FAZER LOGINDi mata dunia luar, Reno Adiyaksa Salim adalah sosok yang sempurna. Namun, bagi Erika, pria itu adalah iblis yang nyata. Hanya karena tak sengaja melihat adegan terlarang, Erika dijebak dalam skandal menghebohkan seantero negeri. Namanya tercemar, harga dirinya diinjak-injak, hingga kehormatannya pun tak lagi berharga. Di tengah keterpurukan, Erika berusaha berontak berbekal nyali. Tapi percuma, karena Reno selalu memenangkan semua permainan. Erika terpuruk, di situlah Reno memperkuat tahtanya dengan menjadi pahlawan dan memberi Erika pilihan. Pilihan yang mustahil Erika terima, tapi Reno tetaplah sang penentu. Dijerat dalam pernikahan ilusi, pria itu menjadikannya tameng untuk menutupi wajah aslinya. Di balik janji suci yang diucapkan Reno, tersimpan runtutan derita yang Erika hadapi setiap saat. Akankah Erika berhasil bebas dari jeratan sang CEO, ataukah justru terjebak selamanya dalam cinta sesat yang selalu Reno sebut sebagai perlindungan?
Ver maisBab 1.
Erika memasuki sebuah ruangan yang sepi. Tidak ada orang di sana, ia berpikir mungkin semua orang sedang jeda istirahat kerja. Entah kenapa begitu ia tiba di gedung perusahaan, seorang staf malah memintanya agar segera menemui CEO secara langsung. Padahal maksud kedatanganya hanya untuk mengantarkan bunga.
Sampai di depan pintu, Erika dikejutkan dengan suara khas pasangan di balik ruangan tertutup itu. Entah siapa yang sedang bercumbu di dalam sana, tapi rasa penasaran begitu menguasai Erika saat ini.
Diam sejenak, Erika menoleh ke sana ke mari memeriksa keadaan. Setelah dirasa aman, ia kemudian mengaktifkan mode video di ponsel, lalu bergerak membuka pintu. Begitu hati-hati ia melangkah masuk agar tidak menimbulkan suara. Hingga sebuah pemandangan membuatnya terkejut setengah mati. Di depan sana, terekam jelas oleh ponselnya. CEO A-D Salim Grup, Reno Adiyaksa Salim tengah bercinta dengan seorang wanita. Entah siapa, Erika tidak tahu karena posisi wanita itu membelaknginya.
Menyadari hal itu bukan urusannya, Erika panik. Karena terburu-buru, gadis itu sulit mengontrol gerakan tubuhnya. Alhasil, sebuah vas bunga besar tersenggol hingga jatuh dan pecah. Suaranya gaduh seisi ruangan.
PRANG!
Refleks Erika berjongkok sambil menutup mulutnya. Namun tidak bagi pemilik ruangan. Reno mengusap rambut yang dipenuhi keringat itu kebelakang, sambil menatap tajam ke arah suara gaduh tersebut. "Ada penguntit rupanya," gumamnya diiringi senyum menyeringai.
Masih diposisi yang sama, Erika menggigit bibir. Perlahan ia merangkak berniat meraih pintu agar bisa kabur secepatnya. Namun, saat tangannya mengambang di udara, suara bariton milik Reno menghentikan gerakannya.
"Siapa kau?"
Erika menutup mata rapat-rapat. "Gawat! Aku ketahuan."
Reno mendekat hanya mengenakan celana saja. Sedangkan tubuh sixpacknya terpajang sempurna. Erika semakin panik, tapi Reno sudah berdiri tangguh di belakang. "Tunjukkan dirimu!" titah pria itu.
Seorang wanita berambut blonde memungut ponsel Erika yang terjatuh tanpa disadari pemiliknya. "Wah, sepertinya ... dia berniat buruk padamu."
Reno menoleh. "Apa?"
