เข้าสู่ระบบClarissa menelan ludah. 'Syndicate?' Kata itu terdengar seperti sesuatu yang hanya ada di film aksi, bukan di dunia nyata tempat ia praktik kedokteran. "Lalu kenapa aku? Kenapa harus aku?"
William terdiam sejenak, seolah sedang mempertimbangkan apakah ia boleh membocorkan informasi lebih lanjut. "Tuan Adrian akan menjelaskannya sendiri. Yang perlu Anda tahu, simbol yang ada di amplop itu adalah tanda bahwa mereka tidak hanya ingin membunuh Tuan Adrian, tetapi juga melenyapkan siapa pun yang memiliki informasi atau interaksi langsung dengannya. Dan karena Anda adalah orang yang menyelamatkan nyawanya, Anda adalah saksi kunci sekaligus target." Saat mobil melambat di tikungan tajam menuju kawasan pelabuhan yang terbengkalai, suasana di luar berubah drastis. Tidak ada lagi lampu jalan yang terang. Hanya kegelapan dan siluet kontainer besar yang menumpuk seperti benteng raksasa. DOR! Sebuah peluru menghantam kap belakang mobil, menciptakan percikan api yang menyilaukan. "Sial! Mereka mengikuti kita!" umpat Gavin sambil membanting setir ke kanan, masuk ke celah sempit di antara dua tumpukan kontainer. Aksi kejar-kejaran itu berubah menjadi perang taktis. Dari arah belakang, dua mobil sedan berwarna gelap menyusul dengan kecepatan tinggi. Pria-pria bersenjata muncul dari jendela mobil, melepaskan rentetan tembakan ke arah SUV mereka. Clarissa refleks menunduk, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa mendengarnya di telinganya sendiri. "Tetap tenang, Dokter!" seru salah satu pengawal yang duduk di samping Clarissa. Pria itu membuka jendela dan melepaskan tembakan balasan dengan akurasi yang menakutkan. Clarissa melihat bagaimana profesionalnya mereka. Ini bukan sekadar perkelahian jalanan; ini adalah operasi militer kecil. Ia mulai memahami kenapa Adrian bisa selamat dari luka separah itu—dia dikelilingi oleh orang-orang yang siap mati untuknya. 'Apa yang sebenarnya sedang aku hadapi?' pikir Clarissa. Rasa takut perlahan mulai bercampur dengan rasa penasaran yang mendalam. Ia adalah seorang dokter yang terbiasa menangani trauma fisik, tapi sekarang ia sedang menghadapi trauma eksistensial yang nyata. "Kita harus memutus pengejaran mereka!" teriak Gavin. Ia tiba-tiba memutar balik mobil di tengah jalanan sempit, menabrak barikade kayu yang menghalangi jalan masuk menuju gudang tua yang tersembunyi. Mobil berhenti dengan decitan ban yang memekakkan telinga. Debu beterbangan di udara. William segera membuka pintu dan menarik tangan Clarissa untuk segera keluar dari mobil. "Lari! Ke dalam gudang itu!" perintah William. Mereka berlari melintasi area terbuka. Tembakan masih terdengar, menghantam beton di sekitar mereka. Clarissa berlari sekuat tenaga, napasnya tersengal-sengal. Ia bisa merasakan adrenalin memompa darahnya dengan kecepatan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Sesampainya di dalam gudang yang remang-remang, mereka disambut oleh beberapa pria yang telah berjaga. Suasana di dalam sini jauh lebih dingin, penuh dengan layar monitor yang menampilkan berbagai sudut kota dan area pelabuhan. Dan di tengah ruangan, di atas ranjang medis yang dilengkapi dengan peralatan canggih, duduk seorang pria dengan perban di dadanya. Adrian Alistair. Dia terlihat jauh lebih baik daripada tadi malam, meski wajahnya masih pucat. Matanya yang tajam tertuju langsung pada pintu masuk, tepat ke arah Clarissa yang berdiri