author-banner
Miss Wang
Miss Wang
Author

Novels by Miss Wang

Menjadi Tawanan Tuan Mafia

Menjadi Tawanan Tuan Mafia

"Aku beli dia tiga kali lipat." Ucapan itu menghantam Clara, seorang mahasiswi yatim piatu dengan hidup dipenuhi luka dan penghinaan, yang baru saja dijual oleh pamannya ke rumah bordir. Ia dibeli oleh Raymond Antonio, pria misterius dengan reputasi mengerikan dan kekuasaan absolut. Menjadi tawanan pria berbahaya ini membuat Clara hampir kehilangan akal. Namun, ada rasa ketertarikan yang perlahan tumbuh. Antara rasa takut, dendam masa lalu, dan ketertarikan yang tak seharusnya tumbuh, Clara harus bertahan di sisi pria paling berbahaya yang pernah ia kenal. Karena di dunia Raymond Antonio, keselamatan selalu punya harga—dan kebebasan bukan sesuatu yang bisa diminta dengan mudah.
Read
Chapter: Yakin
Keesokan paginya, rumah kecil Bibi Janeta terasa lebih sunyi dari biasanya. Cahaya matahari masuk melalui sela-sela tirai tipis di ruang makan, memantulkan warna keemasan di atas meja kayu tua yang sudah mulai kusam. Aroma teh hangat dan roti panggang memenuhi udara. Clara duduk diam. Kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuan. Tatapannya kosong, sejak semalam, ia hampir tidak tidur. Pikirannya dipenuhi dua orang—Raymond dan Noah. Bibi Janeta duduk di sampingnya dengan wajah penuh kekhawatiran, sementara Thomas berdiri di dekat jendela, bersandar dengan tangan terlipat di dada. “Ada apa sebenarnya?” tanya Bibi Janeta lembut. “Dari tadi kau terlihat gelisah, Clara." Clara menarik napas panjang. Lalu perlahan, ia mengangkat wajahnya. “Aku… ingin memberitahu Raymond tentang Noah.” Ruangan mendadak sunyi. Thomas langsung menoleh cepat. Sementara Bibi Janeta tampak membeku beberapa detik. “Kau serius?” tanya wanita tua itu lirih. Clara mengangguk pelan. “Aku capek terus b
Last Updated: 2026-04-01
Chapter: Tempat Lembab
Basement itu terasa semakin dingin. Lampu-lampu redup menggantung di langit-langit, memantulkan bayangan panjang di lantai semen yang lembap. Udara dipenuhi bau oli, debu, dan ketegangan yang menggantung begitu pekat. Ken dan beberapa anak buah langsung menyebar. Mereka memeriksa setiap sudut—di balik deretan mobil, di antara pilar-pilar beton, di ruang penyimpanan kecil. Namun—Sella tidak ada. “Periksa ke sana!” teriak salah Ken. Para anak buah melangkah cepat menuju sudut paling belakang basement. Di sana, tepat di balik tumpukan kardus dan drum bekas, ada sebuah jendela kecil yang terbuka lebar dengan kaca di sekitarnya yang sudah retak. Tirai plastiknya bergerak perlahan tertiup angin malam. Ken mengumpat pelan, "sial!" Ia kembali ke arah Raymond dengan wajah tegang. “Tuan…” ucapnya lirih. “Dia berhasil kabur.” Raymond tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam dengan tatapan gelap. Rahangnya mengeras begitu kuat hingga urat di lehernya terlihat jelas. Beberapa detik berlalu
Last Updated: 2026-03-31
Chapter: Di Telan Bumi
DOR! Suara tembakan itu memecah keheningan seperti petir yang menyambar terlalu dekat. Dinding kamar bergetar halus, dan dalam sekejap—suasana yang tadinya hangat dan rapuh berubah menjadi tegang dan mencekam. Clara tersentak. Matanya membelalak, napasnya tercekat di tenggorokan. Refleks, ia langsung meraih lengan Raymond, jemarinya mencengkeram erat. “A-apa itu…?” suaranya bergetar. Di luar—terdengar suara langkah kaki berlarian. Teriakan. Perintah-perintah kasar yang saling bersahutan. Raut wajah Raymond langsung berubah. Wajah yang tadi lembut kini mengeras. Tatapannya tajam, instingnya mengambil alih sepenuhnya. “Tetap di sini,” ucapnya cepat dan tegas. Clara menatapnya panik. “Tuan Ray—” “Jangan keluar dari kamar ini. Apa pun yang terjadi.” Nada suara Raymond tidak memberi ruang untuk dibantah. Clara mengangguk cepat, meski ketakutan masih membekap dadanya. Raymond menatapnya sejenak sebelum berbalik. Langkahnya cepat menuju pintu. Klik—Pintu ruangan itu terbuka. Dan
