Mag-log inDi hari ulang tahunnya, Anaya mendapatkan kabar kecelakaan Damar, suaminya. Meski jenazahnya tidak pernah ditemukan, Damar dinyatakan telah meninggal dunia. Di tengah duka dan harapan, ia menyadari dirinya tengah hamil. Demi calon anaknya, ia memutuskan melanjutkan hidup dengan menerima cinta dan menikah dengan pria lain. Masalah kemudian muncul ketika Anaya mendapati bahwa Damar belumlah mati, dan kedatangannya kembali ternyata membawa rahasia besar yang menunggu terungkap. Akhirnya, siapakah yang akan Anaya pilih, suami lama atau suami barunya?
view more“Anaya ….” Ciuman di pipi dan bisikan Damar menelusup lembut di telinga Anaya. Membangunkannya dari tidur yang lelap.
Perlahan, ia membuka mata. Di kamar yang gelap, ia tertegun mendapati suaminya duduk begitu dekat di sisinya. “Ada apa?” Suara korek api terdengar memantik, diikuti cahaya yang remang menerangi ruang. Anaya tersenyum. “Selamat ulang tahun yang ke dua empat … Sayangku!” ucap Damar sambil menyulut sumbu lilin kecil di atas sesuatu dalam piring yang dipegang tangan kirinya. “Terima kasih ….” Anaya bangkit duduk. “Tiup lilinnya!” Damar mendekatkan piring di tangannya ke hadapan istrinya. Bukannya langsung menuruti perintah Damar, Anaya malah tergelak melihat isi piring yang terterangi cahaya. Hanya nasi dan lilin, tak ada yang lain. “Kok, cuma nasi?” tanya Anaya sambil menahan tawa. “Nggak ada makanan lain di dapur. Cuma ada sisa nasi di rice cooker.” Damar ikut tertawa. “Kenapa nggak modal beli apa dulu gitu.” Anaya heran. “Sekarang ini masih jam empat pagi. Aku juga baru bangun dan ingat kalau kamu ulang tahun. Lagian, suruh siapa kamu malas ngisi makanan di kulkas.” Damar berkelit. Anaya tidak keberatan. Sesungguhnya, ia tidak mempermasalahkan apapun yang diberikan Damar. “Malam nanti kita undang keluarga ngerayain ulang tahunmu di Sari Rasa. Kamu bebas pilih makanan enak yang kamu suka. Nanti aku belikan cheese cake.” Damar berjanji. “Sekarang, yang penting kamu tiup dulu lilin ini, dan make a wish!” Mata Anaya terpejam. Dalam hati dia berdoa. Cukup lama. Ketika ia membuka mata, dalam sekali hembusan, lilin itu mati. Kamar kembali gelap. “Terima kasih, Mas!” Anaya memeluk suaminya erat. “Semoga kamu bahagia selalu.” Damar membalasnya, dan memberikan kecupan hangat di keningnya. “Apa doamu tadi?” “Aku berdoa, semoga kita selalu bersama. Semoga kamu selalu setia … dan semoga aku segera hamil,” bisik Anaya. “Ya, semoga Tuhan segera memberikan kita keturunan. Soal setia … kayaknya dari dulu aku sudah setia. Cuma ada kamu di hatiku. Aku pasti akan menemani kamu selamanya,” yakin Damar. “Awas, kalau bohong terus sampai ada yang lain!” Anaya pura-pura mengancam. “Aku nggak pernah bohongin kamu,” bantah lelaki yang sudah dua tahun menjadi suaminya itu. Jemari Damar bergerak menggelitik pinggang Anaya. Membuat perempuan itu kegelian dan berusaha melepaskan diri. Namun, Damar malah semakin mengeratkan dekapannya. Ketika ciuman-ciuman lembut mulai merambah lehernya, Anaya cuma bisa pasrah. *** Tepat jam tujuh pagi, Anaya sudah siap berangkat ke kantor. Begitu juga Damar. Anaya yang hampir tidak pernah memasak, memesan katering sarapan pagi yang sudah diantar setengah jam lalu. Seperti biasa, mereka memakannya di mobil. “Jam sembilan nanti, aku diajak bosku pergi ke Kepulauan Seribu,” kata Damar setelah Anaya selesai menyuapinya nasi goreng. “Lah … katanya mau ngerayain ulang tahunku nanti malam.” Anaya merengut. Perjalanan ke pulau-pulau itu, pastinya memakan waktu berjam-jam menggunakan kapal. “Kami naik helikopter, jadi perjalanan jauh lebih cepat … dan nggak lama juga di sana. Hanya menengok lokasi pembangunan resort.” Damar menenangkan Anaya. “Yakin?” Anaya ragu. “Yakin! Aku sudah reservasi acara di Sari Rasa jam tujuh malam. Sebelum itu, aku sudah sampai sana.” Damar melirik Anaya. Anaya mengangguk sambil memasukkan potongan semangka ke mulutnya. “Mama dan papaku sudah aku beritahu untuk datang. Kak Sita dan Kak Dewi juga sudah.” Damar menyebutkan nama kedua kakaknya. “Ayahku bagaimana?” tanya Anaya. “Seperti biasa … nggak merespon,” jawab Damar pelan. Wajah Anaya seketika muram. Ia memalingkannya ke jendela samping. Menatap arus jalanan yang padat. Hatinya menahan kecewa. “Sudahlah … nggak usah kamu pikirkan.” Tangan kiri Damar, menggenggam jemari istrinya. Anaya menggeleng. Sesungguhnya, ia tetap berharap ayahnya akan memberi perhaian di hari ulang tahunnya. Namun, lelaki yang sudah bercerai dari ibunya saat dirinya berusia 12 tahun itu sepertinya sudah tidak peduli lagi kepadanya. Sayangnya, sejak ibunya meninggal empat tahun lalu, hanya ayahnya yang menjadi kerabat terdekat. Damar mengantarkan Anaya sampai di lobi gedung kantornya. Keduanya saling tatap dan tersenyum penuh cinta sebelum berpisah dan larut dalam aktivitas masing-masing. Selepas sore, Anaya sudah berada kembali di rumah. Ia termangu lama menatap dirinya di depan cermin. Gaun hijau pupus yang dikenakannya, tampak terlalu ketat di tubuhnya. Damar menyukainya. Namun, mama mertuanya pasti akan langsung melotot dan mengritiknya. “Pasti ini gara-gara Kak Damar sering ngajak aku jajan malam-malam. Jadinya, aku tambah gendut.” Anaya menyalahkan kebiasaan suaminya yang hampir tiap malam mengajak istrinya makan di luar. Agak kesulitan, Anaya melepaskan pakaian semi sutra tanpa lengan tersebut. Ia lalu membuka lemari dan mencari-cari lagi busana yang tepat. Matanya terpaku pada gaun hitam selutut berkerah sabrina. Ia memakainya saat kencan pertamanya dengan Damar tiga tahun yang lalu. Meski tak yakin, ia mencobanya juga. Di luar dugaan, baju itu ternyata masih pas di tubuhnya. “Baiklah … aku akan pakai ini saja.” Anaya langsung memutuskan. Dikenakannya kalung mutiara sebagai pelengkap. Alarm pengingat di ponselnya, tiba-tiba menjerit. Ia tersadar harus segera berangkat. Jangan sampai keluarga Damar tiba lebih dahulu di restoran favorit mereka. Jam tujuh kurang lima belas menit, Anaya sudah duduk manis di meja kayu panjang yang sudah disediakan. Damar belum datang. Pesan dan telefonnya tidak dijawab. Kala Anaya mulai gelisah, mertuanya muncul. Anaya menyambutnya dengan pembawaan santun. “Mana Damar?” tanya Marini, mamanya Damar. “Masih di jalan,” jawab Anaya sambil mencium tangan ayah mertuanya. “Sudah sampai mana dia?” tanya Marini lagi. “Belum tahu, Ma. Sudah ditelfon, tapi belum dibalas.” Anaya mempersilahkan mertuanya duduk. “Kamu kok pakai baju hitam, sih? Kayak acara berkabung aja.” Marini mengomentari penampilan Anaya. Anaya terhenyak. Walau mama mertuanya itu terkenal suka nyinyir, ia tak menyangka akan dikatai demikian. Meski hatinya jengah, Anaya yang sudah terlatih menghadapi Marini tetap mampu tersenyum. “Ih, mama! Baju ini yang milihin Mas Damar, loh!” Marini menghela nafas. Damar adalah putra kesayangannya. Ia tak berani mendebat pilihan anak bungsunya. Tidak perlu ia tahu bahwa Anaya memanfaatkan kelemahannya itu. Anaya mencoba menelefon kembali suaminya. Ia berubah resah karena nomor yang ditujunya tidak aktif. Pesan yang dikirim pun hanya tercentang satu. “Damar mana?” Pertanyaan itu muncul berulang-ulang saat kedua kakak suaminya datang berurutan, beserta keluarga masing-masing. Sungguh ia bingung bagaimana menjawab. Ia tak tahu di mana suaminya saat ini. “Kapan terakhir kalian berkomunikasi” tanya Marini. “Tadi siang. Mas Damar ngasih kabar dia lagi di Pulau Panjang, dan sedang bersiap kembali ke Jakarta pakai helikopter perusahaan.” Kegelisahan Anaya tampak jelas. Jantungnya berdebar lebih cepat. Pelayan datang membawakan buku menu. Anaya mempersilahkan tamunya memesan makanan dan minuman. Di tengah rasa cemas, ponselnya berbunyi. Nomor yang tidak dikenal muncul di layar. “Halo … selamat malam ….” Anaya menjawab hati-hati. “Selamat malam … apakah ini dengan Ibu Anaya?” tanya suara di seberang sana. Suara perempuan. “Iya … dengan siapa ini?” tanya Anaya curiga. “Saya Siska …,” jawab wanita itu tercekat. “Siska mana?” Dada Anaya berdegup kencang. “Mohon maaf Ibu … saya Manajer HRD di kantor Pak Damar …, “ sambung Siska. “Saya bermaksud menyampaikan berita duka … helikopter yang ditumpangi Pak Damar tadi siang jatuh di tengah laut ….” “Kak Damar …?”Abizar melirik Anaya melalui kaca spion. Wajah perempuan itu diliputi ketegangan dan ketakutan. Betapa ingin dirinya memeluk dan membisikkan kata-kata lembut untuk menenangkannya.