Share

5

Penulis: nura0484
last update Tanggal publikasi: 2026-03-28 18:41:45

"Udah sembuh?"

"Kaki aku yang sakit bukan kepala, Bang."

Lucas hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Anggi, memilih diam dengan membuka laptop untuk membaca berkas yang nanti akan di presentasikan disana. Melihat kesamping tampak Anggi sedang memejamkan matanya, mengalihkan tatapan kearah kaki dan tongkat, melihat itu membuat Lucas menghela napas panjangnya.

Kejadiannya sudah jalan seminggu, Anggi tinggal bersama bundanya setelah tahu kabar tentang kecelakaan. Zee dan Leo memutuskan tidur disana, Zee di tempat Anggi dan Leo di tempatnya. Kejadian Anggi membuatnya tidak bisa bertemu dengan Poppy, Lucas tidak mau mengambil resiko di saat kedua adiknya berada disekitar. Mereka bisa saja melaporkan semua yang dilakukan saat berada di apartemen, semua kegiatannya akan ketahuan.

"Pak Lucas, kita isi bensin dulu." Lucas menganggukkan kepalanya.

Menatap keluar dimana mobil berhenti untuk mengisi bahan bakar, mengusap pelan matanya saat melihat seseorang yang sangat dikenalinya, memicingkan mata atas apa yang dilihatnya.

"Bang, aku mau beli minum. Abang mau nitip?" Lucas menggelengkan kepalanya.

Matanya tidak lepas dari subjek yang ada tidak jauh dari mobil, mencoba berpikir positif tentang apa yang dilihatnya. Beranjak dari tempatnya untuk keluar dari mobil, rasa penasaran membuatnya ingin melihat secara jelas, langkahnya semakin menuju ke mini market yang ada di pom bensin. Menghentikan langkah saat melihat pemandangan yang tidak disangka, semua pikiran positif secara tiba-tiba hilang. Lucas tahu dan sangat yakin jika mereka bukan dalam hubungan saudara, dia sudah mengenal keluarga sang kekasih.

"Abang, mau beli apa?" Lucas menatap Anggi yang berada disampingnya.

"Kamu sudah selesai?" Anggi menganggukkan kepalanya "Ya sudah, kita ke mobil."

Menatap kembali sumber, mengambil ponselnya untuk menghubunginya, tersentak ketika panggilannya ditolak. Sentuhan di lengan menyadarkan Lucas dengan menatap si pelaku yang bingung, tatapan polosnya membuat emosi Lucas seketika hilang. Memilih kembali ke mobil, niatnya akan mengirim pesan untuk tahu keberadaannya dimana apakah bohong atau tidak.

"Cewek tadi pacar abang yang namanya Poppy?" Anggi memecah keheningan didalam mobil, menghentikan gerakan tangan Lucas di ponsel dengan menatap Anggi penuh selidik "Aku hanya menebak, tatapan abang tadi kaya tatapan kecewa dan terkejut."

"Bukan urusanmu. Sekarang gimana caranya biar tidak ada kesalahan waktu nanti disana." Lucas memberikan tatapan tajam dengan nada penuh emosi.

Anggi menggerakkan bibirnya mengikuti kalimat Lucas, mengalihkan pandangan kearah samping dan tidak peduli sama sekali atas reaksi Lucas saat ini padanya. Lucas hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Anggi, tidak tahu kenapa gadis disebelahnya ini sangat suka membuatnya kesal, padahal jika bersama dengan Leo dan Zee selalu baik.

Mengalihkan pandangan, mengingat penglihatannya tentang Poppy bersama pria tersebut. Mereka bukan tampak seperti teman atau saudara, tidak mungkin Poppy menjalin hubungan di belakangnya, lebih tepat selingkuh. Beberapa kali menggelengkan kepala, berharap apa yang ada dalam pikirannya tidak benar.

Kendaraan berhenti, hal yang tidak disadari Lucas karena terlalu asyik memikirkan Poppy, bahkan Lucas tidak menyadari jika Anggi sudah tidak ada didalam mobil. Menatap sekitar dimana hanya ada supir yang menunggunya keluar dari mobil, menghela napas dengan membereskan barangnya untuk masuk kedalam.

"Pak, ini kartu identitasnya. Bu Anggi bilang kalau bapak bisa langsung ke ruangan manager." Lucas hanya menganggukkan kepala.

Keluar dari mobil, tujuannya bukan ruangan manager melainkan kondisi pabrik. Lucas sangat yakin jika Anggi bisa menyelesaikan pekerjaannya, setelah keliling nanti akan ke ruangan untuk melihat hasil yang Anggi kerjakan. Setiap melangkah orang-orang yang dilewati menatap dengan tanda tanya, tidak ada yang tahu tentang posisi Lucas di tempat ini.

"Maaf, anda siapa?"

Lucas menatap pria dihadapannya, senyum tipis diberikan "Saya tadi bersama dengan Bu Anggi, tapi tidak ada yang memberitahu letak ruangannya jadi sekalian melihat-lihat."

"Dari pusat? Saya antar ke ruangan finance." Lucas masih menatap sekitar "Mau diantar sekarang?"

Lucas menggelengkan kepalanya "Saya lapar, kantin dimana? Apa bapak bisa mengantarkan?"

"Soni nama saya, bisa saya antar. Mari ikut saya, Pak."

Mengikuti dengan langkah mereka yang berdampingan, Lucas memilih diam dengan menatap sekitar, sebenarnya bisa saja bertanya tentang keadaan disekitar tapi memilih mengamati terlebih dahulu.

"Pak Soni bagian apa?" Lucas membuka pembicaraan dengan mereka masih melangkah.

"HR, Pak." Lucas menganggukkan kepalanya "Bapak ini timnya Ibu Anggi?"

"Ya. Makanan apa yang enak disini?" Lucas menatap kantin yang berbeda dengan pusat.

"Semuanya enak, Pak. Kami ambil dari catering yang sudah lolos verifikasi."

Memilih menikmati makanan dihadapannya, Soni sendiri lebih memilih menemaninya dengan minuman. Tampaknya banyak pekerjaan rumah untuk pabrik ini, semua akan dibicarakan ke papinya dan Rifat. Mengakhiri acara makannya dengan melangkah ke ruang manager sesuai dengan perkataan Anggi, Soni sempat terkejut tapi tetap mengantarkan Lucas ke tempat yang dimaksud.

Membuka laptop seorang diri dalam ruangan, Soni sendiri sudah berpamitan untuk melakukan pekerjaannya. Pintu ruangan terbuka dimana Anggi datang membawa berkas dengan satu tangan yang hampir menutupi wajahnya, sedangkan tangannya yang lain memegang tongkat. Lucas melihat pintu terbuka dan Anggi disana secara otomatis berdiri dan berjalan kearahnya, mengambil berkas yang dibawanya.

"Kamu bisa minta tolong OB buat bawain ini semua!" Lucas mengatakan dengan nada keras.

"Aku baik-baik saja, lagian jaraknya nggak jauh."

"Kamu masih sakit, Anggi! Gimana kalau ada apa-apa? Nanti aku yang disalahin sama mami dan bunda."

Anggi mengibaskan tangannya dihadapan Lucas "Abang tenang saja, mereka nggak akan marah karena aku baik-baik saja. Sekarang yang penting adalah mengerjakan kejanggalan dalam laporan keuangan, pastinya membutuhkan waktu nggak sedikit dan menjenuhkan. Abang harus sabar dan nggak boleh ngomel, tujuannya kesini bantuin aku."

Lucas membuka mulutnya mendengar jawaban Anggi, kalimat demi kalimat yang seakan dirinya suka marah. Menatap tumpukan berkas dimana semua kalimat Anggi memang benar, mereka akan menghabiskan banyak waktu untuk mengerjakan ini semua. Tidak ingin menunggu waktu, Lucas duduk disamping Anggi untuk membantunya.

"Abang mau ngapain? Bantu? Memang bisa?" Anggi menghentikan gerakannya dengan memicingkan matanya.

"Kamu meremehkan aku? Nggak mau dibantu?" Lucas menatap tidak suka dengan kalimat Anggi "Lagian bukannya lebih enak kerjain disana? Ngapain kesini? Malah bikin ribet."

"Kalau disana mereka akan tahu hasilnya, aku nggak bisa bebas meriksa. Aku juga nggak tahu siapa saja yang bisa dipercaya atau nggak." Anggi mengatakannya sambil menatap berkas dihadapannya.

