LOGIN"Z... E... R... A ...."
Zera meraba-raba butiran huruf braille di depannya, wajahnya bersinar bangga meski sedikit berkeringat. Awan kelabu membungkus sinar matahari, menambah kesan muram yang menggantung di dalam rumah sebesar istana itu. Namun di dalam ruang belajar yang hangat suara lembut ketukan jari di atas permukaan kayu menandai semangat seorang gadis buta yang sedang menaklukkan dunianya sendiri. "Itu sudah cukup bagus untuk hari ini Nona," ujar Madam Relia, guru braille yang sabar namun tegas. "Besok kita akan mulai belajar menulis dan mengenal tanda baca." Zera mengangguk. "Terima kasih, Madam. Aku ingin belajar lebih cepat agar bisa membaca buku-buku sendiri suatu hari." Madam Relia tersenyum. "Semangatmu luar biasa. Kau akan bisa." Setelah wanita paruh baya itu pamit, Zera duduk terdiam di kursinya. Tangan kanannya menyentuh ujung meja, memastikan letak benda-benda di sekelilingnya, la sudah mulai menghafal ruangan ini, letak kursi, arah jendela, dan bahkan suara-suara dari taman di luar. Dunia Zera perlahan mulai memiliki bentuk meski bukan dari penglihatan. Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat. Langkah berat dan mantap, khas suara sepatu kulit mahal yang sering terdengar di lorong-lorong rumah— milik Johnny. Zera buru-buru berdiri, tubuhnya sedikit gemetar. la tahu itu langkah Pria yang kehadirannya bagai badai dalam hidupnya dan sekaligus menjadi alasan mengapa ia bisa lepas dan neraka yang disebut keluarga Beniamin. "Kau sendirian?" tanya Johnny, suaranya dalam dan datar seperti biasa. "Iya Madarn Relia baru saja pulang" Johnny melangkah masuk ke ruang belajar, duduk sembarangan di kursi seberang Zera la mengamati wajah gadis itu, kulit pucatnya, tangan kecil yang terkepal gelisah di atas pangkuan. "Aku dengar kau sudah bisa membaca namamu?" Zera mengangguk pelan. "Masih terbata-bata. Tapi, aku mencoba setiap malam." Johnny tidak menjawab, hanya memperhatikannya dengan tajam. Ada ketegangan yang menggantung di udara. "Aku ingin tanya sesuatu," kata Zera tiba-tiba suaranya lirih tapi mantap. "Kenapa... Anda membiarkanku tetap tinggal?" Johnny sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. la menegakkan tubuhnya, lalu bersandar santai sambil menatap langit-langit. "Karena kau memaksa. Dan... karena kau mungkin bisa berguna." Zera tersenyum pahit. "Jadi aku bukan lebih dari alat, ya?" "Apakah itu mengejutkanmu?" balas Johnny, sedikit sinis. "Tidak," jawab Zera cepat. "Aku sudah terbiasa dianggap beban. Tapi aku ingin berubah. Aku ingin punya nilai. Bukan karena darah yang mengalir dalam tubuhku, tapi karena diriku sendiri." Untuk pertama kalinya, Johnny kehilangan kata-kata. Gadis yang tubuhnya penuh luka, yang pernah nyaris dibuang seperti sampah oleh ayah kandungnya sendiri, kini duduk tegak dengan keberanian yang diam-diam menggugah sesuatu dalam dirinya. "Aku tidak butuh simpati Anda," lanjut Zera. "Tapi jika Anda mengizinkan, aku ingin menjadi seseorang yang bisa berdiri sendiri." Johnny menatapnya lekat-lekat. Wajah polos itu mungkin tidak cantik dalam standar sosialnya, Tapi keteguhan hati di balik mata yang tak bisa melihat membuat Johnny merasa asing dengan dirinya sendiri. "Aku akan menguji ucapanmu," ucapnya singkat, lalu berdiri. "Siapkan dirimu. Malam ini kau akan ikut jamuan makan dengan tamu penting." Zera terkejut, "T-tapi aku.... " "Jangan banyak alasan. Ini bagian dari pelatihanmu." Dan seperti biasanya Johnny pergi begitu saja. Tapi kali ini langkah kakinya terasa tidak sekeras biasanya. Sore itu, Nia membimbing Zera memilih gaun dari lemari besar yang baru kemarin diisi. Ada berbagai pilihan kain: satin sifon, renda– semuanya terasa asing namun indah di sentuhan jari Zera. "Yang ini, Nona," kata Nia, meletakkan gaun berwarna lavender muda ke atas ranjang. "Gaun ini lembut dan ringan. Tidak terlalu mencolok, tapi tetap anggun." Zera menyentuh kainnya, lalu mengangguk. "Boleh. Kak Nia.... kau pikir aku akan mempermalukan diriku nanti?" Nia tersenyum lembut sambil menyisir rambut Zera. "Tidak. Kau sudah berkembang jauh. Dan jika pun ada yang meremehkanmu, biarkan mereka melihat nanti." Malam tiba. Ruang makan utama dipenuhi cahaya temaram dari puluhan lilin dan lampu gantung kristal. Tamu-tamu berpakaian rapi duduk di kursi panjang, tertawa dan bercakap ringan sambil menunggu tuan rumah. Johnny memasuki ruangan dengan setelan jas gelap. Di belakangnya, langkah pelan dan hati-hati terdengar–Zera berjalan dengan pelan dipandu oleh Nia mengenakan gaun lavender yang menyatu dengan kulit putihnya. Rambutnya ditata sederhana, dan meski ia tak bisa melihat dirinya di cermin, wajahnya terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Semua mata memandang. Beberapa berbisik-bisik. Ada yang terkejut, ada yang sinis. "Siapa gadis itu?" "Buta, ya? Istri Johnny?" "Rumor itu ternyata benar. Oliver menyerahkan anak haramnya!" Johnny mendengar semuanya. Tapi ia tidak bereaksi. la menarik kursi untuk Zera– hal kecil yang membuat semua orang terdiam sesaat. Zera duduk dengan tenang, meski tubuhnya sedikit gemetar. la menunduk, mencoba mengingat semua etika makan yang telah ia pelajari. Posisi garpu, sudut sendok, cara menyeka bibir. Salah satu tamu pria paruh baya bernama Tuan Calven, akhirnya bersuara, "Tuan Johnny, ini pertama kalinya saya melihat Anda begitu... lembut terhadap wanita." Tawa menggema di antara para tamu, Zera tersenyum kecil dan angkat bicara, "Mungkin karena saya tidak bisa melihat wajah beliau, saya bisa bicara jujur... beliau tidak seburuk yang dikabarkan." Ruangan langsung sunyi, Johnny menoleh padanya, begitu juga para tamu. Satu detik. Dua detik. Lalu tawa pecah lebih keras dari sebelumnya. Tapi kali ini, bukan ejekan melainkan kekaguman. Johnny, yang nyaris tersedak anggur di mulutnya, menoleh. dengan ekspresi campur aduk. "Mulutmu mulai tajam rupanya." "Aku belajar dari yang terbaik," jawab Zera dengan nada tenang. Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia dipaksa tinggal, Johnny merasa tidak menyesal karena tidak mengusir gadis itu sejak hari pertama. *** Zera duduk diam di sudut kamar, tangannya mengepal erat di atas pangkuan. Meski matanya tak mampu melihat hatinya tahu bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi. Aroma kayu tua dan debu memenuhi udara, menyatu dengan suara napas berat dua pria yang duduk di ruangan yang sama. Johnny dan Oliver. Mereka sedang berdiskusi tentang dirinya seolah ia bukan manusia, melainkan sekadar alat tukar. "Anak itu buta Apa kau yakin ingin melibatkan dia dalam urusan ini?" Suara Oliver terdengar skeptis. Johnny tersenyum tipis suaranya dingin