Mag-log inSatu bulan berlalu dengan napas yang kian berhati-hati. Malam itu, hujan turun tipis—bukan deras, tapi cukup untuk membuat jalanan berkilau dan hati mudah berdebar. Alexa terbangun dengan napas terputus, tangannya refleks menekan perut yang mengeras tiba-tiba. “Arsen…” suaranya gemetar. Arsenio bangun seketika. Tak ada jeda antara sadar dan siaga. Ia duduk, menatap wajah istrinya yang pucat, keringat membasahi pelipis. “Sakit?” tanyanya, suaranya berusaha tenang, meski dadanya seperti dihantam palu. Alexa mengangguk. “Kurasa… ini waktunya.” Kalimat itu menjatuhkan seluruh ketegaran Arsenio. Tangannya bergetar saat meraih ponsel, menekan nomor dokter, lalu Ny. Eli, Dania, Kelvin—semuanya dalam satu tarikan napas. Mansion yang biasanya sunyi mendadak hidup oleh langkah tergesa, pintu yang terbuka-tutup, suara instruksi yang saling bersahut. Ny. Eli datang dengan wajah pucat tapi tegas. “Tenang. Tarik napas, Alexa. Kita berangkat sekarang.” Dania membantu mengenakan jaket, tangann
Beberapa bulan berlalu seperti alunan musik yang pelan—tak tergesa, tak berisik, hanya mengisi ruang dengan kehangatan yang menetap. Musim berganti tanpa pengumuman, dan di dalam mansion, waktu seolah belajar bersikap ramah. Perut Alexa kini membulat sempurna, seperti bulan yang hampir penuh. Langkahnya melambat, napasnya lebih teratur, dan senyumnya—lebih sering. Setiap pagi, Arsenio memastikan ia duduk nyaman sebelum matahari benar-benar tinggi. Setiap malam, ia menutup tirai dengan hati-hati, seolah cahaya pun harus meminta izin untuk pergi. Alexa berdiri di jendela, tangan menopang punggung bawah. Senja menorehkan warna tembaga di langit. Arsenio menghampiri, menyelipkan jaket tipis ke bahunya. “Dingin?” tanyanya. “Sedikit,” jawab Alexa. “Atau mungkin hanya perasaan.” Arsenio tersenyum, lalu berlutut. Ia berbicara pada perut itu—suara rendah, penuh janji—tentang dunia yang akan menyambut, tentang tangan-tangan yang siap memeluk. Alexa menutup mata, membiarkan kata-kata i
Hari-hari setelah badai terasa seperti hadiah yang tak berani mereka minta, namun akhirnya diberikan juga. Mansion itu tidak lagi dipenuhi langkah tergesa atau bisik-bisik tegang. Pagi datang dengan cahaya lembut, sore ditutup dengan senja yang hangat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, waktu berjalan pelan—dan tidak ada yang ingin mengejarnya. Alexa berdiri di depan cermin kamar, kedua tangannya menopang perut yang kini jelas membulat. Gaun rumah berwarna krem jatuh longgar, menyisakan siluet kehamilan yang membuatnya tersenyum tanpa sadar. Ada kehidupan di sana. Ada masa depan. Arsenio muncul di belakangnya, tanpa suara. Tangannya melingkar pelan di pinggang Alexa, lalu naik menutup kedua tangannya di perut itu. “Kamu makin cantik,” ucapnya lirih, nyaris seperti doa. Alexa tertawa kecil. “Atau makin sensitif?” “Dua-duanya,” jawab Arsenio sambil tersenyum. Ia menunduk, menempelkan kening ke bahu Alexa. Dulu, ia selalu berdiri dengan punggung tegang, mata waspada. Kini,
Pagi itu datang tanpa gemuruh. Tidak ada sirene. Tidak ada kilatan kamera. Hanya cahaya matahari yang masuk perlahan ke mansion—lembut, hangat, seolah dunia akhirnya memberi izin untuk bernapas. Dania berdiri di depan jendela kamar, menatap taman yang basah oleh embun. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya terasa ringan. Tidak ada ketakutan yang menekan. Tidak ada suara di kepalanya yang menuduh. Yang tersisa hanya lelah… dan lega. Pintu diketuk pelan. “Dania?” suara itu lirih, ragu. Ia menoleh. Di ambang pintu, Ny. Eli berdiri—bebas. Tanpa borgol. Tanpa seragam tahanan. Wajahnya masih pucat, tubuhnya tampak lebih kurus, tapi matanya… hidup. Penuh penyesalan yang tak lagi disembunyikan. Dania menelan ludah. Kakinya melangkah pelan, berhenti beberapa langkah dari wanita yang telah menjadi ibu baginya—dan hampir menghancurkan hidupnya. “Aku… boleh masuk?” tanya Ny. Eli. Dania mengangguk. Sunyi menggantung. Lama. Terlalu lama. “Aku minta maaf,” ucap Ny. Eli akhirnya
Pagi itu langit tampak bersih, nyaris menipu. Seolah kota telah lupa pada badai yang semalam mereda. Namun di ruang kerja mansion, udara justru terasa paling berat—seperti sebelum gempa besar menghantam.Arsenio berdiri di depan dinding kaca, punggungnya tegak, rahangnya mengeras. Ia menatap layar besar yang menampilkan grafik pergerakan saham perusahaan saingan. Naik tipis. Stabil. Terlalu tenang untuk sebuah medan perang.“Dia akan keluar hari ini,” ucap Arsenio akhirnya, suaranya datar namun berbahaya.Felix menoleh dari balik tiga monitor yang dipenuhi baris kode dan peta jaringan. “Aku juga merasakannya. Sejak semalam ada pergerakan dana lintas negara. Disamarkan rapi. Tapi… ceroboh.”Kelvin bersedekap, tatapannya tajam. “Karena dia pikir kita sudah puas dengan menangkap pion.”Arsenio tersenyum tipis. Senyum orang yang sudah lama bersiap. “Dia lupa satu hal,” katanya pelan. “Aku dibesarkan di medan seperti ini.”Nama itu akhirnya muncul di layar.Nakamura Hiroshi.CEO sekaligus
Malam kembali turun, namun kali ini bukan dengan ketakutan yang membekukan—melainkan dengan ketegangan yang berdenyut seperti kawat baja ditarik sampai batasnya. Di ruang kerja mansion, lampu tetap menyala. Layar-layar memantulkan wajah-wajah yang tak lagi ragu, hanya fokus.“Umpannya siap,” ujar Felix, suaranya rendah namun mantap. “Aku menanamkan paket data palsu di server cadangan. Isinya cukup ‘menggiurkan’ untuk membuat pelaku bergerak.”Kelvin menepuk papan tulis. “Jalur pelarian juga kita siapkan. Kita biarkan dia merasa aman.”Arsenio berdiri di tengah, lengan terlipat, mata elangnya menatap satu layar tertentu—peta waktu yang kini membentuk garis lurus. “Ingat,” katanya, tenang tapi berbahaya, “kita tidak mengejar pengakuan. Kita mengunci kebenaran.”Felix mengangguk. “Jejak digitalnya akan menempel. Sekali dia masuk, tak ada jalan keluar.”Jam berdetak. Setiap detik terasa panjang. Di ruang tengah mansion, Alexa duduk di kursi dekat jendela, Dania di sisinya. Mereka tidak







