Home / Romansa / Gadis Persinggahan / Bab 26: Janji Berdarah

Share

Bab 26: Janji Berdarah

Author: Alyantha_Z
last update Last Updated: 2025-12-27 10:10:44

Kilas Balik – Sepuluh Tahun Lalu.

Bau antiseptik di klinik dr. Gunawan selalu membangkitkan memori yang ingin Tri Ananda Putri kubur dalam-dalam di dasar palung ingatannya. Di sanalah, sepuluh tahun yang lalu, ia pernah tergeletak dalam kondisi katatonik, sebuah raga tanpa jiwa yang hancur setelah menyadari bahwa pria yang ia puja sebagai "pelabuhan terakhir" Raihan Azizi hanyalah seorang predator yang menggunakan janji lamaran sebagai jerat untuk menjadikannya properti psikologis.

Tri masih bisa merasakan dinginnya cincin perak tebal yang dulu melingkar di jarinya, sebuah simbol pengabdian buta yang akhirnya dipaksa lepas oleh tangan kekar Pak Darma. Ayahnya, pria dengan integritas yang tak tergoyahkan, adalah orang pertama yang merobek topeng karisma Raihan di koridor klinik itu. Tamparan keras yang mendarat di pipi Raihan hari itu seharusnya menjadi akhir dari segalanya, sebuah titik balik yang membebaskan Tri dari belenggu manipulasi.

"Aku ingin menjad
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gadis Persinggahan   Bab 48: Pertarungan di Bangsal Maut

    Udara di sel isolasi 404 terasa membeku saat Sarena menyerahkan suntikan berisi cairan bening mematikan itu kepada salah satu algojonya. Matanya yang dingin menatap Tri seolah-olah Tri hanyalah sebuah spesimen yang sudah rusak dan harus segera dimusnahkan. Di luar, suara guntur mulai menggelegar, seirama dengan detak jantung Tri yang mulai berdegup dalam frekuensi yang berbeda, frekuensi Batch 04."Lakukan sekarang," perintah Sarena tenang. "Pastikan sidik jari Dokter Tri ada pada suntikan itu setelah Maria berhenti bernapas."Algojo berbadan kekar itu melangkah maju. Namun, ia tidak menyadari bahwa penglihatan Tri mulai menajam. Warna-warna di ruangan itu seolah melambat, dan suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman drum besar. Tri merasakan aliran adrenalin yang murni menyapu seluruh sarafnya. Batch 04 di dalam darahnya bereaksi terhadap ancaman kematian, membangkitkan insting purba yang selama ini ia tekan.Saat algojo itu

  • Gadis Persinggahan   Bab 47: Kebenaran di Balik Terali

    Dinding ruang isolasi di Unit Psikiatri Graha Medika berwarna putih gading, sebuah warna yang secara psikologis dirancang untuk menenangkan saraf, namun bagi Tri, itu adalah warna kematian yang hampa. Ia duduk di tepi tempat tidur tanpa seprai, mengenakan pakaian pasien berbahan katun tipis yang membuatnya merasa telanjang dan tidak berdaya. Tidak ada jendela di sini, hanya sebuah kamera CCTV di sudut langit-langit yang terus mengawasinya seperti mata dingin Sarena yang tak pernah berkedip."Sembilan puluh menit," gumam Tri pada dirinya sendiri.Ia menghitung interval rotasi penjaga berdasarkan bunyi langkah kaki dan denting kunci di koridor luar. Sejak Adrian menempatkannya di sini, Tri menyadari bahwa kemampuannya sebagai Subjek 04 adalah satu-satunya senjata yang tersisa. Batch 04 di dalam darahnya memberikan ketajaman pendengaran dan persepsi ruang yang jauh melampaui manusia normal. Ia bisa mendengar bisikan para perawat di ujung lorong yan

