Partager

BAB 5 Jejak Tersembunyi

Auteur: Rusmidah
last update Date de publication: 2026-08-19 19:51:17

Prewa masih menatap patung naga perunggu yang kini berdiri di dalam lemari kaca.

Tatapannya dingin.

Namun, untuk pertama kalinya selama dua tahun terakhir, ada sesuatu yang berbeda di matanya.

Harapan.

Bukan karena ia percaya pada hal gaib.

Melainkan karena rasa sakit yang selama ini tidak mampu dijelaskan oleh dokter akhirnya memiliki sebuah bentuk.

Sebuah patung.

Dan makhluk mengerikan yang menempel di tubuhnya.

"Kalau kita biarkan patung ini tetap di sini, rasa sakit di dada Anda akan terus muncul," ujar Rayung. Suaranya masih sedikit bergetar setelah mendengar bisikan makhluk tadi. "Benda itu seperti sumber makanan buat makhluk di tubuh Anda. Selama patungnya aktif, makhluk itu akan terus mendapatkan energi."

Prewa berbalik dan berjalan menuju meja kerjanya.

Wajahnya tetap tenang.

"Dua tahun saya hidup dengan rasa sakit ini."

Ia berhenti di belakang meja.

"Beberapa minggu lagi tidak akan membunuh saya."

Rayung menatapnya tak percaya.

"Ya ampun. Bos mafia memang beda."

Alis Prewa terangkat sedikit.

"Berani sekali kamu mengomentari saya."

"Fakta, Pak."

Rayung menunjuk patung naga itu.

"Kalau Anda terus keras kepala, saya yang nanti repot."

Prewa tidak menjawab.

Rayung mengembuskan napas panjang, lalu kembali memperhatikan patung tersebut.

"Tapi kita juga nggak bisa menghancurkannya sembarangan."

Prewa menatapnya.

"Kenapa?"

"Karena kita belum tahu benda itu terhubung dengan apa."

Rayung berjalan mendekati lemari kaca.

"Kalau benar patung ini adalah jangkar makhluk itu, menghancurkannya secara paksa bisa membuat energi yang terikat di dalamnya lepas sekaligus."

Ia menoleh kepada Prewa.

"Dan saya nggak tahu apa yang bakal terjadi pada tubuh Anda."

Keheningan memenuhi ruangan.

Prewa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Jadi?"

"Saya bisa mengunci auranya sementara."

Rayung menunjuk patung naga itu.

"Semacam mengurung sumber energinya. Kalau berhasil, makhluk itu nggak akan mendapat pasokan tambahan dari patung tersebut. Rasa sakit Anda juga kemungkinan berkurang."

"Berapa lama?"

"Entahlah."

Jawaban Rayung membuat Prewa menyipitkan mata.

"Kamu tidak yakin?"

"Saya bukan paranormal profesional yang punya sertifikat."

Rayung mengangkat bahu.

"Saya belajar sendiri sejak kecil."

Untuk beberapa detik, Prewa hanya diam menatapnya.

Kemudian ia mengambil ponsel.

"Barang apa yang kamu perlukan?"

Rayung langsung menyebutkannya.

"Garam kasar. Alkohol medis. Wadah kaca gelap. Sama kain hitam."

Prewa menekan tombol interkom.

"Kip."

Suara seorang pria segera terdengar dari pengeras suara.

"Ya, Tuan?"

"Bawa semua barang yang dia minta ke ruangan saya."

Ada jeda singkat.

"Kain hitam juga, Tuan?"

"Semua."

"Baik."

Sambungan terputus.

Rayung memandang Prewa dengan sedikit heran.

"Anda nggak nanya buat apa?"

"Saya sudah melihat hasilnya."

Prewa duduk di kursinya.

"Dan saya tidak punya kebiasaan mempertanyakan sesuatu yang bisa menyelamatkan hidup saya."

Rayung terdiam.

Pria ini ternyata tidak sebodoh yang ia kira.

---

Beberapa menit kemudian, pintu ruangan terbuka.

Seorang pria bertubuh tegap masuk membawa nampan berisi barang-barang yang diminta.

Ia meletakkannya di atas meja.

Rayung sempat memperhatikan pria tersebut.

Wajahnya tenang, tetapi matanya tajam dan waspada.

"Barangnya lengkap, Tuan."

"Bagus."

Pria itu hendak keluar.

Namun sebelum pintu tertutup, ia berhenti.

"Tuan Prewa."

"Apa?"

"Paman Harsa baru saja menghubungi sekretaris depan."

Tatapan Prewa langsung berubah.

"Apa yang dia tanyakan?"

"Beliau menanyakan apakah Anda masih berada di kantor malam ini."

Ruangan seketika terasa lebih sunyi.

Prewa bersandar pada kursinya.

"Apa jawaban sekretaris?"

"Katanya Anda sedang melakukan rapat tertutup."

"Bagus."

Suara Prewa terdengar datar.

"Mulai sekarang, jangan beri tahu siapa pun bahwa perempuan ini berada di lantai ini."

Pria itu melirik Rayung sekilas.

"Baik, Tuan."

Pintu kembali tertutup.

Rayung menatap Prewa.

"Paman Harsa?"

"Orang yang memberikan patung itu kepada saya."

Rayung mengangguk pelan.

"Dan sekarang dia tiba-tiba mencari Anda."

Prewa tidak menjawab.

Namun sorot matanya sudah cukup memberikan jawaban.

Ia juga mencurigai hal yang sama.

Rayung kembali menatap patung naga.

"Kayaknya kita baru saja mengganggu sesuatu yang seharusnya nggak diganggu."

"Bagus."

Rayung menoleh.

Prewa sedang menatapnya.

"Berarti kita berada di jalur yang benar."

Rayung berjongkok di depan lemari kaca.

Ia membuka pintunya perlahan.

Begitu tangannya mendekati patung naga, hawa dingin langsung menyambar ujung jarinya.

Rayung bergidik.

"Jangan ganggu saya," gumamnya.

Entah kepada patung itu atau makhluk yang berada di belakang Prewa.

Ia mulai menaburkan garam kasar mengelilingi dasar patung.

Kemudian alkohol dituangkan tipis membentuk batas di luar lingkaran tersebut.

Tangannya bergerak hati-hati.

Rayung memejamkan mata.

Ia menarik napas.

Satu.

Dua.

Tiga.

Aura di dalam ruangan perlahan terasa berubah.

Makhluk di bahu Prewa tiba-tiba bergerak.

Ketiga kepalanya mendongak bersamaan.

Rayung membuka mata.

"Diam."

Makhluk itu mengeluarkan suara geraman rendah.

Udara bergetar.

Namun Rayung tidak mundur.

Ia meraih kain hitam dan menutup patung naga tersebut.

Begitu kain menyentuh permukaannya—

Sssshhh!

Asap hitam tipis keluar dari sela-sela kain.

Rayung tersentak.

Namun tangannya tetap bergerak.

Ia memasukkan patung itu ke dalam wadah kaca gelap dan menutupnya rapat.

Sesaat kemudian—

Hawa dingin di ruangan itu menghilang.

Rayung terdiam.

Prewa juga.

Pria itu perlahan mengangkat tangan dan menyentuh dadanya sendiri.

Rasa sakit yang selama ini selalu menghantam bagian kiri dadanya...

menghilang.

Untuk pertama kalinya setelah dua tahun.

Benar-benar hilang.

Prewa menatap Rayung.

"Berhasil."

Rayung mengusap keringat di pelipis.

"Untuk sementara."

Ia berdiri.

"Jangan senang dulu."

Prewa mengernyit.

"Kenapa?"

"Karena patung ini bukan sumber utamanya."

Rayung menatap wadah kaca tersebut dengan serius.

"Ini cuma penghubung."

Prewa langsung berdiri.

"Maksudmu?"

"Makhluk itu."

Rayung menunjuk ke arah bahunya.

"Dan patung ini cuma alat untuk mempertahankan hubungan antara makhluk itu dengan seseorang."

Ruangan kembali sunyi.

Prewa menatap patung tersebut.

"Jadi ada seseorang yang mengendalikan semua ini?"

Rayung mengangguk pelan.

"Kemungkinan besar."

Ia berjongkok lagi dan memperhatikan bagian bawah patung yang kini tertutup kain.

"Dan kalau kita ingin menemukan orangnya..."

Jarinya berhenti di salah satu bagian dasar patung.

"Ada sesuatu di sini."

Prewa mendekat.

"Apa?"

Rayung menyingkap sedikit bagian bawah kain.

Di permukaan dasar patung terlihat sebuah simbol kecil yang hampir tidak terlihat.

Tiga garis melingkar.

Di tengahnya terdapat sebuah tanda ,

Rayung menelan ludah.

"Ini bukan simbol biasa."

Prewa menatapnya tajam.

"Kamu mengenalnya?"

Rayung menggeleng.

"Tapi saya bisa mencari tahu."

Prewa mengambil ponselnya.

"Besok pagi."

Rayung menoleh.

"Besok pagi apa?"

"Kita pergi menemui seseorang."

"Siapa?"

Prewa memasukkan ponselnya ke dalam saku.

"Satu-satunya kolektor barang antik yang pernah berhubungan dengan Paman Harsa."

Rayung terdiam.

"Dan orang itu bisa menjelaskan simbol ini?"

"Kalau tidak..."

Tatapan Prewa berubah dingin.

"...kita cari orang lain sampai menemukan jawabannya."

Rayung menghela napas.

"Kita?"

Prewa menatapnya seolah pertanyaan itu tidak masuk akal.

"Kamu asisten pribadi saya sekarang."

Rayung menunjuk dirinya sendiri.

"Jadi?"

"Jadi kamu ikut."

"Ke mana?"

"Ke mana pun saya pergi."

Rayung memejamkan mata.

Baru sehari melamar pekerjaan.

Belum sempat menerima gaji pertama.

Sudah harus berurusan dengan mafia, makhluk gaib, patung berkutuk, dan paman misterius.

Ia membuka mata lalu menatap Prewa dengan kesal.

"Pak Prewa."

"Apa?"

"Kayaknya saya salah pilih pekerjaan."

Untuk pertama kalinya, sudut bibir Prewa terangkat tipis.

"Sayangnya, saya tidak menerima pengunduran diri."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 19 TAWA TAK BIASA

    BLUP... BLUP... BLUP... Gelembung cairan merah di dalam Cangkir Porselen Merah meletup makin kencang, memercikkan hawa amis beraroma karat dan bunga kamboja yang seketika memenuhi seluruh ruangan lelang. Tawa melengking non-manusia yang keluar dari dalam cangkir itu menggetarkan lampu-lampu kristal, membuat kaca panggung retak seribu. Para tamu VIP yang semula duduk tenang mendadak panik. Beberapa pejabat dan pengusaha berteriak seraya berusaha menerobos keluar melalui pintu utama yang tiba-tiba terkunci rapat secara gaib. "Tenang semuanya!" seru Madam Clara dengan suara yang bergema magis. Namun, matanya sendiri menyiratkan keterkejutan saat melihat cairan darah Aruna menolak dikendalikan oleh mantra pemudanya. Di barisan belakang, pria berjas hitam dengan pisau kecil beracun meluncur cepat dari balik kegelapan. Ia bergerak seperti bayangan tanpa suara, mengincar leher Rayung saat perhatian semua orang teralih ke panggung! SRAK! Sebelum bilah hitam itu menyentuh kulit Rayung,

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 18 CERMIN MALAM

    Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung pencakar langit menyala seperti ribuan mata yang mengawasi jalanan dari ketinggian. Di antara deretan bangunan modern dan klub-klub eksklusif yang hanya dikenal oleh kalangan tertentu, sebuah gedung tua berdiri tanpa papan nama. Dari luar, tempat itu tampak seperti bangunan kolonial yang sudah lama ditinggalkan. Namun sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pintu besinya. Pintu itu terbuka. Prewa turun lebih dulu. Setelan hitamnya rapi tanpa satu pun lipatan. Wajahnya tetap dingin seperti biasa. Kemudian ia berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Rayung. Rayung turun perlahan. Gaun hitam panjang dengan detail merah gelap membalut tubuhnya. Rambutnya ditata sederhana, tetapi beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh di sisi wajah. Rayung menatap gedung di hadapannya. "Ini klubnya?" "Ya." Rayung mengerutkan kening. "Kelihatannya kayak tempat syuting film horor." Prewa menatap bangunan itu sebentar. "Meman

