MasukPintu ruang perawatan terbanting keras.
Anya yang sedang berbaring setengah duduk terkejut. Matanya langsung menangkap sosok yang paling tak ingin ia lihat saat ini. Rosa. Gadis itu berdiri dengan rahang mengeras, matanya menilai Anya dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan meremehkan. “Kamu masih pura-pura lemah?” suara Rosa dingin, penuh ejekan. Anya refleks menarik napas. Tubuhnya masih lemah, lengannya gemetar saat mencoba bergerak mundur. “Kak Ares...” lirihnya. Terlambat. Rosa melangkah cepat, menarik lengan Anya tanpa ampun. “Berhenti acting! Aku tahu kamu cuma cari perhatian!” bentaknya. Tubuh Anya terhempas dari ranjang. Punggungnya membentur lantai dingin dengan sAnya sudah kembali ke kamarnya. Pintu tertutup rapat. Di dalam sana, hanya ada napasnya yang pelan dan sisa adrenalin yang belum sepenuhnya turun. Di taman belakang, senja mulai jatuh. Cahaya oranye memantul di anak-anak panah yang masih menancap di sasaran. Leon bersandar di pagar kayu, menyilangkan tangan. Ia menghela napas panjang, seolah masih tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. “Res…” Leon menoleh ke Nares. “Dia barusan ngeri banget.” Nares berdiri tegak, menatap lurus ke depan. “Bukan ngeri.” Leon mengernyit. “Terus apa?” “Lahir ulang.” Leon terdiam sejenak. Lalu tertawa kecil, kering. “Gila. Baru beberapa minggu lalu dia bahkan gak berani ngelihat bayangan sendiri. Sekarang… jarak segitu, sasaran sekecil itu.” Nares akhirnya menoleh. “Trauma itu pisau bermata dua. Bisa membunuh pemiliknya. Bisa juga mengasahnya.” Leon menyandarkan kepalanya ke tiang. “Dan kamu milih buat mengasahnya.” “Karena dunia gak bakal lembut sama Anya,” jawab Nares dingin.
Setelah sesi terapi selesai, Anya berdiri di tengah ruangan rehabilitasi dengan napas sedikit berat. Kakinya masih terasa ngilu, tapi kali ini ia tidak goyah. Ia benar-benar berdiri dengan kakinya sendiri. Dirga mengamati dari beberapa langkah jauhnya, lalu mendekat sambil membuka catatan medis. “Secara medis, ini di luar rata-rata,” ucapnya jujur. “Tulang betismu belum sepenuhnya pulih, tapi adaptasi otot dan sarafmu sangat cepat.” Anya menoleh. “Artinya?” “Artinya tubuhmu punya daya tahan tinggi,” jawab Dirga. “Dan yang lebih penting kemauanmu untuk bergerak jauh lebih kuat dari rasa sakit. Itu yang mempercepat pemulihan.” Nares berdiri di samping Anya, tangannya sigap menahan jika sewaktu-waktu gadis itu goyah. “Tapi jangan salah paham,” lanjut Dirga tegas. “Ngilu ini masih akan ada. Jangan dipaksakan. Kamu boleh berjalan, tapi pelan. Dengarkan tubuhmu.” Anya mengangguk. “Aku mengerti.” Dirga menatap Nares. “Dia kuat, tapi bukan kebal. Jaga ritmenya.” Nares mengan
Udara seakan membeku. “Apa?” suara Nares rendah, berbahaya. “Di sana lebih aman,” lanjut Amanda cepat. “Lebih terkontrol. Mama hanya ingin Anya sembuh.” “Tidak,” potong Nares keras. “Aku tidak akan pernah membawa Anya ke sana.” Rosa menyela dengan suara gemetar, penuh kepura-puraan. “Ares… aku tahu kamu sangat melindunginya. Tapi bagaimana kalau suatu hari Anya benar-benar kehilangan kendali? Aku takut… bukan untuk diriku. Untuk Anya sendiri.” Nares menoleh tajam ke arahnya. “Aku tidak bicara denganmu.” Rosa terdiam, menunduk seolah terluka. Amanda menghela napas panjang. “Baik. Kalau soal Anya kamu tidak mau dengar, kita bicara hal lain.” Nares menyilangkan tangan. “Apa lagi.” “Tentang kamu dan Rosa.” Nares tertawa sinis. “Aku sudah bilang...” “Kalian harus bertunangan,” potong Amanda tegas. Rahang Nares mengeras. “Tidak.” Amanda berdiri. Wajahnya berubah keras, dingin. “Kalau begitu, dengarkan ini baik-baik.” Nares menatapnya. “Jika kamu menolak per
