LOGINSuara gemrincing piring dan sendok yang beradu pelan terdengar konstan di area wastafel. Di dapur umum yang kini sudah mulai hening, sepasang tangan bersih bersabun itu telaten membersihkan sisa-sisa alat makan bekas acara malam. Cahaya lampu yang temaram menemani Mbak Sri yang masih bersenandung kecil, meletakkan satu per satu piring bersih ke rak. Waktu menunjukkan pukul setengah satu malam, namun rasa kantuk belum juga datang.
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. Mas Rehan ma
Mas Rehan terpaksa menghentikan laju motornya ketika melihat kerumunan warga di depan Kos Wisma Asri. Suasana tampak gaduh dan riuh. Tanpa berpikir panjang, ia menstandarkan motornya, melepaskan helm, dan berlari kecil menuju kerumunan itu.Begitu sampai di sana, pandangan Mas Rehan langsung tertuju pada dua orang wanita berbeda usia yang sedang berdebat sengit dengan Mas Bayu. Tatapan Mas Rehan kemudian beredar mencari sosok Mbak Sri. Di sudut lain, ia melihat Mbak Sri sedang terduduk sambil menangis sesenggukan di kursi teras kos.Melihat kekacauan tersebut, Mas Rehan memberanikan diri menyela pembicaraan. "Permisi, ada apa ini?" tanya Mas Rehan dengan nada tegas.Kedua wanita itu menoleh seketika dengan wajah merah padam karena emosi. Wanita yang lebih muda, Lastri, tersenyum smirk meremehkan. "Kenapa? Kamu salah satu dari simpanan Sri?" tanyanya sinis.Mendengar pertanyaan melenceng itu, Mas Rehan terkejut bukan main. Matanya langsung mengara
Suasana di depan gerbang kos yang biasanya tenang mendadak panas. Puji membendung amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun, matanya melotot tajam menatap Sri yang sedang menunduk di balik tubuh seorang pria."Dasar wanita murahan! Wanita gatal!" teriak Puji, suara seraknya memecah udara sore. "Pantas saja dari dulu kamu tak kunjung memberikan aku cucu! Kamu itu pasti mandul gara-gara sering digilir banyak pria di kos ini! Kos ini isinya pria semua, pasti setiap malam kamu tidur ganti-ganti pasangan dengan mereka!"Lastri, kakak ipar Sri, menyilangkan dada sambil tersenyum sinis, mengompori ibunya. "Betul itu, Ibu! Biar semua orang tahu kelakuan aslinya!"Puji semakin menjadi-jadi, menunjuk muka Sri dengan jari yang gemetar. "Kamu juga tega-teganya memfitnah Teguh, memasukkan anakku sendiri ke penjara! Semua ini cuma demi memuaskan hasrat kamu sama pria-pria kos itu, kan? Supaya tidak ada yang menghalangi kamu bermesraan sama mereka!"Tes!Air
BRAK!Bunyi benturan keras mengguncang meja kayu di ruang kunjungan tahanan. Meja tua yang sudah usang dan terkelupas catnya itu bergetar hebat saat kepalan tangan Puji mendarat telak di atas permukaannya. Napas wanita setengah baya itu memburu, dadanya kempas-kempis, dan kilat amarah berkobar begitu hebat di balik matanya yang memerah. Setiap kata dari cerita anak laki-lakinya bak minyak tanah yang disiramkan langsung ke dalam kobaran api di dadanya.Lastri menatap Teguh yang duduk di seberang mereka dengan tatapan dingin penuh tekad. Ia memegang bahu ibunya, menepuknya perlahan tapi tegas."Tenang, Ibu. Biar Lastri yang urus. Kita bakal buat perhitungan sama Sri," ucap Lastri dengan suara rendah namun sarat ancaman."Wanita tak tahu malu! Dasar perempuan tak tahu diuntung!" sergah Puji, suaranya melengking menembus kesunyian ruang kunjungan. "Kurang apa kamu sama dia, Teguh?! Kurang baik apa keluarga kita?! Berani-beraninya si Sri itu menjebloskan kamu
Mbak Sri menatap Mas Bayu yang berdiri mematung sambil melamun. Uluran tangannya yang menggenggam boks nasi berbungkus rapi hanya dibiarkan menggantung di udara tanpa sambutan."Mas Bayu?" panggil Mbak Sri pelan.Sama sekali tak ada sautan."Mas Bayu?" ulangnya sekali lagi, namun pria di hadapannya itu tetap bergeming dengan pandangan kosong.Mbak Sri mendesah pelan lalu berinisiatif meletakkan boks nasi itu ke bak belakang mobil Mas Bayu. Setelah memastikan posisinya aman, ia melangkah mendekat dan menepuk pelan lengan Mas Bayu.Tepukan itu sukses membuat Mas Bayu tersentak kaget. Ia berkedip beberapa kali, memegang lengannya, lalu menatap Mbak Sri dengan raut bingung. "Eh... ada apa, Mbak Sri?""Mas Bayu ngelamun, ya?" tanya Mbak Sri sambil menatapnya penuh rasa ingin tahu.Mas Bayu buru-buru menggelengkan kepala. "Nggak... enggak kok," jawabnya cepat dengan nada gugup yang tak bisa disembunyikan.Matanya tak lagi tertuju pad
Pintu kaca kantor polisi terdorong kasar hingga membentur dinding di sampingnya. Dua orang wanita melangkah masuk dengan terburu-buru, menciptakan gema langkah kaki yang nyaring di lorong pelayanan publik. Menariknya, wanita paruh baya dan wanita yang lebih muda di sampingnya memiliki garis wajah yang sangat mirip mulai dari bentuk hidung, alis yang menukik tajam, hingga guratan amarah yang sama persis di wajah mereka."Mana anak saya?! Panggil kapolsek atau siapa pun yang bertanggung jawab di sini!" seru wanita tua itu.Brak!Tanpa tawa atau basa-basi, wanita tua itu menggebrak meja pelayanan utama dengan telapak tangannya. Matanya memelototi petugas piket yang duduk di balik meja.Petugas piket yang kaget langsung berdiri dan mengangkat kedua tangannya rileks, mencoba menurunkan tensi. "Selamat pagi, Ibu. Tolong tenang dulu, Bu. Tarik napas pelan-pelan. Ada masalah apa yang bisa kami bantu?"Belum sempat wanita tua itu menyela, wanita ya
Suasana Subuh di dapur kos masih sangat hening ketika dentang jam dinding menunjukkan pukul tiga dini hari. Mbak Sri pelan-pelan membuka matanya. Ia meregangkan tubuhnya di atas kasur, merasakan badannya yang sudah jauh lebih enak dibandingkan kemarin, meski rasa pening masih sedikit tersisa di lipatan dahinya. Namun, rasa kantuk itu langsung menguap begitu ia teringat tanggung jawabnya. Pesanan katering untuk pagi ini sudah menanti dan harus selesai sebelum pemesan datang mengambilnya.Setelah membasuh wajahnya dengan air dingin agar makin segar, Mbak Sri melangkah menuju dapur. Dibiarkannya pintu dapur tetap terbuka sedikit agar sirkulasi udara lancar. Tanpa mengulur waktu, ia melingkarkan celemek kesayangannya di atas daster andalan yang sudah menemaninya bertahun-tahun, lalu mulai meracik bahan-bahan masakan di depan kompor.Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki menyeret dari arah koridor. Seorang pria melangkah masuk sambil menguap lebar. Ia berdiri sebentar d







