Share

OPERASI MILITER KECIL

Penulis: Azeela Danastri
last update Tanggal publikasi: 2026-07-16 00:27:24

Clarissa menelan ludah. 'Syndicate?' Kata itu terdengar seperti sesuatu yang hanya ada di film aksi, bukan di dunia nyata tempat ia praktik kedokteran. "Lalu kenapa aku? Kenapa harus aku?"

William terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia boleh membocorkan informasi lebih lanjut. "Tuan Adrian akan menjelaskannya sendiri. Yang perlu Anda tahu, simbol yang ada di amplop itu adalah tanda bahwa mereka tidak hanya ingin membunuh Tuan Adrian, tetapi juga melenyapkan siapa pun yang memiliki informasi atau interaksi langsung dengannya. Dan karena Anda adalah orang yang menyelamatkan nyawanya, Anda adalah saksi kunci sekaligus target."

Saat mobil melambat di tikungan tajam menuju kawasan pelabuhan yang terbengkalai, suasana di luar berubah drastis. Tidak ada lagi lampu jalan yang terang. Hanya kegelapan dan siluet kontainer besar yang menumpuk seperti benteng raksasa.

DOR!

Sebuah peluru menghantam kap belakang mobil, menciptakan percikan api yang menyilaukan.

"Sial! Mereka mengikuti kita!" umpat Gavin sambil membanting setir ke kanan, masuk ke celah sempit di antara dua tumpukan kontainer.

Aksi kejar-kejaran itu berubah menjadi perang taktis. Dari arah belakang, dua mobil sedan berwarna gelap menyusul dengan kecepatan tinggi. Pria-pria bersenjata muncul dari jendela mobil, melepaskan rentetan tembakan ke arah SUV mereka. Clarissa refleks menunduk, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri.

"Tetap tenang, Dokter!" seru salah satu pengawal yang duduk di samping Clarissa. Pria itu membuka jendela dan melepaskan tembakan balasan dengan akurasi yang menakutkan.

Clarissa melihat bagaimana profesionalnya mereka. Ini bukan sekadar perkelahian jalanan; ini adalah operasi militer kecil. Ia mulai memahami kenapa Adrian bisa selamat dari luka separah itu—dia dikelilingi oleh orang-orang yang siap mati untuknya.

'Apa yang sebenarnya sedang aku hadapi?' pikir Clarissa. Rasa takut perlahan mulai bercampur dengan rasa penasaran yang mendalam. Ia adalah seorang dokter yang terbiasa menangani trauma fisik, tapi sekarang ia sedang menghadapi trauma eksistensial yang nyata.

"Kita harus memutus pengejaran mereka!" teriak Gavin. Ia tiba-tiba memutar balik mobil di tengah jalanan sempit, menabrak barikade kayu yang menghalangi jalan masuk menuju gudang tua yang tersembunyi.

Mobil berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Debu beterbangan di udara. William segera membuka pintu dan menarik tangan Clarissa untuk segera keluar dari mobil.

"Lari! Ke dalam gudang itu!" perintah William.

Mereka berlari melintasi area terbuka. Tembakan masih terdengar, menghantam beton di sekitar mereka. Clarissa berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal-sengal. Ia bisa merasakan adrenalin memompa darahnya dengan kecepatan yang belum pernah ia alami sebelumnya.

Sesampainya di dalam gudang yang remang-remang, mereka disambut oleh beberapa pria yang telah berjaga. Suasana di dalam sini jauh lebih dingin, penuh dengan layar monitor yang menampilkan berbagai sudut kota dan area pelabuhan.

Dan di tengah ruangan, di atas ranjang medis yang dilengkapi dengan peralatan canggih, duduk seorang pria dengan perban di dadanya. Adrian Alistair.

Dia terlihat jauh lebih baik daripada tadi malam, meski wajahnya masih pucat. Matanya yang tajam tertuju langsung pada pintu masuk, tepat ke arah Clarissa yang berdiri dengan napas memburu dan jas putih yang kini penuh debu.

