เข้าสู่ระบบBAB 3: Mereka Datang Mencari Dokter
Cahaya matahari pagi yang terik menembus celah tirai ruang rawat, mengusir sisa-sisa kelam malam yang dipenuhi hujan dan aroma besi dari darah yang mengering. Di luar sana, suara klakson kendaraan mulai memenuhi jalanan Jakarta, menandakan kota kembali merayap dalam rutinitasnya yang kejam dan sibuk. Bagi dunia, ini adalah hari baru yang biasa. Namun bagi Clarissa Adelyn, ini adalah titik balik di mana takdirnya dipaksa berbelok arah menuju jalan yang tidak pernah ia bayangkan. Pria itu, Adrian Alistair, masih terlelap. Obat penghilang nyeri dosis tinggi yang diberikan Clarissa tadi malam menjaga napasnya tetap stabil meski berat. Balutan perban di dadanya tampak bersih dan rapi, sebuah tanda bahwa tubuh pria itu memiliki ketahanan fisik yang hampir tidak manusiawi. Clarissa berdiri di samping ranjang, menatap pria yang baru saja ia selamatkan itu dengan perasaan bimbang. Ia memeriksa infus untuk terakhir kalinya sebelum menutup map rekam medis. "Aku harus ke rumah sakit," ucap Clarissa tanpa menoleh pada Gavin yang berjaga di ambang pintu, tangannya bersedekap dengan tatapan waspada. Gavin merespons dengan sigap, "Saya akan mengantar Anda, Dokter." "Tidak perlu, Pak Gavin. Aku sudah terbiasa berangkat sendiri," tolak Clarissa tegas. "Itu perintah langsung dari Tuan Adrian," suara Gavin datar, namun mengandung otoritas yang sulit dibantah. Clarissa menghentikan langkahnya, menatap Gavin dengan tatapan lelah. "Tuanmu sedang tidur. Dan aku bisa berangkat sendiri. Aku bukan pasienmu, Gavin. Aku punya tanggung jawab di St. Raphael." Gavin tidak bergeming sedikit pun. "Ini bukan soal pilihan, Dokter. Ini soal nyawa Anda. Musuh Tuan sudah mulai bergerak, dan saya tidak akan membiarkan Dokter pergi tanpa perlindungan." Clarissa akhirnya mengalah. Ia tahu ia tidak akan menang berdebat melawan pria yang sepertinya sudah diprogram untuk selalu patuh pada perintah atasannya. Namun, sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit St. Raphael, insting medis Clarissa perlahan berganti menjadi insting bertahan hidup. Ia melihat mobil SUV hitam di belakangnya, sebuah bayangan konsisten yang mengikuti setiap belokan yang ia ambil. 'Mungkin hanya perasaanku saja', batinnya, mencoba menenangkan diri, meski kecemasan mulai merayap di tengkuknya. Setibanya di St. Raphael, suasana tampak normal. Pasien berlalu-lalang, perawat tersenyum ramah, dan lobi rumah sakit dipenuhi hiruk-pikuk kehidupan. Begitu normal, hingga Clarissa merasa peringatan Adrian semalam hanyalah bualan pria yang sedang mengigau karena trauma hebat. Ia berjalan menuju ruang ganti, namun langkahnya terhenti tiba-tiba. Suasana lobi mendadak berubah. Suara hiruk-pikuk itu seolah tersedot ke dalam ruang hampa. Di depan pintu utama, belasan SUV hitam berhenti serentak—sebuah manuver yang sangat presisi dan mengintimidasi. Puluhan pria bersetelan jas gelap turun dengan gerakan teratur. Tidak ada keributan, tidak ada teriakan. Hanya aura dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Pria tua berambut putih dengan tongkat kayu hitam melangkah masuk, membelah kerumunan orang yang ketakutan. Ia berhenti tepat di tengah lobi, lalu bertanya dengan suara tenang namun menggema hingga ke sudut terjauh ruangan, "Siapa di antara kalian yang bernama Dokter Clarissa Adelyn?" Jantung Clarissa seakan melompat dari tempatnya. Saat itulah ia sadar: peringatan Adrian bukan ancaman kosong. William—pria tua itu—melangkah mendekat, mengabaikan protes satpam. "Saya William, sekretaris pribadi Tuan Adrian Alistair. Beliau sadar, dan beliau meminta Anda datang sekarang." "Saya sedang bekerja!" sahut Clarissa, mencoba mempertahankan kewibawaannya di tengah tekanan yang mencekik. "Kami bisa menunggu," balas William dingin. "Saya memiliki jadwal operasi! Pasien-pasien saya tidak bisa menunggu!" "Kami tidak keberatan menunggu di sini selamanya," William menjawab dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. Situasi pecah ketika salah satu anak buah William berlari masuk. "Pak William, kami menemukan penyusup di parkiran timur." William menoleh pada Clarissa, matanya kini memancarkan bahaya. "Mereka telah menemukan Anda." DUARRR! Sebuah ledakan mengguncang area parkir. Kaca lobi bergetar hebat, jeritan memenuhi udara. Clarissa tersungkur, namun nalurinya sebagai dokter membuat ia berlari menuju seorang lansia yang terjatuh di tengah kekacauan, mengabaikan bahaya. William mengamatinya dari kejauhan, dan untuk pertama kalinya, ia melihat apa yang dicari majikannya pada diri wanita ini: kemanusiaan yang keras kepala. "Dokter, Anda harus pergi!" teriak William saat melihat sebuah amplop hitam berisi kartu dengan simbol ancaman. "Musuh Tuan Adrian telah menandai Anda!" "Kenapa mereka mengejarku?!" teriak Clarissa di tengah kepanikan. "Karena sejak Anda menyelamatkan beliau, Anda bukan lagi orang luar!" DOR! Satu peluru nyaris menembus kepala Clarissa, memecahkan kaca di belakangnya. William menarik tubuh Clarissa ke balik meja informasi dengan kecepatan luar biasa. Sniper. Mereka tidak hanya mengancam, mereka benar-benar ingin menghabisinya. "Permainan dimulai," bisik suara dingin dari arah gedung parkir seberang. Di tengah kepulan asap dan jeritan, William menatap Clarissa dengan tegas. "Pilihan Anda sederhana, Dokter. Tetap di sini dan menjadi umpan bagi mereka untuk membantai rumah sakit ini, atau ikut kami dan menjadi bagian dari perang ini." Clarissa menatap rumah sakit—tempat yang selalu menjadi pelabuhannya. Kini, tempat itu telah menjadi zona perang. Ia menarik napas panjang, menatap William dengan tatapan yang kini lebih tegar. "Aku akan ikut," ucapnya mantap. "Tapi jangan libatkan mereka lagi." William mengangguk hormat, membukakan pintu mobil hitam yang telah menunggu. Sebelum menutup pintu, William menyampaikan pesan singkat dari Adrian: "Belum terlambat." Clarissa menatap keluar jendela saat mobil melaju membelah kota. Ia sadar, ia tidak lagi sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ia sedang melangkah menuju rahasia lima belas tahun yang terkubur, menuju pria yang menyimpan ribuan rahasia, dan menuju nasib yang tak lagi bisa ia kendalikan. Mobil itu melesat membelah kemacetan Jakarta dengan kelincahan yang tidak wajar. Gavin, yang kini mengambil alih kemudi dari salah satu pengawal, mengemudikan SUV hitam itu seolah-olah ia sedang berada dalam arena balap. Di kursi belakang, Clarissa duduk diapit oleh dua pria bertubuh kekar yang tetap diam membisu, mata mereka terus memantau situasi di luar melalui kaca jendela yang digelapkan. Clarissa memejamkan mata, mencoba mengabaikan denyut kencang di pelipisnya. Pikirannya melayang pada sosok Adrian Alistair. Mengapa pria itu begitu yakin bahwa dia akan menjadi target? Apa yang sebenarnya terjadi lima belas tahun lalu—sebuah angka yang sempat disebut William saat mereka hampir mencapai titik jenuh tadi? "Dokter," suara William memecah keheningan di dalam mobil. Pria tua itu duduk di kursi depan, menoleh sedikit ke belakang. "Anda mungkin bertanya-tanya mengapa Tuan Adrian bersikeras membawa Anda ke tempat yang jauh dari jangkauan publik. Jawabannya sederhana: Anda telah menjadi bagian dari sejarah yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam." Clarissa membuka matanya, menatap punggung William dengan tatapan tajam. "Sejarah? Aku hanya seorang dokter, William. Aku tidak memiliki urusan dengan masa lalu Tuanmu. Aku bahkan tidak tahu siapa dia sebelum malam itu." "Itu adalah keberuntungan—atau kesialan—Anda," sahut William dengan nada yang sulit diartikan. "Tuan Adrian bukan sekadar pebisnis. Beliau adalah pemegang kunci dari sebuah rahasia besar yang melibatkan konsorsium yang sangat kuat. Orang-orang yang menyerang rumah sakit tadi bukanlah orang sembarangan. Mereka adalah The Shadow Syndicate, kelompok yang sudah lama mencari keberadaan Tuan Adrian."Ruang tindakan di safe house itu tidak terlalu besar, tetapi tertata rapi. Dinding berwarna putih gading dipenuhi lemari kaca berisi peralatan