Share

5. Tawa di atas derita

Penulis: Yeny Yuliana
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-16 16:20:25

Udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Elara berjalan di lorong bagian barat istana membawa nampan perak berisikan gaun sutra, botol parfum kristal, dan satu set perhiasan yang memiliki desain senada berhiaskan batu sapphire. Semua perhiasan itu adalah milik mendiang ibunya.

Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu kokoh berukiran bunga. Cukup lama dia memandangi semua perhiasan berkilau itu. Dia harus merelakan semua perhiasan milik Chinzia melekat pada orang yang tidak seharusnya. Temaram cahaya obor menyinari wajah putihnya yang terlihat lelah. Pun bekas tamparan tangan Seraphine kian membuat kemurungan di wajah Elara semakin terlihat.

Pelan-pelan Elara mengetuk di hadapan yang langsung dibalas sahutan oleh Calestra yang menyuruhnya masuk.

Pandangan Elara menyapu seluruh sisi ruangan yang dulu adalah kamar miliknya. Semua sudah berubah dari terakhir kali Elara menempati kamar itu. Ada kemewahan di setiap sisinya. Ruangan itu luas, berhiaskan lukisan dan perabot bernuansa feminim. Gaun-gaun mahal tergantung rapi, sepatu-sepatu cantik berjajar di rak khusus yang dihiasi lapisan emas. Aroma harum menguar di setiap sudut ruangan. Berbanding terbalik dengan kamar Elara yang terletak di kuil hampir roboh di belakang istana.

Di depan dipan, tampak Calestra sedang berendam di dalam bak kayu yang dipenuhi susu dan madu. Seorang pelayan perempuan muda tampak menambahkan serbuk mutiara hingga cairan dalam bak kayu tersebut berwarna keperakan.

"Calestra, aku membawakan--" ucapan Elara terjeda saat Calestra memberi isyarat dengan telapak tangan. "Apa kau sudah lupa bagaimana seharusnya kau memberi salam padaku?"

Elara menarik napas dalam lalu menunduk hormat. "Paduka Putri Calestra, hamba datang membawakan semua keperluan yang anda butuhkan."

Calestra mengangguk, "bagus, seperti itu. Besok saat tiba di Asterion, jangan bersikap seolah-olah aku ini saudaramu. Karena aku hanya membawamu ke sana sebagai pelayanku."

"Baik, Paduka putri Calestra," jawab Elara menunduk terlalu dalam. Gadis itu berusaha menyembunyikan raut kekecewaan yang tergambar jelas di wajahnya.

"Daripada hanya berdiri mematung di situ, lebih baik kau segera mengemasi barang-barangku," perintah Calestra yang seketika itu dilaksanakan oleh Elara.

Elara bekerja dalam diam. Gadis itu mulai melipat gaun dan menyusun perhiasan ke dalam sebuah koper. Memastikan setiap benda yang di butuhkan Calestra ke Asterion tak ada yang tertinggal.

Diam-diam Calestra memperhatikan Elara dari balik cermin yang diapegang. Hati busuknya tergelitik untuk membuat Elara merasa lebih rendah dari sekedar pelayan istana.

"Besok, aku akan pergi ke Asterion untuk mengikuti sayembara," ucapnya setelah bersenandung lirih.

Elara merasa jantungnya teriris. Itu artinya, pangeran tampan yang kemarin ia lihat akan menatap bahkan mengagumi kemolekan saudara tirinya. Diliputi rasa frustasi dan pilu yang menyesakkan dada, tanpa sadar bibirnya berucap, "hamba tahu, Nona."

Calestra tersenyum miring. "Ah, ternyata kau mendengar aku bergumam." Gadis berambut blonde itu tersenyum ke arah Elara. Terlalu manis untuk disebut senyum ketulusan.

Calestra berdiri, keluar dari bak berisi susu dan madu. Dengan sigap dua pelayan yang melayaninya mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh majikan mereka. Dia berjalan mendekati Elara. Aroma parfum perpaduan mawar dan vanilla menguar dari tubuh mulusnya. Hanya mencium aroma parfumnya saja Elara merasa terintimidasi.

