Masuk"Om itu si Anggi memang layak disini?"
Rifat mengerutkan kening mendengar pertanyaan Lucas "Semua sudah sesuai prosedur, memang kenapa?" "Bukan akal-akalan papi?" Rifat semakin bingung mendengarnya "Kamu mau tahu hasil tesnya Anggi?" Lucas menggelengkan kepalanya lemah, mendengar dan melihat ekspresi Rifat sudah bisa dipastikan jika memang Anggi lolos dengan kemampuannya, lagipula mereka tidak akan main-main dengan memasukkan karyawan dalam perusahaan apalagi karyawan tersebut berada di pusat. "Anggi memang kompeten, bahkan sejak dia masuk banyak hal yang ditemukan." "Maksudnya?" Lucas mengerutkan keningnya. "Ada kecurangan di pabrik yang di Karawang dan kantor cabang media di Bandung. Anggi rencananya akan kesana bersama Evan." "Evan? Bukannya dia juga baru? Memang bisa diandalkan?" Lucas sedikit ragu dengan mereka berdua. "Evan sudah lima tahun disini, dia juga yang megang dua tempat itu." "Mereka hanya berdua?" tanya Lucas dengan rasa penasaran "Om yakin Evan nggak melakukan sesuatu? Terlibat didalamnya mungkin." Lucas kembali menanyakan apa yang ada dalam isi kepalanya. "Kita belum tahu, tapi kayaknya nggak karena Evan juga kaget dengan hasilnya. Anggi juga mencari bukti dengan cara lain, staf IT juga kita tugaskan." "Om nggak ikut waktu Anggi kesana?" "Gimana kalau kamu temani Anggi kesana?" Lucas dan Rifat menatap kearah sumber yang melangkah kearah mereka, duduk dihadapan Lucas dengan mengangkat sudut bibirnya. Lucas yang melihat itu hanya bisa berdecih pelan, seakan tahu apa yang ada didalam isi kepala pria dihadapannya. Rifat memilih keluar dari ruangan tapi terhenti ketika Wijaya menggelengkan kepala tanda jika harus berada disana. "Kamu aja yang tangani bagaimana? Papi akan minta Evan disini, kamu tangani yang disana sama Anggi. Karawang bisa lah kamu pulang pergi kesana, pakai mobil kantor biar nggak capek." Wijaya mengulang kalimatnya dengan lebih detail. "Aku masih banyak belajar disini, Pi. Aku belum bisa mengurus yang disana." Lucas menolak langsung. "Kamu cuman temani Anggi, nggak perlu mengerjakan apa-apa karena dia yang kerjain semuanya, lagipula kamu juga harus tahu kondisi disana. Mereka nggak tahu kamu siapa, jadi itu memudahkan kamu untuk mencari informasi." Wijaya memberikan alasan yang masuk akal "Devan saja berani ambil resiko ke Kalimantan, masa kamu nggak mau? Datang ke Karawang, secara nggak jauh juga." "Akal-akalan papi biar aku dekat sama Anggi, kan?" Lucas memicingkan matanya yang membuat Wijaya tertawa. "Memang. Rifat, kamu urus semua yang akan mereka berdua lakukan. Papi bisa pulang dengan hati senang, bisa kasih kabar bahagia ke mami kamu." Wijaya berdiri meninggalkan Lucas yang hanya bisa memberikan tatapan kesal. Mendengarkan penjelasan Rifat tentang kondisi perusahaan yang ada disana, beserta dengan dokumen-dokumen yang membuat Lucas harus mempelajarinya. Waktu berjalan sangat cepat dan tidak terasa sampai malam, menatap ponsel dimana pesan dari Poppy yang mengingatkan makan membuat Lucas tersenyum, apalagi Poppy mengatakan akan memasakkan untuknya. Membereskan berkas-berkas yang akan dibacanya saat nanti di apartemen, membutuhkan pelampiasan dengan mendatangi tempat tinggal Poppy, tapi sebelum kesana tidak lupa membeli pengaman agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nantinya. "Abang!" Lucas menghela napas kasar mendengar suara yang sangat dikenalinya, memberikan tatapan malas yang tampaknya tidak terpengaruh sama sekali. Langkahnya semakin dekat hingga sampai dihadapannya, ekspresi wajah penuh senyuman yang membuat Lucas berpikir gadis dihadapannya ini tidak pernah terlihat lelah. "Abang mau pulang? Aku nebeng." "Nggak." Lucas seketika menolak yang membuat Anggi mengerucutkan bibirnya "Aku ada urusan." Melanjutkan langkahnya meninggalkan Anggi yang masih mengerucutkan bibirnya, langkah kakinya terhenti saat mendengar seseorang menawarkan mengantarkan Anggi. Langkah kakinya hampir saja berlanjut ketika mendengar sapaan yang membuat menatap tidak percaya, melihat pemandangan yang tidak disukai. "Nggak pulang?" suara seseorang yang merangkul pundak menyadarkan Lucas menatap sang sumber, Yanto. "Mau pulang." "Lihat apaan?" Yanto mengikuti arah pandang Lucas "Aris, dia kayaknya pendekatan ke Anggi." "Bukannya udah punya cewek?" "Udah lama putus, cocok sih mereka." Lucas tidak suka mendengarnya "Aku pulang." "Ketemu ayang? Isi baterai? Hati-hati kebobolan dan jangan lupa pengaman." Meninggalkan rekan kerja yang dulunya bersama dengannya, rekan kerja selama dirinya berada di posisi marketing. Langkah kakinya terhenti melihat Anggi yang menaiki motor Aris, decihan pelan dikeluarkan secara tidak sadar ketika melihat kedekatan mereka. Masuk kedalam mobil mencoba untuk tidak peduli sama sekali, tujuannya saat ini adalah apartemen milik Poppy. Jarak kantor dengan apartemen Poppy sedikit jauh, tapi semua itu bukan halangan untuk bisa bertemu dengan wanita yang dicintainya. Melangkahkan kakinya menuju tempat tinggal wanitanya dengan senyum lebar, memiliki akses memudahkan untuk masuk kedalam. "Kenapa wajah kamu? Capek?" Lucas langsung memeluk Poppy ketika menutup pintu, mencari ketenangan disana. Poppy tahu bagaimana menenangkan dirinya, sama seperti sang mami jika dirinya merasakan lelah. Lucas tidak tahu kenapa saat ini merasa lelah, padahal selama bekerja tidak ada yang bisa membuatnya lelah. "Apa berat pekerjaannya? Target kamu nggak tercapai? Semua pasti akan ada jalannya, banyak doa." Poppy menepuk punggung Lucas pelan "Kita makan sekarang?" Lucas menatap Poppy setelah melepaskan pelukannya "Makan kamu dulu gimana?" Poppy langsung tertawa "Makan dulu, kamu butuh tenaga." "Baiklah, tapi tenaga untuk itu nanti. Aku butuh tenaga yang lain." Lucas melumat bibir Poppy lembut, dalam dan penuh gairah. Poppy yang paham langsung membalasnya, mengangkat tubuh Poppy kearah sofa dan melakukannya diatas sofa. Suara desahan memenuhi ruangan, melakukan aktivitas yang bisa menenangkan pikirannya. Melepaskan penyatuan dan langsung melepaskan pengaman dengan membuangnya ke tempat sampah, masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri. "Sudah lebih baik?" tanya Poppy yang memanaskan makanan. "Ya, terima kasih." Lucas melingkarkan tangannya di pinggang Poppy mencium lehernya sekilas "Aku mencintaimu." "Aku juga mencintaimu." Poppy membelai punggung tangan Lucas pelan "Makan dulu, kamu tidur sini atau balik?" "Balik, aku mau menyelesaikan pekerjaan." Lucas memberikan alasan yang masuk akal, saat ini posisinya sedang tidak aman karena Anggi bisa kapan saja memberikan informasi pada maminya, dirinya tidak ingin membuat masalah hanya karena hal sepele. Selama makan sebenarnya Poppy mencoba untuk mengajak Lucas berbicara, lebih tepatnya menceritakan kegiatannya seharian, Lucas hanya menganggukkan kepalanya. "Masalah kamu kayaknya berat banget." Poppy mengatakan dengan menatap Lucas dalam. "Begitulah," jawab