Mag-log inAyunda Verlia Wijaya anak ke empat dari 6 bersaudara . Walau dia terlahir dari keluarga terkaya yaitu Tuan Fahrid wijaya dan Nyonya Fayra . Walau status nya terpandang namun nasib gadis ini tidak sebaik saudara saudari . Ay memiliki wajah cantik , polos , putih, mancung, tinggi badan ideal dan juga cerdas. Namun kedua orang tua nya tidak pernah menyayangi bahkan saat Ay masih bayi baru lahir Nyonya Fay tidak memberikan nya Asi pertama . Ay minum Susu formula . Yg mengasuh dan mengurus Ay yaitu Bibi Nela yg selalu senantiasa menjaga merawat nya. Namun hingga suatu saat kedua orang tua Ayunda akan menyesal karena tidak pernah sama sekali melihat tumbuh kembang dari putri ke 2 nya sampai dia remaja . Ay sudah tidak tinggal di kediaman Tn Fahrid . Sampai akan ada rahasia yg akan terbongkar dan saudara saudari ay sangat membenci saydari ke tiga mereka .
view moreSatu ketukan lagi, dan Dimas mulai ragu apakah dia salah alamat.
Papan kecil bertuliskan “KOS KOSONG” jelas terpampang di pagar depan sebuah rumah dua lantai, karena itu dia datang ke sini—malam-malam, dengan koper dan ransel, berharap menemukan tempat tinggal baru secepatnya. Kamar kos yang dia tempati sebelumnya cukup memberatkan kantong. Sedangkan pesangon PHK dari perusahaan teknologi yang memberhentikannya setahun lalu sudah mulai menipis. Dimas sadar dia harus pindah ke kosan yang lebih sederhana. Tok! Tok! Tok! Tok! Tok! Sejenak, Dimas menunduk, memastikan ia tidak salah rumah. Tetapi tidak. Ini benar—nomornya sesuai. Namun baru saja dia hendak mengetuk sekali lagi, suara samar dari balik jendela membuat tubuhnya menegang. Suara decakkan bersahutan dengan deru napas yang terengah. “Aahh!” lenguhan itu terdengar mengacaukan pikiran. Suara-suara sensual itu tak ayal membuat jantung dan tubuh Dimas bergetar. Dimas meneguk saliva. Kakinya yang kini berdiri di luar jendela ruang tamu rumah pemilik kos kini terasa sedikit limbung. Di balik jendela yang tak tertutup sempurna itu—di dalam ruang tamu, tampak seorang wanita yang sedang memunggungi Dimas, duduk nyaman di sofa yang menempel dengan jendela. Layar ponselnya terpampang jelas tengah memperlihatkan adegan demi adegan dewasa hingga Dimas yang berdiri di luar dapat melihatnya. Mengenyahkan gugup, Dimas mengerjap sekilas. Kepalan tangannya kembali menjangkau daun pintu. Tok. Tok. Tok. "Permisi?" Namun suara Dimas tampaknya masih belum cukup kuat untuk mengalahkan desahan-desahan sensual dari ponsel di tangan wanita itu. Lalu, sepasang mata Dimas melebar ketika menemukan tangan wanita itu mulai menjamah dirinya sendiri, memeluk lengan, lalu mulai meraba, menyusup ke area di antara kedua pahanya. Pikiran Dimas seketika berkabut. Bukan mustahil dirinya akan ikut tenggelam dalam dorongan yang sama bila dia berlama-lama di sini. “Permisi?” Dimas mengeraskan suara. Barulah wanita itu tersentak dan mematikan ponsel. “Sebentar…” Suara perempuan itu terdengar lebih dekat, dan Dimas segera menegakkan tubuh. Pintu terbuka perlahan, menampilkan sosok yang membuatnya hampir kehilangan kata. Dimas terpaku. Ini… tidak mungkin. Darahnya seakan surut ke bawah. Pikirannya mendadak kosong selama beberapa detik. “Kak Karina?” mulut Dimas bergumam pelan. Tak berniat memanggil, namun nama itu meluncur secara refleks. Mana mungkin dia melupakan wajah yang dulu tak pernah gagal membuat dadanya berdebar? Membuat matanya kerap mencari, dan membuat telinganya menyimak penuh setiap kalimat yang keluar dari mulut wanita ini? Kak Karina. Guru privatnya saat SMA. Wanita yang dulu dia kagumi diam-diam. Wanita berwajah cantik, dengan kemolekan tubuhnya yang membuat Dimas kerap meneguk ludah. Sampai akhirnya … dulu, muncul satu hari berbahaya ketika tak ada orang di rumah, Dimas yang saat itu masih SMA, tak mampu melawan desakan dalam dirinya. Hingga, sebuah kecupan singkat mendarat mulus di bibir wanita itu. Wanita yang seharusnya dia hormati. Dan setelah itu, semuanya berantakan. Tak ada lagi hari-hari belajar bersama Karina. Tak ada lagi sesi belajar mendebarkan di sebelah wanita anggun yang membuatnya berdebar. Karina berhenti mengajar, tak lagi menerima murid mana pun, tepat setelah kejadian itu. “Kamu ….” Suara Karina yang terperangah dengan tangan menutup mulut seketika menyadarkan Dimas, membawa pikirannya kembali ke momen saat ini. Namun detik berikutnya, Dimas tersadar dan membelalak. Darahnya berdesir seiring jantungnya menghentak keras. Matanya memindai penampilan Karina yang kini terlihat terlalu … Terbuka. Gaun malam tipis itu hanya menutup tubuhnya sebatas paha, memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus bak porselen. Bahan gaun yang tampak licin itu jatuh dan membentuk lekuk tubuhnya yang meliuk sempurna. Seakan tak cukup, gundukan bulat yang berhimpitan di area dada wanita itu membuat Dimas hampir lupa caranya bernapas. Tanpa sadar, tangan Dimas mengeratkan genggamannya pada gagang koper kabin yang diseretnya. Lama tak bertemu wanita yang pernah membuatnya berdebar, sekarang jantungnya harus menghadapi godaan sebegini dahsyat? “Ada perlu apa?” suara Karina sedikit bergetar. Wajahnya yang sedikit memerah berpaling gelisah ke arah lain. Tangannya mengusap lengan dengan gerakan kaku. Dimas berdehem kecil. Dia memperbaiki posisi tali ransel besar yang dia pakai. “Saya baca tulisan di depan, ada kamar kos kosong di sini. Kalau boleh, saya berniat untuk pindah malam ini.” Karina mengerjap setelah terdiam beberapa saat. “Tunggu sebentar. Saya ambil kunci.” Setelah kalimat itu, Karina berbalik, masuk ke dalam rumah dan meninggalkan Dimas yang kini sibuk menenangkan jantungnya sendiri. Tangannya menarik rambut ke belakang. Napasnya dihembuskan panjang. Apa dia akan benar-benar tinggal di kosan dengan Karina sebagai pemilik kosnya? Karina, wanita yang dulu—bahkan hingga kini, pesonanya membuat irama jantungnya berderap kencang. Dan Karina, yang baru saja dia lihat sedang menjamah dirinya sendiri … sambil menonton video dewasa? Dimas tak tahu ini keberuntungan atau justru … petaka. Setelah Karina keluar dengan membawa kunci, wanita itu memimpin Dimas melewati sebuah tangga besi melingkar yang berada di depan teras. Tangga itu langsung menuju teras balkon lantai dua. Ada tiga kamar yang disewakan, semuanya berada di lantai dua dengan posisi berderetan. Karina membuka kunci, lalu melangkah masuk ke dalam kamar dan menyalakan saklar lampu. Wanita lalu berjalan di sekitar kamar, “Kami sudah sediakan kasur single, satu lemari pakaian, satu meja kerja, satu bantal, satu kipas angin. Nggak ada AC. Kamar mandi, dapur, kulkas, jemuran dan ruang cuci jemur, dipakai bersama-sama. Kebersihan tanggung jawab bersama. Jika membawa alat elektronik tambahan, tolong infokan ke saya.” Karina memutar bahu, menatap Dimas dengan alis terangkat. “Kalau mau merokok silakan di balkon, sudah disediakan asbak di sana. Untuk peraturan, yang paling utama selain dilarang membuat kebisingan ….” Karina terdiam, mengambil jeda sesaat. “Adalah nggak boleh membawa masuk perempuan.” ucap Karina tegas. Sebuah pikiran gila melintas dalam benak Dimas. Bagaimana jika perempuan yang dia inginkan justru sudah berada di dalam? Detik itu, hampir Dimas menampar wajahnya sendiri. Betapa godaaan Karina sanggup mengacaukan akal sehatnya.Bos Delvan : Ayunda , kamu yakin bisa menghabiskan makanan sebanyak itu ?Ay : Yakin dong boss mumpung lagi gratis kapan lagi coba makan makanan di Restoran ini . (Wajah senang) Eitsss tunggu dulu apa boss ga mampu bayar ya ? Kan bos orka masa saya baru pesan segitu bos ga mau mampu bayar , boss bisa jual perusahaan atau itu jam tangan bos pasti mahal ya? Sini boss saya jual jam tangan bos yg limited edition pasti banyak yg tertarik dan harga nya fantastiBoss Delvan : haa..