"Apakah kau tahu bahwa pangeran dari Asterion itu sangat ..." Calestra dengan sengaja menggantung kalimatnya untuk membuat suasana kian dramatis.

"Tampan. Aku tahu dia sangat tampan," batin Elara sembari terus bekerja dalam diam, berpura-pura merespon ucapan Calestra sedatar mungkin. Berharap gadis licik itu bosan berbicara padanya dan memilih diam.

"Tampan," sambung Calestra. "Dia sangat tampan dan gagah. Dan aku yakin, dia akan memilihku."

Semua kalimat yang keluar dari bibir Calestra tak terlepas dari nada penuh kesombongan. Dan itu kian membuat Elara merasakan denyut nyeri pada dadanya.

"Ah, begitu ya, Nona. Anda sangat cantik, pasti Pangeran Asterion akan jatuh hati begitu melihat anda." Tangan Elara bergetar saat memasukan tiara milik mendiang ibunya ke dalam kotak beludru.

"Tentu saja. Ibu berkata, sayembara itu hanya untuk formalitas. Pangeran Asterion itu membutuhkan sosok yang pantas untuk mendampinginya. Berdarah bangsawan, cantik, cerdas dan penuh keanggunan." Calestra berjongkok untuk menyamai tinggi Elara. Kedua matanya menatap tajam wajah sendu Elara sembari mencengkram dagu saudara tirinya agar tatapan keduanya bertemu. "Bukan pelayan hina sepertimu!"

Elara menahan napas sampai Calestra melepas cengkraman pada dagunya. Dia menahan diri untuk tidak menangis atas setiap kata-kata tajam Calestra yang terus melukai perasaannya.

"A-anada benar, Nona. Pelayan rendahan seperti saya sama sekali bukan tipe wanita yang diinginkan Pangeran Asterion."

Calestra tersenyum. "Tepat sekali. Bagus kalau kau tahu diri."

Elara menggigit bagian dalam pipinya cukup kuat. Dapat dia cium aroma amis tembaga dari dalam rongga mulutnya. "Rendah. Pelayan rendahan. Aku benar-benar seperti seorang pecundang sekarang," batin Elara, menyesali ucapannya yang menyebut dirinya sendiri sebagai pelayan rendahan di dalam lingkup istana milik ayahnya sendiri. Sungguh ironis.

Calestra berdiri dan meraih sebuh gaun biru tua, lalu melemparnya asal mengenai wajah Elara. "Pegang ini!"

Elara memegang gaun itu dan merabanya penuh hati-hati. Kainnya dingin dan halus. "Ini ... seperti bahan kain yang dulu sering dipakai Ibu." Ingatan Elara terlempar pada bayangan Chinzia yang selalu berpenampilan anggun dengan gaun-gaun mahal dari bahan berkualitas sangat bagus.

"Sangat bagus, bukan? Aku akan memakai gaun itu untuk menghadap Raja dan Pangeran Asterion." Calestra tersenyum miring. Dia merasa berhasil mempermainkan emosi Elara.

Elara tersenyum samar. "Gaun ini sangat cocok untuk anda pakai, Nona Calestra. Detailnya yang sedikit rumit akan menarik perhatian semua yang hadir dalam sayembara besok," ucap Elara berusaha terdengar antusias.

"Ya ... semua yang hadir dalam sayembara. Termasuk pangeran itu," Elara meringis sambil melanjutkan kalimat barusan dengan ragu. Bayangan Kaelan yang mengagumi Calestra terasa sangat menyakitkan jika menjelma menjadi realita.

"Benar. Pangeran itu akan bertekuk lutut begitu melihatku, Elara. Dan kau tahu apa yang lebih menyenangkan dari memenangkan hati Pangeran Asterion?"

Elara merespon ucapan Calestra dengan gelengan kepala.

Calestra berjalan perlahan, mendekatkan bibirnya pada telinga Elara. "Hal yang lebih menyenangkan adalah, bahwa kau akan menyaksikan semua, Elara," bisik Calestra yang seketika membuat bulu kudu Elara meremang. "Kau akan menyaksikan bagaimana pangeran Asterion meraih dan mengecup jemari tanganku."

