Beranda / Romansa / Gadis Buta milik Mafia Kejam / Bab 3. Dunia Baru yang tak Terlihat

Share

Bab 3. Dunia Baru yang tak Terlihat

last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-05 14:07:57

Zera menggigit bibirnya. la tahu, ini adalah awal dari hidup yang jauh lebih rumit. Namun meski dalam ketidakpastian, hatinya berbisik, "Setidaknya aku masih hidup sampai saat ini dan aku harap tidak ada lagi penyiksaan dan rasa sakit seperti sebelumnya."

Johnny melepaskan genggamannya dan memberi isyarat kepada seorang pelayan untuk mengambil alih Zera, menuntut gadis itu untuk masuk ke dalam kediaman bak kerajaan megah tersebut.

Langkahnyaa tertatih dan sedikit pincang, diiringi gemetar yang tak dapat ia tahan.

"Ini kamar Anda, Nona," ucap pelayan yang menuntunnya. Suaranya halus, bernada hormat namun tetap menjaga jarak.

Langkah kaki Zera terdengar nyaris ragu saat ia menyusuri lorong panjang yang asing. Lantai marmer di bawah telapak kakinya terasa dingin, berkilau namun tak dapat ia lihat. 

Deretan lukisan, lampu gantung kristal, serta ukiran dinding yang mewah, semua hanya bisa dibayangkan olehnya dari deskripsi singkat pelayan perempuan yang membantunya menavigasi ruang demi ruang.

Zera kemudian mengangguk pelan, tangan kanannya menyentuh kusen pintu sebelum memasuki ruangan. Aroma kayu manis dan lilin aroma terapi menyambutnya.

la meraba sisi tempat tidur menyentuh seprai halus dan bantal yang empuk. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Terima kasih" gumamnya.

Pelayan itu sedikit terkejut mendengar ucapannya namun segera tersenyum kecil.

"Tuan Johnny menyuruh kami memastikan Anda tidak kekurangan apa pun.

Zera mendesah pelan. la tak yakin apakah itu berarti perhatian atau hanya tanggung jawab bisnis. Tapi la memilih diam.

"Kalau begitu, saya permisi,kata pelayan itu, lalu menutup pintu dengan lembut, meninggalkan Zera sendiri dalam kesunyian.

Zera duduk di tepi ranjang, tangannya menyentuh kain gaunnya yang kusam, la merasa tidak pantas berada di sini. Semua ini terasa seperti ilusi.

Ia masih ingat jelas wajah Oliver yang dingin, tawanya yang menyayat dan perasaan dinjak-injak sebagai manusia. Sekarang ia berada di rumah pria yang nyaris menolaknya mentah-mentah, namun tiba-tiba berubah pikiran.

 

"Apa yang dia inginkan dariku?" bisiknya lirih.

Tak ada jawaban. Hanya suara jarum jam yang berdetak perlahan, mengiringi lamunannya.

Di ruangan lain, Johnny sedang duduk bersandar di sofa kulit berwarna gelap di ruang kerjanya. Sehelai jas tergantung asal di sandaran kursi. Di tangannya, segelas bourbon berputar pelan dalam genggaman.

 

"Gadis itu bukan tipe perempuan yang bisa dijadikan pasangan politik," gumamnya sendiri. "Terlalu lemah. Terlalu rapuh."

 

Shio, yang berdiri bersandar di jendela sambil menatap ke luar, menoleh. "Tapi dia putri Oliver, bagaimanapun statusnya. Dan sekarang dia berada di bawah atapmu Itu sudah cukup menjadi bahan permainan baru."

Johnny mendengus. "Permainan? Aku tidak sedang ingin bermain. Aku ingin membalas."

"Balas dendam butuh strategi, John. Dan gadis itu bisa jadi kunci. Lihat dari sisi lain, dia sudah tidak dianggap oleh Oliver. Kalau kita bentuk dia jadi lebih kuat dunia akan terkejut. Sekaligus menghancurkan harga diri Oliver."

Johnny menatap ke arah gelasnya. Benar, ide itu tidak buruk.

Tapi satu hal mengganggu pikirannya: mengapa ia merasa bersalah saat tadi menolak tangan gadis itu?