  • Gadis Persinggahan   Bab 46: Isolasi Sang Nakhoda

    Paru-paru Tri terasa terbakar saat ia tersungkur keluar dari pintu tangga darurat lantai dasar. Asap hitam masih mengepul dari balik pintu baja yang baru saja ia tutup rapat. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mendekap map merah berisi sejarah ayahnya, satu-satunya bukti yang berhasil ia selamatkan dari amukan api di lantai B4. Wajahnya coreng-moreng oleh jelaga, dan jas putih kebanggaannya kini robek serta berbau sangit.Namun, alih-alih petugas keamanan yang datang menolong, pemandangan di lobi belakang rumah sakit itu justru membuatnya membeku.Di sana, di bawah sorot lampu lobi yang dingin, Adrian berdiri berdampingan dengan Sarena. Adrian tampak sangat cemas, namun ekspresinya berubah menjadi campuran antara ngeri dan kecewa saat melihat kondisi Tri. Sarena, di sisi lain, berdiri dengan tenang, memegang sebuah botol air mineral seolah-olah ia baru saja memberikan dukungan moral kepada Adrian."Tri! Apa yang kamu lakukan di bawah sana?" suara Adrian mengg

  • Gadis Persinggahan   Bab 45: Topeng yang Retak

    Asap tipis mulai mengepul dari sudut ruangan, namun oksigen di lantai B4 terasa hilang bukan karena api, melainkan karena pengakuan dingin yang baru saja keluar dari bibir Sarena. Tri berdiri mematung, folder merah yang berisi sejarah kelam ayahnya masih mendekap erat di dadanya, sementara Sarena menatapnya dengan tatapan seekor pemangsa yang baru saja menyelesaikan jebakannya."Kau pikir kau sudah menang, Putri?" Sarena berbisik, suaranya kini benar-benar berubah. Nada bicara kaku ala ekspatriat Swiss itu luruh, digantikan oleh suara yang selama bertahun-tahun menghantui Tri di laboratorium gelap Raihan. "Kau pikir Sarah Azizi yang kau cebloskan ke Rumah Sakit Jiwa bulan lalu adalah akhir dari segalanya? Kau pikir nakhoda sepertimu bisa menjatuhkan ratu hanya dengan sekali pukul?"Tri menegang, tenggorokannya terasa kering. "Apa maksudmu? Aku sendiri yang melihatnya menyerangku. Aku melihat kegilaan di matanya, dendamnya... wanita di RSJ itu identik deng

  • Gadis Persinggahan   Bab 43: Jamuan Sang Laba-Laba

    Kantor pusat Yayasan Harapan Kita yang terletak di lantai eksekutif tampak begitu steril pagi ini. Bau pembersih lantai yang tajam dan pencahayaan LED yang terlalu putih membuat suasana terasa seperti laboratorium yang pernah ingin Tri lupakan. Di ujung lorong, di ruangan yang dulu milik Om Robert, kini Sarena duduk dengan tenang. Ia tampak begitu menyatu dengan kursi kulit besar itu, seolah-olah kursi kekuasaan tersebut memang ditakdirkan untuknya sejak lama. Tri melangkah masuk tanpa mengetuk pintu. Ia meletakkan selembar kertas foto masa SMAnya yang dicetak misterius semalam ke atas meja kaca milik Sarena. "Permainan yang bagus, Sarah," desis Tri, suaranya rendah namun penuh ancaman. "Tapi kamu lupa satu hal, nakhoda tidak pernah takut pada ombak yang dia kenal. Dan aku mengenalmu lebih baik daripada siapa pun di gedung ini." Sarena tidak terkejut. Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Perl

  • Gadis Persinggahan   Bab 44: Arsip yang Terlupakan

    Malam di Jakarta selalu menyimpan rahasia di balik gemerlap lampunya, namun di lantai B4 Rumah Sakit Graha Medika, kegelapan terasa lebih nyata dan purba. Tri Ananda Putri menyelinap masuk ke lift servis dengan jantung yang berdegup kencang, seirama dengan detak jarum jam yang seolah mengejar langkahnya. Ia tidak menggunakan kartu akses Direktur Medis miliknya,via tahu Sarena atau siapa pun wanita itu sebenarnya telah memasang log digital pada setiap pintu utama. Kartu yang ia pegang adalah hasil modifikasi manual Dina, kunci menuju gudang arsip fisik yang seharusnya sudah tidak disentuh selama puluhan tahun."Dina, kau masih bersamaku? Suaranya sangat buruk di sini," bisik Tri melalui mikrofon kecil yang tersembunyi di balik kerah jas putihnya."Beton di lantai B4 mengandung timbal, Tri. Sinyal radio hampir tidak bisa menembusnya. Aku hanya bisa mempertahankan akses kamera pengawas selama sepuluh menit melalui loop sistem. Setelah itu, sistem akan melaku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status