LOGINSuara tembakan itu memecah kesunyian malam, bergema di antara pilar-pilar beton RSJ yang dingin dan lembap. Peluru yang diletuskan Sarah melesat, menyerempet bahu Adrian yang baru saja didorong oleh Tri ke balik pilar, lalu menghantam kaca tebal di belakang mereka hingga hancur berkeping-keping. Pecahan kaca itu berjatuhan seperti hujan kristal di bawah sorot lampu darurat yang berkedip.
Tri segera berguling di lantai yang basah, menempatkan Maria, wanita malang yang masih gemetar di balik meja resepsionis yang kokoh. Napas Tri memburu, namun matanya tetap fokus pada setiap pergerakan Sarah. Efek Batch 04 di dalam dirinya kini berada pada tingkat tertinggi; ia bisa melihat tetesan air hujan yang masuk dari jendela pecah bergerak seolah melambat di udara. "Berhenti, Sarah! Semuanya sudah berakhir!" teriak Adrian sambil berusaha bangkit, memegangi bahunya yang berdarah ringan. Suaranya serak, penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Polisi sudaKlinik itu tampak sunyi dari luar, namun di ruang belakang yang berfungsi sebagai laboratorium darurat, suasana terasa begitu mencekam. Tri masih mengenakan pakaian hitamnya yang basah kuyup oleh air laut, membiarkan tetesan air garam membasahi lantai semen. Ia tidak peduli pada rasa dingin yang menusuk tulang atau detak jantungnya yang masih memacu adrenalin sisa pelarian tadi. Fokusnya hanya tertuju pada tabung reaksi kecil berisi cairan ungu pekat yang diletakkannya di bawah lensa mikroskop binokular. Tangannya yang biasanya stabil kini sedikit bergetar saat ia meneteskan reagen penguji ke atas kaca preparat. Ia menyalakan lampu mikroskop, lalu menempelkan matanya ke lensa. Awalnya, hanya terlihat gumpalan protein yang tidak beraturan, melayang-layang dalam medium cair. Namun, saat reagen mulai bereaksi, struktur seluler di dalam cairan itu mulai berubah dengan cara yang mengerikan. Tri menahan napas. Sel-sel itu tidak hancur, mereka justr
Malam itu, bulan hanya tampak sebagai sabit tipis yang tertutup awan mendung, memberikan kegelapan yang sempurna bagi Tri dan Pak Yusuf untuk bergerak. Suara mesin perahu motor Pak Yusuf sengaja dimatikan sejak mereka berada dalam radius satu mil dari koordinat kapal putih tersebut. Sekarang, hanya suara dayung yang membelah air dengan lembut, ritme yang hampir tidak terdengar di tengah deburan ombak kecil yang menghantam lambung perahu. Tri duduk di haluan perahu, mengenakan pakaian serba hitam yang melekat erat di tubuhnya. Rambutnya diikat kencang di bawah penutup kepala. Di dalam tas taktis yang melingkar di pinggangnya, tersimpan beberapa tabung sampel kosong, kamera saku dengan sensor inframerah, dan sebuah alat pendeteksi radiasi biologis yang ia rakit sendiri. "Dokter, yakin mau melakukan ini?" bisik Pak Yusuf dengan suara yang gemetar. Tangannya yang kasar menggenggam dayung dengan erat. "Kapal itu... auranya tidak enak. Seperti ada sesuatu yan
Langit Labuan Bajo masih menyisakan rona jingga pucat ketika Tri melangkah keluar ke teras kliniknya. Udara pagi terasa asin, segar, dan membawa aroma kayu basah dari dermaga yang baru saja diguyur hujan semalam. Di sini, di ujung teluk yang jauh dari kebisingan Jakarta, Tri telah menemukan ritme hidupnya sendiri. Tidak ada lagi panggilan darurat dari dewan direksi, tidak ada lagi perjamuan formal yang menyesakkan. Hanya ada suara ombak dan kicauan burung camar. Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah perahu motor kecil mendekat dengan kecepatan tinggi ke dermaga pribadinya. Suara mesinnya meraung kasar, memecah kesunyian fajar. "Dokter Tri! Dokter!" teriak seorang pria paruh baya, Pak Yusuf, salah satu nelayan dari Pulau Komodo. Tri segera menyampirkan stetoskopnya dan bergegas turun ke dermaga. Di dalam perahu, seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun terbaring lemas
Setahun telah berlalu sejak badai di Rumah Sakit Jiwa itu mereda, meninggalkan puing-puing sejarah yang kini mulai ditumbuhi lumut waktu. Di sebuah pesisir terpencil di bagian timur nusantara, di mana riak ombak berkejaran mencium pasir putih, Tri Ananda Putri akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari, keheningan yang jujur. Tri berdiri di teras kliniknya yang sederhana, menatap cakrawala yang tak berujung. Ia tidak lagi mengenakan jas putih dengan bordir emas "Yayasan Harapan Kita". Kini, ia hanya mengenakan kemeja katun tipis berwarna gading yang lengannya digulung hingga siku. Di papan kayu yang tergantung di depan pintu klinik, hanya tertulis satu baris nama yang bersahaja. Dokter Tri. Penduduk desa nelayan itu mengenalnya sebagai perempuan yang tangguh, yang bisa menjahit luka secepat ia menarik jaring ikan, namun memiliki mata yang selalu menatap jauh ke arah samudera, seolah sedang menunggu atau justru sedang melepaskan sesuatu.
Suara tembakan itu memecah kesunyian malam, bergema di antara pilar-pilar beton RSJ yang dingin dan lembap. Peluru yang diletuskan Sarah melesat, menyerempet bahu Adrian yang baru saja didorong oleh Tri ke balik pilar, lalu menghantam kaca tebal di belakang mereka hingga hancur berkeping-keping. Pecahan kaca itu berjatuhan seperti hujan kristal di bawah sorot lampu darurat yang berkedip. Tri segera berguling di lantai yang basah, menempatkan Maria, wanita malang yang masih gemetar di balik meja resepsionis yang kokoh. Napas Tri memburu, namun matanya tetap fokus pada setiap pergerakan Sarah. Efek Batch 04 di dalam dirinya kini berada pada tingkat tertinggi; ia bisa melihat tetesan air hujan yang masuk dari jendela pecah bergerak seolah melambat di udara. "Berhenti, Sarah! Semuanya sudah berakhir!" teriak Adrian sambil berusaha bangkit, memegangi bahunya yang berdarah ringan. Suaranya serak, penuh dengan penyesalan yang mendalam. "Polisi suda
Udara di sel isolasi 404 terasa membeku saat Sarena menyerahkan suntikan berisi cairan bening mematikan itu kepada salah satu algojonya. Matanya yang dingin menatap Tri seolah-olah Tri hanyalah sebuah spesimen yang sudah rusak dan harus segera dimusnahkan. Di luar, suara guntur mulai menggelegar, seirama dengan detak jantung Tri yang mulai berdegup dalam frekuensi yang berbeda, frekuensi Batch 04."Lakukan sekarang," perintah Sarena tenang. "Pastikan sidik jari Dokter Tri ada pada suntikan itu setelah Maria berhenti bernapas."Algojo berbadan kekar itu melangkah maju. Namun, ia tidak menyadari bahwa penglihatan Tri mulai menajam. Warna-warna di ruangan itu seolah melambat, dan suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum besar. Tri merasakan aliran adrenalin yang murni menyapu seluruh sarafnya. Batch 04 di dalam darahnya bereaksi terhadap ancaman kematian, membangkitkan insting purba yang selama ini ia tekan.Saat algojo itu







