LOGINJulia Rivas adalah sekretaris cantik nan lugu yang terpaksa menjual dirinya pada Diego Torres, bosnya yang angkuh dan hyper, demi menyelamatkan nyawa ibunya. Di tengah kegelapan keluarga, sang kakak penjudi dan adik pergi ke Amerika untuk menjadi bintang porno. Julia melihat Diego, sang 'Raja Es', sebagai satu-satunya jalan. Awalnya, affair ini adalah transaksi dingin. Namun, malam pertama menjadi bumerang bagi Diego. Ia terkejut menemukan Julia perawan. Kepolosan yang ia nodai itu segera memicu obsesi liar, mengubah hasrat iseng Diego menjadi kecanduan yang mematikan. Diego, yang seharusnya menikahi tunangannya, Lucia Ortega, kini bingung. Diego harus memilih: status dan kekuasaan bersama Lucia, atau Simpanan Tuan Torres yang telah merenggut hati dan kendalinya
View MoreJulia Rivas, 25 tahun adalah anomali di antara kubikel kaca kantor Torres International, sebuah perusahaan real estate mewah di jantung kota Madrid. Ia sekretaris pribadi Diego Torres, 35 tahun, sang CEO.
Kecantikannya tak terbantahkan, rambut coklat pekatnya tergerai rapi, mata cokelatnya besar dan bening dan lekuk tubuhnya yang padat selalu tertutup blus formal dan rok pensil, namun selalu sukses membuat mata-mata di lorong terpaku. Ia lugu, atau setidaknya, naif dalam menghadapi badai dunia orang dewasa. Jarang bergaul, hidupnya hanya untuk bekerja ketika ibunya mulai jatuh sakit dan membutuhkan biaya yang banyak. Diego Torres, pria dengan aura hyper, tampan, dan menggairahkan adalah kebalikan total. Ia adalah definisi dari keangkuhan, dinginnya kesempurnaan seorang pria yang terbiasa mendapatkan segalanya. Matanya sebiru es, tatapannya tajam mematikan, dan setiap gerakannya memancarkan otoritas. Di balik jas bespoke Italia yang mahal, tersimpan gairah yang tak terucap, gairah yang seringkali Julia rasakan menyentuhnya tanpa disentuh saat ia hanya menyerahkan dokumen. Pagi itu, kantor Diego terasa mencekik. Julia memegang amplop cokelat tebal, berisi tagihan rumah sakit yang menggunung. Ibunya, Carmen, sakit keras dan membutuhkan operasi segera. Situasi keuangan Julia sudah di ambang pailit. "Nona Rivas, kopi saya tidak kunjung datang. Apa Anda juga ingin tagihan ini menumpuk seperti dokumen di tangan Anda?" Suara Diego dingin, menusuk. Ia duduk di kursi kulit mahalnya, menyilangkan kaki, memandangnya dengan tatapan datar yang menantang. "Maafkan saya, Tuan Torres. Saya akan segera membawanya," Julia tergagap. Amplop di tangannya bergetar. "Apa itu, Julia?" Diego menunjuk amplop itu dengan ujung pena emas. "Hanya… masalah pribadi, Tuan. Bukan urusan kantor." Diego menghela napas, gestur yang menunjukkan kebosanan serta ingin tahu mendalam. "Segala hal yang memengaruhi kinerja Anda adalah urusan kantor, Nona Rivas. Letakkan di meja saya.." Julia, yang terlalu lelah untuk melawan, meletakkannya. Diego mengambilnya, merobek ujungnya tanpa ragu. Matanya menyapu nominal di sana, lalu beralih pada wajah Julia yang memucat. "Jumlah yang fantastis," komentarnya, suaranya kini lebih rendah dan berbahaya. Di rumah, situasinya lebih parah. Kakak lelakinya, Armand Rivas, 27 tahun, tidak pernah peduli. Tak pernah bekerja dengan benar. Uang hasil judi dan minuman keras selalu lebih penting dari biaya pengobatan ibu mereka. "Kau punya wajah yang cantik, Julia! Pakai