FAZER LOGINKoridor utama lantai empat Rumah Sakit Graha Medika biasanya menjadi area yang paling tenang, namun siang itu, udara terasa seberat timah. dr. Tri Ananda Putri melangkah dengan terburu-buru, wajahnya pucat dan matanya tampak tidak fokus. Di belakangnya, dr. Adrian berjalan dengan langkah lebar, wajahnya menunjukkan kombinasi antara kecemasan dan kemarahan yang tertahan.
"Tri, berhenti," panggil Adrian. Suaranya menggema di sepanjang koridor, menarik perhatian beberapa perawat yang sedang bertugas. Tri berhenti tepat di depan stasiun perawat, di mana Raihan sedang berdiri memeriksa beberapa berkas medis. Tri menoleh ke arah Adrian dengan tubuh yang gemetar. Ia sengaja memposisikan dirinya di titik di mana Raihan bisa melihat ketakutannya dengan jelas. "Aku tidak ingin membicarakannya sekarang, Adrian. Tolong, jangan di sini," bisik Tri dengan suara yang pecah. Melihat Tri yang tampak begitu rapuh, ingatan Adrian melesat kembSuara tembakan itu memecah kesunyian malam, bergema di antara pilar-pilar beton RSJ yang dingin dan lembap. Peluru yang diletuskan Sarah melesat, menyerempet bahu Adrian yang baru saja didorong oleh Tri ke balik pilar, lalu menghantam kaca tebal di belakang mereka hingga hancur berkeping-keping. Pecahan kaca itu berjatuhan seperti hujan kristal di bawah sorot lampu darurat yang berkedip. Tri segera berguling di lantai yang basah, menempatkan Maria, wanita malang yang masih gemetar di balik meja resepsionis yang kokoh. Napas Tri memburu, namun matanya tetap fokus pada setiap pergerakan Sarah. Efek Batch 04 di dalam dirinya kini berada pada tingkat tertinggi; ia bisa melihat tetesan air hujan yang masuk dari jendela pecah bergerak seolah melambat di udara. "Berhenti, Sarah! Semuanya sudah berakhir!" teriak Adrian sambil berusaha bangkit, memegangi bahunya yang berdarah ringan. Suaranya serak, penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Polisi suda
Udara di sel isolasi 404 terasa membeku saat Sarena menyerahkan suntikan berisi cairan bening mematikan itu kepada salah satu algojonya. Matanya yang dingin menatap Tri seolah-olah Tri hanyalah sebuah spesimen yang sudah rusak dan harus segera dimusnahkan. Di luar, suara guntur mulai menggelegar, seirama dengan detak jantung Tri yang mulai berdegup dalam frekuensi yang berbeda, frekuensi Batch 04."Lakukan sekarang," perintah Sarena tenang. "Pastikan sidik jari Dokter Tri ada pada suntikan itu setelah Maria berhenti bernapas."Algojo berbadan kekar itu melangkah maju. Namun, ia tidak menyadari bahwa penglihatan Tri mulai menajam. Warna-warna di ruangan itu seolah melambat, dan suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum besar. Tri merasakan aliran adrenalin yang murni menyapu seluruh sarafnya. Batch 04 di dalam darahnya bereaksi terhadap ancaman kematian, membangkitkan insting purba yang selama ini ia tekan.Saat algojo itu
Dinding ruang isolasi di Unit Psikiatri Graha Medika berwarna putih gading, sebuah warna yang secara psikologis dirancang untuk menenangkan saraf, namun bagi Tri, itu adalah warna kematian yang hampa. Ia duduk di tepi tempat tidur tanpa seprai, mengenakan pakaian pasien berbahan katun tipis yang membuatnya merasa telanjang dan tidak berdaya. Tidak ada jendela di sini, hanya sebuah kamera CCTV di sudut langit-langit yang terus mengawasinya seperti mata dingin Sarena yang tak pernah berkedip."Sembilan puluh menit," gumam Tri pada dirinya sendiri.Ia menghitung interval rotasi penjaga berdasarkan bunyi langkah kaki dan denting kunci di koridor luar. Sejak Adrian menempatkannya di sini, Tri menyadari bahwa kemampuannya sebagai Subjek 04 adalah satu-satunya senjata yang tersisa. Batch 04 di dalam darahnya memberikan ketajaman pendengaran dan persepsi ruang yang jauh melampaui manusia normal. Ia bisa mendengar bisikan para perawat di ujung lorong yan
Paru-paru Tri terasa terbakar saat ia tersungkur keluar dari pintu tangga darurat lantai dasar. Asap hitam masih mengepul dari balik pintu baja yang baru saja ia tutup rapat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendekap map merah berisi sejarah ayahnya, satu-satunya bukti yang berhasil ia selamatkan dari amukan api di lantai B4. Wajahnya coreng-moreng oleh jelaga, dan jas putih kebanggaannya kini robek serta berbau sangit.Namun, alih-alih petugas keamanan yang datang menolong, pemandangan di lobi belakang rumah sakit itu justru membuatnya membeku.Di sana, di bawah sorot lampu lobi yang dingin, Adrian berdiri berdampingan dengan Sarena. Adrian tampak sangat cemas, namun ekspresinya berubah menjadi campuran antara ngeri dan kecewa saat melihat kondisi Tri. Sarena, di sisi lain, berdiri dengan tenang, memegang sebuah botol air mineral seolah-olah ia baru saja memberikan dukungan moral kepada Adrian."Tri! Apa yang kamu lakukan di bawah sana?" suara Adrian mengg
Asap tipis mulai mengepul dari sudut ruangan, namun oksigen di lantai B4 terasa hilang bukan karena api, melainkan karena pengakuan dingin yang baru saja keluar dari bibir Sarena. Tri berdiri mematung, folder merah yang berisi sejarah kelam ayahnya masih mendekap erat di dadanya, sementara Sarena menatapnya dengan tatapan seekor pemangsa yang baru saja menyelesaikan jebakannya."Kau pikir kau sudah menang, Putri?" Sarena berbisik, suaranya kini benar-benar berubah. Nada bicara kaku ala ekspatriat Swiss itu luruh, digantikan oleh suara yang selama bertahun-tahun menghantui Tri di laboratorium gelap Raihan. "Kau pikir Sarah Azizi yang kau cebloskan ke Rumah Sakit Jiwa bulan lalu adalah akhir dari segalanya? Kau pikir nakhoda sepertimu bisa menjatuhkan ratu hanya dengan sekali pukul?"Tri menegang, tenggorokannya terasa kering. "Apa maksudmu? Aku sendiri yang melihatnya menyerangku. Aku melihat kegilaan di matanya, dendamnya... wanita di RSJ itu identik deng
Kantor pusat Yayasan Harapan Kita yang terletak di lantai eksekutif tampak begitu steril pagi ini. Bau pembersih lantai yang tajam dan pencahayaan LED yang terlalu putih membuat suasana terasa seperti laboratorium yang pernah ingin Tri lupakan. Di ujung lorong, di ruangan yang dulu milik Om Robert, kini Sarena duduk dengan tenang. Ia tampak begitu menyatu dengan kursi kulit besar itu, seolah-olah kursi kekuasaan tersebut memang ditakdirkan untuknya sejak lama. Tri melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Ia meletakkan selembar kertas foto masa SMAnya yang dicetak misterius semalam ke atas meja kaca milik Sarena. "Permainan yang bagus, Sarah," desis Tri, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Tapi kamu lupa satu hal, nakhoda tidak pernah takut pada ombak yang dia kenal. Dan aku mengenalmu lebih baik daripada siapa pun di gedung ini." Sarena tidak terkejut. Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Perl







