LOGINRayung Sasdhara hanya ingin mendapatkan pekerjaan untuk bertahan hidup. Namun, wawancara di Zalas Corp justru membawanya pada pertemuan dengan Prewa Zalas, seorang pemimpin mafia sekaligus pengusaha yang terkenal dingin dan kejam. Yang tidak diketahui Prewa, Rayung memiliki kemampuan melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia biasa. Dan tepat di pundak Prewa, ada makhluk mengerikan yang perlahan menggerogoti hidupnya. Selama dua tahun, Prewa menderita sakit misterius yang tak mampu dijelaskan dokter. Ketika Rayung akhirnya mengetahui penyebabnya, ia menemukan sebuah benda terkutuk yang ternyata berkaitan dengan Paman Harsa, orang terdekat dalam keluarga Prewa. Namun, kejutan terbesar datang ketika makhluk itu menyebut satu nama dari masa lalu Rayung. Aruna. Ibunya. Selama ini Rayung percaya bahwa ibunya meninggal karena bunuh diri. Tetapi semakin jauh ia menyelidiki, semakin banyak kebohongan yang terbongkar. Darah Aruna ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang pernah Rayung bayangkan. Kini Rayung terjebak dalam dunia mafia, kutukan, dan rahasia masa lalu yang mengancam nyawanya sendiri. Di sisi lain, Prewa mulai menyadari bahwa gadis yang awalnya ia anggap hanya pelamar kerja biasa mungkin merupakan satu-satunya orang yang mampu menyelamatkan hidupnya. Tetapi untuk menemukan kebenaran tentang Aruna, Rayung harus berani memasuki dunia yang seharusnya tidak pernah ia sentuh. Dan semakin dekat ia dengan Prewa... semakin sulit membedakan siapa yang harus ia percaya. Karena terkadang, orang yang paling berbahaya bukanlah makhluk yang terlihat oleh mata.
View More"Jangan biarkan dia mati!”
Rayung membeku di ambang pintu saat sebuah bisikan dingin bergema tepat di dalam gendang telinganya. Suara itu begitu dekat, seolah seseorang berbisik tepat di dalam kepalanya. Padahal, di sekelilingnya tidak ada siapa-siapa. Ia menelan ludah susah payah. "Siapa yang mau mati...?" gumamnya pelan. Tidak ada siapa pun yang tampak sedang berbicara. Namun, hawa dingin perlahan merambat dari tengkuk hingga menusuk punggungnya. Rayung sudah mengenal sensasi itu sejak kecil. Sejak kecil, Rayung memiliki kemampuan unik—bisa berinteraksi dengan makhluk tak terlihat mata biasa. Ia sudah terbiasa dengan segala macam jenis gangguan, bahkan beberapa dari mereka suka meminta bantuannya. Masalahnya, hari ini ia sama sekali tidak punya waktu untuk berurusan dengan mereka. Ia sedang melamar pekerjaan di Zalas Corp—sebuah perusahaan raksasa yang terkenal ketat dan dingin. Setelah hampir sebulan menganggur dan beberapa kali kehilangan kesempatan kerja hanya karena gangguan aneh yang mengikuti dirinya, Rayung benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Ia menarik napas panjang. "Gue cuma mau kerja." Rayung menekan tombol lift lagi dengan jari yang sedikit gemetar. Denting! Pintu lift terbuka. Baru saja ia hendak melangkah masuk ketika "Hei, kau mau naik lift atau tidak?" Suara berat dan dalam dari arah belakang membuat Rayung tersentak. Ia berbalik cepat. Seorang pria berdiri beberapa langkah darinya. Untuk sesaat, Rayung benar-benar lupa bagaimana cara bernapas. Pria itu tinggi dengan setelan jas hitam yang tampak dibuat khusus. Penampilannya rapi, nyaris tanpa cela. Wajahnya memiliki garis rahang tegas, hidung mancung, dan bibir tipis yang terkatup rapat. Namun, bukan penampilannya yang membuat Rayung terdiam. Melainkan matanya. Sepasang mata gelap yang dingin dan tajam, seolah mampu membuat