LOGINDi hari ulang tahunnya, Anaya mendapatkan kabar kecelakaan Damar, suaminya. Meski jenazahnya tidak pernah ditemukan, Damar dinyatakan telah meninggal dunia. Di tengah duka dan harapan, ia menyadari dirinya tengah hamil. Demi calon anaknya, ia memutuskan melanjutkan hidup dengan menerima cinta dan menikah dengan pria lain. Masalah kemudian muncul ketika Anaya mendapati bahwa Damar belumlah mati, dan kedatangannya kembali ternyata membawa rahasia besar yang menunggu terungkap. Akhirnya, siapakah yang akan Anaya pilih, suami lama atau suami barunya?
View MoreAnaya menjawab pertanyaan Arlo satu persatu dengan nada yang diusahakan tenang. Abizar memutar tubuhnya kembali menghadap ke depan. “Oke!” Anaya mengakhiri panggilannya, lalu membuka pintu mobil.“Kamu mau kemana?” tanya Abizar.“Aku harus beli barang dulu untuk di kedai. Kalau langsung pulang nggak bawa apa-apa, nanti Arlo curiga,” jawab Anaya. “Tunggu saja di sini!”Anaya pergi bergegas. Untung saja Abizar parkir tak jauh dari pintu masuk mall. Tak jauh melangkah, ia menemukan toko houseware. Ia mengambil troli dan cepat mengisinya dengan piring, sendok, tempat tisu, dan beberapa barang lain yang sebenarnya tidak diperlukan.Semua dilakukannya dengan pikiran yang bercabang-cabang, dengan pokok utama soal kasus yang dihadapi sopirnya.Tiba di rumah, Arlo langsung mencecarnya lagi. Anaya yang penat hanya bisa menahan kesal.“Kenapa Sasha sampai nggak sekolah hari ini?” tanya Arlo.“Aku ‘kan sudah bilang tadi, aku nggak enak badan,” jawab Anaya.“Kalau kamu sakit, kenapa nggak ngasih
Abizar melirik Anaya melalui kaca spion. Wajah perempuan itu diliputi ketegangan dan ketakutan. Betapa ingin dirinya memeluk dan membisikkan kata-kata lembut untuk menenangkannya.“Anaya, kamu nggak perlu cemas berlebihan seperti itu,” ujar Abizar.“Bagaimana aku nggak cemas … aku nggak ngerti persoalannya!” Anaya berucap keras.“Oke … aku akan cari tempat yang aman dan cerita ke kamu. Tapi, kamu harus tetap tenang dan merahasiakan semuanya!” tegas Abizar.Anaya mengangguk. “Iya.”Abizar mengemudi dengan sikap waspada melintasi jalan yang tidak terlalu padat. Ia memutar balik arah, menuju mall. Ia membawa Anaya ke parkiran basement. Dicarinya tempat yang tersembunyi. Ia tidak mematikan mesin, namun membuka sedikit jendela agar tetap ada udara yang masuk ke dalam kabin mobil.“Ceritakan!” Anaya memerintah.“Sabar!” Abizar melepaskan sabuk pengaman dan memutar separuh tubuhnya, hingga matanya leluasa menatap Anaya.“Aku nggak sabar!” Anaya merengut.Didesak demikian, tidak membuat Abiza
“Pembunuhan? …. Siapa yang dibunuh?” Suara Anaya bergetar. Jantungnya berdegup kencang.“Seorang pengusaha.”Kepala Anaya pusing. Otaknya pengar seperti habis terpapar cahaya silau yang tajam menusuk mata.“Bagaimana Kak Damar bisa terlibat?” Anaya tidak percaya. Setahunya, Damar tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Lelaki itu terkenal berperilaku lembut dan santun. “Itu yang sedang kami dalami. Makanya kami mendatangi Ibu. Saat ini, penyelidikan kami mengarah ke Damar sebagai pelaku. Tapi, karena dia sudah meninggal, maka kami mencari keterangan dan pendukung untuk membuktikan sejauh mana keterlibatannya.”Anaya bingung dan khawatir. Jangan-jangan inilah rahasia yang disembunyikan Damar, yang membuatnya bersembunyi, merubah wajah dan berganti nama menjadi Abizar. Bila benar, artinya dirinya telah bekerja sama dan mempercayai seorang penjahat. Tepatnya, pembunuh.“Kami meminta izin memeriksa barang-barang almarhum Damar. Apakah Ibu masih menyimpannya?”Sesuatu di dalam d
Pagi-pagi, Arlo sudah pergi. Meninggalkan Anaya yang enggan bangkit dari tempat tidur. Mood-nya sudah rusak sejak semalam. Sasha pun seperti tertular rasa malas berangkat ke sekolah. Anak kecil itu, menolak disuruh mandi oleh mbak asisten rumah tangga, dan malah pindah ke tempat tidur Anaya, menggulung dirinya di dalam selimut.“Mama … aku nggak mau ke sekolah hari ini. Sekali-sekali, aku kepengen libur.” Sasha berbisik.“Oke … Mama juga ngantuk. Kita tidur aja lagi, ya.” Anaya mendekap anaknya dan kembali memejamkan mata. Tak ada yang berani mengganggu ibu dan anak itu. Abizar juga cuma bisa menahan gelisah karena Anaya tidak kunjung keluar dan memberikan perintah hari ini. Sementara, hari terus berjalan menuju siang.Jam sepuluh, baru Anaya bangun. Itupun karena Sasha mengeluh lapar. Lekas ia bangkit dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Asisten rumah tangganya memberi tahu bahwa sedari tadi Abizar menunggu arahannya hari ini.“Bilang ke dia, hari ini, aku nggak pergi kemana-
“Aku … aku habis dari rumah mama, ngantar makanan … papa lagi sakit.” Anaya tergagap.“Cepat pulang!” perintah Arlo.“Ya, aku ke harus ke kedai dulu jemput Sasha,” elak Anaya.“Aku sudah di kedai, dan akan bawa dia pulang. Kamu langsung ke rumah!” tegas Arlo.“Loh, kok sudah pulang dari Medan?” Anay
Rasa panik bingung dan geram menyerang Anaya. Ia cuma bisa berdiri dengan napas setengah memburu. Lani yang mendengarnya berteriak, bergegas menghampiri. “Bu, Pak Abizar tadi izin pergi ke apotik.” “Kapan perginya?” tanya Anaya.“Tadi waktu Ibu ada tamu,” jawab Lani.Informasi itu, sedikit saja m
Lani mengangkat bahu. Wajahnya menyiratkan cemas. Dia bahkan malah balik bertanya, “ada apa ya, Bu?”Anaya menggeleng. Setelah meletakkan catatannya, ia berjalan mendekati kedua orang tersebut.“Selamat sore … ada yang bisa saya bantu?” Senyum Anaya mengembang ramah.Kedua lelaki itu serentak berdi
“Boleh nggak, Bu?” tanya Lani lagi.“Kenapa harus meminta izin aku?” Anaya merasa janggal. “Ya, karena saya dan Pak Abizar ‘kan sama-sama kerja sama ibu. Saya takutnya ibu bikin aturan sesama karyawan nggak boleh ada yang pacaran.” Lani menjelaskannya sambil tersipu.“Kamu sudah resmi putus sama p






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.