itu! Jangan jual air matamu padaku! Kenapa kau tak meniru cara kerja, Laura" Armand membentak semalam, meninggalkannya menangis di ujung dapur yang kotor. Lalu ada Laura Rivas, 22 tahun, adik perempuannya. Laura yang lelah dengan kemiskinan dan jalan terjal, memilih jalur gelap. Ia meninggalkan Spanyol 3 tahun lalu menuju Amerika, menaklukkan Los Angeles sebagai bintang film porno. Jalan pintas Laura adalah sebuah luka menganga bagi keluarga mereka, sebuah affair yang memalukan yang Julia coba sembunyikan. Di kantor, ia juga punya Miguel Sanchez, kekasihnya, seorang akuntan di lantai tiga. Julia menceritakan semua kesulitan itu pada Miguel. "Aku minta maaf, Sayang. Kau tahu aku juga sedang membangun karir. Meminjam uang sebanyak itu… itu di luar kemampuanku. Mungkin kau bisa minta cuti dan memikirkan alternatif lain?" Miguel menolak dengan alasan klise, tak pernah menawarkan solusi nyata, hanya jalan buntu. Kembali ke kantor Diego. Bosnya itu menyandarkan punggung ke kursinya, menatap Julia lekat-lekat, menilai. "Masalah keuangan. Kekasih tidak membantu. Keluarga yang tidak kompeten dan hanya membebani saja," Diego menyimpulkan dengan kejam, seolah membaca naskah drama. "Kamu butuh dana. Segera." "Ya, Tuan Torres. Saya akan mencari pinjaman bank." Diego tersenyum tipis, senyum yang tak mencapai mata, namun mampu membuat perut Julia bergetar aneh. Itu bukan senyum keramahan, melainkan senyum predator. "Saya benci birokrasi, Nona Rivas. Ada cara yang lebih cepat. Dan lebih… personal." Julia meneguk ludah. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini, namun pikirannya menolak percaya. Pria yang angkuh dan dingin ini, dengan gairah tersembunyi yang ia rasakan selama ini, kini menawarkannya sebuah kontrak yang jauh lebih berbahaya daripada pinjaman bank. "Tuan Torres, saya tidak mengerti..." Diego bangkit sebuah ide licik tercipta dalam sekejap. Ia melangkah perlahan mengelilingi meja mahoni itu. Aroma maskulin parfum mahalnya, dicampur dengan aroma kekuasaan, langsung menusuk indra Julia. Ia berdiri tepat di depan Julia. Jarak mereka nyaris tak ada. Julia harus mendongak, menatap mata es Diego. Tinggi badan Julia yang hanya 170 cm dan Diego 190 cm, terlihat bagaimana Diego mengintimidasi. "Saya menawarkan Anda sebuah kesepakatan," bisik Diego, suaranya serak dan dalam, langsung ke telinga Julia. Nafasnya hangat, kontras dengan auranya yang dingin. "Saya akan menutupi semua biaya rumah sakit ibumu. Hari ini juga. Sebagai gantinya..." Jari telunjuk Diego yang panjang dan dingin mengangkat dagu Julia, memaksanya menatap api yang mulai menyala di mata es itu. "...kau akan menjadi milikku. Hanya milikku. Setelah jam kerja, di luar kantor. Kau akan melayani setiap keinginanku. Kau akan belajar bahwa keangkuhan yang kau lihat, hanyalah penutup dari gairah yang akan membakarmu habis." Julia merasakan panas dingin menyerang tubuhnya. Harga dirinya berteriak "TOLAK!", tetapi wajah ibunya yang pucat melintas di benaknya, diikuti oleh penolakan Miguel yang dingin. Ia lugu, tapi ia tidak bodoh. Ia tahu ini adalah satu-satunya jalan. Jalan yang gelap, panas, dan berbahaya. "Bagaimana, Nona Rivas? Apakah Anda siap membakar garis batas itu demi ibumu?" Julia menutup mata dan akhirnya menyerah pada keputusasaan. Ia