Elara kembali mengigit pipi bagian dalamnya, kedua tangannya meremas ujung apron yang dia pakai. "Adakah pekerjaan lain yang harus hamba kerjakan, Nona?" Suara Elara terdengar pelan, berharap Calestra tak mendengar nada parau menahan tangis keluar dari bibirnya.

"Ku rasa tidak. Pergilah dan beristirahatlah. Kau akan sangat sibuk besok."

"Baik. Hamba ijin undur diri, Nona."

Elara keluar dari kamar Calestra sembari menggigit bibir bagian bawahnya. Air mata tak dapat lagi dia bendung. Ia berjalan gontai di koridor istana sembari memegangi dadanya yang dipenuhi perasaan sesak. "Besok aku akan datang dan melihat pangeran tampan itu memilih wanita idamannya. Dan pasti bukan aku wanita beruntung yang dia pilih."

Cahaya obor yang berpendar mengiringi langkah rapuh gadis itu. Entah mengapa, nasib baik seolah tak pernah sudi untuk menyentuhnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   23. Tandu menuju kehancuran

    Tubuh yang ternoda itu merasa tak layak lagi berada di istana. Dia memilih untuk tunduk terhadap perintah sang Putra Mahkota untuk turut ke medan perang. Berharap dia akan hancur di sana sebagai penebus dosa yang bahkan bukan miliknya.Aroma ramuan pahit menguar memenuhi kamar yang temaram. Di tepi ranjang, Maera masih setia menemani Elara sedari siang. Gadis pelayan itu menatap penuh iba wajah calon permaisuri yang tampak pucat. Keringat membasahi keningnya. Maera menggenggam tangan Elara yang sedingin salju, sangat kontras dengan kepala dan bagian tubuh lain yang terasa sangat panas. Maera tidak menyangka Pangeran Kaelan akan tetap membawa Elara pergi ke medan perang, meski tahu kondisi kesehatan Elara yang memburuk. Maera meletakkan baju perjalanan yang sudah ia siapkan untuk Elara di atas nakas. Berbanding dengan Kaelan yang tidak menaruh iba sedikitpun kepada calon permaisuri, Maera adalah salah satu dari manusia normal yang tidak bisa membenarkan keputusan Kaelan. Sehingga samp

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   22. Titah untuk calon permaisuri yang rapuh

    Sontak semua mata menatap pada pelaku kekerasan yang melemparkan tubuh pria berwajah tak berdosa itu. Mereka melihat dada kekar putra permata Asterion naik turun begitu cepat. Amarah terukir jelas di wajah Kaelan sehingga Ratu Aurelia segera berlari menghampiri putranya."Kaelan, apa yang kau lakukan!" Raja Arcturus berteriak. Apa yang dilakukan Kaelan benar-benar tidak sopan. "Putraku, apa yang sedang terjadi?" Aurelia bertanya dengan hati-hati sembari mengelus lengan putra pertamanya. Namun bukan jawaban yang keluar dari bibir Kaelan. Kaelan justru bergerak cepat dan menghujani Darian dengan pukulan. "Hentikan! Apa yang sudah kau lakukan terhadap putraku?" Seraphine menjerit histeris. Raja Arcturus segera memerintahkan pelayan yang semula melayani mereka di meja makan untuk memanggil para jendral istana untuk melerai Kaelan. Bukan tak mungkin Darian akan kehilangan nyawa jika mereka tidak segera bertindak memisahkan Kaelan dari pria yang sudah tak berdaya itu. "Astaga, apa yang

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   21. Kecemburuan yang beracun

    Kedua tangan Kaelan mengepal kuat saat tiba di depan pintu kamar calon permaisuri. Wajah pria itu mengetat, kedua manik abu-abu gelapnya menatap tajam pada pintu kayu berukiran bunga yang ada di hadapannya, seakan ia sudah siap untuk menghabisi orang di belakang pintu tersebut.Kaelan menekan knop pintu, namun pintu tak terbuka. "Terkunci," gumamnya dengan gigi yang rapat. Kaelan menarik napas dalam, lalu menendang pintu kamar calon permaisuri dengan kemarahan yang meluap. Pintu terlepas dari engselnya. Dapat terlihat jelas di netra abu-abu kelamnya--seorang gadis yang tadi ia tinggalkan dengan wajah ketakutan berada dalam kungkungan saudara laki-lakinya. Darian yang menyadari pintu di belakangnya terbuka segera memakai celana miliknya yang sempat ia tanggalkan. Sementara itu, Elara menoleh ke arah Kaelan dengan rasa yang sedikit lega. Dengan kehadiran Kaelan, setidaknya dapat menghentikan kekejaman Darian terhadapnya. Tapi melihat situasi dirinya saat ini, mungkinkah Kaelan dapat

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   20. Tubuhmu adalah milikku!