Mendengar jawaban Anggi seketika Lucas paham atas alasan papi dan Rifat menerimanya, tampaknya sahabat kedua adiknya tidak bisa dipandang sebelah mata. Lucas menggelengkan kepalanya perlahan, tidak ingin masuk kedalam pesona Anggi, bagaimanapun memiliki kekasih. Mengingat kekasih seketika pemandangan tadi membuat Lucas kembali berpikir tentang siapa pria tersebut, tidak hanya itu Poppy menjadi tidak bisa dihubungi sama sekali.

"Abang jangan kebanyakan melamun, nanti kerasukan loh." Lucas berdecih pelan mendengar kalimat Anggi "Lagian ngapain mikir ceweknya tadi, kalau memang nggak bisa dihubungi mending fokus sama pekerjaan biar bisa cepat pulang dan tanya secara langsung."

"Kamu lagi mata-matain aku? Jangan-jangan kamu tinggal disampingku karena ingin memudahkan pekerjaan yang diberikan mami yaitu menjadi mata-mata." Lucas memicingkan matanya.

"Nggak guna mata-matain abang, jangan terlalu percaya diri. Aku tinggal disamping abang bukan karena itu, tapi lebih pada jarak dimana aku harus mengerjakan pekerjaan kantor sampai malam. Aku disana sama Zee, walaupun Leo beberapa kali datang."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Kecil   6

    "Sayang, bukannya kamu ke Karawang? Kapan datang?" "Baru saja." Lucas mendatangi Poppy dengan memeluknya erat "Apa kegiatan kamu seharian?" "Biasa kerja, nggak ada yang special." Lucas menganggukkan kepalanya "Kamu nggak masak, sayang?" sambil matanya menatap sekitar "Kamu barusan datang?" Poppy menganggukkan kepalanya "Aku baru datang jadi nggak sempat masak. Kamu belum makan? Mau dibuatkan sesuatu?" "Aku udah makan." Mendatangi tempat tinggal Poppy setelah seharian mengerjakan keuangan, beberapa hal mencurigakan sudah dibawa ke pusat. Tujuannya mendatangi Poppy lebih pada rasa ingin tahu tentang apa yang terjadi, tidak menemukan apapun sama sekali dan sikap Poppy masih sama, walaupun sedikit mencurigakan. "Kamu kayaknya lelah banget." Poppy memijat leher Lucas dengan lembut. Sentuhan yang diberikan membuat Lucas tidak bisa berpikir dengan jernih, memejamkan matanya dan mencoba menghilangkan pemandanga

  • Gadis Kecil   5

    "Udah sembuh?" "Kaki aku yang sakit bukan kepala, Bang." Lucas hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Anggi, memilih diam dengan membuka laptop untuk membaca berkas yang nanti akan di presentasikan disana. Melihat kesamping tampak Anggi sedang memejamkan matanya, mengalihkan tatapan kearah kaki dan tongkat, melihat itu membuat Lucas menghela napas panjangnya.Kejadiannya sudah jalan seminggu, Anggi tinggal bersama bundanya setelah tahu kabar tentang kecelakaan. Zee dan Leo memutuskan tidur disana, Zee di tempat Anggi dan Leo di tempatnya. Kejadian Anggi membuatnya tidak bisa bertemu dengan Poppy, Lucas tidak mau mengambil resiko di saat kedua adiknya berada disekitar. Mereka bisa saja melaporkan semua yang dilakukan saat berada di apartemen, semua kegiatannya akan ketahuan."Pak Lucas, kita isi bensin dulu." Lucas menganggukkan kepalanya. Menatap keluar dimana mobil berhenti untuk mengisi bahan bakar, mengusap pelan matanya saat melihat seseorang yang sangat dikenalinya, memi

  • Gadis Kecil   4

    "Anak kamu ini!" "Anak kamu juga, mi. Mami yang melahirkan dengan taruhan nyawa.""Ya, tapi kelakuannya nggak jauh beda sama kamu." Lucas hanya diam mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya, lagi-lagi ini pasti masalah dirinya yang tidak langsung pulang dan memilih ke tempat Poppy. Lucas tidak menyangka jika Anggi selalu melaporkan semua kegiatannya, terutama hal yang berhubungan dengan pribadi."Mami tahu dari Anggi, kan? Memang Anggi tahu aku kemana?"Tania menatap Lucas tajam "Kurang kerjaan banget Anggi lakuin itu, apa gunanya punya uang. Anggi punya kehidupan sendiri." Lucas menatap tidak percaya mendengar jawaban sang mami "Mami sangat belain Anggi banget, memang apa bagusnya dia?""Memang apa bagusnya cewek kamu itu? Usianya aja udah tua, kamu yakin dia wanita baik-baik? Kalau wanita baik-baik akan menjaga diri nggak gampangan buka kaki buat cowok..""Wajar, mi. Kami sepasang kekasih." Lucas memotong kalimat sang mami."Kamu semenjak sama dia jadi berani bantah mami." Tani