Dirga berdiri di sisi ranjang, menurunkan stetoskopnya perlahan. Anya masih terbaring dengan infus terpasang, wajahnya pucat namun napasnya sudah lebih teratur. Leon berdiri tak jauh, sementara Nares menatap Dirga dengan sorot tajam menuntut jawaban. “Kondisinya kembali kambuh,” ujar Dirga akhirnya, suaranya serius. “Bukan karena fisik. Secara medis, tubuh Anya membaik. Tapi ini murni dipicu oleh trauma.” Nares mengepalkan tangan. “Kenapa bisa?.” Dirga menarik napas. “Anya mengalami Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD. Gangguan stres pascatrauma. Setiap kali otaknya menangkap rangsangan yang mirip dengan kejadian masa lalu wajah, suara, bahkan sekadar ingatan tubuhnya bereaksi seolah kejadian itu terulang.” Leon mengernyit. “Makanya dia tiba-tiba histeris?” “Ya,” jawab Dirga. “Bagi Anya, itu bukan kenangan. Itu ancaman yang terasa nyata.” Nares menunduk, rahangnya mengeras. “Kalau begitu, bagaimana cara mencegahnya?” Dirga menatap Nares lurus. “Kamu harus menemukan
Nares dengan hati-hati mengangkat tubuh Anya dan memangkunya. Wajahnya dingin, rahangnya mengeras. Ia melangkah cepat menuju kamar, berusaha menahan amarah yang bergejolak di dadanya. Namun di tengah langkahnya, telinganya menangkap percakapan yang membuat darahnya mendidih. Pelayan bernama Mila berbisik dengan nada sinis, “Nona Anya benar-benar sudah gila.” “Sst!” Resty menegurnya pelan tapi tegas. “Jaga ucapanmu. Jangan bicara sembarangan.” “Aku cuma bilang yang sebenarnya,” balas Mila ketus. “Kamu lihat sendiri kan? Berani-beraninya dia menampar tuan muda. Dia sudah gila.” “Nona itu sakit,” bantah Resty. “Bukan gila.” Mila mendengus, lalu tertawa kecil. “Sakit jiwa, maksudmu.” Langkah Nares berhenti. Ia menoleh perlahan. Tatapan matanya membuat udara di sekitarnya terasa membeku. Mila dan Resty langsung terdiam. Wajah mereka pucat. Tanpa sepatah kata, Nares kembali melangkah, mengantarkan Anya ke kamar dan membaringkannya dengan hati-hati di ranjang. Tak lama kemudian, D
Anya menggeliat pelan saat membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah Nares yang berada tepat di atasnya terlalu dekat, terlalu tenang, dan jelas sedang menatapnya sejak lama. “Kak… udah bangun?” tanya Anya, suaranya masih serak oleh sisa kantuk. Nares mengangguk ringan. “Aku nggak terbiasa bangun siang.” Anya mendengus kecil. Tatapannya bergeser ke arah cahaya matahari yang menembus tirai kamar. Ucapan Nares jelas terdengar seperti sindiran halus untuknya. “Huft… iya, iya,” gumamnya. Nares bangkit sedikit. “Kakak mandi dulu.” “Mandi ya tinggal mandi lah,” jawab Anya santai, masih setengah malas bergerak. Nares menoleh, lalu melirik ke bawah. Tangan dan kaki Anya ternyata masih melingkar di tubuhnya, seolah semalaman ia menjadikannya bantal hidup. “Kalau begitu,” kata Nares datar, “bisa dilepaskan dulu?” Anya tersentak. Matanya membulat. “Ah...maaf!” Ia buru-buru menarik tangan dan kakinya. Dalam hati ia menjerit panik. Astaga… malu banget. Aku tidur begi







