LOGINWajah kaget Sandra terlihat jelas, gadis itu bukan hanya cemas tapi juga kebingungan. Tumben sekali Ofi tidak memberitahunya, biasanya jika ada masalah dia akan diberi tahu lebih dulu. "Aku coba telepon--" Sandra tidak butuh waktu untuk menunggu, anak itu sangat tanggap jadi langsung menghubungi Ofi dan bertanya langsung. "Apa yang terjadi dengan Evan, Bu?" Sandra langsung mendesak pertanyaan begitu telepon tersambung. Ziana yang kepo juga ikut mendengarkan, Sandra tidak sungkan untuk me-loudspeaker suara Ofi. Ofi menceritakan semuanya--semua yang dia rekayasa dan rencana yang sudah disusun dengan baik. "Ya ampun, ada perampok? Ibu pasti takut, aku akan segera ke sana!"Sandra bergegas tanpa menyiakan waktu, dia yang tadi lemas tanpa gairah hidup sekarang berubah cekatan seolah energinya kembali dengan begitu cepat. Ziana sampai heran. "Kamu baru sampai. Kenapa harus buru-buru?" Ziana ingin menahan, dia masih rindu dengan sahabatnya itu, sayangnya Sandra tidak mendengarkannya.
"Pak Arhan sedang berada di rumah sakit. Jadi tidak akan pu--"Sambungan terputus, Dafa melihat ke layar dengan kening mengernyit merasa heran kenapa Ziana terdengar kesal dan memutus panggilan begitu saja, padahal Dafa belum selesai bicara? Dafa kembali ke ruang rawat, Arhan terjaga. Dia menatapnya penuh tanya. "Ada yang menelpon saya?" Dafa berdeham. "Maaf, Nona Ziana yang menelpon. Saya angkat karena tadi Pak Arhan sedang beristirahat."Dafa kembali menyerahkan ponsel Arhan. Hanya ada riwayat panggilan, namun Ziana tidak mengirimi pesan terbaru. [Saya baik-baik saja.] Arhan mengetik pesan agar Ziana tidak perlu khawatir lalu mengirimnya, balasan dari Ziana datang seperti kilat. Hanya beberapa detik saja. [Oh, baguslah. Semoga Pak Arhan betah di sana. ]Membaca pesan dari Ziana, Arhan tidak mungkin biasa saja, apalagi isinya yang aneh. Apa maksud Ziana sedang mendoakan Arhan untuk tetap sakit? Jari Arhan tidak sempat mengetik balasan saat rombongan dokter dan perawat datang
Yudis melompat dari sofa dan Ofi menyambar bantal untuk menutupi tubuhnya. Lelaki itu lalu terduduk di lantai memegangi kepalanya yang berdarah, sementara Evan mulai berteriak panik dan ketakutan. ***Jam sudah menunjuk pukul sepuluh, Ziana tidak tahu kalau Arhan akan lembur. Dia pikir hanya akan menunggu sampai jam delapan. Ziana mencoba menghubungi dengan perasaan cemas, namun sambungan tak berhasil. Suara operator kembali terdengar, menandakan panggilan sedang sibuk."Pak Arhan sedang menerima telepon?" Ziana bergumam, dia pun beralih mengirim pesan. [Pak Arhan, di mana sekarang? Belum pulang? Aku menunggu.] Ziana kembali duduk di sofa, tatapannya terus mengarah ke layar ponsel, namun tidak ada tanda-tanda ada pesan baru yang masuk sampai dia lelah dan berbaring. Hampir satu jam, akhirnya ponsel Ziana bergetar. [Tidurlah dulu, Zi. Saya mungkin pulang pagi, atau tidak sama sekali. Sekarang sedang di rumah sakit. ]Membaca kata rumah sakit tatapan Ziana berubah tegang. Jelas di
"Pak Arhan, kita pulang sekarang atau cari penginapan saja?" tanya Dafa yang tahu kondisi mereka sekarang, cukup lelah jika harus kembali ke rumah. Sekarang mereka berada di luar kota, paling tidak harus menempuh perjalanan tiga jam jika ingin pulang. Sementara besok masih ada urusan penting di kota ini. “Kamu bisa mencari hotel sendiri. Saya akan langsung pulang,” ujar Arhan datar sembari melirik jam tangannya, memperhitungkan waktu. Jika berangkat sekarang, dia akan tiba di rumah sekitar pukul sebelas.“Tapi, Pak--”“Saya bisa menyetir sendiri, tidak perlu khawatir,” potong Arhan dengan nada terkendali. “Sebagai gantinya, pastikan proposal dan seluruh berkas penting untuk rapat besok sudah dicek ulang.”Dafa tidak bisa menolak perintah bosnya, dia juga sangat lelah jadi memilih untuk menurut dan membiarkan Arhan pulang sendiri. Tidak tahu ada urusan apa di rumah, yang pasti Dafa rasa jika tidak ada hal yang penting tidak mungkin Arhan memilih sesuatu yang merepotkan dan menyita w
Ziana mengangguk-anggukkan kepalanya. Wina tidak bisa tidak merasa aneh, namun dia tidak mengatakan apa pun, hanya berpikir putranya sedikit berubah. Dulu sekali pun Sandra merengek ingin memelihara bintang, Arhan dengan tegas menolak. Tapi kali ini bahkan bebek dan kucing dibolehkan, satu lagi ... Arhan yang biasanya tidak tertarik dengan tanaman ibunya, tiba-tiba mau membawa satu pot aglonema. Mungkin untuk menyenangkan Ziana? Ziana berdeham saat Wina terus menatapnya sambil menelisik seolah sedang memindai dan membuat penilaian pada gadis itu. Wina tidak bisa bohong jika Ziana memang cantik dan menarik, betah dipandang. Tapi apa iya putranya yang berusia empat puluh tahun itu mau dengan gadis muda? Sah-sah saja memang, hanya Wina kurang yakin. "Ziana--" Wina kembali menarik obrolan. "Iya, Bu?" "Sebentar lagi Arhan dan Ofi akan menikah, apa kamu pernah lihat Arhan sudah mulai menyiapkan sesuatu?" Ziana terlihat berpikir, dia lalu menggeleng tanpa mengatakan apa pun. "Menuru
Arhan sakit? Tidak mungkin, Ziana yang paling tahu. Arhan tidak terlihat pucat atau menahan sakit selama itu, yang jelas sebaliknya, Ziana yang sakit. Itu berarti Arhan sengaja bekerja di rumah hanya untuk Ziana. Diam-diam Ziana tersenyum, hatinya terasa hangat dan berbunga. Jadi, Arhan memang seperhatian itu padanya kan? "Ziana," tegur Wina yang menunggu respon Ziana sejak tadi, tapi gadis itu malah bengong. "Eh, ya? Mmm, maaf Bu Wina. Saya akan mengecek dan mengkonfirmasinya kalau Pak Arhan pulang nanti. Semoga saja bukan karena beliau sakit." Wina mengangguk, dia sedikit tenang tapi juga masih bingung karena sebelumnya Arhan tidak pernah begitu. Kantor adalah tempat utama dia menghabiskan waktunya, sementara rumah ibarat tempat kedua yang dia singgahi. Setelah menunggu beberapa waktu, masakan yang Ziana buat selesai. Gadis itu menyuguhkannya untuk Wina. Nasi lembek dengan sup hangat, Wina menyukainya. Dia suka makan dengan sesuatu yang lunak dan berkuah. "Silahkan, Bu. Kala







