Share

Bab 127

Author: Ratu As
last update Last Updated: 2025-12-25 12:55:01

Dika melajukan mobilnya cukup kencang, menembus hujan yang lebat.

Ziana dengan sisa tenaganya masih terus memberontak dan mengumpat sampai membuat Dika kesal dan akhirnya menyumpal mulut Ziana dengan kain.

Ziana menatap benci pada Dika, merasa sangat bodoh karena sudah mempercayainya selama ini. Dika begitu pintar pura-pura bodoh.

“Ziana, sebenarnya awalnya aku enggak tahu tentang masalahmu dengan keluarga Kak Vela. Tentang kamu dan Pak Bram, aku juga tidak mengenalnya.” Dika mulai bicara.

Ziana meski enggan mendengarnya,namun dia tidak punya pilihan karena suara itu satu-satunya yang dia dengar selain hujan.

“Tapi karena Ayah, aku tidak bisa mengabaikannya. Jadi, maaf … kali ini aku enggak bisa berpihak padamu.”

Dika menatap Ziana sekilas sebelum kembali fokus pada jalan. Ekspresi Dika yang semula penuh gairah seperti kebanyakan lelaki hidung belang, kini berubah kaku dan rumit.

Dika berada dalam tekanan ayahnya. Saat Herman tahu jika Dika mengenal baik Ziana, dia terus meneka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Buyung Sriutamy
thor mau baca kok tekeluar trus ya dari buku nya.nonton iklan juga ga bisa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 148

    Ziana terbatuk, dia sampai tersedak ludah sendiri saat mendengar ocehan Sandra yang ngawur. "Sandra, kamu ini apa si--" Ziana menyikut Sandra yang jail, namun gadis itu malah makin keras tertawa sambil melirik Aris. "Sepertinya Om Aris juga suka kamu, Zi. Pada pandangan pertama. Lihat tuh, kupingnya merah!" Sandra berbisik, tapi dengan suara yang keras sampai Aris dengar dan diam-diam matanya membulat. "Sandra--" Ziana mencubit paha Sandra di sebelahnya. Dia merasa sangat amat malu dan tidak enak hati, mana yang Sandra ucapkan itu banar, kuping Aris terlihat sangar merah, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Melihat putranya terpojok, meski diam-diam Lisa menahan senyum dia tetap membantu. "Huush, sudah, ayo lanjutkan lagi makannya. Kita bisa ngobrol lebih seru kalo sudah selesai makan malam." Akhirnya Aris bisa sedikit tenang, senyum tak jelas itu masih Sandra lontarkan tapi paling tidak Sandra tidak lagi berisik. ***Dua jam berlalu, dan Arhan masih menunggu sesuatu yan

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 147

    Sandra duduk berdampingan dengan Ziana dan di sebelah kanan Ziana ada Leo yang sudah akrab dengannya sejak kemarin.Ruang makan itu baru berisi empat orang, tentu kurang satu lagi, lelaki yang sejak tadi Sandra tunggu kehadirannya. "Aris mungkin akan telat, lebih baik kita makan dulu," ujar Lisa mengajak tamunya untuk menikmati hidangan. Sandra tersenyum tidak keberatan. "Om Aris kan dokter, wajar kalau dia sibuk." Lisa mengangguk. "Ya, aku sudah berpesan untuknya pulang malam ini karena dia shift pagi. Harusnya jam kerja sudah selesai dua jam lalu, tapi mungkin ada operasi mendadak." "Kamu mau makan juga atau minum susu?" Ziana lebih fokus pada Leo di sebelahnya. Melihat Leo membuat Ziana ingat dengan Aries--anak panti. Kebetulan sekali nama itu sama seperti ayahnya Leo. "Cucu, Leo mau!" jawab Leo dengan suara cadel. Dia tersenyum menampakan giginya yang utuh dan rapi. "Leo sudah makan lebih awal, sebentar lagi pasti anak itu mengantuk." Lisa tahu betul kebiasaan cucunya karen