Wanita yang mengenakan tank top hitam dan rok jeans super pendek itu tersenyum, seraya menunjukkan layar hp milik Erika ke depan wajah Reno. "Lihat ini, kegiatan kita direkam."
Bangkit amarah Reno. Rahangnya mengerat sempurna. Ia lantas menatap bengis Erika. "Ke mari kau, gadis tengik!"
Erika menunduk masih dalam posisi membelakangi Reno. Merasa buntu, ia pun pasrah, kemudian bangkit berdiri. Begitu berbalik badan, lagi-lagi ia dikejutkan dengan wanita yang baru saja bercinta dengan Reno. 'Laura?' gumam hati Erika. Tentu ia tahu sosok Laura. Wanita yang berprofesi sebagai model majalah pria dewasa, idola bosnya di toko. Bahkan poster wanita itu dipasang di dinding kantor pribadinya.
Reno berdecih melihat wajah asli Erika. "Masih muda rupanya."
Laura, wanita itu terkekeh, kemudian berbisik ke telinga Reno. Erika menajamkan mata, menebak-nebak apa yang sedang mereka rencanakan untuknya. Di luar dugaan, Erika benar-benar merasa tertipu. Citra baik yang terukir di balik nama Reno, rupanya hanya topeng semata. Pria yang memiliki attitude sangat baik pada semua kalangan, bahkan mendapat sebutan pria berhati malaikat. Bukan hanya itu, Reno juga aktif menyuarakan betapa berbahayanya sex bebas.
Erika tidak mengerti apa yang menimpanya saat ini. Petaka, atau cobaan hidup. Tapi yang jelas, ia merasa firasatnya tidak baik melihat gelagat dua orang di depannya.
Reno melangkah mendekati Erika. Gadis itu kaget tapi ambigu. Hingga Reno meraih tangannya lalu menempelkan telapak tangannya pada ke dada bidang pria itu. "Sentuh aku," katanya.
Ceklek!
Erika menoleh ke arah Laura yang memotret dirinya. "Apa-apaan ini—" belum selesai Erika bicara, Reno malah menarik tubuhnya dengan cepat. Jipratan demi jipratan kamera mengarah kepadanya.
Laura tertawa sambil memotret aksi liar Reno. "Bagus, Reno, lagi, ayo lagi!"
Erika meronta saat Reno menggenggam tangannya seolah memintanya menyentuh area pribadi milik pria itu. "Lepaskan aku, apa yang kalian lakukan?"
Reno menahan tangan Erika dengan tatapan yang membuatnya merasa terkunci. "Aku tidak suka penolakan, Baby," ucapnya mendekatkan wajahnya ke telinga Erika, "jangan coba-coba melawanku!"
Entah apa yang terjadi. Erika tidak bisa mengendalikan semua yang tengah terjadi. Bukan pasrah, sudah berkali-kali ia mencoba melawan tapi tenaga Reno jauh lebih unggul.
Laura terbahak melihat hasil jipratan kamera. Reno bangkit sambil menaikkan sleting celananya. "Aku harus berendam dengan air aroma terapi, bau kemiskinan terlalu memuakkan di tubuhku ini."
Erika yang terpaku di atas sofa itu mendongak. "Apa kau bilang?"
Reno beranjak pergi, Erika bangkit berniat mengejar. Tapi Laura menarik tangannya. "Eits, mau ke mana gadis hina?"
Erika menoleh. "Apa yang kalian rencanakan?"
Laura berdecih, lalu melipat kedua tangan di dada. "Ulahmu sendri, berani-beraninya kau masuk tanpa izin ke ruangan ini. Lebih kurang ajar lagi, kau merekam apa yang sedang kamu lakukan, satu kata untukmu gadis miskin," ucap Laura, "bodoh."
Erika mengerutkan kening. Amarahnya memuncak, emosinya naik ke ubun-ubun. "Kau pikir aku akan diam saja melihat semua ini?"
