MasukLampu operasi itu tidak lagi terasa menyilaukan, ia kini terasa seperti panggung. Selama berminggu-minggu di dalam laboratorium terisolasi itu, Tri Ananda Putri telah belajar satu pelajaran berharga yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah kedokteran mana pun, rasa sakit adalah alat tukar, dan kehancuran adalah jubah penyamaran yang paling sempurna.
Di atas meja bedah yang dingin, Tri membiarkan tubuhnya tetap lunglai. Ia mengatur napasnya agar tetap pendek dan tersengal, menirukan kondisi seseorang yang jiwanya telah benar-benar patah. Ia tahu Sarah sedang memperhatikannya melalui monitor di balik kaca satu arah. Sarah menyukai kerapuhan, wanita itu mendambakan momen di mana Tri benar-benar memohon untuk diakhiri. Dan Tri memberikannya apa yang dia inginkan."Kak Sarah..." gumam Tri, suaranya parau, nyaris tak terdengar di antara dengung mesin pendingin ruangan. "Tolong... hentikan. Aku tidak kuat lagi. Aku... aku hanya ingin tidur."Pintu geser laborAsap tipis mulai mengepul dari sudut ruangan, namun oksigen di lantai B4 terasa hilang bukan karena api, melainkan karena pengakuan dingin yang baru saja keluar dari bibir Sarena. Tri berdiri mematung, folder merah yang berisi sejarah kelam ayahnya masih mendekap erat di dadanya, sementara Sarena menatapnya dengan tatapan seekor pemangsa yang baru saja menyelesaikan jebakannya."Kau pikir kau sudah menang, Putri?" Sarena berbisik, suaranya kini benar-benar berubah. Nada bicara kaku ala ekspatriat Swiss itu luruh, digantikan oleh suara yang selama bertahun-tahun menghantui Tri di laboratorium gelap Raihan. "Kau pikir Sarah Azizi yang kau cebloskan ke Rumah Sakit Jiwa bulan lalu adalah akhir dari segalanya? Kau pikir nakhoda sepertimu bisa menjatuhkan ratu hanya dengan sekali pukul?"Tri menegang, tenggorokannya terasa kering. "Apa maksudmu? Aku sendiri yang melihatnya menyerangku. Aku melihat kegilaan di matanya, dendamnya... wanita di RSJ itu identik deng
Kantor pusat Yayasan Harapan Kita yang terletak di lantai eksekutif tampak begitu steril pagi ini. Bau pembersih lantai yang tajam dan pencahayaan LED yang terlalu putih membuat suasana terasa seperti laboratorium yang pernah ingin Tri lupakan. Di ujung lorong, di ruangan yang dulu milik Om Robert, kini Sarena duduk dengan tenang. Ia tampak begitu menyatu dengan kursi kulit besar itu, seolah-olah kursi kekuasaan tersebut memang ditakdirkan untuknya sejak lama. Tri melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Ia meletakkan selembar kertas foto masa SMAnya yang dicetak misterius semalam ke atas meja kaca milik Sarena. "Permainan yang bagus, Sarah," desis Tri, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Tapi kamu lupa satu hal, nakhoda tidak pernah takut pada ombak yang dia kenal. Dan aku mengenalmu lebih baik daripada siapa pun di gedung ini." Sarena tidak terkejut. Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Perl
