Se connecterBLUP... BLUP... BLUP... Gelembung cairan merah di dalam Cangkir Porselen Merah meletup makin kencang, memercikkan hawa amis beraroma karat dan bunga kamboja yang seketika memenuhi seluruh ruangan lelang. Tawa melengking non-manusia yang keluar dari dalam cangkir itu menggetarkan lampu-lampu kristal, membuat kaca panggung retak seribu. Para tamu VIP yang semula duduk tenang mendadak panik. Beberapa pejabat dan pengusaha berteriak seraya berusaha menerobos keluar melalui pintu utama yang tiba-tiba terkunci rapat secara gaib. "Tenang semuanya!" seru Madam Clara dengan suara yang bergema magis. Namun, matanya sendiri menyiratkan keterkejutan saat melihat cairan darah Aruna menolak dikendalikan oleh mantra pemudanya. Di barisan belakang, pria berjas hitam dengan pisau kecil beracun meluncur cepat dari balik kegelapan. Ia bergerak seperti bayangan tanpa suara, mengincar leher Rayung saat perhatian semua orang teralih ke panggung! SRAK! Sebelum bilah hitam itu menyentuh kulit Rayung,
Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung pencakar langit menyala seperti ribuan mata yang mengawasi jalanan dari ketinggian. Di antara deretan bangunan modern dan klub-klub eksklusif yang hanya dikenal oleh kalangan tertentu, sebuah gedung tua berdiri tanpa papan nama. Dari luar, tempat itu tampak seperti bangunan kolonial yang sudah lama ditinggalkan. Namun sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan pintu besinya. Pintu itu terbuka. Prewa turun lebih dulu. Setelan hitamnya rapi tanpa satu pun lipatan. Wajahnya tetap dingin seperti biasa. Kemudian ia berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Rayung. Rayung turun perlahan. Gaun hitam panjang dengan detail merah gelap membalut tubuhnya. Rambutnya ditata sederhana, tetapi beberapa helai sengaja dibiarkan jatuh di sisi wajah. Rayung menatap gedung di hadapannya. "Ini klubnya?" "Ya." Rayung mengerutkan kening. "Kelihatannya kayak tempat syuting film horor." Prewa menatap bangunan itu sebentar. "Meman
Matahari pagi belum sepenuhnya terbit ketika helikopter pribadi Zalas Corp mendarat mulus di helipad penthouse Prewa. Angin baling-baling menghempaskan pakaian mereka ketika Prewa turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan kepada Rayung. Rayung menerimanya. Wajahnya masih pucat. Tubuhnya terasa jauh lebih berat daripada biasanya setelah menyerap energi dari Cermin Tembaga Berukir Ombak. "Lo yakin gue nggak perlu dibawa ke rumah sakit?" gumam Rayung. Prewa meliriknya. "Kalau kamu ingin menjelaskan kepada dokter kenapa tubuhmu menyerap artefak gaib, silakan." Rayung menghela napas. "Ya udah. Lupakan." Mereka masuk ke dalam penthouse. Dua jam kemudian, suasana di ruang kerja Prewa masih terasa hening dan tegang. Di atas meja kayu mahoni yang luas, sebuah layar hologram menampilkan profil dua wanita
Cambuk air berdarah itu membelah udara dengan suara tebasan yang memekakkan. "Mundur!" bentak Prewa. Dengan refleks cepat, Prewa mencengkeram bahu Rayung dan menariknya ke balik pilar beton tebal tepat sebelum cambuk cair itu menghantam. BAM! Semen pilar pecah berhamburan. Air berwarna merah pekat itu mengikis permukaan beton seperti larutan asam, melepaskan uap berbau amis yang membakar tenggorokan. "Tembak!" perintah Hendra Gautama dingin dari balik kepulan uap. Empat pengawal di barisan depan serentak memuntahkan peluru dari senapan submesin mereka. DOR! DOR! DOR! Dentuman senjata api menggema pekak di ruang bawah tanah yang tertutup. Peluru-peluru baja memantul liar di dinding beton, menciptakan percikan api di tengah kegelapan. Di bahu Prewa, ketiga kepala makhluk berkepala tiga itu mendadak meliuk kencang.
Angin laut yang dingin membawa bau garam dan solar ketika sedan hitam Prewa berhenti di balik deretan kontainer tua yang berkarat, beberapa ratus meter dari Gudang Empat. Malam itu, langit di atas Pelabuhan Tanjung Perak tampak gelap tanpa bintang. Lampu-lampu sorot pelabuhan hanya mampu menembus sebagian kabut tebal yang menggantung di atas permukaan laut. Di dalam mobil, Kip membuka laptopnya. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik. “Radar perairan dan kamera termal Gautama di sektor empat sudah saya alihkan ke rekaman dua jam lalu,” bisiknya. “Alan punya waktu sekitar dua puluh menit untuk menarik patroli utama ke dermaga timur.” Alan yang duduk di kursi depan memeriksa perlengkapannya. “Jalur evakuasi melalui saluran pembuangan sudah terbuka,” katanya. “Begitu kalian mendapatkan cermin itu, Kip akan memutus penerangan Gudang Empat selama tiga
Pagi datang terlalu cepat bagi Rayung. Ia terbangun dengan napas memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Untuk sesaat, ia tidak mengenali langit-langit kamar mewah di atasnya. Kemudian ingatan semalam kembali. Dharma. Darah Aruna. Pesan terakhir ibunya. Rayung memejamkan mata. Namun begitu kelopak matanya tertutup, sebuah bayangan kembali muncul. Laut. Kabut. Sebuah kapal tua berwarna hitam. Dan seorang perempuan yang berdiri di ujung geladak. Aruna. "Ibu?" Sosok itu perlahan menoleh. Sebelum Rayung sempat melihat wajahnya dengan jelas, semuanya menghilang. Rayung langsung membuka mata. Dadanya berdebar keras. Tok. Tok. Tok. Ketuka