Lagi, Laura terbahak-bahak hingga suara tawanya menggema di ruangan itu. "Lucu sekali kau ini. Memangnya kau mau melakukan apa, hah?" Laura mendorong kening Erika dengan telunjuknya sambil bicara, "memangnya bisa apa kamu, tapi ... tidak apa-apa, karena sebentar lagi kamu akan mendapat banyak hadiah."
Senyum di bibir Laura pudar berganti dengan tatapan tajam dan jijik ke arah Erika. "Dasar gadis miskin yang hina." Usai mengatakan itu, Laura menyeret Erika ke arah pintu, kemudian mendorongnya. "pergi dari sini, jangan pernah muncul lagi."
Laura melempar ponsel Erika hingga memantul di lantai, kemudian menutup pintu dengan keras.
Kedua tangan Erika mengepal erat. Sekuat tenaga ia menenangkan emosinya. Tapi, apa mau di kata, melawan penguasa sudah pasti ia akan kalah. Gadis itu menyentuh dada sambil menarik napas dalam-dalam. "Sabar, tenang Erika ... lebih baik kau pergi sekarang."
Memungut ponselnya, Erika melihat layar itu retak, tapi masih menyala dan bisa disentuh. "Sial sekali aku hari ini." Erika membuang napas kasarnya, kemudian beranjak pergi.
Begitu sampai dan keluar dari lift di lobi, Erika mematung penuh tanya. Ia merasa tatapan semua orang tertuju padanya. Hingga sebuah notifikasi pesan dari bosnya masuk. Gadis itu lekas membacanya. Detik berselang, matanya membola melihat foto yang dikirim bos padanya dibubuhi caption.
"Erika, kau kupecat!"
Erika mengabaikan pesan bos, lalu mengalihkannya ke aplikasi sosial media. Di sana, fotonya sudah terpampang dengan tulisan yang menohok.
"Siapa wanita ini? Bahaya sekali dia. Tiba-tiba menyusup dan menggoda Reno."
Membaca cuitan tersebut, Erika berteriak. "TIDAAAAAKKK!"
Tangan Erika gemetar melihat situasi saat ini. Segera saja ia berlari keluar. Mobil pick up berisi bunga yang dipesan perusahaan sudah layu terpapar matahari. Tapi kebisingan semua orang menyebutnya murahan membuat pikirannya kacau.
Memasuki mobil, ia pun tancap gas. Sampai di kost pribadinya, Erika lemas hingga terlentang di lantai. Dengan tangan bergetar, ia kembali melihat layar ponsel dan membaca berbagai komentar netizen.
"Wanita murahan, siapa dia?"
"Terlalu jelek untuk menjadi p3lacur."
Erika melempar ponselnya ke sembarang arah. Lalu bangkit terduduk sambil mengacak-acak rambutnya. "Hwaaaa, akan kubalas kauuu!"
