author-banner
Miss Wang
Miss Wang
Author

Novels by Miss Wang

Menjadi Tawanan Tuan Mafia

Menjadi Tawanan Tuan Mafia

"Aku beli dia tiga kali lipat." Ucapan itu menghantam Clara, seorang mahasiswi yatim piatu dengan hidup dipenuhi luka dan penghinaan, yang baru saja dijual oleh pamannya ke rumah bordir. Ia dibeli oleh Raymond Antonio, pria misterius dengan reputasi mengerikan dan kekuasaan absolut. Menjadi tawanan pria berbahaya ini membuat Clara hampir kehilangan akal. Namun, ada rasa ketertarikan yang perlahan tumbuh. Antara rasa takut, dendam masa lalu, dan ketertarikan yang tak seharusnya tumbuh, Clara harus bertahan di sisi pria paling berbahaya yang pernah ia kenal. Karena di dunia Raymond Antonio, keselamatan selalu punya harga—dan kebebasan bukan sesuatu yang bisa diminta dengan mudah.
Read
Chapter: Hari H
Tuan… bagaimana ini?” suara Ken panik. “Apa kita keluarkan saja dia dari sana?”Raymond berdiri kaku, mata hitamnya menahan sesuatu yang beriak di dada. “Tidak.” Suaranya rendah dan dan tegas, seperti palu yang jatuh satu kali. “Panggil dokter ke ruang bawah tanah.”Ken mengangguk cepat. “Baik, Tuan.” Ia bergegas pergi, langkahnya cepat namun senyap.Di ruang bawah tanah, Clara meringkuk di lantai, tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin membasahi pelipis. Nafasnya pendek-pendek, terasa sesak. Ketika dokter datang bersama Ken, lampu kecil dinyalakan, menerangi wajah pucat itu. “Pasien demam tinggi,” gumam dokter sambil memeriksa nadi Clara. “Dehidrasi dan kelelahan. Dia butuh istirahat dan banyak cairan.”Ken menyelubungi Clara dengan selimut tebal, gerakannya hati-hati. Di ambang pintu, Raymond berdiri. Tangannya terkepal keras di sisi tubuh, urat-uratnya menegang. Ia tidak melangkah lebih dekat.Kelopak mata Clara bergetar. Ia membuka mata sedikit, pandangannya buram. Di balik cah
Last Updated: 2026-02-14
Chapter: Persiapan Pernikahan
Mansion Baker sudah mulai sibuk—penuh kilau palsu yang menutup bau busuk di baliknya. Aula utama dipenuhi contoh undangan berlapis emas, daftar tamu panjang yang memuat nama-nama keluarga mafia lintas kota, dan maket venue pernikahan yang megah. Charles mondar-mandir dengan senyum puas, sesekali memberi instruksi, sesekali tertawa keras, seolah pernikahan ini adalah mahkota terakhir kekuasaannya.Di sudut lain, Baker mengawasi dengan tatapan tajam. Setiap detail harus sempurna—itulah wajah yang ia pamerkan pada dunia. Sementara Veronika, anggun dalam gaun gelapnya, sesekali mendekat pada Baker, berbisik, lalu menjauh lagi. Senyum mereka saling bertukar, cepat, dan rahasia.Sementar itu, Ellen tenggelam dalam dunia yang berbeda. Ruang ganti dipenuhi gaun-gaun pengantin—sutra, renda, kilau mutiara. Ia berjalan perlahan, menyentuh kain-kain itu seolah menyentuh masa depan. Ketika Raymond masuk, Ellen langsung berbalik, matanya berbinar.“Ray,” panggilnya manja. “Bantu aku memilih gaun.”