  • Gadis Kecil   3

    "Om itu si Anggi memang layak disini?" Rifat mengerutkan kening mendengar pertanyaan Lucas "Semua sudah sesuai prosedur, memang kenapa?""Bukan akal-akalan papi?"Rifat semakin bingung mendengarnya "Kamu mau tahu hasil tesnya Anggi?"Lucas menggelengkan kepalanya lemah, mendengar dan melihat ekspresi Rifat sudah bisa dipastikan jika memang Anggi lolos dengan kemampuannya, lagipula mereka tidak akan main-main dengan memasukkan karyawan dalam perusahaan apalagi karyawan tersebut berada di pusat."Anggi memang kompeten, bahkan sejak dia masuk banyak hal yang ditemukan.""Maksudnya?" Lucas mengerutkan keningnya."Ada kecurangan di pabrik yang di Karawang dan kantor cabang media di Bandung. Anggi rencananya akan kesana bersama Evan." "Evan? Bukannya dia juga baru? Memang bisa diandalkan?" Lucas sedikit ragu dengan mereka berdua."Evan sudah lima tahun disini, dia juga yang megang dua tempat itu." "Mereka hanya berdua?" tanya Lucas dengan rasa penasaran "Om yakin Evan nggak melakukan ses

  • Gadis Kecil   2

    "Kenapa, sayang?" Lucas menatap Poppy lembut, beranjak dari atas tubuhnya untuk melepas pengaman dengan membuangnya ke tempat sampah, masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri terlebih dahulu."Kamu kaya banyak pikiran, ada masalah di kantor?" Poppy menatap lembut kearah Lucas yang keluar dari kamar mandi."Nggak ada, biasa debat sama papi." Lucas tidak mungkin mengatakan sebenarnya, kalimat maminya di pertemuan kemarin masih membuatnya tidak percaya. Lucas tahu jika apa yang dikatakan maminya bukan hal main-main, semuanya bisa saja terbukti dengan sendirinya. Hubungannya dengan Poppy sudah berjalan cukup lama, saat ini memikirkan untuk ke hubungan yang lebih serius, tapi nyatanya tidak bisa dilakukan karena kedua orang tuanya."Debat apaan sampai begini? Bukannya kalian biasa debat?""Ya...begitulah." Lucas memilih mengangkat bahu tanda tidak ingin membahas perdebatan mereka "Kamu besok sampai jam berapa?""Biasanya, kamu pasti mau kesini?" Poppy tidak ingin memaksa untuk tahu."

  • Gadis Kecil   1

    "Papi selalu ikut campur sama masalah aku! Aku sudah besar, Pi!"Dia bukan cewek baik-baik! Papi nggak mau kamu sama cewek begitu!"Lucas menatap tidak terima atas apa yang sudah dilakukan papinya, bayangkan di usianya yang kepala dua menuju kepala tiga masih saja diatur dan parahnya mengatur tentang masalah percintaan. Lucas menjalin hubungan dengan wanita yang berusia diatasnya beberapa tahun, bisa dikatakan lima tahun lebih. Mengenalkan wanita tersebut dihadapan orang tuanya beberapa bulan lalu dan responnya luar biasa, mereka tidak ada yang menyukai wanita itu, bukan hanya sang papi tapi mami juga saudara-saudaranya."Poppy nggak seperti apa yang papi katakan," ucap Lucas dengan wajah lelahnya."Papi hidup lebih lama dari kamu, tahu mana yang baik dan nggak." Wijaya mengatakan dengan nada tidak mau kalah."Baik buat papi belum tentu baik buat aku," tambah Lucas."Kalian bisa diam?" suara Tania membuat kedua pria terdiam "Mami tahu kalian sering berdebat atau apalah itu, tapi bisa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status