Last Updated: 2026-03-30
Chapter: Ciuman Lembut
Kini, Clara berdiri di hadapan Raymond dengan tubuh kaku. Dadanya naik turun tak beraturan, seolah jantungnya mencoba keluar dari rongga yang terlalu sempit untuk menampung semua yang ia rasakan saat ini. Tangannya masih menggantung di udara—gemetar, ragu, dan kehilangan arah. Pakaiannya tergeletak di lantai. Dan di hadapannya—Raymond membeku. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh kendali dan kuasa… ia benar-benar kehilangan kendali. Tatapannya terpaku pada tubuh indah di depannya. Napasnya tertahan. Rahangnya mengeras, namun bukan karena amarah—melainkan karena sesuatu yang jauh lebih berbahaya—sesuatu yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Ia memejamkan mata sejenak, seolah mencoba menarik kembali dirinya dari jurang. Tangannya yang sempat terangkat perlahan mengepal, menahan dorongan yang bergejolak di dalam dirinya. “Clara…” suaranya keluar rendah. Serak. Hampir seperti bisikan yang dipaksa keluar. Namun Clara tidak bergerak. Mata wanita itu berkaca-kaca. B
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Cinta atau Nafsu?
Pria itu menelan ludah. Matanya liar, napasnya tersengal, tubuhnya gemetar hebat seolah setiap detik adalah batas terakhir hidupnya. “S-Sella…” Nama itu akhirnya keluar. Rahang Raymond langsung mengeras. Otot di wajahnya menegang, dan urat di pelipisnya terlihat jelas. Nama itu seperti percikan api yang jatuh ke dalam bahan bakar. "Sella," ucapnya pelan sambil mengepalkan tangan. “Lanjutkan,” suara Raymond rendah. Berbahaya. Pria itu tersedak napasnya sendiri. “D-dan… satu lagi... Dia... Dia—" DOR! Suara tembakan pecah di dalam ruangan—keras dan menggelegar. Kepala pria itu tersentak ke belakang. Tubuhnya kaku—lalu lunglai. Seketika darah segar mengalir dari dahinya. Pria itu mati saat itu juga. Selama beberapa detik—tidak ada yang bergerak. Raymond membeku sepersekian detik, lalu matanya langsung menyipit tajam. “Ada penembak!” salah satu anak buah berteriak. Raymond langsung menoleh ke atas—ke arah ventilasi besar di sudut ruangan. Dan di sana—ia menangkap sesosok bayang
Last Updated: 2026-03-29
Chapter: Kelembutan Sang Mafia
Ken tidak membuang waktu. Dengan gerakan kasar, ia dan dua orang petugas keamanan menyeret pria pelaku itu ke arah mobil. Tangan pria itu sudah terikat ke belakang, wajahnya penuh keringat, matanya liar dipenuhi ketakutan. Sepatu pria itu terseret di lantai, meninggalkan bunyi gesekan yang parau dan putus asa. Petugas keamanan membantu, memegang bahunya dengan cengkeraman kuat. “Lepaskan aku! Aku mohon! Aku hanya disuruh—aku tidak tahu apa-apa!” teriaknya panik, suaranya pecah. Ken bahkan tidak menoleh, ia membuka pintu mobil dengan kasar. Brak! Tubuh pria itu dilempar ke kursi belakang tanpa belas kasihan. Kepalanya hampir membentur pintu, napasnya tersengal hebat. “Aku mohon! Jangan bawa aku ke sana! Aku tahu siapa kalian—aku tahu!” suaranya semakin histeris. Ken duduk di kursi kemudi dengan rahang yang mengeras. Tangannya menyalakan mesin dengan gerakan tegas. Tanpa emosi. Tanpa ragu. Ia mengangkat ponsel, lalu menekan satu nomor. “Siapkan tempat eksekusi,” ucapnya singk
Last Updated: 2026-03-27
Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin

Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin

Arsenio Alvier, seorang mantan narapidana yang ditugaskan oleh bosnya yang seorang ketua gengster jahat untuk menjadi Bodyguard seorang gadis buta—Alexa Jennifer yang Hyper. Dengan satu tujuan: menguasai semua aset kekayaan orang tuanya yang melimpah ruah. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menjadi dekat dan diam-diam saling menyukai. Apakah Arsenio akan tetap melanjutkan misinya? Atau... melawan bosnya yang kuat demi Alexa?
Read
Chapter: Epilog
Pagi itu datang tanpa tergesa. Langit biru membentang bersih, awan tipis melayang malas seolah tak ingin mengganggu ketenangan yang akhirnya menetap. Rumah kecil di pinggiran kota itu berdiri sederhana—tak berpagar tinggi, tak dijaga kamera, tak ada penjagaan ketat. Hanya halaman dengan rumput hijau, pohon mangga tua, dan kursi kayu yang mulai pudar warnanya karena matahari. Arsenio berdiri di halaman, menyiram tanaman dengan selang air. Kaus putih sederhana menempel di tubuhnya, rambutnya sedikit berantakan—jauh dari sosok pria dingin yang dulu menghuni gedung-gedung tinggi dan ruang rapat penuh tekanan. Setiap tetes air yang jatuh ke tanah terasa seperti penegasan: ia masih di sini. Hidup. Utuh. “Ayah!” Suara itu membuatnya menoleh cepat. James Alvier berlari kecil ke arahnya, langkahnya belum sepenuhnya stabil, tapi penuh keyakinan. Mata hazel itu—mata yang sama dengan milik Arsenio—bersinar cerah, polos, tanpa bayangan masa lalu. Arsenio tersenyum lebar. Ia berlutut, m
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Meninggalkan Dunia Gelap
“Aku mau jujur sama kamu.” Suara Arsenio memecah keheningan kamar sebelum pagi benar-benar bangun. Alexa masih setengah terlelap, James Alvier terbaring di dadanya, napas kecilnya teratur dan hangat. Ia mengangkat wajah, menatap suaminya yang duduk di tepi ranjang dengan ekspresi yang tak biasa—tenang, tapi berat. “Ada apa?” tanya Alexa pelan. Arsenio menelan ludah. “Aku sudah menyerahkan semuanya.” Alexa langsung terjaga sepenuhnya. “Semuanya… apa maksudmu?” “Perusahaanku. Posisi. Jaringan lama. Dunia yang selama ini mengikatku.” Ia mengangkat tangan, menyentuh jemari kecil James. “Aku mundur. Aku selesai.” Hening. Alexa menatapnya lama, seolah mencari tanda bahwa ini hanya keputusan impulsif. Namun yang ia lihat justru kelelahan yang jujur—dan keberanian yang akhirnya menemukan arah. “Kamu yakin?” suara Alexa bergetar. “Itu bukan hal kecil, Arsenio.” “Aku tahu,” jawabnya lirih. “Tapi setiap kali aku melihat kalian tidur… aku sadar, aku tidak ingin menang di dunia, tapi kala
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Harga Sebuah Pilihan
Hujan turun tanpa suara yang keras, seperti langit ikut menahan napas. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca mobil yang melaju pelan menuju pusat kota. Arsenio duduk di kursi belakang, tangannya terlipat, pandangannya kosong namun tajam—seperti mata elang yang menunggu saat tepat untuk menyambar. Di sampingnya, Felix menatap layar tablet berisi peta dan data. Kelvin menyetir dengan rahang mengeras, tak sekali pun mengalihkan pandangan dari jalan. “Lokasinya dikonfirmasi,” ujar Felix akhirnya. “Gedung lama milik perusahaan Orion Capital. Bosnya… Adrian Valen.” Nama itu menggantung di udara. Arsenio tersenyum tipis, pahit. “Aku sudah menduganya.” Kelvin menoleh cepat. “Kamu tahu sejak kapan?” “Sejak dia terlalu tenang saat perusahaannya ‘hancur’ kemarin,” jawab Arsenio. “Orang yang kalah sungguhan tidak akan diam.” Felix mengangguk. “Dia menyiapkan satu kartu terakhir. Kamu.” Mobil berhenti di lampu merah. Hujan makin deras. “Dia ingin kamu mundur total,” lanjut Felix.