    Peringatan : Bab ini mengandung unsur kekerasan dan penindasan seksual. Pastikan Anda sudah berusia 18 tahun atau lebih. Setiap sentuhan kasar itu tak pernah benar-benar berlalu. Tubuh mungil gadis itu menyimpan setiap sentuhan yang mengoyak harga dirinya dengan baik. Menjadi memori yang membuatnya trauma, dan semua luka yang ia rasakan sudah mendarah daging. Pintu kamar calon permaisuri tertutup. Meredam isak tangis Elara yang tak akan terdengar oleh siapapun yang melintas. Darian mengangkat tubuh rapuh Elara dan melemparkannya dengan kasar di atas ranjang. Netra birunya berkilat penuh gairah menatap Elara yang mulai menangis gelisah di atas ranjang berkanopi itu. Darian bergerak dramatis saat melepaskan kemeja yang melekat pada tubuhnya. Senyum mengerikan dari wajahnya tak sedikitpun berkurang. Ia langsung melompat ke atas ranjang begitu tubuh bagian atasnya tak lagi tertutup sehelai benangpun. "Calon Permaisuri ... kau terlihat menawan setelah sekian lama kita tidak berjumpa,"

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   19. Tidakkah kau rindu padaku, Calon Permaisuri?

    Kaelan berpikir apa yang sedang ia lakukan adalah memperbaiki sesuatu. Ia tak sadar sedang merobek luka yang belum sempat sembuh. Pintu ruang kamar calon permaisuri terbuka perlahan, namun suara itu terdengar seperti suara denting lonceng kematian. Pagi itu, Elara berpikir bahwa Kaelan menemuinya untuk memberinya jawaban atas permintaanya kembali ke Eldoria. Elara yang sedang berbincang dengan Maera seketika berhenti berbicara. Elara yang sedang duduk di tepi ranjang menggenggam kain gaun yang menutupi lututnya saat kedua matanya menatap Kaelan yang baru saja melintas di ambang pintu. Namun, suara derap kaki yang mengikuti Kaelan membuat gadis itu menyipitkan mata. Netra hazel keemasan gadis itu terbuka lebar saat melihat dua orang yang berada di belakang Kaelan. Tanpa sepengetahuan Kaelan, Seraphine menatap Elara tajam, sarat akan kebencian. Sedangkan Darian menyeringai dan membasahi bibirnya dengan lidah. Elara reflek mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Seketika Ka

  • Gadis Pilihan Pangeran Berhati Dingin   18. Sekutu dalam kebencian

    Utusan Kerajaan Asterion tiba di Eldoria dengan iring-iringan pasukan berkuda yang membawa panji berwarna merah marun pekat bergambar kepala elang emas--simbol Kerajaan Asterion. Stempel kerajaan tertera jelas, tak ada ruang untuk penolakan. Rombongan itu seakan menegaskan bahwa keluarga Elara harus memenuhi undangan dari Asterion dengan penuh kepatuhan yang dibungkus dengan kehormatan. Calestra membaca undangan dari Asterion dengan senyum getir. Jemarinya meremas ujung surat undangan saat satu kalimat terasa seperti duri yang menancap di dadanya--Elara Wynslade, calon permaisuri Asterion. "Seharusnya namaku yang tercantum sebagai calon permaisuri Asterion," desisnya dengan rahang mengeras. Seraphine meletakkan cangkir tehnya dengan tak acuh. Bukan hal baru melihat sikap iri putri kandungnya yang tak terima dengan nasib beruntung yang diperoleh Elara. Seraphine mendidik Calestra menjadi gadis yang manja, apapun yang dia inginkan harus dia dapatkan. Tapi nahas, kali ini dia tidak bi

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status