author-banner
Miss Wang
Miss Wang
Author

Novels by Miss Wang

Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin

Gelora Gadis Buta & Bodyguard Dingin

Arsenio Alvier, seorang mantan narapidana yang ditugaskan oleh bosnya yang seorang ketua gengster jahat untuk menjadi Bodyguard seorang gadis buta—Alexa Jennifer yang Hyper. Dengan satu tujuan: menguasai semua aset kekayaan orang tuanya yang melimpah ruah. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka menjadi dekat dan diam-diam saling menyukai. Apakah Arsenio akan tetap melanjutkan misinya? Atau... melawan bosnya yang kuat demi Alexa?
Read
Chapter: Epilog
Pagi itu datang tanpa tergesa. Langit biru membentang bersih, awan tipis melayang malas seolah tak ingin mengganggu ketenangan yang akhirnya menetap. Rumah kecil di pinggiran kota itu berdiri sederhana—tak berpagar tinggi, tak dijaga kamera, tak ada penjagaan ketat. Hanya halaman dengan rumput hijau, pohon mangga tua, dan kursi kayu yang mulai pudar warnanya karena matahari. Arsenio berdiri di halaman, menyiram tanaman dengan selang air. Kaus putih sederhana menempel di tubuhnya, rambutnya sedikit berantakan—jauh dari sosok pria dingin yang dulu menghuni gedung-gedung tinggi dan ruang rapat penuh tekanan. Setiap tetes air yang jatuh ke tanah terasa seperti penegasan: ia masih di sini. Hidup. Utuh. “Ayah!” Suara itu membuatnya menoleh cepat. James Alvier berlari kecil ke arahnya, langkahnya belum sepenuhnya stabil, tapi penuh keyakinan. Mata hazel itu—mata yang sama dengan milik Arsenio—bersinar cerah, polos, tanpa bayangan masa lalu. Arsenio tersenyum lebar. Ia berlutut, m
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Meninggalkan Dunia Gelap
“Aku mau jujur sama kamu.” Suara Arsenio memecah keheningan kamar sebelum pagi benar-benar bangun. Alexa masih setengah terlelap, James Alvier terbaring di dadanya, napas kecilnya teratur dan hangat. Ia mengangkat wajah, menatap suaminya yang duduk di tepi ranjang dengan ekspresi yang tak biasa—tenang, tapi berat. “Ada apa?” tanya Alexa pelan. Arsenio menelan ludah. “Aku sudah menyerahkan semuanya.” Alexa langsung terjaga sepenuhnya. “Semuanya… apa maksudmu?” “Perusahaanku. Posisi. Jaringan lama. Dunia yang selama ini mengikatku.” Ia mengangkat tangan, menyentuh jemari kecil James. “Aku mundur. Aku selesai.” Hening. Alexa menatapnya lama, seolah mencari tanda bahwa ini hanya keputusan impulsif. Namun yang ia lihat justru kelelahan yang jujur—dan keberanian yang akhirnya menemukan arah. “Kamu yakin?” suara Alexa bergetar. “Itu bukan hal kecil, Arsenio.” “Aku tahu,” jawabnya lirih. “Tapi setiap kali aku melihat kalian tidur… aku sadar, aku tidak ingin menang di dunia, tapi kala
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Harga Sebuah Pilihan
Hujan turun tanpa suara yang keras, seperti langit ikut menahan napas. Lampu-lampu kota berpendar samar di balik kaca mobil yang melaju pelan menuju pusat kota. Arsenio duduk di kursi belakang, tangannya terlipat, pandangannya kosong namun tajam—seperti mata elang yang menunggu saat tepat untuk menyambar. Di sampingnya, Felix menatap layar tablet berisi peta dan data. Kelvin menyetir dengan rahang mengeras, tak sekali pun mengalihkan pandangan dari jalan. “Lokasinya dikonfirmasi,” ujar Felix akhirnya. “Gedung lama milik perusahaan Orion Capital. Bosnya… Adrian Valen.” Nama itu menggantung di udara. Arsenio tersenyum tipis, pahit. “Aku sudah menduganya.” Kelvin menoleh cepat. “Kamu tahu sejak kapan?” “Sejak dia terlalu tenang saat perusahaannya ‘hancur’ kemarin,” jawab Arsenio. “Orang yang kalah sungguhan tidak akan diam.” Felix mengangguk. “Dia menyiapkan satu kartu terakhir. Kamu.” Mobil berhenti di lampu merah. Hujan makin deras. “Dia ingin kamu mundur total,” lanjut Felix.