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Pengkhianatan yang Paling Dekat
Pagi datang dengan cahaya pucat, seolah matahari pun ragu menyinari hari yang menyimpan rahasia. Mansion Alvier tampak tenang dari luar. Burung-burung bertengger di pagar besi, angin menggerakkan tirai kamar bayi dengan lembut. James tertidur pulas di boksnya, kepalan tangan kecilnya terangkat seolah sedang memeluk mimpi. Namun di ruang kerja bawah, ketenangan itu retak. Felix duduk kaku di depan layar. Jarinya berhenti di atas keyboard. Wajahnya yang biasanya dingin kini tegang, seolah baru saja melihat sesuatu yang tak ingin ia benarkan. Kelvin berdiri di belakangnya. “Katakan saja.” Felix menghela napas panjang. “Akses terakhir ke sistem keamanan mansion… dilakukan dari akun internal. Level tinggi.” Kelvin menegang. “Itu berarti—” “Orang yang punya akses penuh. Orang yang dipercaya.” Pintu terbuka. Arsenio masuk tanpa suara. Tatapannya langsung menangkap ekspresi mereka. “Lanjutkan.” Felix menelan ludah. “Waktu James diculik, alarm dinonaktifkan dari dalam. Kamera dibutak
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: Badai Terakhir
Pagi itu terasa terlalu tenang untuk sebuah dunia yang sedang runtuh di balik layar. Mansion Alvier diselimuti cahaya matahari lembut. Alexa duduk di teras, mengayun James perlahan di dalam gendongan. Senyum kecil terukir di wajahnya—senyum yang rapuh, namun penuh harapan. Untuk sesaat, hidup terasa normal. Seperti keluarga biasa yang tak dikejar bayang-bayang. Arsenio berdiri di balik pintu kaca, menatap mereka lama. Ia sudah menyerahkan segalanya. Jabatan. Kekuasaan. Jaringan gelap yang selama ini menahannya di dunia penuh darah dan intrik. Namun instingnya—insting seorang pria yang terlalu lama hidup di medan perang—tak berhenti berbisik. Ini belum selesai. Felix datang dengan langkah cepat, wajahnya kaku. Kelvin mengikutinya, ekspresi waspada. “Arsen,” ujar Felix tanpa basa-basi. “Mereka bergerak.” Arsenio menoleh, tenang. “Siapa?” “Bos lama perusahaan saingan itu. Yang selama ini bersembunyi di balik nama-nama boneka.” Kelvin menambahkan, “Sejak kamu mundur, saham mereka
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: Harga dari Sebuah Pilihan
Pagi itu datang tanpa cahaya. Awan menggantung rendah di atas mansion, seolah ikut menekan dada setiap orang di dalamnya. Tidak ada suara tawa, tidak ada denting cangkir, hanya langkah-langkah pelan dan napas yang ditahan. James tertidur di boks bayinya, selamat—namun bayang-bayang malam sebelumnya masih melekat di wajah kecil itu. Alexa duduk di sampingnya sejak subuh, tak bergerak, seakan jika ia berpaling sedetik saja, dunia akan kembali merenggut putranya. Arsenio berdiri di ambang pintu. Ia menatap punggung istrinya lama. Perempuan yang biasanya lembut itu kini terlihat rapuh, tapi juga kuat—kekuatan yang lahir dari cinta seorang ibu. “Aku akan keluar sebentar,” ucap Arsenio pelan. Alexa menoleh cepat. Wajahnya pucat. “Ke mana?” “Ruang kerja.” Alexa bangkit dan menghampirinya. Tangannya gemetar saat menggenggam jas Arsenio. “Jangan pergi jauh. Jangan ambil keputusan apa pun sendirian.” Arsenio mengangguk. Ia menarik Alexa ke dalam pelukan, mencium keningnya lama—lebih lam
Last Updated: 2026-01-17
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status