siapa pun yang ditatapnya merasa sedang dihakimi. Beberapa pegawai yang kebetulan melewati lorong langsung menepi. Ada yang menundukkan kepala. Ada pula yang mempercepat langkah tanpa berani menoleh. Rayung mengerutkan kening. Siapa, sih, orang ini? Kenapa semua orang seperti takut kepadanya? Namun, pertanyaan itu langsung terlupakan ketika pandangan Rayung perlahan bergeser ke atas bahu pria tersebut. Wajahnya seketika berubah pucat. Oh... tidak. Ada sesuatu di sana. Sosok hitam yang bentuknya tidak jelas sedang bertengger di pundak pria itu. Bayangannya bergerak-gerak seperti asap pekat, sementara sepasang mata merah redup tampak menyala dari balik kegelapan. Rayung refleks mundur satu langkah. Pria itu langsung menyadari gerakannya. "Kau takut?" Rayung buru-buru menggeleng. "Enggak." "Lalu kenapa mundur?" "Karena..." Rayung melirik lagi ke arah pundaknya. Otaknya bekerja keras mencari alasan yang terdengar masuk akal. "...saya baru ingat belum sarapan." Hening. Alis pria itu terangkat sebelah. Tatapannya berubah seperti sedang berhadapan dengan orang paling aneh yang pernah ditemuinya. Rayung tersenyum kaku. Alasan macam apa itu, Rayung?! Pria tersebut melangkah mendekat. Semakin dekat jarak mereka, semakin kuat hawa aneh yang Rayung rasakan. Bukan hanya berasal dari makhluk di pundaknya. Pria itu sendiri memiliki aura yang berat dan dominan. Aura yang membuat naluri Rayung menyuruhnya menjaga jarak. Pria itu hendak mengatakan sesuatu ketika— Denting! Pintu lift kembali terbuka lebar. Rayung langsung memanfaatkan kesempatan itu. Ia melangkah masuk ke dalam kabin lift, lalu buru-buru menekan tombol penutup pintu. "Maaf, Pak! Saya naik duluan!" Pintu lift mulai menutup. Pria itu hanya berdiri diam di luar. Tatapannya mengikuti Rayung dengan sorot mata yang semakin penuh tanda tanya. Sementara di atas pundaknya, sosok hitam itu perlahan mengangkat kepalanya. Dua mata merahnya menatap lurus ke arah Rayung. Senyum samar muncul di balik bayangan gelapnya. Lalu pintu lift tertutup. Rayung langsung menyandarkan punggungnya ke dinding. Napasnya keluar panjang. "Astaga..." Jantungnya masih berdegup cepat. Ia mengusap wajahnya. "Baru mau interview kerja, kenapa malah ketemu beginian?" Lift bergerak naik. Angka lantai berubah perlahan. Rayung menatap pantulan wajahnya sendiri di dinding lift. Ia tidak tahu siapa pria tadi. Ia juga belum tahu bahwa pria itu adalah Prewa Zalas, pemimpin Zalas Corp yang selama ini dikenal sebagai sosok paling sulit didekati di perusahaan tersebut. Yang Rayung tahu hanya satu. Ada sesuatu yang sangat buruk menempel pada pria itu. Dan bisikan tadi bukan sebuah kebetulan. "Jangan biarkan dia mati." Rayung menatap angka lantai yang terus berubah. Untuk pertama kalinya sejak datang ke Zalas Corp, ia merasa mungkin saja pekerjaan ini bukan sekadar pekerjaan. Mungkin, tanpa ia sadari... ia baru saja membuka pintu menuju sebuah rahasia yang telah terkubur selama bertahun-tahun.BRAK!Tutup kotak itu terlempar ke samping.Rayung refleks mundur, sementara Prewa segera berdiri di depannya. Satu tangannya terangkat melindungi Rayung, sedangkan tangan lainnya tetap memegang senjata.Namun, tidak ada manusia ataupun monster yang muncul dari dalam kotak.Hanya kain hitam tua yang membungkus sesuatu.Dan sehelai rambut panjang berwarna hitam yang perlahan bergerak sendiri.Rayung menahan napas. Rambut itu menjulur keluar dari kotak, melayang di udara seperti ular yang baru terbangun setelah tidur panjang.“Jangan sentuh,” ujar Prewa.“Gue tahu.”Rayung tidak berniat menyentuhnya. Penglihatan yang baru saja dialaminya sudah cukup menjadi peringatan bahwa rambut tersebut bukan benda biasa.Anehnya, helai rambut itu tidak menyerang mereka.Ujungnya justru bergerak ke arah Rayung, berhenti sesaat di depan wajahnya, lalu beralih menunjuk dada Prewa.Rayung mengerutkan kening.“Sepertinya dia menunjuk kamu.”Prewa tidak mengalihkan pandangan dari rambut itu. “Apa maksudny