“Sekarang … puaskan aku,” bisik Reno tanpa rasa bersalah dan sarat akan paksaan. Erika terpaku. Dadanya bergemuruh tak karuan. Luapan emosi, kekesalan dan ketidakberdayaan menyergap sekaligus. Ketika pria itu meraih pinggangnya, dengan cepat ia menarik tangan Reno dan menggigitnya sekuat tenaga. Gigitan yang mengoyak kulit tangan suaminya.Reno terlonjak. Kedua bola matanya membulat sempurna. “Aaakkhh!” pekikan keras kesakitan pria itu memecah keheningan. Tindakan spontanitas Erika yang begitu tiba-tiba, membuatnya tak percaya. Mangsa yang ia anggap lemah tak berdaya, ternyata seperti ular berbisa. Reno menarik tangannya. Bercak darah sedikit keluar dari luka bekas gigitan Erika. Dengan napas memburu, Reno menatap gadis itu bengis. “Kau … beraninya kau.” Erika membalas tatapan Reno yang selalu mengintimidasinya. “Sudah cukup, apa kau tidak lelah menyakiti orang lain, hah? Setidaknya, jadilah sosok manusia malaikat yang selalu kau pamerkan di setiap deadline berita.” Tanpa menung
Erika berdiri mematung di ambang pintu unit apartemen mewah milik Reno Adiyaksa Salim. Pintu kokoh dilengkapi sistem keamanan canggih itu baru saja terbuka, menyemburkan aroma mewah tapi terasa mencekik lehernya. Di sampingnya, Reno berdiri dengan angkuh, sementara Laura bersandar manja di lengan pria itu, seolah menegaskan siapa ratu sebenarnya di sana.Erika berdecak dalam hati, sebuah amarah yang tidak bisa ia ungkapkan. Kesialannya terbesarnya adalah telah sah menjadi istri seorang CEO yang dunia anggap sebagai malaikat dermawan. Erika di bawa masuk. Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik, gadis itu tahu bahwa ia baru saja masuk ke dalam kandang dua serigala lapar.Reno melangkah maju, tangannya merentang seolah memamerkan sebuah kerajaan. “Lihatlah, Erika! Inilah surga yang tidak akan pernah bisa ditemui oleh wanita rendahan manapun selain dirimu. Luar biasa, bukan?” tanya Reno dengan nada angkuh sekaligus memperjelas kasta antara dirinya dan Reno. Erika membuang napas kas
Dalam kungkungan Reno, Erika menatap pria itu tajam. Dalam posisi wajah yang begitu dekat, bibirnya bergetar menahan emosi yang meluap. “Bisa-bisanya kau membuat jawabanmu sendiri.” Dengan senyum menawan khasnya, Reno menjawab, “Aku hanya berniat membantumu keluar dari masalah ini. Bukankah kau ingin aku menghapus foto-foto itu?” “Tapi tawaranmu terlalu menjijikkan,” sambung Erika. Reno terkekeh. “Jawaban sudah kubuat,” kata Reno, menjauhkan posisi tubuhnya. “kau tidak akan bisa bebas lagi.” “Apa katamu?” tanya Erika. Reno bergerak menjauh. “Setelah ini bersiaplah, ikut aku.” Erika memandang Reno penuh tanya. Mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari mulut pria itu. “Apa maksudmu?” Reno meraih kunci mobilnya dari meja kerja, kemudian mendekati Erika. “Aku sudah bilang, kau akan menjadi istriku, jadi mulai sekarang … kau berada dalam genggamanku.” Erika ternganga saat Reno menarik tangannya dan membawanya keluar. Tanpa disuruh, gadis itu berontak. “Hey, lepaskan aku!” Reno
Hari berikutnya, Erika kembali mendatangi gedung perusahaan A-D Salim Grup. Tujuannya, menuntut Reno agar pria itu segera menghapus foto dirinya yang masih menjadi bahan olok-olok seantero negeri. Bahkan saat ini saja ia datang ke gedung itu dengan wajah ditutupi masker, Kacamata, dan topi. Kemeja flanel kotak-kotak hitam putih, dan celana jeans hitam serta sepatu Kets putih. Wanita itu mengeluarkan stiker berlogo perusahaan dan foto Reno yang sedang tersenyum. Tentu sudah ia lukis gambar taring di mulut pria itu hingga terlihat mirip drakula. Benda tipis itu kemudian ia tempelkan di kaca gedung. Setelah itu, ia pun berjalan masuk. Sambil mengawasi keadaan, gadis itu bergumam pelan, “Hah, hati malaikat konon, malaikat pencabut nyawa, iya.” Erika menurunkan topi paruh bebek hitam yang ia pakai hingga wajahnya nyaris tidak terlihat. Memasuki lift, dan naik ke lantai delapan. Rencananya berjalan lancar karena ia datang ke tempat itu persis seperti kemarin. Jadi ia tidak menemui kendal






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.