(melotot) apa kamu bilang saya gak mampu bayar .. Restoran ini detik ini juga bisa saya beli . Masih ada perempuan kek kamu yg gak malu dan gengsian biasanya wanita kalau dekat saya pasti jaga image tata bahasa nya lah kamu gak . Pantesan laki laki ga ada yg mau sama kamu .Ay : Cihh selow dong boss kalau boss mampu ya udah sih gak usah ngegas . Untuk apa saya gengsi dan malu makan apa lagi dekat pria , perlu isi tenaga boss untuk menjalankan aktivitas . Lah kalau ada rezeki itu g
Setelah mendengarkan semua penjelasan bibi Nela , Nyonya Fay terkejut dan menangis lalu nyonya Fay berlari ke kamar putri ke 2 nya .Ceklek.. suara pintuDilihat nya semua memang semua masih baru tidak pernah dipakai sekali pun .Nyonya Fay : Ya Tuhan sungguh aku ibu yg jahat aku membeda bedakan putri ku sendiri . Setelah 2 jam menangis akhirnya Nyonya Fay tertidur.Tuan Fahrid : Ma.. Papa pulang Tn Fahrid mencari tidak ada dan dia melihat kamar putri ke 2 nya terbuka . Alangkah terkejutnya Tn Fahrid melihat istrinya tertidur dalam keadaan menangis . Tuan Fahrid juga melihat di sekitar kamar putrinya masih terlihat semua barang barang yg ada di dalam kamar itu bersih baru tidak pernah dipakai atau untuk tidur saja tidak pernah karena kelamaan ber argumen dengan pikirannya Tn Fahrid tertidur di samping istrinyaNyonya Fay bangun dan melihat suami nya di samping nya sedang tidur terkejut . Dan membangunkan suami ny
Pagi ini Ay sudah bersiap - siap untuk berangkat ke kampus . Namun disaat Ay menunggu bus di Halte Setia Makmur , sahabat sahabat Ay melihat Ay sedang menunggu bus dan mereka mengajak Ay untuk berangkat bersama namun Ay menolak karena tidak pantas berada dalam satu mobil dengan anak konglomerat , pengusaha dll , meskipun Ay sebenarnya anak orang kaya namun ia tidak memakai nama kebesaran sang ayah .Geandra : Ay yukk masuk berangkat sama sama ke kampus nyaAyunda : Makasih Ge , Ay nunggu bus aja . Kalian berangkat aja duluanLayna : Masuk saja napa Ay , kita semua kan sahabat luh kenapa luh merasa ga enakan , gak pantas. Kami semua berteman sama luh gak mandang status , fisik soo santai aja kali..Irla : Iya Ay yg dikatakan Layna , Gea tuh benar yukk (sambil menarik tangan Ay )Mau nggak mau akhirnya Ay masuk dan berangkat bersama sahabat nya.Crala : Aduhh...aduhh... kok cewek miskin , kampungan selalu di
Ay sudah sampai di tempat pengiriman barang . Karena jarak dari rumahnya ke tempat pengirim barang tidak jauh , Ay mengeluarkan kado yg akan di kirim ke kediaman Tuan Fahrid . Proses pengirim barang Ay hanya menunggu 5 menit setelah itu kado yg akan Ay kirim untuk sang mama akan sampai paling lama 6 jam . Setelah kurir nya sudah pergi Ay juga pulang kerumah karena hari ini Ay libur kerja. Sesampai di rumah Ay langsung memasak untuk diri nya sendiri. Ay membuka buku dan mengerjakan tugas kuliah nya yg akan dikumpulkan besok pagi , setelah selesai Ay melihat ada notifikasi dari kurir tempat ia mengirim kado , bahwa pengiriman sudah sampai . Ay merasa senang bahwa kado nya sudah sampai ke tempat tujuan kerumah Tuan Fahrid . Sementara di kediaman Tn FahridNyonya Fayrah sudah menerima kado , dari seorang misterius menurut Nyonya Fay karena tidak ada nama pengiriman . Disitu ada papa Ay beserta saudara saudara Ay yg sedang merayakan acara ulang tahun Nyonya Fay khusus di keluarga mere
Ayunda Verlia Wijaya si gadis cantik yg berusia 17 tahun . Tumbuh menjadi gadis cantik, memiliki sifat yg terpuji yaitu : Ramah , sopan dan tidak sombong berbeda dengan kakak perempuan nya yang bernama Keyna Wijaya yang memiliki sifat sombong , selalu merendahkan orang lain , da
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.