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 146

    Tangan Arhan masih bergerak liar pada punggung Ziana yang kini mematung seperti manekin. Sementara tatapannya memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah cantik Ziana. Pipinya memerah. "Pak Arhan." Ziana mengerjap, dia mungkin baru tersadar dan buru-buru menoleh. "Apa yang Anda lakukan? Bukankah ini termasuk tidak sopan? Aku bukan anak kecil, kenapa menyentuhku sembarangan!" Ziana memutar tubuhnya menarik tangan Arhan dan memeganginya. Respon Ziana tidak baik, Arhan tahu mungkin gadis itu masih marah. Sejak kemarin sikapnya selalu jutek dan ketus. Sebenarnya Ziana tidak lagi semarah sebelumnya, dia tahu hanya salah paham mengira Arhan bermalam beberapa hari hanya untuk Ofi. Tapi tetap saja masih sedikit kesal karena Arhan tidak transparan, bahkan sampai detik ini tidak bilang kalau kemarin dia dinas keluar kota, lalu menjelaskan apa yang terjadi. "Hm.... " Arhan tidak menjawab, hanya wajahnya yang sok tidak berdosa itu membuat Ziana geregetan. Lalu ditambah dengan seny

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 145

    Ziana menatap Arhan dengan senyum mencibir, dia juga mengibaskan rambutnya. Gayanya tengil. Respon Arhan terlalu lambat, jadi Ziana memilih beranjak dan kembali melangkah. Dia langsung ke kamar untuk mandi. "Dia sedang bercanda kan? Kenapa terdengar menyebalkan." Sudut bibir Arhan tertarik, dia tsrsenyum samar saat melihat punggung Ziana menjauh. Cara jalan gadis itu cukup menarik, apalagi saat rambut panjangnya dikuncir kuda tersapu-sapu karena angin. Kakinya yang jenjang dengan tubuh ramping membuatnya Ziana selalu punya kesan feminim dan cantik. *** "Tapi bagaimana jika Pak Arhan tahu kalo ini hanya rekayasa? Sepertinya dia sudah menyuruh polisi untuk menyelidiki kasus ini." Ofi berkata dengan panik, sementara Yudis yang ada di dekatnya terus coba menenangkan. "Tenang saja, semua tidak akan terbongkar. Aku sudah mencari tiga orang yang mau berpura-pura menjadi perampok dan tersangka palsu. Aku sudah membayarnya banyak. Yang penting kamu tidak boleh sampai putus dengan P

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 144

    "Tas atau koper?" Karti kebingungan. Arhan bertanya dengan kepanikan yang tidak bisa disembunyikan, Karti bisa melihatnya jelas. Apa majikannya pikir Ziana kabur?"Maaf, Pak Arhan. Non Zia pergi tidak membawa apa pun, dia--""Astaga--" potong Arhan tidak mau mendengarkan karti. Dia berdecak kesal. Arhan yang biasanya tenang kini bereaksi cepat. "Bukankah sudah pernah saya katakan. Jangan biarkan Ziana pergi sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya? Apa kalian masih belum paham? Dia mau ke mana pagi-pagi?" Arhan gusar, dia tidak menyangka jika masalah sepele akan membuat Ziana jengkel sampai pergi dari rumah. Karti ketakutan, ingat kemarahan Arhan beberapa waktu lalu karena Ziana pergi. "Maaf, Pak Arhan, Non Zia pergi dengan memakai baju olahraga. Dia pasti hanya berjalan-jalan di sekeliling komplek jadi tidak perlu bawa tas atau pun koper," jelas Karti terburu-buru sebelum Arhan semakin salah paham.Apa? Arhan tertegun sesaat, dia mengusap wajahnya. Ada rasa malu dan

  • Gadis Lugu Tertindas, Dipungut Paman Tampan   Bab 143

    Kening Ziana berkerut, dia makin cemberut dan menatap Arhan dengan jengkel. "Kamu sedang meledekku? Tidak lucu!" balasnya berani, Ziana melangkah dengan kaki menghentak-hentak seolah itu adalah pelampiasan rasa kesalnya. Arhan masih di tempatnya, bergeleng pelan dengan senyum geli dan heran. Dia yakin Ziana benar-benar marah sampai bicara dengan tidak formal dan gaya bar-bar. Tapi kenapa? Sebagai lelaki dewasa dia tidak berpikir jika miskomunikasi yang sepele akan membuat mereka bertengkar. *** Selepas mandi, Arhan terduduk di tepi ranjang. Sejak tadi sikap Ziana yang cuek mengganggu pikirannya. Dia pun mengambil ponsel, berniat menghubungi Ziana agar melakukan sesuatu. [Saya tidak menemukan baju tidur yang biasanya. Di mana? Bisa bantu cari? Saya tunggu.] [Di lemari. ] [Tidak ada. ] balas Arhan cepat. [Kalau begitu cari di tempat lain.] [Kamu menyuruh bos? ] [HAH! BAIKLAH. ] Balasan terakhir Ziana membuat Arhan mengulas senyum. Dia kembali duduk setelah menyembun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status