dengan napas memburu dan jas putih yang kini penuh debu. Adrian memberi isyarat dengan tangannya agar pengawalnya mundur. Ia menatap Clarissa dalam diam, sebuah tatapan yang penuh dengan perhitungan dan sesuatu yang lain—sesuatu yang membuat Clarissa merasa tidak nyaman. "Kau datang." Suara Adrian terdengar parau namun berwibawa. Clarissa menarik napas dalam, mencoba menormalkan detak jantungnya. "Kau bilang mereka akan datang. Dan mereka memang datang, Adrian. Rumah sakitku... orang-orang tidak bersalah yang ada di sana...." "Aku tahu," potong Adrian dengan cepat. Ia turun dari ranjang dengan susah payah, namun menolak bantuan siapa pun. Ia berdiri tegak, meski Clarissa tahu lukanya masih sangat dalam. "Dan aku berjanji padamu, tidak akan ada lagi orang yang terluka karena mereka mengejarku. Tapi untuk itu, kau harus tetap berada di sini." Clarissa menatap pria itu, pria yang telah menghancurkan kehidupan normalnya dalam kurang dari dua puluh empat jam. "Kenapa aku harus percaya padamu?" Adrian melangkah mendekat, menghentikan langkahnya hanya beberapa senti di depan Clarissa. Tinggi pria itu membuatnya harus menatap dari atas, dan untuk pertama kalinya, Clarissa melihat luka di balik mata Adrian—sebuah luka yang jauh lebih dalam dari apa pun yang pernah ia jahit. "Karena satu-satunya alasan kau masih bernapas sekarang adalah karena aku telah menempatkanmu di bawah perlindunganku," jawab Adrian pelan. "Dan karena, Clarissa Adelyn... kau adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tahu persis apa yang ada di dalam dadaku." Kata-kata itu tergantung di udara, membuat Clarissa terpaku. Ia sadar, ini bukan sekadar tentang nyawa. Ini tentang rahasia yang ia temukan saat melakukan operasi semalam. Rahasia yang mungkin menjadi alasan mengapa ia kini berada di tengah pelabuhan yang sepi ini, di bawah todongan senjata dari musuh yang bahkan tidak ia mengerti. "Mari kita mulai pembicaraan yang sebenarnya," lanjut Adrian, menoleh ke arah William yang mengangguk mengerti. Pintu gudang tertutup rapat, mengunci mereka di dalam dunia yang gelap, di mana masa lalu mulai menuntut balas. Adrian melangkah mundur, membiarkan Clarissa beradaptasi dengan atmosfer ruangan yang kini terasa sesak oleh aura otoritasnya. Clarissa terdiam, matanya menatap tajam ke arah Adrian, namun pikirannya justru terlempar kembali ke ruang operasi kliniknya semalam. Ingatan itu datang seperti banjir—bau antiseptik yang bercampur dengan aroma anyir darah yang begitu pekat, suara mesin monitor yang berdenting tidak beraturan, dan perjuangannya menembus lapisan otot dada pria di depannya ini. "Kau masih memikirkannya, bukan?" suara Adrian memecah lamunan Clarissa. Pria itu tampaknya bisa membaca setiap ekspresi yang melintas di wajah sang dokter. "Kau memikirkan apa yang kau temukan di dalam sana, tepat sebelum kau menutup jahitan terakhir." Clarissa meremas jemarinya sendiri. Ia ingat betul sensasi dingin logam di ujung jarinya saat ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan tangannya yang gemetar. Saat itu, ia tidak hanya sedang mengeluarkan peluru. Kilas Balik: Ruang Operasi, Pukul 02.00 Dini Hari. Clarissa bekerja dengan presisi seorang ahli bedah papan atas. Keringat menetes dari pelipisnya, namun fokusnya tidak goyah. "Ambilkan klem arteri!" perintahnya pada Siska, perawat yang setia menemaninya. Saat ia menyingkap jaringan otot yang robek, matanya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana. Bukan hanya peluru kaliber besar yang bersarang di antara tulang rusuk, tapi sebuah implan kecil—berukuran tidak lebih dari satu sentimeter—yang tertanam secara artifisial di dekat jantung Adrian. Implan itu bercahaya redup, seolah memiliki sumber energi sendiri yang terhubung langsung dengan sistem saraf utama pria itu. Clarissa sempat membeku selama dua detik—waktu yang terasa seperti satu jam di ruang operasi. Jika ia menyentuh benda itu dengan cara yang salah, jantung Adrian bisa berhenti seketika. Jika ia membiarkannya, pria itu akan terus berada dalam bahaya. Dengan pertimbangan yang sangat cepat, ia memutuskan untuk mengambil benda itu menggunakan pinset khusus, menyimpannya di wadah steril, dan segera menuntaskan operasi sebelum Adrian kehilangan terlalu banyak darah. Benda itu... sebuah microchip dengan simbol yang sama persis dengan yang ada di kartu ancaman tadi. Ruang tindakan di safe house itu tidak terlalu besar, tetapi tertata rapi. Dinding berwarna putih gading dipenuhi lemari kaca berisi peralatan medis yang tersusun berdasarkan jenis dan kegunaannya. Aroma antiseptik langsung menyambut begitu Clarissa mendorong pintu hingga terbuka.Ia meletakkan baki instrumen di atas meja stainless, lalu berbalik menghadap Adrian. "Duduk."Adrian menatap kursi pemeriksaan, kemudian menatap Clarissa lagi. "Perintah lagi?""Bukan." Clarissa mengambil sarung tangan medis. "Instruksi dokter."Adrian akhirnya duduk tanpa banyak komentar.Melihat itu, Clarissa tersenyum tipis. Entah kenapa, menghadapi pria keras kepala ini terasa jauh lebih melelahkan dibanding menangani pasien kritis."Aku mulai curiga."Clarissa mengangkat sebelah alis. "Curiga apa?""Kau sengaja mencari-cari alasan supaya bisa memarahiku."Clarissa terkekeh pelan. "Kalau kau berhenti membuka jahitanmu sendiri, mungkin aku juga akan berhenti."Adrian hanya menggeleng kecil. Senyum tipis y
Sementara itu… Di sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya monitor, seorang pria duduk tenang menghadap layar.Rekaman dari kamera jalan raya diputar berulang-ulang.Konvoi Adrian.Wajah Clarissa.Lalu gambar membeku tepat ketika perempuan itu mendorong Adrian hingga lolos dari bidikan sniper.Pria itu tersenyum tipis. "Jadi benar..." Ia mengetukkan jemarinya perlahan di atas meja. "Dia mulai mengingat naluri lamanya."Seseorang berdiri di belakangnya. "Tuan. Rio sudah menghilang.""Tidak masalah.""Bagaimana dengan Nathan?"Pria itu menatap layar tanpa berkedip. "Biarkan dia hidup.""Bukankah dia tahu terlalu banyak?""Justru karena itu." Senyumnya semakin lebar. "Orang tua yang ketakutan sering kali menjadi umpan terbaik."Ia mematikan monitor. Ruangan langsung gelap.Hanya suaranya yang terdengar jelas. "Terus awasi Clarissa. Jangan sentuh dia. Belum."Anak buahny
Di dalam bangunan, suasana jauh berbeda dengan bagian luarnya. Lorong-lorong bersih dengan penerangan terang membentang menuju beberapa ruangan berlapis pintu baja.Clarissa sempat terdiam.Tempat ini lebih menyerupai pusat komando daripada rumah persembunyian. Beberapa tenaga medis berseragam putih segera membawa Nathan menuju ruang perawatan intensif."Dokter Clarissa." Seorang perawat menghampiri. "Kami sudah menyiapkan ruang tindakan."Clarissa mengangguk. "Tolong siapkan alat jahit luka dan antibiotik intravena.""Baik."Ia berbalik. Tatapannya langsung mencari Adrian.Pria itu ternyata sudah berjalan menuju ruang briefing."Adrian."Langkahnya berhenti."Kemari.""Aku harus rapat.""Kau harus dirawat.""Ini lebih penting.""Tidak." Nada suara Clarissa kali ini jauh lebih tegas. "Kau bisa kehilangan nyawa hanya karena bersikeras."Ruangan mendadak sunyi.Beberapa anggota tim yang sedang berlalu-lalang berhenti tanpa sadar. Tak seorang pun pernah berbicara kepada Adrian dengan nad
Hujan semakin deras ketika konvoi akhirnya meninggalkan jalan utama. Lampu kendaraan tetap dimatikan. Hanya cahaya bulan yang sesekali lolos dari balik awan membantu Gavin mengarahkan mobil melewati jalan tanah yang sempit. Roda berputar perlahan, memecah genangan lumpur yang mulai terbentuk setelah hujan mengguyur hampir satu jam.Tak seorang pun berbicara melalui radio. Setelah pengkhianatan Rio, semua komunikasi menjadi jauh lebih singkat. William bahkan mematikan saluran utama dan menggantinya dengan frekuensi darurat yang hanya diketahui beberapa orang kepercayaannya.Di dalam mobil, Clarissa kembali memeriksa infus Nathan. Laju tetesannya masih stabil. Namun tekanan darah pria tua itu belum benar-benar pulih."Aku harus mengganti cairannya setelah kita sampai," gumamnya pelan.Nathan membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram. "Dokter..."Clarissa segera menoleh. "Jangan bicara dulu."Pria tua itu menggeleng lemah. "Waktu...kita tidak punya banyak waktu."Clarissa hendak me
Pria yang berdiri paling depan melangkah maju. Suaranya datar. "Subjek Tujuh." Tatapan itu langsung mengarah kepada Clarissa. "Anda diminta kembali."Clarissa menggeleng. "Aku bukan Subjek Tujuh. Kau salah."Pria itu tidak bereaksi. "Hasil identifikasi retina sesuai. DNA sesuai, status dikonfirmasi. Subjek Tujuh ditemukan."Suara itu terdengar seperti mesin. Tidak memiliki intonasi marah. Tidak pula ramah. Hanya menyampaikan fakta."Aku tidak akan ikut."Pria itu mengangguk pelan. "Kalau begitu...kami akan membawa Anda secara paksa."William langsung mengangkat pistol. "Satu langkah lagi, aku tembak."Pria itu bahkan tidak melirik senjata tersebut. "Perintah utama. Bawa Subjek Tujuh. Target lain tidak diprioritaskan."Adrian akhirnya maju selangkah. "Kau harus melewatiku dulu."Tatapan kosong pria itu beralih kepada Adrian. Beberapa detik berlalu. Lalu...untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Sangat tipis, seolah ada sesuatu yang dikenalnya."Adrian..." Ia mengucapkan nama itu pe
Embusan uap putih memenuhi ruangan di balik kaca.mSemua mata spontan tertuju pada monitor yang kini menampilkan gambar dari sebuah laboratorium lain. Kualitas rekamannya tidak sempurna, seolah berasal dari kamera pengawas tua yang masih aktif.Di tengah ruangan berdiri sebuah kapsul silinder setinggi dua meter. Cairan bening di dalamnya perlahan surut.Alarm pendek berbunyi tiga kali.Bip... Bip... Bip...Lalu penutup kapsul terbuka. Sesosok tubuh terjatuh berlutut ke lantai. Rambutnya basah menutupi wajah. Napasnya terdengar berat, seperti seseorang yang baru muncul ke permukaan setelah tenggelam sangat lama.Clarissa tanpa sadar melangkah mendekati layar. "Siapa dia...?"Tak ada jawaban.Orang itu perlahan mengangkat kepala. Wajahnya belum terlihat jelas karena kamera berada cukup jauh.Namun satu hal langsung menarik perhatian Clarissa.Di pergelangan tangan kirinya terdapat gelang logam tipis dengan ukiran yang sama persis seperti simbol phoenix di pintu Elysium.Nathan memejamkan