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Pengkhianatan yang Paling Dekat
Pagi datang dengan cahaya pucat, seolah matahari pun ragu menyinari hari yang menyimpan rahasia. Mansion Alvier tampak tenang dari luar. Burung-burung bertengger di pagar besi, angin menggerakkan tirai kamar bayi dengan lembut. James tertidur pulas di boksnya, kepalan tangan kecilnya terangkat seolah sedang memeluk mimpi. Namun di ruang kerja bawah, ketenangan itu retak. Felix duduk kaku di depan layar. Jarinya berhenti di atas keyboard. Wajahnya yang biasanya dingin kini tegang, seolah baru saja melihat sesuatu yang tak ingin ia benarkan. Kelvin berdiri di belakangnya. “Katakan saja.” Felix menghela napas panjang. “Akses terakhir ke sistem keamanan mansion… dilakukan dari akun internal. Level tinggi.” Kelvin menegang. “Itu berarti—” “Orang yang punya akses penuh. Orang yang dipercaya.” Pintu terbuka. Arsenio masuk tanpa suara. Tatapannya langsung menangkap ekspresi mereka. “Lanjutkan.” Felix menelan ludah. “Waktu James diculik, alarm dinonaktifkan dari dalam. Kamera dibutak
Last Updated: 2026-01-18
Chapter: Badai Terakhir
Pagi itu terasa terlalu tenang untuk sebuah dunia yang sedang runtuh di balik layar. Mansion Alvier diselimuti cahaya matahari lembut. Alexa duduk di teras, mengayun James perlahan di dalam gendongan. Senyum kecil terukir di wajahnya—senyum yang rapuh, namun penuh harapan. Untuk sesaat, hidup terasa normal. Seperti keluarga biasa yang tak dikejar bayang-bayang. Arsenio berdiri di balik pintu kaca, menatap mereka lama. Ia sudah menyerahkan segalanya. Jabatan. Kekuasaan. Jaringan gelap yang selama ini menahannya di dunia penuh darah dan intrik. Namun instingnya—insting seorang pria yang terlalu lama hidup di medan perang—tak berhenti berbisik. Ini belum selesai. Felix datang dengan langkah cepat, wajahnya kaku. Kelvin mengikutinya, ekspresi waspada. “Arsen,” ujar Felix tanpa basa-basi. “Mereka bergerak.” Arsenio menoleh, tenang. “Siapa?” “Bos lama perusahaan saingan itu. Yang selama ini bersembunyi di balik nama-nama boneka.” Kelvin menambahkan, “Sejak kamu mundur, saham mereka
Last Updated: 2026-01-17
Chapter: Harga dari Sebuah Pilihan
Pagi itu datang tanpa cahaya. Awan menggantung rendah di atas mansion, seolah ikut menekan dada setiap orang di dalamnya. Tidak ada suara tawa, tidak ada denting cangkir, hanya langkah-langkah pelan dan napas yang ditahan. James tertidur di boks bayinya, selamat—namun bayang-bayang malam sebelumnya masih melekat di wajah kecil itu. Alexa duduk di sampingnya sejak subuh, tak bergerak, seakan jika ia berpaling sedetik saja, dunia akan kembali merenggut putranya. Arsenio berdiri di ambang pintu. Ia menatap punggung istrinya lama. Perempuan yang biasanya lembut itu kini terlihat rapuh, tapi juga kuat—kekuatan yang lahir dari cinta seorang ibu. “Aku akan keluar sebentar,” ucap Arsenio pelan. Alexa menoleh cepat. Wajahnya pucat. “Ke mana?” “Ruang kerja.” Alexa bangkit dan menghampirinya. Tangannya gemetar saat menggenggam jas Arsenio. “Jangan pergi jauh. Jangan ambil keputusan apa pun sendirian.” Arsenio mengangguk. Ia menarik Alexa ke dalam pelukan, mencium keningnya lama—lebih lam
Last Updated: 2026-01-17
Menjadi Tawanan Tuan Mafia

Menjadi Tawanan Tuan Mafia

"Aku beli dia tiga kali lipat." Ucapan itu menghantam Clara, seorang mahasiswi yatim piatu dengan hidup dipenuhi luka dan penghinaan, yang baru saja dijual oleh pamannya ke rumah bordir. Ia dibeli oleh Raymond Antonio, pria misterius dengan reputasi mengerikan dan kekuasaan absolut. Menjadi tawanan pria berbahaya ini membuat Clara hampir kehilangan akal. Namun, ada rasa ketertarikan yang perlahan tumbuh. Antara rasa takut, dendam masa lalu, dan ketertarikan yang tak seharusnya tumbuh, Clara harus bertahan di sisi pria paling berbahaya yang pernah ia kenal. Karena di dunia Raymond Antonio, keselamatan selalu punya harga—dan kebebasan bukan sesuatu yang bisa diminta dengan mudah.
Read
Chapter: Ayah Thomas
Suasana aula langsung berubah sunyi mencekam begitu sosok pria tua itu melangkah masuk melewati pintu utama mansion. Musik biola yang sejak tadi mengalun lembut perlahan terdengar semakin jauh, tenggelam oleh suara ketukan tongkat yang menggema pelan di lantai marmer mengilap. Tok. Tok. Tok. Langkahnya tidak terburu-buru. Namun justru ketenangan itu terasa jauh lebih menakutkan. Lampu chandelier raksasa memantulkan cahaya ke setelan hitam mahal yang dikenakannya. Potongan jas itu begitu rapi dan elegan, membungkus tubuh tinggi besarnya dengan sempurna. Rambutnya yang mulai dipenuhi uban disisir licin ke belakang, memperlihatkan wajah tegas penuh garis usia dan sepasang mata dingin yang tajam seperti pisau. Tatapan pria itu menyapu seluruh aula perlahan. Dan hanya dengan itu saja, udara di ruangan terasa berubah berat. Beberapa tamu langsung menunduk gelisah. Ada yang tanpa sadar mundur satu langkah. Bahkan suara bisik-bisik kecil mendadak lenyap seketika. Semua o
Last Updated: 2026-05-16
Chapter: Janji Suci
Langkah Clara akhirnya berhenti tepat di depan altar. Raymond langsung menggenggam tangannya perlahan. Hangat. Kuat. Dan sedikit gemetar. Pria itu menatap Clara cukup lama sampai penghulu berdehem kecil sambil tersenyum geli. “Tuan Raymond…” Beberapa tamu langsung tertawa kecil. Raymond seperti baru tersadar. Ia menarik napas pelan, tetapi tatapannya tetap tidak lepas dari Clara. “Kau cantik sekali…” bisiknya lirih. Clara tersenyum sambil menahan air mata. “Kau juga… tampan.” Raymond terkekeh pelan. “Aku babak belur begini masih dibilang tampan?” Clara ikut tertawa kecil di sela tangisnya. Luka lebam di rahang Raymond masih terlihat jelas meski sudah ditutupi tipis oleh makeup. Perban kecil di pelipisnya membuat penampilannya sedikit berantakan. Namun entah kenapa… Bagi Clara, Raymond belum pernah terlihat setampan ini sebelumnya. Prosesi pernikahan akhirnya dimulai. Suasana aula kembali hening dan sakral. Raymond berdiri tegak di depan pendeta
Last Updated: 2026-05-15
Chapter: Altar
Dahi Raymond semakin berkerut. Detik demi detik terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Musik piano masih mengalun lembut di seluruh aula, tetapi suasana hangat beberapa saat lalu perlahan berubah menjadi tegang. Beberapa tamu mulai saling melirik dan berbisik pelan. Bahkan suara denting gelas dari meja belakang terdengar terlalu jelas di tengah keheningan yang mendadak canggung. Hans dan Ken spontan saling bertukar pandang. Wajah keduanya berubah waspada. Raymond sendiri masih berdiri tegak di depan altar, tetapi rahangnya perlahan mengeras. Jemarinya mengepal tanpa sadar di samping tubuhnya. Pikirannya langsung dipenuhi kemungkinan-kemungkinan buruk. Setelah semua kejadian semalam, rasa takut kehilangan Clara ternyata masih belum benar-benar hilang dari dirinya. 'Jangan-jangan…' Dadanya terasa semakin tidak nyaman. “Ray…” panggil Hans pelan dari samping, seolah menyadari perubahan ekspresi pria itu. Namun sebelum siapa pun sempat bergerak— Klik. Pintu aula akhirnya ter
Last Updated: 2026-05-14
Chapter: Senyum Bahagia
“MAMA!” Suara kecil Noah menggema dari dalam kamar dan langsung memecah keheningan pagi di mansion itu. Clara yang sejak tadi berdiri di balkon sambil memandangi langit refleks menoleh cepat. Dalam sekejap, wajahnya yang semula dipenuhi lamunan langsung melembut. “Noah?” Ia segera melangkah masuk kembali ke kamar, lalu spontan menahan tawa kecil begitu melihat putranya berdiri di depan cermin besar dengan ekspresi frustrasi. Dasi hitam mungil di leher Noah kusut berantakan dan bentuknya sudah tidak jelas. Anak itu sibuk menarik-narik kain dasinya sambil mengerucutkan bibir kesal. “Ini susah…” gerutunya. “Kenapa orang nikah harus pakai tali beginian sih?” Clara terkekeh pelan. Pagi itu Noah mengenakan tuxedo kecil berwarna hitam dengan kemeja putih rapi yang membuatnya terlihat seperti versi mini Raymond. Rambutnya disisir ke samping dengan sedikit gel agar tetap rapi, sementara pipinya yang masih bulat membuat wajah seriusnya justru terlihat lucu. Clara berjalan mendekat lalu
Last Updated: 2026-05-12
Chapter: Tak Ingin Kehilangan
Dia baik-baik saja,” jawab Bu Eli cepat sambil mengusap air matanya. “Dokter bilang hanya gegar ringan dan butuh istirahat.” Tubuh Clara langsung melemas lega. Hans dan Ken yang berdiri di dekat ruang perawatan ikut menghela napas panjang saat melihat Raymond dan Clara akhirnya kembali dengan selamat. “Tuan…” Ken langsung menunduk hormat, tetapi ekspresinya berubah kaget melihat kondisi Raymond yang penuh luka. “Tuan terluka parah…” Raymond hanya menggeleng kecil. “Aku tidak apa-apa.” Namun bahkan saat mengatakan itu, darah masih merembes tipis dari luka sobek di lengannya. Clara langsung menatap Raymond dengan mata memerah. “Bagaimana bisa kau bilang tidak apa-apa…” bisiknya lirih penuh rasa bersalah. Pintu ruang perawatan akhirnya terbuka perlahan. Dan di sanalah Noah berada. Anak kecil itu tertidur di atas ranjang putih dengan perban melilit kepalanya. Wajah mungilnya masih pucat, tetapi napasnya terdengar tenang dan stabil. Clara langsung menangis lagi sa
Last Updated: 2026-05-11
Chapter: Tewasnya Sang Psikopat
Angin malam masih meraung keras di atas gedung tua itu, membawa aroma asin laut dan suara deburan ombak yang menghantam tebing di bawah sana. Namun kini tidak ada lagi bentakan penuh amarah ataupun suara perkelahian brutal. Semuanya mendadak terasa sunyi setelah tubuh Thomas menghilang ke dalam gelap malam. Yang tersisa hanya napas Clara yang memburu dan tubuhnya yang masih gemetar hebat di samping Raymond. Perlahan, dengan kaki yang terasa lemas seperti kehilangan tenaga, Clara melangkah mendekati tepi gedung. Pandangannya kosong, sementara air mata masih membasahi pipinya tanpa henti. Raymond yang berdiri di belakangnya langsung menahan lengannya cepat. “Jangan,” ucapnya rendah, suaranya serak karena kelelahan. Namun Clara tetap menunduk ke bawah. Dan detik berikutnya, napasnya langsung tercekat. Tubuh Thomas terlentang di halaman belakang gedung kosong itu, jatuh menghantam beton keras beberapa puluh meter di bawah sana. Lampu jalan yang redup menerangi tubuhnya yang tidak b
Last Updated: 2026-05-10
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status