namun tenang, "Kebutaan bukan masalah. Justru karena dia buta, dia tidak bisa melihat kebusukan dunia ini. Mungkin itu akan menyelamatkannya." Oliver tertawa pendek, lalu menatap ke arah Zera, "Dia pendiam. Tapi aku bisa mencium ketakutan dari tubuhnya." "Tak perlu dia bicara. Aku hanya perlu kesetiaan. " Zera menggigit bibir bawahnya, la ingin berteriak, menolak, bertanya mengapa hidupnya seolah digadaikan tanpa persetujuannya. Dan kini, dua pria sedang menentukan masa depannya. "Sudah diputuskan," katanya tanpa menatap putrinya. "Zera akan menikah dengan Johnny. Mulai hari ini, dia menjadi bagian dari keluarga Lawrence."Hujan turun perlahan di halaman kediaman Lawrence malam itu, menimbulkan suara lembut di atas kaca jendela besar ruang tamu. Di antara redup cahaya lampu gantung kristal, Evelyn Lawrence duduk tegak di kursi panjang berlapis beludru merah tua. Tangannya yang mengenakan sarung satin memegang ponsel dengan tatapan dingin.Suaranya tenang, tapi menyimpan nada mengancam.“Aku sudah memperingatkan sejak awal, proyek itu tak boleh bocor lagi. Kau tahu apa yang akan terjadi kalau dunia luar mendengarnya.”Suara berat dari seberang sambungan terdengar pelan—tak jelas siapa. Tapi nada bicaranya menunjukkan posisi tinggi, seseorang yang dulu mungkin menjadi bagian dari proyek rahasia itu.“Tenanglah, Nyonya Lawrence,” suara itu bergetar samar, “data mengenai Neuro X-9 sudah diamankan. Tak seorang pun yang hidup bisa mengaitkannya dengan keluarga Lawrence.”Evelyn menegakkan punggung, menatap kaca di depannya yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri—dingin, nyaris tanpa emosi.“Neuro X-9…,” gu
Beberapa hari yang lalu .... Malam merayap pelan di kediaman Lawrence. Langit menggantung berat, seolah menelan cahaya bulan. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah yang menyesakkan dada.Shio melangkah tanpa suara di sepanjang koridor menuju halaman belakang. Ia bermaksud memastikan area keamanan setelah sistem pendeteksi gerak sempat menunjukkan aktivitas mencurigakan di sisi timur taman. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara samar dari balik dinding batu tua.Suara wanita. Lembut tapi tegang. Clarisse.Ia mencondongkan tubuh, bersembunyi di balik semak, matanya menajam di antara sela cahaya lampu taman yang temaram.“…kau yakin ini akan berhasil?” tanya Clarisse pelan. “Johnny bukan orang bodoh. Sekali saja dia mencium ada yang janggal, semuanya bisa berantakan.”Suara pria menjawab dengan nada datar. “Tenang saja. Flashdisk itu sudah diletakkan di ruang kerjanya. Semua bukti akan mengarah pada Zera. Bahkan jika Johnny mencoba menyelidiki, dia tetap ak
Langkah kaki Johnny terdengar berat ketika pintu kamarnya berderit terbuka. Malam telah larut, udara dingin menempel di dinding-dinding batu rumah besar itu. Dari arah ranjang, Zera yang sejak tadi duduk dalam diam langsung menegakkan tubuhnya. Telinga tajamnya menangkap irama langkah itu—pelan, namun setiap hentakan membawa aura kemarahan yang menyesakkan.Ada bau yang menusuk hidungnya. Bukan aroma parfum mahal yang biasanya melekat pada tubuh Johnny, melainkan aroma besi yang tajam, anyir, pekat—darah. Tubuh mungil Zera menegang. Kedua tangannya yang menggenggam kain selimut bergetar.“Johnny…,” suaranya lirih, ragu, seolah takut kata-katanya justru mengundang badai. “Kau… kau pulang?”Johnny tidak langsung menjawab. Ia hanya melepaskan jas hitam yang tadi menempel di tubuhnya, melemparkannya begitu saja ke kursi. Gerakannya kasar, seolah setiap lipatan kain mengingatkannya pada amarah yang belum tuntas.“Apa yang kau dengar, hm?” Johnny akhirnya bersuara. Nada rendahnya menekan, m