Last Updated: 2026-02-13
Chapter: Kartu Merah
Keesokan harinya, mansion itu masih dibungkus sunyi yang berat. Raymond melangkah di koridor belakang ketika mendapati Bu Eli berdiri di dapur kecil, menata makanan di atas nampan—sup hangat, nasi lembut, dan segelas air.Bu Eli terkejut saat bayangan tinggi menjulang muncul tepat di belakangnya. Ia berbalik cepat. “T-Tuan…” suaranya bergetar. “Ini… ini untuk Nona Clara. Maaf jika… jika tidak boleh, aku akan—”Raymond hanya diam. Tatapannya jatuh pada nampan itu cukup lama, seperti sedang menimbang sesuatu. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia melangkah melewati Bu Eli.Ken yang menyusul di belakangnya berhenti sejenak. Ia memberi anggukan kecil pada Bu Eli, nyaris tak terlihat, lalu berbisik singkat, “Lanjutkan,” sebelum kembali mengikuti Raymond.Bu Eli menghela napas panjang. Tangannya masih gemetar, namun langkahnya mantap saat ia membawa nampan itu menuruni tangga sempit menuju ruang bawah tanah.Di bawah, udara lembap dan dingin menyelimuti. Clara meringkuk di sudut ruangan, memelu
Last Updated: 2026-02-13
Chapter: Clara Difitnah
Aku tahu pelakunya,” ucap Raymond akhirnya. Ken mengangkat kepala. “Apa maksud Tua?”Raymond menghela napas pelan, seolah menahan sesuatu di dadanya. “Panggil semua orang ke ruang tengah! Sekarang.”Ken menelan ludah, lalu mengangguk cepat. “Baik, Tuan.”Beberapa menit kemudian, ruang tengah mansion dipenuhi ketegangan. Anak buah berjajar, berdiri di sisi dinding. Para pelayan berbaris kaku, wajah mereka pucat. Bu Eli menggenggam ujung celemeknya dengan tangan gemetar. Sementara itu, Ellen berdiri anggun di dekat sofa, dagunya terangkat, sorot matanya penuh percaya diri. Clara berdiri di antara para pelayan. Jantungnya tak kalah berdegup keras seperti yang lainnya. Ada firasat buruk yang menekan dadanya sejak ia dipanggil turun.Tak lama, Raymond melangkah masuk. Setiap langkahnya mantap. Ia berdiri di tengah ruangan, tatapannya menyapu semua orang—dingin, menilai, seperti sedang menghitung siapa yang akan jatuh.“Sebuah berkas penting,” ucap Raymond akhirnya, memecah keheningan, “
Last Updated: 2026-02-12
Chapter: Rubah Licik
Tanpa aba-aba, ia maju. Tangannya meraih pinggang Clara, menariknya mendekat, dan bibirnya menekan bibir Clara—dalam namun singkat. Ciuman itu berhenti sebelum Clara sempat bernapas.Raymond memejamkan mata. Saat ia membukanya kembali, sorot matanya gelap. Clara membeku, membalas tatapan itu tanpa mampu bergerak.Rahang Raymond mengeras. Ia melepaskan Clara, ia terdiam sejenak, lalu pria itu berbalik, dan keluar dari ruangan itu tanpa sepatah kata pun.Pintu tertutup. Clara masih mematung. Jantungnya berdentum tak beraturan. “Ada apa dengannya…?” gumamnya pelan, kebingungan. Keesokan paginya, mansion terasa lebih sunyi dari biasanya.Clara baru keluar dari kamar dengan pakaian kampus dan beberapa buku di pelukannya ketika pintu kamar Raymond terbuka—Raymond dan Ellen melangkah keluar bersama. Ellen merapikan dasi Raymond dengan sikap intim, seolah itu haknya.Langkah Clara terhenti, ia berdiri kaku di depan pintu. Raymond dan Ellen menoleh. Ellen sengaja merapat lebih dekat, lalu
Last Updated: 2026-02-12
Chapter: Berpura-pura
Raymond menepati kata-katanya. Sejak saat itu, ia mulai memainkan perannya—ia mulai bersikap manis pada Ellen di depan orang-orang, menggenggam tangannya sedikit lebih lama dari yang perlu, mencondongkan tubuhnya ketika berbicara, menyematkan perhatian kecil yang tampak tulus. Namun di balik semua itu, matanya tetap datar seolah sedang bertransaksi bisnis gelap. Makan malam romantis diatur Veronika dengan sempurna.Meja panjang dihiasi lilin-lilin ramping, kristal berkilau memantulkan cahaya ke dinding marmer. Musik mengalun pelan, cukup untuk menenangkan, cukup untuk menipu. Raymond duduk di seberang Ellen, jas hitamnya rapi, posturnya tegap. Ia mengangkat gelas anggur, menyesapnya sedikit—gerakannya sangat terukur.“Kau terlihat berbeda malam ini,” ujar Ellen lembut, pipinya merah merona. “Kau lebih… hangat.”Raymond mengangkat sudut bibirnya, tersenyum tipis, “Aku akan mencoba lebih baik padamu.”Kata-kata itu membuat Ellen terdiam sesaat, lalu tersenyum lebih lebar. Ia menyukai
Last Updated: 2026-02-11
Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin

Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin

Arsenio Alvier, seorang mantan narapidana yang ditugaskan oleh bosnya yang seorang ketua gengster jahat untuk menjadi Bodyguard seorang gadis buta—Alexa Jennifer yang Hyper. Dengan satu tujuan: menguasai semua aset kekayaan orang tuanya yang melimpah ruah. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menjadi dekat dan diam-diam saling menyukai. Apakah Arsenio akan tetap melanjutkan misinya? Atau... melawan bosnya yang kuat demi Alexa?