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 17 PEMEGANG KUNCI KETIGA

    Matahari pagi belum sepenuhnya terbit ketika helikopter pribadi Zalas Corp mendarat mulus di helipad penthouse Prewa. Angin baling-baling menghempaskan pakaian mereka ketika Prewa turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan kepada Rayung. Rayung menerimanya. Wajahnya masih pucat. Tubuhnya terasa jauh lebih berat daripada biasanya setelah menyerap energi dari Cermin Tembaga Berukir Ombak. "Lo yakin gue nggak perlu dibawa ke rumah sakit?" gumam Rayung. Prewa meliriknya. "Kalau kamu ingin menjelaskan kepada dokter kenapa tubuhmu menyerap artefak gaib, silakan." Rayung menghela napas. "Ya udah. Lupakan." Mereka masuk ke dalam penthouse. Dua jam kemudian, suasana di ruang kerja Prewa masih terasa hening dan tegang. Di atas meja kayu mahoni yang luas, sebuah layar hologram menampilkan profil dua wanita

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 16 PUKULAN OMBAK HITAM

    Cambuk air berdarah itu membelah udara dengan suara tebasan yang memekakkan. "Mundur!" bentak Prewa. Dengan refleks cepat, Prewa mencengkeram bahu Rayung dan menariknya ke balik pilar beton tebal tepat sebelum cambuk cair itu menghantam. BAM! Semen pilar pecah berhamburan. Air berwarna merah pekat itu mengikis permukaan beton seperti larutan asam, melepaskan uap berbau amis yang membakar tenggorokan. "Tembak!" perintah Hendra Gautama dingin dari balik kepulan uap. Empat pengawal di barisan depan serentak memuntahkan peluru dari senapan submesin mereka. DOR! DOR! DOR! Dentuman senjata api menggema pekak di ruang bawah tanah yang tertutup. Peluru-peluru baja memantul liar di dinding beton, menciptakan percikan api di tengah kegelapan. Di bahu Prewa, ketiga kepala makhluk berkepala tiga itu mendadak meliuk kencang.

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 15 LAUT YANG BERBISIK

    Angin laut yang dingin membawa bau garam dan solar ketika sedan hitam Prewa berhenti di balik deretan kontainer tua yang berkarat, beberapa ratus meter dari Gudang Empat. Malam itu, langit di atas Pelabuhan Tanjung Perak tampak gelap tanpa bintang. Lampu-lampu sorot pelabuhan hanya mampu menembus sebagian kabut tebal yang menggantung di atas permukaan laut. Di dalam mobil, Kip membuka laptopnya. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik. “Radar perairan dan kamera termal Gautama di sektor empat sudah saya alihkan ke rekaman dua jam lalu,” bisiknya. “Alan punya waktu sekitar dua puluh menit untuk menarik patroli utama ke dermaga timur.” Alan yang duduk di kursi depan memeriksa perlengkapannya. “Jalur evakuasi melalui saluran pembuangan sudah terbuka,” katanya. “Begitu kalian mendapatkan cermin itu, Kip akan memutus penerangan Gudang Empat selama tiga

  • Gadis Indigo Milik Mafia Kejam   BAB 14 BAYANGAN DI PELABUHAN

    Pagi datang terlalu cepat bagi Rayung. Ia terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Untuk sesaat, ia tidak mengenali langit-langit kamar mewah di atasnya. Kemudian ingatan semalam kembali. Dharma. Darah Aruna. Pesan terakhir ibunya. Rayung memejamkan mata. Namun begitu kelopak matanya tertutup, sebuah bayangan kembali muncul. Laut. Kabut. Sebuah kapal tua berwarna hitam. Dan seorang perempuan yang berdiri di ujung geladak. Aruna. "Ibu?" Sosok itu perlahan menoleh. Sebelum Rayung sempat melihat wajahnya dengan jelas, semuanya menghilang. Rayung langsung membuka mata. Dadanya berdebar keras. Tok. Tok. Tok. Ketuka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status