MasukUdara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Elara berjalan di lorong bagian barat istana membawa nampan perak berisikan gaun sutra, botol parfum kristal, dan satu set perhiasan yang memiliki desain senada berhiaskan batu sapphire. Semua perhiasan itu adalah milik mendiang ibunya. Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu kokoh berukiran bunga. Cukup lama dia memandangi semua perhiasan berkilau itu. Dia harus merelakan semua perhiasan milik Chinzia melekat pada orang yang tidak seharusnya. Temaram cahaya obor menyinari wajah putihnya yang terlihat lelah. Pun bekas tamparan tangan Seraphine kian membuat kemurungan di wajah Elara semakin terlihat. Pelan-pelan Elara mengetuk di hadapan yang langsung dibalas sahutan oleh Calestra yang menyuruhnya masuk.Pandangan Elara menyapu seluruh sisi ruangan yang dulu adalah kamar miliknya. Semua sudah berubah dari terakhir kali Elara menempati kamar itu. Ada kemewahan di setiap sisinya. Ruangan itu luas, berhiaskan lukisan dan perabot bernua
Jantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, berusaha mengabaikan getaran aneh itu. "Maaf, Nek. Berapa uang yang harus ku bayar tadi?" tanya Elara sembari berekspresi kikuk. Penjual sayuran di hadapannya berdeceh sembari menggeleng. Ternyata gadis muda itu tidak memperhatikan apa yang dia katakan. "Wajar jika kau terbayang-bayang raut tampan Pangeran Kaelan, Putri Elara," ucapan Berta--nama pedagang di hadapannya, seolah anak panah yang tepat mengenai sasaran. Membuat pipi Elara seketika memerah karena malu. "Aku lihat tadi pangeran Kaelan melihat ke arahmu," ucap Berta dengan raut menggoda, membuat Elara salah tingkah dibuatnya."Huh, Nenek ini bicara apa. Mana mungkin pangeran setampan dan segagah itu tertarik dengan gadis sepertiku,
Hawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya. Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal yang tidak pernah memberinya rasa aman, tawa memekakkan telinga yang mengiris hatinya, dan siksaan fisik yang menyisahkan luka. Luka-luka itu seolah membuatnya berpikir bahwa dia tidak layak untuk hidup. Elara tersungkur di bawah salah satu pohon berdaun perak, ia duduk dan memeluk kakinya yang gemetar hebat. Batang pohon berkilau itu memantulkan cahaya lembut ke wajahnya yang penuh air mata. Ia memeluk tubuhnya yang dirasa kotor oleh sentuhan Darian. Dia menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian hutan Silverwood yang selalu menjadi tempat pelarian baginya. Tak jauh dari Elara duduk, ada sebongkah batu berbentuk persegi, dikelilingi bunga-bunga kecil beraneka warna. Di bawah batu itulah
Rasa panas di pipi Elara akibat tamparan Seraphine benar-benar membuatnya merasa terhina. Perlakuan itu sangat tidak pantas karena sesungguhnya, dialah putri di kerajaan Eldoria. Bukankah ibu tiri dan saudara tiri seharusnya menghormati Elara? Mengingat keberadaan mereka di istana itu telah menggantikan posisi mendiang ibunya. Kedua manik hazel keemasannya berkaca-kaca. Itu bukan penghinaan yang pertama, tapi entah mengapa, setiap makian dan siksaan yang dia terima hari demi hari bagaikan air garam yang menyiram luka mengangga di hatinya, sangat pedih. Seolah tidak mengijinkan Elera hidup dengan tenang walau satu hari saja. Elara tidak ingin lagi melihat wajah-wajah keji di ruangan itu. Segera dia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Elara bangkit dari lantai dengan tubuh gemetar karena lapar. Merupakan pantangan bagi Elara untuk makan sebelum ayah dan keluarga tirinya makan. Itu artinya, Elara hanya boleh makan makanan sisa mereka. Elara berjalan memutari meja
"Kyaaaaa!" Suara jeritan lolos dari bibir mungil Elara saat air dingin menyentuh kulitnya. Ia terperanjat dan memeluk tubuhnya. Rasanya baru sebentar dia beristirahat dan memejamkan mata, meski dia tidak benar-benar menikmati waktu istirahatnya. "D-dingin..." lirih Elara sembari menggigil.Dinginnya air yang mengguyur tubuh Elara bukan sekadar kejutan fisik, melainkan pesan bahwa di istana Eldoria, ia tak lagi memiliki hak atas kehangatan dan kenyamanan. Sayup-sayup terdengar lonceng istana berdenting, diikuti derap suara kereta kuda masuk melewati gerbang istana. Elara tahu mereka yang datang adalah para pedagang dan perancang busana yang membawa kain-kain mewah dan perhiasan yang berkilau. Sesuatu sedang dipersiapkan, tapi apapun kemewahan yang sedang dipersiapkan tak pernah ditunjukkan untuknya. "Kenapa? Kaget?" Seraphine Valestra berdiri di depan ranjang, memegang bejana kosong dengan aura kemarahan seorang ratu yang baru saja mengeksekusi tahanan. Gadis berusia 18 tahun