Adrian memberi isyarat dengan tangannya agar pengawalnya mundur. Ia menatap Clarissa dalam diam, sebuah tatapan yang penuh dengan perhitungan dan sesuatu yang lain—sesuatu yang membuat Clarissa merasa tidak nyaman.

"Kau datang." Suara Adrian terdengar parau namun berwibawa.

Clarissa menarik napas dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya. "Kau bilang mereka akan datang. Dan mereka memang datang, Adrian. Rumah sakitku... orang-orang tidak bersalah yang ada di sana...."

"Aku tahu," potong Adrian dengan cepat. Ia turun dari ranjang dengan susah payah, namun menolak bantuan siapa pun. Ia berdiri tegak, meski Clarissa tahu lukanya masih sangat dalam. "Dan aku berjanji padamu, tidak akan ada lagi orang yang terluka karena mereka mengejarku. Tapi untuk itu, kau harus tetap berada di sini."

Clarissa menatap pria itu, pria yang telah menghancurkan kehidupan normalnya dalam kurang dari dua puluh empat jam. "Kenapa aku harus percaya padamu?"

Adrian melangkah mendekat, menghentikan langkahnya hanya beberapa senti di depan Clarissa. Tinggi pria itu membuatnya harus menatap dari atas, dan untuk pertama kalinya, Clarissa melihat luka di balik mata Adrian—sebuah luka yang jauh lebih dalam dari apa pun yang pernah ia jahit.

"Karena satu-satunya alasan kau masih bernapas sekarang adalah karena aku telah menempatkanmu di bawah perlindunganku," jawab Adrian pelan. "Dan karena, Clarissa Adelyn... kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tahu persis apa yang ada di dalam dadaku."

Kata-kata itu tergantung di udara, membuat Clarissa terpaku. Ia sadar, ini bukan sekadar tentang nyawa. Ini tentang rahasia yang ia temukan saat melakukan operasi semalam. Rahasia yang mungkin menjadi alasan mengapa ia kini berada di tengah pelabuhan yang sepi ini, di bawah todongan senjata dari musuh yang bahkan tidak ia mengerti.

"Mari kita mulai pembicaraan yang sebenarnya," lanjut Adrian, menoleh ke arah William yang mengangguk mengerti.

Pintu gudang tertutup rapat, mengunci mereka di dalam dunia yang gelap, di mana masa lalu mulai menuntut balas.

Adrian melangkah mundur, membiarkan Clarissa beradaptasi dengan atmosfer ruangan yang kini terasa sesak oleh aura otoritasnya. Clarissa terdiam, matanya menatap tajam ke arah Adrian, namun pikirannya justru terlempar kembali ke ruang operasi kliniknya semalam. Ingatan itu datang seperti banjir—bau antiseptik yang bercampur dengan aroma anyir darah yang begitu pekat, suara mesin monitor yang berdenting tidak beraturan, dan perjuangannya menembus lapisan otot dada pria di depannya ini.

​"Kau masih memikirkannya, bukan?" suara Adrian memecah lamunan Clarissa. Pria itu tampaknya bisa membaca setiap ekspresi yang melintas di wajah sang dokter. "Kau memikirkan apa yang kau temukan di dalam sana, tepat sebelum kau menutup jahitan terakhir."

​Clarissa meremas jemarinya sendiri. Ia ingat betul sensasi dingin logam di ujung jarinya saat ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan tangannya yang gemetar. Saat itu, ia tidak hanya sedang mengeluarkan peluru.

​Kilas Balik: Ruang Operasi, Pukul 02.00 Dini Hari.

​Clarissa bekerja dengan presisi seorang ahli bedah papan atas. Keringat menetes dari pelipisnya, namun fokusnya tidak goyah. "Ambilkan klem arteri!" perintahnya pada Siska, perawat yang setia menemaninya.