“Prewa…” Rayung menelan ludah sambil menatap tanah di bawah pohon pule. “Kayaknya... yang ada di bawah sana belum mati.” Prewa tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada lubang yang baru saja mereka gali. Di antara akar-akar besar yang mencuat dari tanah, terdengar suara ketukan sekali lagi. Tok. Rayung dan Prewa saling berpandangan. Tok... tok. Bukan suara ranting patah. Bukan pula suara akar yang bergesekan. Sesuatu memang sedang mengetuk dari bawah tanah. Rayung perlahan berjongkok dan menempelkan telapak tangannya ke permukaan tanah. Seketika, hawa dingin menjalar dari ujung jarinya. Bukan dingin biasa, melainkan dingin yang mengingatkannya pada kulit mayat. Prewa langsung menarik lengannya. “Jangan sentuh lagi.” “Kenapa? Kalau dia yang mengetuk, berarti dia juga tahu kita ada di sini.” “Justru itu masalahnya. Kita belum tahu apa yang sedang menunggu di bawah.” Rayung hendak membalas, tetapi suara cekikikan dari atas pohon memotong ucapannya. “Hehehe…” Kuntila
Bab 21: Tamu yang Tidak Punya Bayangan Tok... tok... tok... Ketukan itu terdengar lagi. Tiga kali. Pelan. Teratur. Prewa berhenti tepat beberapa langkah dari pintu depan. Tangannya masih berada dekat senjata di pinggang. Rayung berdiri dari kursinya. Tubuhnya memang masih lemas, tetapi rasa lelah itu mendadak tersingkir oleh firasat buruk. Ia menatap pintu. Tidak ada aura manusia dari balik sana. Tidak ada napas. Tidak ada suara langkah. Namun— ada sesuatu. Sesuatu yang sangat dingin. "Jangan dibuka dulu," kata Rayung. Prewa menoleh. "Tadi kamu bilang akan membukanya." "Berubah pikiran." "Kenapa?" Rayung menunjuk pintu. "Karena yang berdiri di luar bukan cuma satu." Prewa langsung waspada. "Berapa?" Rayung memejamkan mata. Kemampuan yang sudah dimilikinya sejak kecil kembali bekerja. Dunia di depannya seolah berubah. Warna-warna memudar. Suara angin menghilang. Yang tersisa hanya lapisan tipis antara dunia manusia dan dunia yang selama ini selalu bisa ia
KABOOM! Ledakan energi menghantam seluruh ruangan lelang. Panggung The Crimson Velvet pecah. Meja-meja terlempar. Kaca jendela bergetar hebat. Lampu kristal yang menggantung di langit-langit runtuh satu demi satu. Rayung bahkan tidak sempat melihat apa yang terjadi setelah tangannya menyentuh kedua artefak itu. Cahaya putih keperakan meledak dari tubuhnya. Kemudian semuanya menjadi gelap. Ketika Rayung membuka mata— langit-langit putih menyambut pandangannya. Ia berkedip beberapa kali. Bau antiseptik memenuhi hidungnya. "Rumah sakit?" Suaranya serak. "Zalas Tower." Suara Prewa terdengar dari samping. Rayung memutar kepala. Prewa duduk di sofa panjang dekat jendela. Jasnya sudah dilepas. Kemeja hitamnya sedikit kusut dan dua kancing bagian atas terbuka. Wajahnya terlihat lelah. Namun matanya tetap tajam. Rayung mencoba bangun. Prewa langsung berdiri. "Jangan." "Gue cuma mau duduk." "Kamu baru sadar." "Terus?" "Berbaring." Rayung mengerutkan kening. "Lu m












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.