mengangguk. "Ya, Tuan Torres," bisiknya, suaranya nyaris hilang sambil menelana ludahnya. "Saya menerimanya." Diego tersenyum lagi, kali ini senyum yang nyata, penuh kemenangan, dan menakutkan. Ia mencondongkan tubuhnya, dan untuk pertama kalinya, bibir mereka bertemu. Ciuman itu bukan lembut, tapi sebuah pernyataan kepemilikan. Ciuman itu panas, mendesak, menghancurkan sisa-sisa keluguan Julia. Julia terpaku oleh kelihaian permainan bibir boss-nya. "Baiklah, kita kembali bekerja lagi karena aku ingin waktu cepat berlalu dan aku punya janji dengan Lucia nanti malam. Besok, setelah jam kantor, datanglah ke apartemenku, Nona Rivas." Sebelum beranjak, Diego mengecup lembut sekali lagi bibir merah muda sekretarisnya. "Baik, Tuan. Saya akan datang." "Bagus, Julia" Diego menyeringai tipis. Setelah Julia menghilang di balik pintu, Diego menekan panggilan ke asistennya. "Pablo, cari tahu latar belakang Julia Rivas, sekretarisku. Keluarganya, dan kekasihnya." Di seberang sana, Pablo mengernyitkan dahi. "Julia? Bukankah dia kekasih Miguel Sanchez, Tuan?" "Ya, memang dia. Dan satu lagi, rahasiakan misi ini dari siapa pun, terutama Lucia." "Baik, Tuan. Ada lagi?" "Ada. Buatkan surat kontrak untuk Julia. Dia akan menjadi simpananku." Ucap Diego blak-blakan dan tersenyum tipis, seolah senyum itu bisa dilihat oleh Pablo. Tak banyak kata, Pablo langsung mengiyakan. Panggilan dari interkom berbunyi. "Tuan Torres," suara Julia terdengar profesional. "Tuan Santiago dan yang lainnya sudah menunggu. Berkas rapat juga sudah siap. Mohon segera hadir." "Ya, Julia. Terima kasih." Diego beranjak dan merapikan jas mahalnya untuk memulai pekerjaannya.. di ruangan itu, Julia membagikan berkas untuk semua peserta rapat, Diego mengangguk samar tanpa ekspresi seperti biasa kepada Julia, sekretarisnya. Meskipun Julia sedang berada dalam situasi pribadi yang mendesak dan baru saja menyetujui "kontrak" gelap dengan Diego, ia tetap mempertahankan profesionalisme dan efisiensi kerjanya di kantor. Di mata kolega dan klien, Julia adalah sekretaris yang sempurna dan cekatan; namun di balik pintu, ia baru saja menyerahkan hidupnya kepada bosnya, sebuah rahasia yang ia bawa sambil tetap melaksanakan tugasnya dengan sempurna. Rapat berjalan dengan lacar, Julia sibuk dengan notulennya. Merangkum semua proses hasil rapat, seperti biasa. Tak hanya cantik dan molek, Julia sangat cekatan. Kemampuannya bekerja sudah tertempa sekitar 3 tahun ini. Sesekali Diego mencuri pandang sekilas pada Julia, namun sesekali Julia menemukan pandangan mata biru itu padanya. Ini bukan pertama kalinya, Diego begitu. Hanya saja.. jika sebelumnya mereka dalam mode profesional tentu Julia tak secanggung sekarang"Pelan, Sayang. Nikmati permainan ini," suaranya tercekat namun tetap berhati-hati. Ia memperlambat tempo, mengubah hentakan kuat menjadi dorongan yang lebih terkontrol, terfokus pada titik-titik vital. Jempolnya yang kuat menekan punggung bawah Julia, memberikan tumpuan dan dorongan halus yang lebih terarah. Matanya yang gelap memandang ke luar, ke arah salju Madrid yang kini turun lebat, seolah mencari fokus, menjaga kendali dirinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mengendalikan debar jantungnya yang liar. "Fokus padaku, Julia. Jangan tegang," perintahnya lembut, kembali ke perannya sebagai direktur yang membimbing. "Lepaskan semua stres di dahi. Rasakan hanya ini." Julia mengerang, antara protes dan kenikmatan. Pengendalian diri Diego justru terasa semakin mendominasi. Ia mencengkeram sprei lebih kuat, merasakan tubuhnya menegang dan kemudian, dengan dorongan yang dalam dan stabil dari Diego, ia terlempar ke puncak. Sebuah
