LOGINJiwa seorang penulis novel "Duke of Morwenia", Velian Ardyn, tiba-tiba terbangun di tubuh Eira Shawn, selir ketiga yang lemah dan pendiam di istana Duke of Morwenia—karakter yang ia ciptakan sendiri! Velian, yang terbiasa mengendalikan tokoh-tokoh dari meja kerja, kini harus menghadapi kenyataan pahit sebagai salah satu dari mereka. Demi bertahan hidup, ia berusaha mengubah takdir tragis Eira Shawn. Namun, setiap pergerakannya justru menciptakan alur baru yang tak pernah ia bayangkan. Mampukah ia selamat dari akhir tragis dan menulis ulang kisahnya sendiri? Atau ia akan terjebak selamanya dalam alur baru sang selir ketiga?
View MoreLeona melangkah keluar dari mansion dengan anggun. Senandung pelan mengalun dari bibirnya—nada ringan yang menandakan suasana hatinya sedang baik. Beberapa hari terakhir terasa begitu tenang; ketenangan langka yang biasanya hanya mampir sekali dalam setahun. Dan Leona tahu, itu patut disyukuri.Velian yang duduk di anak tangga depan mansion memperhatikan Leona berjalan melewatinya tanpa sedikit pun menoleh.“Sombong sekali tidak menyapaku,” sindir Velian sengaja, malas-malasan.Langkah Leona terhenti. Ia melirik tajam ke samping sebelum akhirnya memutar tubuh sepenuhnya menghadap Velian. “Apa yang kau bilang?”“Aku tidak mengatakan apa-apa,” alibi Velian sambil mendongak menatap langit, seolah awan jauh lebih menarik.“Kau pikir aku tuli?” balas Leona dingin.Velian menurunkan pandangannya. “Mau pergi ke mana? Tengah hari begini panas.”Leona menyunggingkan senyum tipis—sinis. “Kau bertanya karena tidak ada kegiatan, kan?” Tawanya keluar ringan, nyaris me
Rhys dan Garrick berjalan beriringan menuju bangunan utama setelah pertemuan dengan para pengawal, membahas kembali insiden penyusupan yang sempat mengguncang kediaman Rhys.“Markas mereka sudah ditemukan,” ujar Garrick. “Akan kita bawa ke Istana atau—”“Habisi langsung di tempat,” potong Rhys tanpa ragu, suaranya dingin dan tegas.Garrick mengangguk, paham sepenuhnya. “Baik, Tuan.” Ia segera berbalik arah, melangkah pergi untuk memimpin pasukan yang ditugaskan menyergap markas kelompok pemberontak itu.Namun ketegangan di wajah Rhys seketika memudar begitu pandangannya menangkap sosok Velian yang berjalan di sepanjang koridor—arahnya jelas menuju ruang makan untuk santap siang. Tanpa disadari, langkahnya dipercepat, nyaris berlari kecil untuk menyusul.“Nona Eira,” panggilnya pelan saat sudah berjalan di samping Velian.Velian sedikit terkejut, namun tak menghentikan langkahnya. “Oh, aku kira siapa. Selamat siang, Tuan Rhys.”Senyum tipis mengembang di wajah Rhys. “Sepertinya suasana
Velian bahkan bermimpi Rhys masih menodongkan pedang ke arah Dylen. Ia terbangun mendadak dari pingsannya, dalam posisi duduk, dengan napas tersengal dan kebingungan melihat begitu banyak orang di sekelilingnya. Di sisi kanan berdiri Tabib, Rhys, dan Alverine. Di sisi kiri—Raven, Leona, dan Garrick. Kecuali Leona, mereka semua berdiri diam, menunggu Velian benar-benar sadar. Pandangan Velian langsung mencari Rhys. Begitu mata mereka bertemu, matanya berkaca-kaca. “Kamu salah paham…” lirihnya, suaranya nyaris pecah oleh penyesalan. Rhys tidak bergerak. Alverine menatap mereka tanpa ekspresi apa pun. Raven menghela napas pendek, lalu memberi isyarat agar semua orang ke luar, menyisakan hanya Rhys dan Velian. Leona menggeleng pelan sebelum pergi, heran—tak habis pikir mengapa yang bisa dilakukan gadis itu hanyalah menangis. Alverine sempat ingin bertahan, namun Raven menariknya keluar tanpa memberi kesempat
Garrick cemas membiarkan Eira pergi sendirian. Gadis itu tampak tergesa-gesa, seolah membutuhkan sesuatu. Baru sepuluh menit berlalu, Garrick memutuskan keluar dari mobil dan hendak masuk ke Akademi Pengetahuan.Namun, sebelum ia mencapai gapura, sebuah mobil hitam mengkilap melaju kencang melewatinya dan berhenti tepat di depan pintu masuk."Rhys?"Kacau. Rahang Rhys mengeras, raut wajahnya penuh amarah. Garrick segera menyusul, langkahnya tergesa-gesa. Kehadiran Rhys membuat semua orang berhenti sejenak, penasaran dengan kekacauan yang akan terjadi."Selamat datang, Tuan Rhys," ucap penjaga sambil membungkuk hormat, tapi Rhys tak menghiraukan. Fokusnya hanya satu: perpustakaan. Ia datang untuk membawa pulang istrinya.Dari jendela perpustakaan, Rhys melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Dylen menyentuh wajah Eira—wajah istrinya.Tanpa pikir panjang, Rhys menghunus pedangnya dan melangkah masuk, hatinya terbakar api amarah.Velian membelala












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews