MasukJantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, berusaha mengabaikan getaran aneh itu.
"Maaf, Nek. Berapa uang yang harus ku bayar tadi?" tanya Elara sembari berekspresi kikuk. Penjual sayuran di hadapannya berdeceh sembari menggeleng. Ternyata gadis muda itu tidak memperhatikan apa yang dia katakan. "Wajar jika kau terbayang-bayang raut tampan Pangeran Kaelan, Putri Elara," ucapan Berta--nama pedagang di hadapannya, seolah anak panah yang tepat mengenai sasaran. Membuat pipi Elara seketika memerah karena malu. "Aku lihat tadi pangeran Kaelan melihat ke arahmu," ucap Berta dengan raut menggoda, membuat Elara salah tingkah dibuatnya. "Huh, Nenek ini bicara apa. Mana mungkin pangeran setampan dan segagah itu tertarik dengan gadis sepertiku," sangah Elara sembari memasukkan bahan masakan yang dia beli ke dalam tas belanja. Lagi-lagi pedagang tua di hadapan Elara menggeleng. "Gadis ini bahkan tak memiliki rasa percaya diri dengan parasnya yang luar biasa cantik. Kedatangan Ratu Seraphine di istana benar-benar telah merubah Putri Elara sejauh ini," batin Berta sembari menghela napas. Berta melihat memar di wajah Elara dengan perasaan ngeri. Sangat terlihat itu adalah memar bekas pukulan. Berta tak dapat menahan lidahnya untuk tidak bertanya. "Ada apa dengan wajahmu, putri cantik? Apakah seseorang baru saja melakukan kekerasan terhadapmu?" Berta menunjuk wajah Elara, tapi alih-alih menjawab, gadis itu malah tersenyum kaku. "Aku terjatuh dan menghantam batu saat perjalanan ke pasar." Wanita tua di hadapan Elara mengangguk, namun anggukannya sangat kontras dengan hatinya yang menyangkal pengakuan Elara. "Bahkan gadis ini rela berbohong untuk menutupi apa yang dia alami di rumahnya. Mana mungkin bekas hantaman batu berbentuk jari-jari tangan seperti itu?" batin Berta sembari menatap Elara dengan tatapan semakin iba. Elara merasa dihargai setiap orang-orang di pasar Marleigh memanggil dan menyadari bahwa dirinya adalah seorang putri. Tapi saat dia melihat penampilannya dan pekerjaan kasar yang ia kerjakan membuat panggilan 'Putri' terdengar janggal baginya. "Mulai sekarang, panggil saja aku dengan namaku, Nek," jawab Elara dengan senyum penuh luka. Berta tertegun mendengar ucapan Elara. Dari banyaknya rakyat di Eldoria, tidak ada satu pun yang dapat melindungi kedaulatan Elara sebagai seorang putri raja. Nampaknya desus-desus bahwa ratu baru mereka membuat Raja Thaddeus berubah kejam memang akurat. Raja Thaddeus Wynslade yang dulu dianggap bijaksana dan penyayang bahkan tega membiarkan istri barunya memperlakukan anak kandungnya seperti pelayan. *** Langit jingga sudah berubah kelabu saat Elara melewati gerbang istana. Para penjaga yang melihat kehadiran Elara yang terlambat pulang hanya saling menatap dan menggeleng samar. Mereka tahu, Ratu Seraphine tak segan menyiksanya setelah ini. Keranjang anyam yang dia bawa terasa berat, sama halnya dengan langkahnya yang terasa berat saat masuk ke dapur istana. Dia masuk lewat pintu belakang, berharap kepulangannya yang terlambat tidak ketahuan Seraphine. "Semoga dewi keberuntungan berpihak padaku kali ini," gumam Elara lirih, pandanganya menatap waspada ruangan dapur. Langkah kaki yang mengendap-endap disadari oleh Amos yang sedang mengupas buah. Tukang masak pria itu menatap Elara khawatir, lalu bertanya, "Putri Elara, kau kemana saja?" Kekhawatiran di wajah pria berkulit gelap itu membuat Elara berpikir; antara Sherapine yang