Jantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, berusaha mengabaikan getaran aneh itu. "Maaf, Nek. Berapa uang yang harus ku bayar tadi?" tanya Elara sembari berekspresi kikuk. Penjual sayuran di hadapannya berdeceh sembari menggeleng. Ternyata gadis muda itu tidak memperhatikan apa yang dia katakan. "Wajar jika kau terbayang-bayang raut tampan Pangeran Kaelan, Putri Elara," ucapan Berta--nama pedagang di hadapannya, seolah anak panah yang tepat mengenai sasaran. Membuat pipi Elara seketika memerah karena malu. "Aku lihat tadi pangeran Kaelan melihat ke arahmu," ucap Berta dengan raut menggoda, membuat Elara salah tingkah dibuatnya."Huh, Nenek ini bicara apa. Mana mungkin pangeran setampan dan segagah itu tertarik dengan gadis sepertiku,
ปรับปรุงล่าสุด : 2025-12-16 อ่านเพิ่มเติม