Read
Chapter: Epilog
Pagi itu datang tanpa tergesa. Langit biru membentang bersih, awan tipis melayang malas seolah tak ingin mengganggu ketenangan yang akhirnya menetap. Rumah kecil di pinggiran kota itu berdiri sederhana—tak berpagar tinggi, tak dijaga kamera, tak ada penjagaan ketat. Hanya halaman dengan rumput hijau, pohon mangga tua, dan kursi kayu yang mulai pudar warnanya karena matahari. Arsenio berdiri di halaman, menyiram tanaman dengan selang air. Kaus putih sederhana menempel di tubuhnya, rambutnya sedikit berantakan—jauh dari sosok pria dingin yang dulu menghuni gedung-gedung tinggi dan ruang rapat penuh tekanan. Setiap tetes air yang jatuh ke tanah terasa seperti penegasan: ia masih di sini. Hidup. Utuh. “Ayah!” Suara itu membuatnya menoleh cepat. James Alvier berlari kecil ke arahnya, langkahnya belum sepenuhnya stabil, tapi penuh keyakinan. Mata hazel itu—mata yang sama dengan milik Arsenio—bersinar cerah, polos, tanpa bayangan masa lalu. Arsenio tersenyum lebar. Ia berlutut, m
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Meninggalkan Dunia Gelap
“Aku mau jujur sama kamu.” Suara Arsenio memecah keheningan kamar sebelum pagi benar-benar bangun. Alexa masih setengah terlelap, James Alvier terbaring di dadanya, napas kecilnya teratur dan hangat. Ia mengangkat wajah, menatap suaminya yang duduk di tepi ranjang dengan ekspresi yang tak biasa—tenang, tapi berat. “Ada apa?” tanya Alexa pelan. Arsenio menelan ludah. “Aku sudah menyerahkan semuanya.” Alexa langsung terjaga sepenuhnya. “Semuanya… apa maksudmu?” “Perusahaanku. Posisi. Jaringan lama. Dunia yang selama ini mengikatku.” Ia mengangkat tangan, menyentuh jemari kecil James. “Aku mundur. Aku selesai.” Hening. Alexa menatapnya lama, seolah mencari tanda bahwa ini hanya keputusan impulsif. Namun yang ia lihat justru kelelahan yang jujur—dan keberanian yang akhirnya menemukan arah. “Kamu yakin?” suara Alexa bergetar. “Itu bukan hal kecil, Arsenio.” “Aku tahu,” jawabnya lirih. “Tapi setiap kali aku melihat kalian tidur… aku sadar, aku tidak ingin menang di dunia, tapi kala
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Harga Sebuah Pilihan
Hujan turun tanpa suara yang keras, seperti langit ikut menahan napas. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca mobil yang melaju pelan menuju pusat kota. Arsenio duduk di kursi belakang, tangannya terlipat, pandangannya kosong namun tajam—seperti mata elang yang menunggu saat tepat untuk menyambar. Di sampingnya, Felix menatap layar tablet berisi peta dan data. Kelvin menyetir dengan rahang mengeras, tak sekali pun mengalihkan pandangan dari jalan. “Lokasinya dikonfirmasi,” ujar Felix akhirnya. “Gedung lama milik perusahaan Orion Capital. Bosnya… Adrian Valen.” Nama itu menggantung di udara. Arsenio tersenyum tipis, pahit. “Aku sudah menduganya.” Kelvin menoleh cepat. “Kamu tahu sejak kapan?” “Sejak dia terlalu tenang saat perusahaannya ‘hancur’ kemarin,” jawab Arsenio. “Orang yang kalah sungguhan tidak akan diam.” Felix mengangguk. “Dia menyiapkan satu kartu terakhir. Kamu.” Mobil berhenti di lampu merah. Hujan makin deras. “Dia ingin kamu mundur total,” lanjut Felix.