Julia tersenyum tipis, Ia kemudian memutuskan untuk mengalihkan topik, mengetes sejauh mana fokus Diego hanya terpaku pada angka dan aset."Ngomong-ngomong, apa kau benar-benar tahu siapa sosok pesepak bola Portugal yang kumaksud tadi? Kulihat kau tak menyukai olahraga sepak bola. Padahal, negara kita banyak mencetak pemain handal."Julia menguji Diego, menantangnya untuk menunjukkan pengetahuan umum di luar tabel profit dan rugi.Diego menangkap tantangan itu. Ia mendengus pelan."Tentu saja aku tahu," jawab Diego, ekspresinya sedikit geli karena Julia meragukan kemampuan analisisnya. "Meskipun aku tidak menonton sepak bola, aku mengikuti berita dan tren hukum terkait aset. Kasus hukum semacam itu menjadi studi kasus penting dalam manajemen kekayaan pribadi."Ia menegakkan tubuh. "Kau merujuk pada Cristiano Ronaldo.""Model hubungan yang dia jalani, tidak menikah dengan pasangannya yang sekarang, Georgina Rodríguez, adalah keput
Di sebuah supermarket gourmet di pusat kota Madrid, Diego dan Julia jauh dari setelan kerja yang kaku, Diego mengenakan sweater kasmir gelap dan celana chinos, sementara Julia santai dengan blus rajut dan celana panjang longgar. Meski berpakaian kasual, aura efisien mereka tetap terlihat saat mereka mendorong troli besar.Julia menyandarkan tubuhnya sebentar pada troli, menghela napas panjang saat memeriksa ponselnya, menandai item-item diet yang sudah mereka masukkan."Kita sudah lama sekali tidak keluar seperti ini, ya, Diego," nadanya jujur, tanpa menuntut. "Kita sama-sama tenggelam dalam pekerjaan. Kadang, aku iri melihat pasangan lain punya waktu yang benar-benar berkualitas, hanya untuk bersenang-senang."Diego, yang baru saja selesai membandingkan label nutrisi dua merek oatmeal, menegakkan tubuhnya. Tatapannya yang biasanya tajam, sedikit melunak saat beralih ke Julia. Ia tidak menunjukkan ekspresi romantis, tetapi reaksinya berpusat pada solusi da
Rachel tidak langsung menjawab. Ia hanya menggenggam cangkir tehnya erat-erat, buku-buku jarinya memutih. Wajahnya yang biasa terlihat tenang dan elegan kini mengeraskan rahangnya.Bukan informasi kehamilan Julia yang membuatnya marah, tetapi ketidakpercayaan Diego. Sebagai matriark keluarga Torres, Rachel sangat menjunjung tinggi komunikasi dan kontrol. Fakta bahwa Diego merahasiakan perkembangan sepenting ini dari orang tuanya adalah penghinaan terhadap otoritas mereka."Diego memang selalu begitu, Georgina, Dia mengira dia bisa mengendalikan setiap aspek dalam hidupnya, termasuk informasi yang harusnya menjadi hak kami sebagai keluarga.""Aku akan mencari tahu detailnya sendiri. Terima kasih atas informasimu, Sayang."Pukul 13. Rachel Torres tiba tanpa pemberitahuan di kantor Diego. Ia melangkah melewati meja Paula langsung berdiri dengan cemas."Mama tumben datang. Ada apa?" tanya Diego, berdiri dari kursinya, sedikit terkejut dengan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore