—dan hampir menghancurkan hidupnya. “Aku… boleh masuk?” tanya Ny. Eli. Dania mengangguk. Sunyi menggantung. Lama. Terlalu lama. “Aku minta maaf,” ucap Ny. Eli akhirnya

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Penjahat Utama

    Pagi itu langit tampak bersih, nyaris menipu. Seolah kota telah lupa pada badai yang semalam mereda. Namun di ruang kerja mansion, udara justru terasa paling berat—seperti sebelum gempa besar menghantam.Arsenio berdiri di depan dinding kaca, punggungnya tegak, rahangnya mengeras. Ia menatap layar besar yang menampilkan grafik pergerakan saham perusahaan saingan. Naik tipis. Stabil. Terlalu tenang untuk sebuah medan perang.“Dia akan keluar hari ini,” ucap Arsenio akhirnya, suaranya datar namun berbahaya.Felix menoleh dari balik tiga monitor yang dipenuhi baris kode dan peta jaringan. “Aku juga merasakannya. Sejak semalam ada pergerakan dana lintas negara. Disamarkan rapi. Tapi… ceroboh.”Kelvin bersedekap, tatapannya tajam. “Karena dia pikir kita sudah puas dengan menangkap pion.”Arsenio tersenyum tipis. Senyum orang yang sudah lama bersiap. “Dia lupa satu hal,” katanya pelan. “Aku dibesarkan di medan seperti ini.”Nama itu akhirnya muncul di layar.Nakamura Hiroshi.CEO sekaligus

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Tertangkap

    Malam kembali turun, namun kali ini bukan dengan ketakutan yang membekukan—melainkan dengan ketegangan yang berdenyut seperti kawat baja ditarik sampai batasnya. Di ruang kerja mansion, lampu tetap menyala. Layar-layar memantulkan wajah-wajah yang tak lagi ragu, hanya fokus.“Umpannya siap,” ujar Felix, suaranya rendah namun mantap. “Aku menanamkan paket data palsu di server cadangan. Isinya cukup ‘menggiurkan’ untuk membuat pelaku bergerak.”Kelvin menepuk papan tulis. “Jalur pelarian juga kita siapkan. Kita biarkan dia merasa aman.”Arsenio berdiri di tengah, lengan terlipat, mata elangnya menatap satu layar tertentu—peta waktu yang kini membentuk garis lurus. “Ingat,” katanya, tenang tapi berbahaya, “kita tidak mengejar pengakuan. Kita mengunci kebenaran.”Felix mengangguk. “Jejak digitalnya akan menempel. Sekali dia masuk, tak ada jalan keluar.”Jam berdetak. Setiap detik terasa panjang. Di ruang tengah mansion, Alexa duduk di kursi dekat jendela, Dania di sisinya. Mereka tidak

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Bangkit Kembali

    Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap melalui tirai kamar. Udara terasa berbeda—masih berat, tapi tidak lagi menekan. Arsenio terbangun sebelum alarm berbunyi. Untuk sesaat ia hanya berbaring, menatap langit-langit, mendengarkan nafas Alexa yang teratur di sisinya. Tangannya bergerak pelan, menyentuh perut istrinya yang mulai membulat.Di sanalah semangat itu berdenyut.“Ayah akan berjuang,” bisiknya lirih. “Untukmu... dan ibumu.”Alexa membuka mata, seolah mendengar sumpah itu. Ia tersenyum kecil, lelah namun hangat. “Kami percaya padamu,” katanya pelan. “Kami selalu percaya.”Arsenio mengangguk. Tak ada lagi bayang-bayang semalam. Yang tersisa adalah tekad. Ia mencium kening Alexa, lalu berdiri. Punggungnya tegap. Hari ini ia kembali menjadi pemimpin. Kepala rumah tangga. Calon ayah. Ia tak boleh lemah.Ruang kerja mansion berubah menjadi pusat komando. Tirai terbuka lebar. Meja panjang dipenuhi layar, berkas, peta waktu, dan kabel-kabel yang menjalar seperti nadi. Felix

  • Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin   Hati yang Runtuh

    Mobil berhenti perlahan di halaman mansion yang gelap. Lampu-lampu taman menyala redup, seolah ikut menahan nafas. Arsenio turun dengan langkah yang tidak sepenuhnya stabil. Udara malam menyentuh wajahnya, dingin, tajam—sedikit membantu menjernihkan kepalanya, tapi tidak mengusir berat yang menekan dadanya.Felix dan Kelvin menatap dari dalam mobil. Tak ada kata perpisahan. Mereka tahu, ada pertempuran yang tak bisa mereka masuki.Arsenio melangkah masuk. Sepatu kulitnya bergema pelan di lantai marmer yang dingin.Setiap langkah terasa seperti membawa beban seribu pikiran. Ia berhenti sejenak di kaki tangga, mengatur nafas. Bau alkohol masih melekat di tubuhnya—ia membencinya. Ia tak ingin Alexa mencium kehancurannya.Kamar itu gelap, hanya cahaya lampu tidur yang temaram. Alexa terlelap, rambutnya terurai di bantal, wajahnya tampak pucat namun damai. Arsenio berdiri di ambang pintu, memandangi istrinya lama. Ada rasa rindu yang menyayat—rindu akan ketenangan yang selalu ia temukan d

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status