sudah masuk ke dapur untuk memastikan dirinya pulang tepat waktu dengan amarah yang meledak, atau keprihatinan para pelayan yang mengkhawatirkan keadaannya? Jantung Elara berdegup kencang. "Apa ibu sudah memeriksa ke dapur dan tidak mendapati aku pulang tepat waktu?" tanya Elara dalam hati diliputi rasa takut. Lidia yang sedang memotong sayuran segera menghampiri Elara untuk mengambil keranjang belanja. "Bukan itu, Putri Elara. Kau pulang saat hari hampir petang, kami sudah menunggumu dari tadi. Kami khawatir kalau Paduka Ratu marah padamu." Mereka bertiga berbicara setengah berbisik, dan meminta Elara segera membantu pekerjaan dapur untuk membuat posisi gadis itu aman dari amukan Sherapine. Tapi sangat di sayangkan, kedatangan Elara yang terlambat diketahui oleh Calestra yang mengintip dari balik tirai dapur. Gadis itu tersenyum licik dan mengadukan apa yang dia katahui kepada ibunya. Suara solet dan wajan yang saling beradu diiringi dengan hentakan pisau pada telanan kayu. Semua yang ada di dapur bekerja cepat, termasuk Elara. Semburat senyuman terlukis di wajahnya karena masakan untuk makan malam sebentar lagi sudah siap untuk dihidangkan. Suara tumit sepatu yang mendekat tidak terlalu membuat Elara takut. Masakan sudah siap, seharusnya tidak ada alasan Sherapine untuk memarahinya. Ternyata dugaan Elara salah. Ibu tirinya masuk dan langsung menghujani kepalanya dengan dorongan kasar menggunakan telapak jari. Para pelayan dan tukang masak berpura-pura tidak melihat. Seraphine pernah mengancam akan menyiksa siapapun yang berani menentang atau mengkritik apa yang dia lakukan di istana itu. "Apa maksud dari perlakuanmu, Ibu? Apakah aku malakukan kesalahan?" Elara memberanikan diri untuk bertanya. Seringai terbit dari wajah perempuan bertulang pipi tinggi tersebut. Jemarinya menarik rambut bagian depan Elara, dia mendekatkan wajahnya dan menatap kedua manik Elara yang berkaca-kaca dengan tatapan laser. "Kau baru saja pulang terlambat, dan itu adalah kesalahan fatal," geramnya lirih, tapi berhasil menyayat jantung Elara. "T-tapi, semua masakan sudah siap untuk dihidangkan, Bu," ucap Elara terbata, sambil menjinjitkan kaki ke atas, mengimbangi arah gerak tangan Seraphine menarik rambutnya. Gadis itu meringis menahan perih di kepala, Elara sampai menahan napas. Dan baru menghirup oksigen lagi saat Seraphine melepaskan cengkramannya pada rambut hitam kecokelatan Elara. Seraphine menautkan kedua tangannya di balik tubuh. Wanita arogan bergaun elegan itu melihat satu persatu makanan yang dituang Lidia di atas piring perak. Mata sebiru kaca wanita itu menyipit, tangannya menunjuk pada makanan hangat yang di letakan di atas meja. "Di mana daging rusa? Bukankah ayahmu berkata kalau dia ingin menyantap daging rusa panggang malam ini?" tanya sembari menunjuk ke arah masakan yang tampak lezat, namun matanya menatap Elara seakan menusuk. Elara menunduk. "Maaf, uang yang tadi aku terima tidak cukup untuk membeli daging rusa, Bu. Ibu hanya memberiku 15 koin perak. Itu hanya cukup untuk membeli sayuran dan buah. Daging rusa hari ini dihargai dua koin emas." Sherapine berdeceh dan berjalan ke arah Elara dengan menghentak. Suasana dapur istana selalu saja terasa sempit setiap Seraphine memasukinya. "Hei! Beberapa waktu lalu kau sudah menggelapkan uang dapur istana, dan aku bermurah hati untuk membiarkanmu. Seharusnya kau bisa menggunakan uang yang kau simpan secara diam-diam itu untuk membeli daging rusa!" bentak Seraphine yang membuat alis Elara bertaut seketika. "Kemarin dia memberiku 15 koin perak dan 5 koin emas. Semua koin emas yang diberi sudah ku belanjakan untuk membeli daging rusa. Kenapa dia masih saja menuduhku menggelapkan uang dapur?" batin Elara, melayangkan protes yang tak berani dia ucapkan. Elara hanya diam, menjawab ucapan Seraphine hanya akan menimbulkan perdebatan panjang yang membuatnya tampak seperti pecundang. Seraphine harus selalu benar, walau sering kali apa yang dia tuduhkan kepada Elara tak masuk akal. "Hei, gadis bodoh! Mengapa kau hanya berdiri di situ?" tanya Sherapine seraya memekik. Elara terkesiap. "Lalu, aku harus apa, Bu?" Seraphine menggeram sembari mengepalkan kedua tangannya. Namun dia teringat akan hal yang jauh lebih penting dibanding daging rusa. Wanita itu menarik napas dalam, lalu berkata,"Segera masuk ke kamar Calestra, dan siapkan semua yang dia perlukan untuk pergi ke sayembara besok!" Seketika Elara mendongak. Rasa sakit menghujam dadanya seketika itu. "Kenapa kau hanya diam? Apa kau tuli?" Sarkas Seraphine sembari bertolak pinggang. "T-tidak, Bu," jawab Elara terbata. Segera gadis berambut panjang itu berjalan menjauh dari dapur. Elara memelankan langkahnya saat melintas di koridor istana. Kedua tangan gadis itu menyentuh dadanya yang berdenyut nyeri. "Pangeran itu ... dan Calestra ..." lirih Elara dengan suara parau, air mata menggenangi kedua mata indahnya. Elara tahu, akan ada banyak putri bangsawan yang mengikuti sayembara pencarian calon permaisuri untuk Pangeran Kaelan. Tapi entah mengapa, mengingat Calestra yang sangat percaya diri akan memenangkan hati Pangeran Kaelan seakan membuatnya ingin menghilang dari dunia saat itu juga. "Untuk apa perasaan asing ini hadir? Dia bahkan sangat mustahil untuk sekedar bisa ku sentuh," rintih Elara, sembari mengusap air mata yang melintasi kedua pipinya.Udara malam terasa menusuk hingga ke tulang. Elara berjalan di lorong bagian barat istana membawa nampan perak berisikan gaun sutra, botol parfum kristal, dan satu set perhiasan yang memiliki desain senada berhiaskan batu sapphire. Semua perhiasan itu adalah milik mendiang ibunya. Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu kayu kokoh berukiran bunga. Cukup lama dia memandangi semua perhiasan berkilau itu. Dia harus merelakan semua perhiasan milik Chinzia melekat pada orang yang tidak seharusnya. Temaram cahaya obor menyinari wajah putihnya yang terlihat lelah. Pun bekas tamparan tangan Seraphine kian membuat kemurungan di wajah Elara semakin terlihat. Pelan-pelan Elara mengetuk di hadapan yang langsung dibalas sahutan oleh Calestra yang menyuruhnya masuk.Pandangan Elara menyapu seluruh sisi ruangan yang dulu adalah kamar miliknya. Semua sudah berubah dari terakhir kali Elara menempati kamar itu. Ada kemewahan di setiap sisinya. Ruangan itu luas, berhiaskan lukisan dan perabot bernua
Jantung Elara berdegup kencang. Tatapan dari mata abu-abu Pangeran Kaelan yang begitu intens menimbulkan getaran tak wajar di dalam dadanya. Elara memejamkan mata dan menarik napas untuk sesaat. "Sadar, Elara, pangeran itu sama sekali tidak melirikmu! Jangan terlalu percaya diri!" gumam Elara, berusaha mengabaikan getaran aneh itu. "Maaf, Nek. Berapa uang yang harus ku bayar tadi?" tanya Elara sembari berekspresi kikuk. Penjual sayuran di hadapannya berdeceh sembari menggeleng. Ternyata gadis muda itu tidak memperhatikan apa yang dia katakan. "Wajar jika kau terbayang-bayang raut tampan Pangeran Kaelan, Putri Elara," ucapan Berta--nama pedagang di hadapannya, seolah anak panah yang tepat mengenai sasaran. Membuat pipi Elara seketika memerah karena malu. "Aku lihat tadi pangeran Kaelan melihat ke arahmu," ucap Berta dengan raut menggoda, membuat Elara salah tingkah dibuatnya."Huh, Nenek ini bicara apa. Mana mungkin pangeran setampan dan segagah itu tertarik dengan gadis sepertiku,
Hawa dingin menampar wajah Elara saat ia berlari tanpa menoleh ke belakang. Napasnya tersengal, dadanya terasa panas, keringat dingin membasahi sekujur tubuh, dan air mata memburamkan pandangannya. Namun langkahnya tak melambat. Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin. Menjauh dari tempat tinggal yang tidak pernah memberinya rasa aman, tawa memekakkan telinga yang mengiris hatinya, dan siksaan fisik yang menyisahkan luka. Luka-luka itu seolah membuatnya berpikir bahwa dia tidak layak untuk hidup. Elara tersungkur di bawah salah satu pohon berdaun perak, ia duduk dan memeluk kakinya yang gemetar hebat. Batang pohon berkilau itu memantulkan cahaya lembut ke wajahnya yang penuh air mata. Ia memeluk tubuhnya yang dirasa kotor oleh sentuhan Darian. Dia menangis sejadi-jadinya dalam kesunyian hutan Silverwood yang selalu menjadi tempat pelarian baginya. Tak jauh dari Elara duduk, ada sebongkah batu berbentuk persegi, dikelilingi bunga-bunga kecil beraneka warna. Di bawah batu itulah
Rasa panas di pipi Elara akibat tamparan Seraphine benar-benar membuatnya merasa terhina. Perlakuan itu sangat tidak pantas karena sesungguhnya, dialah putri di kerajaan Eldoria. Bukankah ibu tiri dan saudara tiri seharusnya menghormati Elara? Mengingat keberadaan mereka di istana itu telah menggantikan posisi mendiang ibunya. Kedua manik hazel keemasannya berkaca-kaca. Itu bukan penghinaan yang pertama, tapi entah mengapa, setiap makian dan siksaan yang dia terima hari demi hari bagaikan air garam yang menyiram luka mengangga di hatinya, sangat pedih. Seolah tidak mengijinkan Elera hidup dengan tenang walau satu hari saja. Elara tidak ingin lagi melihat wajah-wajah keji di ruangan itu. Segera dia menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Elara bangkit dari lantai dengan tubuh gemetar karena lapar. Merupakan pantangan bagi Elara untuk makan sebelum ayah dan keluarga tirinya makan. Itu artinya, Elara hanya boleh makan makanan sisa mereka. Elara berjalan memutari meja
"Kyaaaaa!" Suara jeritan lolos dari bibir mungil Elara saat air dingin menyentuh kulitnya. Ia terperanjat dan memeluk tubuhnya. Rasanya baru sebentar dia beristirahat dan memejamkan mata, meski dia tidak benar-benar menikmati waktu istirahatnya. "D-dingin..." lirih Elara sembari menggigil.Dinginnya air yang mengguyur tubuh Elara bukan sekadar kejutan fisik, melainkan pesan bahwa di istana Eldoria, ia tak lagi memiliki hak atas kehangatan dan kenyamanan. Sayup-sayup terdengar lonceng istana berdenting, diikuti derap suara kereta kuda masuk melewati gerbang istana. Elara tahu mereka yang datang adalah para pedagang dan perancang busana yang membawa kain-kain mewah dan perhiasan yang berkilau. Sesuatu sedang dipersiapkan, tapi apapun kemewahan yang sedang dipersiapkan tak pernah ditunjukkan untuknya. "Kenapa? Kaget?" Seraphine Valestra berdiri di depan ranjang, memegang bejana kosong dengan aura kemarahan seorang ratu yang baru saja mengeksekusi tahanan. Gadis berusia 18 tahun