Lucas lemas "Setelah makan ini aku pulang." "Nggak mau lagi?" Lucas tersenyum dan menggelengkan kepalanya "Kamu biasanya kurang." "Tadi udah tiga kali," jawab Lucas sambil tersenyum. Menikmati makanan Poppy yang memang sering dinikmatinya sejak bersama, Poppy akan memasakkan untuknya jika memang ada waktu seperti sekarang. Sebenarnya jika Poppy tidak memasakpun Lucas akan tetap datang untuk mengisi tenaga, melakukan hubungan dengan Poppy atau mengeluarkan keringat bersama bisa membuat pikirannya tenang, tapi saat ini rasanya ada yang mengganjal dalam hatinya. "Hati-hati." Poppy melumat lembut bibir Lucas yang juga dibalasnya. Perjalanan menuju apartemennya penuh dengan berbagai pertanyaan didalam isi kepalanya, tapi tidak ada satupun bisa terjawab dari pertanyaan tersebut. Hembusan napas panjang dikeluarkan ketika sudah sampai tempat parkir, tampaknya sebentar lagi akan mendapatkan teguran dari tetangga. "Kemana dia? Apa sudah terlalu malam? Apa dia belum pulang? Apa sudah tidur?""Sayang, bukannya kamu ke Karawang? Kapan datang?" "Baru saja." Lucas mendatangi Poppy dengan memeluknya erat "Apa kegiatan kamu seharian?" "Biasa kerja, nggak ada yang special." Lucas menganggukkan kepalanya "Kamu nggak masak, sayang?" sambil matanya menatap sekitar "Kamu barusan datang?" Poppy menganggukkan kepalanya "Aku baru datang jadi nggak sempat masak. Kamu belum makan? Mau dibuatkan sesuatu?" "Aku udah makan." Mendatangi tempat tinggal Poppy setelah seharian mengerjakan keuangan, beberapa hal mencurigakan sudah dibawa ke pusat. Tujuannya mendatangi Poppy lebih pada rasa ingin tahu tentang apa yang terjadi, tidak menemukan apapun sama sekali dan sikap Poppy masih sama, walaupun sedikit mencurigakan. "Kamu kayaknya lelah banget." Poppy memijat leher Lucas dengan lembut. Sentuhan yang diberikan membuat Lucas tidak bisa berpikir dengan jernih, memejamkan matanya dan mencoba menghilangkan pemandanga
"Udah sembuh?" "Kaki aku yang sakit bukan kepala, Bang." Lucas hanya menggelengkan kepala mendengar jawaban Anggi, memilih diam dengan membuka laptop untuk membaca berkas yang nanti akan di presentasikan disana. Melihat kesamping tampak Anggi sedang memejamkan matanya, mengalihkan tatapan kearah kaki dan tongkat, melihat itu membuat Lucas menghela napas panjangnya.Kejadiannya sudah jalan seminggu, Anggi tinggal bersama bundanya setelah tahu kabar tentang kecelakaan. Zee dan Leo memutuskan tidur disana, Zee di tempat Anggi dan Leo di tempatnya. Kejadian Anggi membuatnya tidak bisa bertemu dengan Poppy, Lucas tidak mau mengambil resiko di saat kedua adiknya berada disekitar. Mereka bisa saja melaporkan semua yang dilakukan saat berada di apartemen, semua kegiatannya akan ketahuan."Pak Lucas, kita isi bensin dulu." Lucas menganggukkan kepalanya. Menatap keluar dimana mobil berhenti untuk mengisi bahan bakar, mengusap pelan matanya saat melihat seseorang yang sangat dikenalinya, memi
"Anak kamu ini!" "Anak kamu juga, mi. Mami yang melahirkan dengan taruhan nyawa.""Ya, tapi kelakuannya nggak jauh beda sama kamu." Lucas hanya diam mendengarkan perdebatan kedua orang tuanya, lagi-lagi ini pasti masalah dirinya yang tidak langsung pulang dan memilih ke tempat Poppy. Lucas tidak menyangka jika Anggi selalu melaporkan semua kegiatannya, terutama hal yang berhubungan dengan pribadi."Mami tahu dari Anggi, kan? Memang Anggi tahu aku kemana?"Tania menatap Lucas tajam "Kurang kerjaan banget Anggi lakuin itu, apa gunanya punya uang. Anggi punya kehidupan sendiri." Lucas menatap tidak percaya mendengar jawaban sang mami "Mami sangat belain Anggi banget, memang apa bagusnya dia?""Memang apa bagusnya cewek kamu itu? Usianya aja udah tua, kamu yakin dia wanita baik-baik? Kalau wanita baik-baik akan menjaga diri nggak gampangan buka kaki buat cowok..""Wajar, mi. Kami sepasang kekasih." Lucas memotong kalimat sang mami."Kamu semenjak sama dia jadi berani bantah mami." Tani