Clarisse tertawa kecil, tajam, lalu mendekat lebih dekat hingga jarak mereka hanya sejengkal. Ia menunduk, berbisik di telinga Zera.“Kau pikir Johnny butuh bukti untuk meninggalkanmu? Tidak, sayang. Aku hanya perlu sedikit waktu… sedikit dorongan… dan dia akan sadar betapa menjijikkannya kehadiranmu di sisinya.”Zera menggeleng cepat, wajahnya pucat. “Tidak… dia bukan orang seperti itu—”“Oh, kau terlalu naif,” potong Clarisse. Jarinya menyentuh dagu Zera, mengangkat wajah gadis buta itu dengan paksa. “Kau hanya seorang gadis buta yang terseret ke dalam dunia yang tidak pernah menginginkanmu. Johnny adalah milikku sejak lama, dan kau… hanya noda sementara.”Zera mencoba menjauh, tapi Clarisse menahan. Tekanan pada dagunya semakin keras, hampir menyakitkan.“Aku akan menyingkirkanmu, Zera. Kalau kau pintar, kau akan pergi sendiri sebelum Johnny melakukannya. Karena percayalah… saat dia yang melemparmu keluar, kau tidak akan punya tempat kembali.”Air mata jatuh dari mata Zera, bukan k
Langkah sepatu Clarisse terdengar begitu ringan, namun setiap hentakannya terasa bagai palu godam yang jatuh di dada Zera.“Johnny,” suara Clarisse terdengar halus, penuh percaya diri, tapi mengandung racun yang menyusup pelan. “Aku tidak bermaksud mengganggu, tapi kurasa… ini saat yang tepat.”Johnny menoleh setengah, matanya menyipit, seolah sudah menduga Clarisse tak datang dengan tangan kosong. Zera menggigit bibirnya, firasat buruk menyelubungi batinnya.“Apa yang kau bawa kali ini, Clarisse?” tanya Johnny, suaranya dingin tapi bergetar samar. Clarisse melangkah mendekat, sepatu hak tingginya bergema di lantai marmer. Di tangannya, ia membawa sebuah tablet tipis. Ia menyalakannya dengan satu sentuhan, dan layar menyala, menampilkan rekaman yang seketika membuat jantung Zera serasa berhenti berdetak.Suara itu—suara dirinya sendiri.Suara Zera terdengar dari rekaman, lirih namun jelas: “Aku akan mencoba mendekat padanya… aku harus tahu rahasia yang disembunyikannya. Dia tidak bol
Malam itu, ruang kerja Johnny dipenuhi aroma asap cerutu yang menyengat. Di kursi kulit hitamnya, Johnny duduk tegak, menunggu seseorang. Pintu berderit. Leo masuk dengan langkah ringan, wajahnya setengah tersembunyi oleh bayangan. Senyum kecil melekat di bibirnya, namun matanya tajam, penuh kewaspadaan. “Sepertinya kau sudah tidak sabar,” ucap Leo santai, menarik kursi lalu duduk di hadapan Johnny. Johnny tidak menjawab langsung. Ia menyalakan cerutu, mengisap dalam, lalu menghembuskan asap perlahan. Matanya yang tajam menatap Leo, seperti menimbang sesuatu. “Aku butuh kau untuk sesuatu,” akhirnya Johnny membuka suara. Leo tertawa kecil. “Aku tahu, kalau tidak, kau tak akan memanggilku di jam segila ini.” Johnny meletakkan cerutunya di asbak, lalu mencondongkan tubuh ke depan. “Zera. Aku ingin tahu sejauh mana dia berani.” Leo mengangkat alis. “Kau masih mencurigainya?” “Bukan sekadar curiga.” Johnny mengusap dagunya. “Aku ingin tahu siapa yang menggerakkan dia. Ad