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Pengkhianatan yang Paling Dekat
Pagi datang dengan cahaya pucat, seolah matahari pun ragu menyinari hari yang menyimpan rahasia. Mansion Alvier tampak tenang dari luar. Burung-burung bertengger di pagar besi, angin menggerakkan tirai kamar bayi dengan lembut. James tertidur pulas di boksnya, kepalan tangan kecilnya terangkat seolah sedang memeluk mimpi. Namun di ruang kerja bawah, ketenangan itu retak. Felix duduk kaku di depan layar. Jarinya berhenti di atas keyboard. Wajahnya yang biasanya dingin kini tegang, seolah baru saja melihat sesuatu yang tak ingin ia benarkan. Kelvin berdiri di belakangnya. “Katakan saja.” Felix menghela napas panjang. “Akses terakhir ke sistem keamanan mansion… dilakukan dari akun internal. Level tinggi.” Kelvin menegang. “Itu berarti—” “Orang yang punya akses penuh. Orang yang dipercaya.” Pintu terbuka. Arsenio masuk tanpa suara. Tatapannya langsung menangkap ekspresi mereka. “Lanjutkan.” Felix menelan ludah. “Waktu James diculik, alarm dinonaktifkan dari dalam. Kamera dibutak
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: Badai Terakhir
Pagi itu terasa terlalu tenang untuk sebuah dunia yang sedang runtuh di balik layar. Mansion Alvier diselimuti cahaya matahari lembut. Alexa duduk di teras, mengayun James perlahan di dalam gendongan. Senyum kecil terukir di wajahnya—senyum yang rapuh, namun penuh harapan. Untuk sesaat, hidup terasa normal. Seperti keluarga biasa yang tak dikejar bayang-bayang. Arsenio berdiri di balik pintu kaca, menatap mereka lama. Ia sudah menyerahkan segalanya. Jabatan. Kekuasaan. Jaringan gelap yang selama ini menahannya di dunia penuh darah dan intrik. Namun instingnya—insting seorang pria yang terlalu lama hidup di medan perang—tak berhenti berbisik. Ini belum selesai. Felix datang dengan langkah cepat, wajahnya kaku. Kelvin mengikutinya, ekspresi waspada. “Arsen,” ujar Felix tanpa basa-basi. “Mereka bergerak.” Arsenio menoleh, tenang. “Siapa?” “Bos lama perusahaan saingan itu. Yang selama ini bersembunyi di balik nama-nama boneka.” Kelvin menambahkan, “Sejak kamu mundur, saham mereka
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: Harga dari Sebuah Pilihan
Pagi itu datang tanpa cahaya. Awan menggantung rendah di atas mansion, seolah ikut menekan dada setiap orang di dalamnya. Tidak ada suara tawa, tidak ada denting cangkir, hanya langkah-langkah pelan dan napas yang ditahan. James tertidur di boks bayinya, selamat—namun bayang-bayang malam sebelumnya masih melekat di wajah kecil itu. Alexa duduk di sampingnya sejak subuh, tak bergerak, seakan jika ia berpaling sedetik saja, dunia akan kembali merenggut putranya. Arsenio berdiri di ambang pintu. Ia menatap punggung istrinya lama. Perempuan yang biasanya lembut itu kini terlihat rapuh, tapi juga kuat—kekuatan yang lahir dari cinta seorang ibu. “Aku akan keluar sebentar,” ucap Arsenio pelan. Alexa menoleh cepat. Wajahnya pucat. “Ke mana?” “Ruang kerja.” Alexa bangkit dan menghampirinya. Tangannya gemetar saat menggenggam jas Arsenio. “Jangan pergi jauh. Jangan ambil keputusan apa pun sendirian.” Arsenio mengangguk. Ia menarik Alexa ke dalam pelukan, mencium keningnya lama—lebih lam
Last Updated: 2026-01-17
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status