​Saat ia menyingkap jaringan otot yang robek, matanya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana. Bukan hanya peluru kaliber besar yang bersarang di antara tulang rusuk, tapi sebuah implan kecil—berukuran tidak lebih dari satu sentimeter—yang tertanam secara artifisial di dekat jantung Adrian. Implan itu bercahaya redup, seolah memiliki sumber energi sendiri yang terhubung langsung dengan sistem saraf utama pria itu.

​Clarissa sempat membeku selama dua detik—waktu yang terasa seperti satu jam di ruang operasi. Jika ia menyentuh benda itu dengan cara yang salah, jantung Adrian bisa berhenti seketika. Jika ia membiarkannya, pria itu akan terus berada dalam bahaya. Dengan pertimbangan yang sangat cepat, ia memutuskan untuk mengambil benda itu menggunakan pinset khusus, menyimpannya di wadah steril, dan segera menuntaskan operasi sebelum Adrian kehilangan terlalu banyak darah.

​Benda itu... sebuah microchip dengan simbol yang sama persis dengan yang ada di kartu ancaman tadi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Potongan yang Hilang

    Kenangan terus berlanjut, ledakan besar mengguncang bangunan.Brak!Sebagian langit-langit runtuh tepat di belakang perempuan yang menggendong Aqeela.Ia nyaris terjatuh. Namun tetap melindungi tubuh kecil itu dengan kedua lengannya."Lari ke pintu belakang!" teriak seorang pria dari kejauhan.Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup asap. Hanya bayangannya yang tampak samar.Perempuan itu mengangguk. Namun baru beberapa langkah...Dor!Suara tembakan memecah malam.Tubuh perempuan itu tersentak.Aqeela merasakan cairan hangat menetes mengenai pipinya. "Ibu..."Perempuan itu masih tersenyum. Senyum yang dipaksakan. "Tidak apa-apa. Kita hampir sampai."Padahal darah terus mengalir dari punggungnya. Ia tertembak. Namun tetap memeluk putrinya seerat mungkin.Di lorong Elysium...Clarissa tiba-tiba menjerit. "Tidak!" Suara itu menggema hingga memantul ke seluruh koridor.William dan Gavin saling berpandangan cemas.Nathan hanya mampu menundukkan kepala.Ia tahu...bagian paling menyak

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Koridor Observasi

    Suara roda-roda baja bergesekan memenuhi lorong sempit.Grrrkk...Pintu bundar perlahan bergeser, memperlihatkan celah gelap yang dipenuhi embusan udara dingin dari dalam. Aroma antiseptik yang tajam langsung menyergap penciuman Clarissa, bercampur dengan bau logam dan sesuatu yang telah lama terkurung.Tak seorang pun bergerak.Moncong senjata Gavin dan dua anggota tim lainnya telah terangkat, mengarah tepat ke celah pintu yang semakin lebar.Adrian berdiri setengah langkah di depan Clarissa, menjadi tameng tanpa perlu diminta. Satu tangannya menggenggam pistol, sementara tangan satunya sedikit terbuka ke samping, seolah memberi isyarat agar Clarissa tetap berada di belakangnya."Jangan terlalu dekat," ucapnya tanpa menoleh.Clarissa ingin membantah, tetapi urung. Dari nada suara Adrian, ia tahu pria itu sedang benar-benar waspada.Begitu pintu terbuka sekitar satu meter, suasana kembali sunyi. Tidak ada seorang pun keluar.Hanya lorong panjang yang diterangi lampu putih redup."Loro

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Hitungan Mundur

    Suasana kembali hening. Clarissa merasakan tenggorokannya mengering. Ia mencoba menyusun semua informasi yang didengarnya sejak beberapa hari terakhir.Microchip.The Shadow Syndicate.Rumah perlindungan.Aqeela.Kini Elysium.Semakin banyak jawaban yang muncul, semakin banyak pula pertanyaan baru yang lahir."Apa hubungannya denganku?"Nathan menoleh kepadanya. "Kau berbeda.""Dalam hal apa?""Kau satu-satunya anak...yang tetap bertahan. Kau tidak pernah kehilangan kesadaran selama proses itu."Clarissa mengernyit. "Proses apa?"Nathan tampak hendak menjawab.Namun tiba-tiba layar utama berkedip sendiri.Semua monitor mati selama beberapa detik.Lalu menyala kembali.Kali ini bukan denah bunker yang muncul. Melainkan rekaman kamera keamanan.Seorang pria bertopeng hitam kembali terlihat. Namun kali ini ia tidak berada di sektor arsip.Ia berdiri di lorong yang sangat dikenali Nathan.Wajah pria tua itu langsung kehilangan warna. "Tidak...bukan itu..."William menatap layar. "Dia di m