“Anaya, kamu nggak perlu cemas berlebihan seperti itu,” ujar Abizar.“Bagaimana aku nggak cemas … aku nggak ngerti persoalannya!” Anaya berucap keras.“Oke … aku akan cari tempat yang aman dan cerita ke kamu. Tapi, kamu harus tetap tenang dan merahasiakan semuanya!” tegas Abizar.Anaya mengangguk. “Iya.”Abizar mengemudi dengan sikap waspada melintasi jalan yang tidak terlalu padat. Ia memutar balik arah, menuju mall. Ia membawa Anaya ke parkiran basement. Dicarinya tempat yang tersembunyi. Ia tidak mematikan mesin, namun membuka sedikit jendela agar tetap ada udara yang masuk ke dalam kabin mobil.“Ceritakan!” Anaya memerintah.“Sabar!” Abizar melepaskan sabuk pengaman dan memutar separuh tubuhnya, hingga matanya leluasa menatap Anaya.“Aku nggak sabar!” Anaya merengut.Didesak demikian, tidak membuat Abiza
“Pembunuhan? …. Siapa yang dibunuh?” Suara Anaya bergetar. Jantungnya berdegup kencang.“Seorang pengusaha.”Kepala Anaya pusing. Otaknya pengar seperti habis terpapar cahaya silau yang tajam menusuk mata.“Bagaimana Kak Damar bisa terlibat?” Anaya tidak percaya. Setahunya, Damar tidak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Lelaki itu terkenal berperilaku lembut dan santun. “Itu yang sedang kami dalami. Makanya kami mendatangi Ibu. Saat ini, penyelidikan kami mengarah ke Damar sebagai pelaku. Tapi, karena dia sudah meninggal, maka kami mencari keterangan dan pendukung untuk membuktikan sejauh mana keterlibatannya.”Anaya bingung dan khawatir. Jangan-jangan inilah rahasia yang disembunyikan Damar, yang membuatnya bersembunyi, merubah wajah dan berganti nama menjadi Abizar. Bila benar, artinya dirinya telah bekerja sama dan mempercayai seorang penjahat. Tepatnya, pembunuh.“Kami meminta izin memeriksa barang-barang almarhum Damar. Apakah Ibu masih menyimpannya?”Sesuatu di dalam d
Pagi-pagi, Arlo sudah pergi. Meninggalkan Anaya yang enggan bangkit dari tempat tidur. Mood-nya sudah rusak sejak semalam. Sasha pun seperti tertular rasa malas berangkat ke sekolah. Anak kecil itu, menolak disuruh mandi oleh mbak asisten rumah tangga, dan malah pindah ke tempat tidur Anaya, menggulung dirinya di dalam selimut.“Mama … aku nggak mau ke sekolah hari ini. Sekali-sekali, aku kepengen libur.” Sasha berbisik.“Oke … Mama juga ngantuk. Kita tidur aja lagi, ya.” Anaya mendekap anaknya dan kembali memejamkan mata. Tak ada yang berani mengganggu ibu dan anak itu. Abizar juga cuma bisa menahan gelisah karena Anaya tidak kunjung keluar dan memberikan perintah hari ini. Sementara, hari terus berjalan menuju siang.Jam sepuluh, baru Anaya bangun. Itupun karena Sasha mengeluh lapar. Lekas ia bangkit dan menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Asisten rumah tangganya memberi tahu bahwa sedari tadi Abizar menunggu arahannya hari ini.“Bilang ke dia, hari ini, aku nggak pergi kemana-
“Boleh nggak, Bu?” tanya Lani lagi.“Kenapa harus meminta izin aku?” Anaya merasa janggal. “Ya, karena saya dan Pak Abizar ‘kan sama-sama kerja sama ibu. Saya takutnya ibu bikin aturan sesama karyawan nggak boleh ada yang pacaran.” Lani menjelaskannya sambil tersipu.“Kamu sudah resmi putus sama pacar kamu sebelumnya?” Anaya memastikan hubungan anak buahnya itu yang memang pasang surut.“Sudah, Bu. Bosan saya sudah diselingkuhin terus,” jawab Lani sambil mengeluh.“Nah, kamu sudah cek belum latar belakang Pak Abizar. Kalau dari rambutnya yang ubanan, kayaknya dia sudah cukup pengalaman. Jangan-jangan sudah punya isteri dan anak.” Anaya sengaja menumbuhkan keraguan di diri Lani.“Sudah kutanya, dia bilang pernah menikah. Sekarang sudah pisah dari isteri dan anaknya. Isterinya juga sudah menikah lagi.” Lani membantah keraguan Anaya.Anaya tertegun dengan jawaban Lani. Jika itu yang memang benar dikatakan Abizar, lelaki itu sebenarnya sudah berkata jujur apa adanya. “Kenapa kamu suka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.