"Om itu si Anggi memang layak disini?" Rifat mengerutkan kening mendengar pertanyaan Lucas "Semua sudah sesuai prosedur, memang kenapa?""Bukan akal-akalan papi?"Rifat semakin bingung mendengarnya "Kamu mau tahu hasil tesnya Anggi?"Lucas menggelengkan kepalanya lemah, mendengar dan melihat ekspresi Rifat sudah bisa dipastikan jika memang Anggi lolos dengan kemampuannya, lagipula mereka tidak akan main-main dengan memasukkan karyawan dalam perusahaan apalagi karyawan tersebut berada di pusat."Anggi memang kompeten, bahkan sejak dia masuk banyak hal yang ditemukan.""Maksudnya?" Lucas mengerutkan keningnya."Ada kecurangan di pabrik yang di Karawang dan kantor cabang media di Bandung. Anggi rencananya akan kesana bersama Evan." "Evan? Bukannya dia juga baru? Memang bisa diandalkan?" Lucas sedikit ragu dengan mereka berdua."Evan sudah lima tahun disini, dia juga yang megang dua tempat itu." "Mereka hanya berdua?" tanya Lucas dengan rasa penasaran "Om yakin Evan nggak melakukan ses
"Kenapa, sayang?" Lucas menatap Poppy lembut, beranjak dari atas tubuhnya untuk melepas pengaman dengan membuangnya ke tempat sampah, masuk kedalam kamar mandi membersihkan diri terlebih dahulu."Kamu kaya banyak pikiran, ada masalah di kantor?" Poppy menatap lembut kearah Lucas yang keluar dari kamar mandi."Nggak ada, biasa debat sama papi." Lucas tidak mungkin mengatakan sebenarnya, kalimat maminya di pertemuan kemarin masih membuatnya tidak percaya. Lucas tahu jika apa yang dikatakan maminya bukan hal main-main, semuanya bisa saja terbukti dengan sendirinya. Hubungannya dengan Poppy sudah berjalan cukup lama, saat ini memikirkan untuk ke hubungan yang lebih serius, tapi nyatanya tidak bisa dilakukan karena kedua orang tuanya."Debat apaan sampai begini? Bukannya kalian biasa debat?""Ya...begitulah." Lucas memilih mengangkat bahu tanda tidak ingin membahas perdebatan mereka "Kamu besok sampai jam berapa?""Biasanya, kamu pasti mau kesini?" Poppy tidak ingin memaksa untuk tahu."
"Papi selalu ikut campur sama masalah aku! Aku sudah besar, Pi!"Dia bukan cewek baik-baik! Papi nggak mau kamu sama cewek begitu!"Lucas menatap tidak terima atas apa yang sudah dilakukan papinya, bayangkan di usianya yang kepala dua menuju kepala tiga masih saja diatur dan parahnya mengatur tentang masalah percintaan. Lucas menjalin hubungan dengan wanita yang berusia diatasnya beberapa tahun, bisa dikatakan lima tahun lebih. Mengenalkan wanita tersebut dihadapan orang tuanya beberapa bulan lalu dan responnya luar biasa, mereka tidak ada yang menyukai wanita itu, bukan hanya sang papi tapi mami juga saudara-saudaranya."Poppy nggak seperti apa yang papi katakan," ucap Lucas dengan wajah lelahnya."Papi hidup lebih lama dari kamu, tahu mana yang baik dan nggak." Wijaya mengatakan dengan nada tidak mau kalah."Baik buat papi belum tentu baik buat aku," tambah Lucas."Kalian bisa diam?" suara Tania membuat kedua pria terdiam "Mami tahu kalian sering berdebat atau apalah itu, tapi bisa