Malam di Jakarta selalu menyimpan rahasia di balik gemerlap lampunya, namun di lantai B4 Rumah Sakit Graha Medika, kegelapan terasa lebih nyata dan purba. Tri Ananda Putri menyelinap masuk ke lift servis dengan jantung yang berdegup kencang, seirama dengan detak jarum jam yang seolah mengejar langkahnya. Ia tidak menggunakan kartu akses Direktur Medis miliknya,via tahu Sarena atau siapa pun wanita itu sebenarnya telah memasang log digital pada setiap pintu utama. Kartu yang ia pegang adalah hasil modifikasi manual Dina, kunci menuju gudang arsip fisik yang seharusnya sudah tidak disentuh selama puluhan tahun."Dina, kau masih bersamaku? Suaranya sangat buruk di sini," bisik Tri melalui mikrofon kecil yang tersembunyi di balik kerah jas putihnya."Beton di lantai B4 mengandung timbal, Tri. Sinyal radio hampir tidak bisa menembusnya. Aku hanya bisa mempertahankan akses kamera pengawas selama sepuluh menit melalui loop sistem. Setelah itu, sistem akan melaku
Ruang makan di rumah kediaman Harahap biasanya menjadi tempat paling hangat bagi Tri dan Adrian. Namun, kehadiran Sarena yang diundang Adrian untuk makan malam bisnis mendadak mengubah atmosfer menjadi medan perang yang sunyi. Sarena duduk dengan punggung tegak, memotong steak-nya dengan gerakan yang begitu presisi, nyaris menyerupai gerakan seorang ahli bedah. "Saya harus mengakui, Dokter Tri memiliki selera dekorasi yang sangat... fungsional," ujar Sarena sambil menatap sekeliling ruangan dengan senyum tipis yang sulit diartikan. "Sangat kontras dengan mendiang Tuan Harapan yang menyukai kemewahan klasik. Tapi mungkin itulah yang dibutuhkan Adrian sekarang, sesuatu yang membumi setelah semua guncangan itu." Adrian tertawa kecil, tampak sangat nyaman dengan kehadiran konsultan barunya itu. "Tri selalu tahu apa yang terbaik untuk stabilitas, Sarena. Tapi kamu benar, visi barumu tentang restrukturisasi yayasan benar-benar
Satu bulan telah berlalu sejak langit Marunda berubah menjadi lautan api. Di Rumah Sakit Graha Medika, sisa-sisa bau ozon dan ketakutan yang pernah menyelimuti Basemen 3 kini telah digantikan oleh aroma kopi segar dan pewangi ruangan jeruk yang menenangkan. Tri Ananda Putri berdiri di balik jendela besar kantor barunya di lantai dua belas, menatap kesibukan Jakarta yang tak pernah tidur. Di bawah kepemimpinannya sebagai Direktur Medis yang baru, rumah sakit ini menjalani pembersihan besar-besaran. Audit eksternal dilakukan setiap minggu, dan protokol keamanan laboratorium kini lebih ketat daripada pangkalan militer. Adrian telah berhasil menstabilkan yayasan setelah skandal Robert meledak ke publik. Pamannya itu kini mendekam di sel isolasi, menanti persidangan atas tuduhan konspirasi kejahatan kemanusiaan. Segalanya tampak berjalan menuju normal, sebuah fajar yang indah bagi Tri yang selama sepuluh tahun hidup dalam persembunyian. "Tri, kam
Keheningan yang mencekam menyelimuti gudang Marunda setelah pernyataan Tri. Adrian membeku, matanya membelalak tak percaya pada keputusan istrinya. Di sisi lain, Raihan Azizi tampak seperti seorang konduktor yang baru saja menyelesaikan simfoni agungnya, ia menikmati setiap detik kehancuran mental yang terpancar dari wajah kedua korbannya."Keputusan yang bijaksana, Putri," bisik Raihan sembari menjauhkan jarum suntik v.2.5 dari leher Tri. Ia memberikan isyarat kepada dr. Pandu untuk menurunkan senjatanya. "Cinta memang selalu menjadi katalis yang paling bisa diprediksi dalam setiap eksperimen kemanusiaan.""Tri, tidak! Jangan lakukan ini!" Adrian meronta dalam cengkeraman orang-orang bertopeng pesuruh Om Robert. "Aku lebih baik melupakan segalanya daripada membiarkanmu kembali ke tangan iblis ini!"Tri menoleh perlahan ke arah Adrian. Air mata yang tadi menggenang kini telah jatuh, namun di balik jejak basah itu, ada kilatan mata yang berbeda, kilatan mat