"Pastikan dia tidak menyusahkan," ucap Johnny akhimya.

Shio tersenyum tipis. "Aku akan tugaskan Nia, pelayan yang tadi bersamanya. Dia cukup bisa dipercaya."

Keesokan paginya, Zera terbangun lebih awal dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya naik, namun cahaya samar sudah menerobos masuk melalui sela tirai. Meski ia tak bisa melihat, kehangatan mentari pagi mampu ia rasakan di kulitnya.

la duduk di tepi ranjang, mendengar dengan seksama. Suara burung berkicau, angin meniup dedaunan, dan samar-samar.... aroma roti panggang dari dapur.

Ketukan pelan di pintu membuatnya menoleh.

"Selamat pagi, Nona Zera. Saya Nia, pelayan pribadi Anda. Boleh saya masuk?"

Zera langsung mengenali suara itu. la tersenyum kecil "Masuklah, Kak Nia."

Nia membuka pintu dan masuk sambil membawa nampan berisi sarapan. "Saya bawakan bubur ayam hangat dan segelas susu. Tuan Johnny tidak terlalu suka makan pagi tapi beliau memerintahkan agar Anda selalu mendapat makanan bergizi."

Zera diam sejenak, lalu bertanya hati-hati, "Apakah... Tuan Johnny selalu seperti itu?"

Nia terlihat ragu. "Beliau orang yang keras dan sulit ditebak. Tapi kalau sudah memutuskan sesuatu, beliau akan melakukannya sampai tuntas. Anda tidak perlu takut."

Zera tersenyum pahit. "Aku tidak takut padanya. Aku hanya... tidak tahu apa yang harus kulakukan di sini."

Nia duduk di tepi ranjang, meletakkan mangkuk di atas meja kecil. la menggandeng tangan Zera, meletakkannya pada sisi sendok.

"Awalnya memang membingungkan. Tapi... anggap saja ini kesempatan baru."

Zera mengangguk perlahan, mengucap terima kasih sekali lagi.

Setelah sarapan, Nia menawarkan untuk memandikan dan mengganti pakaian Zera. Gadis itu agak malu, tapi akhinya menurut. Dalam waktu singkat, ia sudah mengenakan gaun sederhana berwarna biru lembut– pakaian bersih pertama yang ia miliki selama bertahun-tahun.

 

"Saya akan ajak Nona berjalan-jalan keliling rumah nanti. Tapi sebelumnya, Tuan Johnny ingin bicara di ruang kerja," kata Nia sambil membimbing Zera menuju tangga besar di tengah rumah.

Langkah Zera pelan tapi mantap. Hatinya berdetak cepat. la tidak tahu apa yang akan terjadi. Akankah Johnny mengusinya sekarang? Atau...?

Ruang kerja Johnny penuh dengan buku-buku tua dan dokumen penting. Aroma kayu jati dan rokok cerutu samar menggantung di udara. Saat Zera masuk, Johnny duduk di balik meja, membaca laporan perusahaan.

"Duduk," katanya tanpa menoleh.

Zera menuruti. la duduk di kursi seberang meja, tubuhnya tegang.

"Aku ingin memperjelas beberapa hal." Johnny mulai kini menatap langsung ke arahnya. "Kau tinggal di sini bukan karena aku ingin. Tapi karena kau memaksa.

Zera mengangguk perlahan. "Aku tahu."

"Bagus. Jadi jangan menuntut hal-hal aneh. Aku tidak akan memperlakukanmu seperti istri. Aku juga tidak butuh kasih sayang atau perhatian. Satu-satunya alasan kau di sini adalah karena kau... bisa jadi alat."

Zera menelan ludah. Sakit, tentu saja. Tapi ia tidak menunjukkan luka di wajahnya "Aku bersedia," katanya pelan.

Johnny terdiam sesaat. Ia tidak menyangka gadis itu akan mengiyakan dengan semudah itu.

"Dan satu lagi," lanjutnya. "Kau akan ikut kelas pelatihan. Bicara, etika, bahkan membaca meski kau buta."

Zera terkejut. "Membaca?"

"Dengan braille Aku akan panggil tutor. Jika dalam sebulan kau tidak menunjukkan perkembangan, aku akan mengirim mu ke rumah pelayan"

Zera menunduk "Baik. Aku akan berusaha."

