LOGINAwal kisahku dimulai, saat aku menerima tawaran menjadi ibu susu untuk seorang bayi calon pewaris tunggal dikeluarga Anstein. Disinilah, aku terjebak cinta terlarang dengan ayah bayi tersebut. entahlah.. aku harus menyebutnya kemalangan atau justru keberuntungan.
View More"sudahlah, kalian ini apa - apaan? Kenapa malah jadi begini. Tadi papa emosi, dit! Maafin papa, ya.." Hermawan menggaruk telinganya. Semua, terasa bagai buah simalakama baginya. "Ayolah Ra, kenapa diam? Papa hanya emosi sesaat. Kamu lagi hamil, gak usah aneh - aneh. Kasihan anak yang ada diperutmu" ucapnya, lagi. Kini mulutnya menjadi senjata yang balik menyerang sendiri. Setelah tak menemukan solusi, Aditya pun memutus sambungan telpon mereka. Percuma, Hermawan sedang mabuk asmara. Diajak bicara apapun, yang ada di pikirannya hanya Silvia. Yang harus di buktikan adalah, bagaimana bisa, dia sampai berkata Aditya bukanlah anak kandung Bu Ine. Padahal Aditya sangat yakin, Bu Ine adalah ibunya. Ibu kandungnya, yang melahirkan dan merawat sejak Aditya bayi. "Pertama - Tama, kita mulai cari tau, siapa pembantu yang bekerja dikeluarga mas Adit saat mas Adit berusia se arsya. Ayo semangat, jangan malas!" Zahra menggunakan pita merah putih di kepalanya, dengan tangan mengepal semangat. Adi
"kenapa, mas?" Tanya Zahra, melihat sang suami yang sejak tadi tampak termenung di samping kolam ikan, mendengarkan gemericik air. Tak terdengar jawaban, hingga Zahra mengulangi pertanyaannya lagi. "Mas.." ucapnya, menggenggam tangan Aditya. "Gak kenapa - kenapa sayang, cuma lagi mikirin kerjaan aja" kilah Aditya. Bingung harus memulai ceritanya dari mana. Merasa ada yang aneh, Zahra duduk di pangkuan suaminya. Menatap lekat manik hitam milik Aditya. Tak mau melewatkan momen ini, Aditya pun memeluk pinggang mungil istrinya. Menyenderkan kepalanya sejenak, di dada sang istri. Menghirup udara sebanyak - banyaknya, lalu menghempaskannya perlahan. "Kamu itu, kenapa sih mas? Ada masalah apa? Aku ini istrimu lho, siapa tau aku bisa bantu" ujar Zahra perlahan. Tak ingin menyinggung suaminya. Sejenak berpikir, akhirnya Aditya tak bisa menahan gejolak ini sendirian."kasihan Silvia, yang.." ucap Aditya , menjeda ucapannya. "Kenapa Silvia?" Tanya Zahra lagi. "Aku bingung harus memulai dari
Flash on back "Adit.." ucap Silvia, melihat orang yang sangat membencinya, menjadi daftar pengunjung untuknya hari ini. "Puas, mempermainkan papaku?" Aditya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Matanya, bak siluman harimau hendak mencengkeram mangsa. "Apa maksud kamu? Aku, gak ngerti!" Bohongnya. Wanita secerdas Silvia, mana mungkin tidak mengerti apa yang di maksud aditya. "Sudahlah sil, gue udah tau. Lagian bokap juga udah ngaku kok. Lo mau ngelak kaya apa juga, gue ada bukti video nya Lo ngapa - ngapain sama dia" gertak Aditya, tak mau kalah. " Apa? Video apa? Kalian ngerekam gue?! Wah, sakit nih anak sama bapak!!" Silvia, ngegas. "Elo yang sakit!" "Coba jujur ke gue, kenapa Lo Pepet gue sekaligus bokap gue juga? Hah?!! Apa yang sebenarnya Lo incer, dari keluarga gue?" Aditya mulai geram. Wajahnya tak lagi bersahabat. Silvia pun meradang, mendung yang sedari tadi di tahan akhirnya hujan juga. Sakit dan perih yang luar biasa, dia rasakan di dalam hati. "Bukan gue yang
"Ini, hadiah pernikahan untukmu dari Oma" ucap Oma nunik, menyerahkan amplop berwarna coklat pada Zahra. "I ini apa Oma?" Tanya Zahra. "Buka saja nanti, kalau Oma sudah pulang" "Oma, titip Aditya dan Arsya ya. kita tidak tau umur orang. Siapa yang tau kalau ternyata ini pertemuan kita terakhir atau bukan. Umur Oma sudah tua, Zahra. Oma bersyukur, Aditya menemukan gadis baik sepertimu. Gak kaya, si Ine itu" cicit Oma, Zahra pun tersenyum. Melihat Oma tampak nyaman berbincang dengannya. Walaupun Zahra gadis biasa, tapi Oma tidak mempermasalahkan. "Oh iya Oma, Zahra penasaran deh. Kenapa muka mas Adit tidak mirip sama mama Ine ya? Sama papa juga tidak. Mas Adit mirip siapa Oma?" Tanya Zahra. Memang sejak dulu penasaran, mungkin ini kesempatan Zahra mencari tau. Bukannya langsung menjawab, Oma justru meremas tangan Zahra, matanya menelisik sekeliling seolah takut ada yang mendengar percakapan mereka. "Ine itu, ibu sambungnya Aditya. Tapi Hermawan dan Ine menyembunyikan ini. Mereka ti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.