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Gelombang Kejut

    Angka pada layar terus bergerak.09:56...09:55...09:54...Suara alarm kini tidak lagi memekakkan telinga. Justru bunyi pendek yang berulang setiap satu detik terasa jauh lebih mengganggu, seolah sengaja menghitung sisa waktu yang dimiliki seluruh penghuni bunker.Semua orang terpaku menatap monitor.Tidak ada yang benar-benar memahami apa arti hitung mundur itu.Namun dari wajah Adrian dan William, Clarissa tahu sesuatu yang buruk sedang terjadi."Adrian." Suaranya pelan, tetapi cukup membuat pria itu menoleh. "Apa yang akan terjadi kalau waktunya habis?"Adrian tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada layar besar di ruang kendali. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya perlahan mengepal."Aku belum tahu.""Kau bohong."Clarissa mengenalnya belum lama, tetapi cukup untuk mengetahui kapan pria itu sedang menyembunyikan sesuatu."Kau tahu."Hening beberapa saat.William akhirnya mengembuskan napas panjang."Tuan…."Adrian memejamkan mata sesaat. "Lima belas tahun lalu..

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Arsip Elysium

    Belum sempat mereka bergerak—DUM!Seluruh bunker bergetar. Debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit.Disusul ledakan kedua yang jauh lebih keras.DUAARR!Lampu merah bergoyang hebat. Beberapa panel listrik meledak mengeluarkan percikan api."Apa itu?" tanya Clarissa.Gavin yang baru saja tiba menjawab cepat. "Mereka meledakkan pintu blast di sektor barat. Mereka membawa peledak militer.""Itu tidak mungkin." William menggeleng. "Pintu itu mampu menahan ledakan tank.""Kalau bisa jebol...." Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Semua orang sudah memahami artinya. Musuh kali ini datang dengan persiapan matang.Koridor medis bunker berubah menjadi ruang gawat darurat darurat.Dua anggota keamanan sudah terbaring di atas brankar.Salah satunya mengalami luka tembak di bahu yang lain terkena serpihan logam di bagian perut.Clarissa langsung bekerja tanpa membuang waktu."Tekanan darah?""Sembilan puluh per enam puluh.""Nadi?""Seratus dua puluh.""Siapkan cairan infus. Dan peralatan oper

  • Gadis yang Dicari Presdir adalah Aku   Serangan Dalam Banker

    Pintu ruang kendali kembali terbuka.Gavin masuk dengan pakaian lapangan yang masih basah oleh hujan semalam.Di tangannya terdapat sebuah kotak logam kecil."Kami menemukan ini." Ia meletakkannya di atas meja.William membuka penutupnya perlahan.Di dalamnya terdapat beberapa pecahan logam berwarna kehitaman.Clarissa langsung mengenalinya. "Peluru.""Ya." Gavin mengangguk. "Peluru sniper yang semalam ditembakkan ke arah gereja."Clarissa mengambil salah satunya menggunakan pinset.Bentuk proyektil itu tampak berbeda dari peluru biasa.Permukaannya memiliki guratan-guratan tipis yang sengaja dibuat melingkar."Aneh....""Apa?""Inti pelurunya berongga." William ikut mendekat. "Artinya?" Clarissa memutar peluru itu di bawah cahaya lampu. "Peluru seperti ini biasanya dimodifikasi.""Untuk apa?""Bukan hanya membunuh." Ia menarik napas pelan. "Tetapi mengantarkan sesuatu ke dalam tubuh korban."Raut wajah Gavin

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status