Johnny mengangguk. Untuk alasan yang tak bisa la pahami, la ingin melihat sejauh mana gadis ini bisa bertahan.

Hari demi hari berlalu. Zera mulai menjalani rutinitas baru, sedangkan Johnny jarang berbicara dengannya. Ia tetap menjaga jarak. 

Tapi tiap malam, tanpa absen, ia membaca laporan kemajuan Zera. Ia ingin tahu seberapa cepat gadis itu belajar, seberapa jauh ia bisa melangkah meski dunia yang dilihatnya hanya gelap.

Dan malam itu, tanpa suara, Johnny berdiri di balik pintu ruang belajar, matanya tak lepas dari sosok Zera yang meraba lembaran braille di pangkuannya.

"Aku bisa membaca namaku," ucap Zera pelan, suaranya gemetar oleh rasa bangga yang sederhana. Ia menunjukkan kertas itu pada Nia yang duduk di hadapannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 33. Rahasia yang taj seharusnya didengar

    Hujan turun perlahan di halaman kediaman Lawrence malam itu, menimbulkan suara lembut di atas kaca jendela besar ruang tamu. Di antara redup cahaya lampu gantung kristal, Evelyn Lawrence duduk tegak di kursi panjang berlapis beludru merah tua. Tangannya yang mengenakan sarung satin memegang ponsel dengan tatapan dingin.Suaranya tenang, tapi menyimpan nada mengancam.“Aku sudah memperingatkan sejak awal, proyek itu tak boleh bocor lagi. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau dunia luar mendengarnya.”Suara berat dari seberang sambungan terdengar pelan—tak jelas siapa. Tapi nada bicaranya menunjukkan posisi tinggi, seseorang yang dulu mungkin menjadi bagian dari proyek rahasia itu.“Tenanglah, Nyonya Lawrence,” suara itu bergetar samar, “data mengenai Neuro X-9 sudah diamankan. Tak seorang pun yang hidup bisa mengaitkannya dengan keluarga Lawrence.”Evelyn menegakkan punggung, menatap kaca di depannya yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri—dingin, nyaris tanpa emosi.“Neuro X-9…,” gu

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 32. Bayangan yang menyimpan rahasia

    Beberapa hari yang lalu .... Malam merayap pelan di kediaman Lawrence. Langit menggantung berat, seolah menelan cahaya bulan. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyesakkan dada.Shio melangkah tanpa suara di sepanjang koridor menuju halaman belakang. Ia bermaksud memastikan area keamanan setelah sistem pendeteksi gerak sempat menunjukkan aktivitas mencurigakan di sisi timur taman. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara samar dari balik dinding batu tua.Suara wanita. Lembut tapi tegang. Clarisse.Ia mencondongkan tubuh, bersembunyi di balik semak, matanya menajam di antara sela cahaya lampu taman yang temaram.“…kau yakin ini akan berhasil?” tanya Clarisse pelan. “Johnny bukan orang bodoh. Sekali saja dia mencium ada yang janggal, semuanya bisa berantakan.”Suara pria menjawab dengan nada datar. “Tenang saja. Flashdisk itu sudah diletakkan di ruang kerjanya. Semua bukti akan mengarah pada Zera. Bahkan jika Johnny mencoba menyelidiki, dia tetap ak

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 31. Anyir Darah

    Langkah kaki Johnny terdengar berat ketika pintu kamarnya berderit terbuka. Malam telah larut, udara dingin menempel di dinding-dinding batu rumah besar itu. Dari arah ranjang, Zera yang sejak tadi duduk dalam diam langsung menegakkan tubuhnya. Telinga tajamnya menangkap irama langkah itu—pelan, namun setiap hentakan membawa aura kemarahan yang menyesakkan.Ada bau yang menusuk hidungnya. Bukan aroma parfum mahal yang biasanya melekat pada tubuh Johnny, melainkan aroma besi yang tajam, anyir, pekat—darah. Tubuh mungil Zera menegang. Kedua tangannya yang menggenggam kain selimut bergetar.“Johnny…,” suaranya lirih, ragu, seolah takut kata-katanya justru mengundang badai. “Kau… kau pulang?”Johnny tidak langsung menjawab. Ia hanya melepaskan jas hitam yang tadi menempel di tubuhnya, melemparkannya begitu saja ke kursi. Gerakannya kasar, seolah setiap lipatan kain mengingatkannya pada amarah yang belum tuntas.“Apa yang kau dengar, hm?” Johnny akhirnya bersuara. Nada rendahnya menekan, m

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 30. Cemburu Buta

    Clarisse tertawa kecil, tajam, lalu mendekat lebih dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia menunduk, berbisik di telinga Zera.“Kau pikir Johnny butuh bukti untuk meninggalkanmu? Tidak, sayang. Aku hanya perlu sedikit waktu… sedikit dorongan… dan dia akan sadar betapa menjijikkannya kehadiranmu di sisinya.”Zera menggeleng cepat, wajahnya pucat. “Tidak… dia bukan orang seperti itu—”“Oh, kau terlalu naif,” potong Clarisse. Jarinya menyentuh dagu Zera, mengangkat wajah gadis buta itu dengan paksa. “Kau hanya seorang gadis buta yang terseret ke dalam dunia yang tidak pernah menginginkanmu. Johnny adalah milikku sejak lama, dan kau… hanya noda sementara.”Zera mencoba menjauh, tapi Clarisse menahan. Tekanan pada dagunya semakin keras, hampir menyakitkan.“Aku akan menyingkirkanmu, Zera. Kalau kau pintar, kau akan pergi sendiri sebelum Johnny melakukannya. Karena percayalah… saat dia yang melemparmu keluar, kau tidak akan punya tempat kembali.”Air mata jatuh dari mata Zera, bukan k

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 29. Terungkap

    Langkah sepatu Clarisse terdengar begitu ringan, namun setiap hentakannya terasa bagai palu godam yang jatuh di dada Zera.“Johnny,” suara Clarisse terdengar halus, penuh percaya diri, tapi mengandung racun yang menyusup pelan. “Aku tidak bermaksud mengganggu, tapi kurasa… ini saat yang tepat.”Johnny menoleh setengah, matanya menyipit, seolah sudah menduga Clarisse tak datang dengan tangan kosong. Zera menggigit bibirnya, firasat buruk menyelubungi batinnya.“Apa yang kau bawa kali ini, Clarisse?” tanya Johnny, suaranya dingin tapi bergetar samar. Clarisse melangkah mendekat, sepatu hak tingginya bergema di lantai marmer. Di tangannya, ia membawa sebuah tablet tipis. Ia menyalakannya dengan satu sentuhan, dan layar menyala, menampilkan rekaman yang seketika membuat jantung Zera serasa berhenti berdetak.Suara itu—suara dirinya sendiri.Suara Zera terdengar dari rekaman, lirih namun jelas: “Aku akan mencoba mendekat padanya… aku harus tahu rahasia yang disembunyikannya. Dia tidak bol

  • Gadis Buta milik Mafia Kejam   Bab 28. Keraguan

    Malam itu, ruang kerja Johnny dipenuhi aroma asap cerutu yang menyengat. Di kursi kulit hitamnya, Johnny duduk tegak, menunggu seseorang. Pintu berderit. Leo masuk dengan langkah ringan, wajahnya setengah tersembunyi oleh bayangan. Senyum kecil melekat di bibirnya, namun matanya tajam, penuh kewaspadaan. “Sepertinya kau sudah tidak sabar,” ucap Leo santai, menarik kursi lalu duduk di hadapan Johnny. Johnny tidak menjawab langsung. Ia menyalakan cerutu, mengisap dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Matanya yang tajam menatap Leo, seperti menimbang sesuatu. “Aku butuh kau untuk sesuatu,” akhirnya Johnny membuka suara. Leo tertawa kecil. “Aku tahu, kalau tidak, kau tak akan memanggilku di jam segila ini.” Johnny meletakkan cerutunya di asbak, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Zera. Aku ingin tahu sejauh mana dia berani.” Leo mengangkat alis. “Kau masih mencurigainya?” “Bukan sekadar curiga.” Johnny mengusap dagunya. “Aku ingin tahu siapa yang menggerakkan dia. Ad

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status