Share

Kelahiran Sikembar

Penulis: Senjaaaaa
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-09 11:40:39

Anya tiba di apartemennya dengan langkah pelan. Ia berhenti di depan cermin. Menatap pantulan diri sendiri yang terasa asing.

Wajahnya lebih bulat. Tubuhnya tak lagi ramping. Bobotnya naik drastis, dan perutnya kini besar terlalu besar untuk disangkal. Anya mengusap perutnya perlahan, memejamkan mata.

Hampir sembilan bulan.

Sembilan bulan ia melewati semuanya tanpa Nares.

Tanpa kabar. Tanpa penjelasan.

Namun ia tidak benar-benar sendiri. Ada Leon. Ada Juan. Dua orang yang bertahan ketika y
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Kebenaran yang Baru Leon Tahu

    Di depan kelas, suasana mendadak hening. Alex berdiri di depan papan tulis dengan kepala tertunduk. Tangannya saling meremas, jelas tidak nyaman. Guru kelas berdiri di sampingnya. “Alex ingin menyampaikan sesuatu,” ujar sang guru. Alex menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Kiara. “Aku… aku minta maaf, Kiara,” katanya pelan. “Aku salah. Aku gak boleh ngomong jahat. Aku janji gak akan ngulangin lagi.” Kiara berdiri dari bangkunya. Wajahnya masih polos, matanya jernih. “Kiara maafin,” ucapnya lirih tapi tulus. “Asal kamu gak jahat lagi.” Alex mengangguk cepat. Namun sebelum suasana benar-benar reda, sebuah kursi bergeser kasar. Kyan berdiri. Matanya menatap Alex tajam. “Jadi kamu?” suaranya bergetar menahan marah. “Kamu yang bikin adikku sedih?” Alex menelan ludah. Kyan melangkah satu langkah ke depan. Tubuhnya kecil, tapi sorot matanya jauh dari kekanak-kanakan. “Kalau sekarang aku masih dianggap anak kecil, gak apa-apa,” katanya dingin. “Tapi kamu tunggu

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Mereka Anak Kita

    Leon tidak langsung pergi setelah memastikan Kyan dan Kiara masuk kelas. Wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Ia berbelok menuju gedung administrasi dan berhenti tepat di depan pintu bertuliskan Ruang Kepala Sekolah. Tok tok tok. Tanpa menunggu jawaban, Leon masuk. Kepala sekolah yang tengah merapikan berkas mendongak. “Ah, selamat pagi, Pak…?” Leon langsung meletakkan ponselnya di atas meja, menyalakan layar. “Saya mau bicara soal ini.” Video CCTV diputar. Adegan Kiara dihadang, diejek, ditertawakan. Kata anak haram terdengar jelas. Wajah kepala sekolah berubah. Ia berdehem, berusaha tenang. “Anak-anak, Pak. Biasalah… bercanda.” Leon mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya dingin. “Bercanda yang membuat anak perempuan lima tahun menangis dan trauma?” Kepala sekolah tersenyum kaku. “Kita bisa selesaikan secara kekeluargaan. Lagipula… anak-anak itu kan hanya anak dari bu Anya. Tidak perlu dibesar-besarkan.” Leon terkekeh pelan. Bukan karena lucu melainkan marah. “Dan menu

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Anak Haram?

    Malam itu, lampu kamar Kiara masih menyala. Jam di dinding sudah melewati tengah malam, tapi anak kecil itu belum juga terlelap. Leon berdiri di ambang pintu sebentar, lalu melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang. Kiara memeluk bantal kecilnya, matanya terbuka, menatap langit-langit. “Kenapa Kiara belum tidur?” tanya Leon pelan. Kiara menoleh. Suaranya kecil, hampir bergetar. “Ayah Leon… anak haram itu apa?” Leon mengernyit. Jantungnya berdetak lebih keras. “Kenapa Kiara nanya begitu?” Ia mencoba tetap tenang. Leon mengusap rambut Kiara. “Nggak ada yang namanya anak haram, Kiara.” Kiara menelan ludah. “Bukannya aku sama Kyan itu anak haram ya?” Tubuh Leon menegang seketika. Dadanya seperti diremas. “Siapa yang bilang begitu?” suaranya menurun, tertahan marah. “Kamu anak Mama. Kamu anak Ayah.” Kiara memalingkan wajah, matanya berkaca-kaca. “Katanya… aku sama Kyan anak yang nggak diinginkan. Terus itu namanya anak haram.” Leon langsung memeluk Kiara erat. Ia menahan nap

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Perundungan

    Pagi itu Anya berjongkok di depan dua anak kembarnya. Kyan dan Kiara berdiri rapi dengan seragam sekolah, tas kecil menggantung di punggung mereka. Anya mengelus pipi keduanya bergantian, menahan rasa berat di dadanya. “Mama pergi beberapa hari ya,” ucapnya lembut. “Temani tante Delia,” tambahnya, mencoba tersenyum. Kiara langsung memeluk leher Anya. “Jangan lama-lama, Ma.” Kyan ikut merapat, memegang tangan ibunya erat. “Mama hati-hati.” Anya mencium kening mereka satu per satu. “Mama pasti cepat pulang.” Tiga tahun terakhir, Anya bekerja di perusahaan properti. Ia adalah sekretaris pribadi Delia, CEO tempat ia bekerja perempuan tegas yang mempercayainya sepenuh hati. Hari ini ia harus keluar kota, dan sebelumnya ia sudah menitipkan Kyan dan Kiara pada Juan dan Leon. Tak lama, Leon datang. Ia berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan kecil itu dengan dada menghangat. “Kamu berangkat sekarang?” tanya Leon. “Iya,” jawab Anya. “Nitip anak-anak ya.” Leon mengangguk

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Kenersamaan

    Lima tahun kemudian Anya menghela napas panjang ketika potongan sayuran yang sudah rapi di talenan tiba-tiba tumpah ke lantai. “Ups...” Kiara berdiri kaku. Tubuh kecilnya menegang, kepalanya tertunduk. Mata bulat itu langsung berkaca-kaca, jelas merasa bersalah. Anya baru saja pulang bekerja. Bahunya pegal, kepalanya sedikit berdenyut, dan lelahnya sedang di puncak. Tapi ia menahan diri. Ia tahu, lelah bukan alasan untuk melukai hati anak. Hidup tanpa orang tua, tumbuh bersama nenek, lalu diasuh oleh orang asing semua itu mengajarkannya satu hal, anak kecil tak butuh teriakan, mereka butuh rasa aman. “Kiara… minta maaflah,” bisik Kyan pelan dari belakang, mencoba membantu adiknya. Dapur mendadak hening. Padahal tadi dua anak kembar itu berlarian sambil tertawa. “Mama…” Suara lembut itu langsung meluruhkan pertahanan Anya. Kiara yang suka dikepang dua itu memeluk kaki Anya erat-erat, menengadah dengan wajah polosnya. “Mama yang cantik… maafin Kiara, hum?” Anya t

  • Gadis Kesayangan si Raja Neraka   Dua Ayah yang Membingungkan

    Pintu ruang bersalin terbuka. Juan melangkah keluar dengan mata sembab, wajah basah oleh air mata namun bibirnya justru tertarik ke atas. “Haha…” tawanya pecah, terdengar aneh, campuran lega, haru, dan nyaris gila. Leon yang berdiri mondar-mandir langsung menoleh. Melihat ekspresi Juan, darahnya seketika mendidih. Ia maju dan mencengkeram kerah kemeja Juan keras. “Harusnya aku,” geram Leon. “Aku yang di dalam. Aku yang nemenin Anya!” Juan tak melawan. Ia hanya menatap Leon dengan mata merah, lalu berkata pelan tapi mantap, “Anaknya lahir. Sehat. Dua-duanya.” Ia tersenyum lagi, air mata kembali jatuh. “Anya hebat. Dia berjuang… hidup dan mati.” Cengkeraman Leon melemah. Tangannya jatuh perlahan. Dadanya naik turun. “Anya…” gumamnya lirih. Tanpa kata lagi, Leon menarik Juan ke dalam pelukan. Keduanya berpelukan erat, dua pria yang selama berbulan-bulan memendam amarah, cemburu, dan takut yang sama. Mereka tertawa sambil menangis. “Kita ikut berjuang,” ucap Juan terengah.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status