medis yang tersusun berdasarkan jenis dan kegunaannya. Aroma antiseptik langsung menyambut begitu Clarissa mendorong pintu hingga terbuka.Ia meletakkan baki instrumen di atas meja stainless, lalu berbalik menghadap Adrian. "Duduk."Adrian menatap kursi pemeriksaan, kemudian menatap Clarissa lagi. "Perintah lagi?""Bukan." Clarissa mengambil sarung tangan medis. "Instruksi dokter."Adrian akhirnya duduk tanpa banyak komentar.Melihat itu, Clarissa tersenyum tipis. Entah kenapa, menghadapi pria keras kepala ini terasa jauh lebih melelahkan dibanding menangani pasien kritis."Aku mulai curiga."Clarissa mengangkat sebelah alis. "Curiga apa?""Kau sengaja mencari-cari alasan supaya bisa memarahiku."Clarissa terkekeh pelan. "Kalau kau berhenti membuka jahitanmu sendiri, mungkin aku juga akan berhenti."Adrian hanya menggeleng kecil. Senyum tipis y
Sementara itu… Di sebuah ruangan yang hanya diterangi cahaya monitor, seorang pria duduk tenang menghadap layar.Rekaman dari kamera jalan raya diputar berulang-ulang.Konvoi Adrian.Wajah Clarissa.Lalu gambar membeku tepat ketika perempuan itu mendorong Adrian hingga lolos dari bidikan sniper.Pria itu tersenyum tipis. "Jadi benar..." Ia mengetukkan jemarinya perlahan di atas meja. "Dia mulai mengingat naluri lamanya."Seseorang berdiri di belakangnya. "Tuan. Rio sudah menghilang.""Tidak masalah.""Bagaimana dengan Nathan?"Pria itu menatap layar tanpa berkedip. "Biarkan dia hidup.""Bukankah dia tahu terlalu banyak?""Justru karena itu." Senyumnya semakin lebar. "Orang tua yang ketakutan sering kali menjadi umpan terbaik."Ia mematikan monitor. Ruangan langsung gelap.Hanya suaranya yang terdengar jelas. "Terus awasi Clarissa. Jangan sentuh dia. Belum."Anak buahny
Di dalam bangunan, suasana jauh berbeda dengan bagian luarnya. Lorong-lorong bersih dengan penerangan terang membentang menuju beberapa ruangan berlapis pintu baja.Clarissa sempat terdiam.Tempat ini lebih menyerupai pusat komando daripada rumah persembunyian. Beberapa tenaga medis berseragam putih segera membawa Nathan menuju ruang perawatan intensif."Dokter Clarissa." Seorang perawat menghampiri. "Kami sudah menyiapkan ruang tindakan."Clarissa mengangguk. "Tolong siapkan alat jahit luka dan antibiotik intravena.""Baik."Ia berbalik. Tatapannya langsung mencari Adrian.Pria itu ternyata sudah berjalan menuju ruang briefing."Adrian."Langkahnya berhenti."Kemari.""Aku harus rapat.""Kau harus dirawat.""Ini lebih penting.""Tidak." Nada suara Clarissa kali ini jauh lebih tegas. "Kau bisa kehilangan nyawa hanya karena bersikeras."Ruangan mendadak sunyi.Beberapa anggota tim yang sedang berlalu-lalang berhenti tanpa sadar. Tak seorang pun pernah berbicara kepada Adrian dengan nad
Hujan semakin deras ketika konvoi akhirnya meninggalkan jalan utama. Lampu kendaraan tetap dimatikan. Hanya cahaya bulan yang sesekali lolos dari balik awan membantu Gavin mengarahkan mobil melewati jalan tanah yang sempit. Roda berputar perlahan, memecah genangan lumpur yang mulai terbentuk setelah hujan mengguyur hampir satu jam.Tak seorang pun berbicara melalui radio. Setelah pengkhianatan Rio, semua komunikasi menjadi jauh lebih singkat. William bahkan mematikan saluran utama dan menggantinya dengan frekuensi darurat yang hanya diketahui beberapa orang kepercayaannya.Di dalam mobil, Clarissa kembali memeriksa infus Nathan. Laju tetesannya masih stabil. Namun tekanan darah pria tua itu belum benar-benar pulih."Aku harus mengganti cairannya setelah kita sampai," gumamnya pelan.Nathan membuka mata perlahan. Pandangannya masih buram. "Dokter..."Clarissa segera menoleh. "Jangan bicara dulu."Pria tua itu menggeleng lemah. "Waktu...kita tidak punya banyak waktu."Clarissa hendak me
Pria yang berdiri paling depan melangkah maju. Suaranya datar. "Subjek Tujuh." Tatapan itu langsung mengarah kepada Clarissa. "Anda diminta kembali."Clarissa menggeleng. "Aku bukan Subjek Tujuh. Kau salah."Pria itu tidak bereaksi. "Hasil identifikasi retina sesuai. DNA sesuai, status dikonfirmasi. Subjek Tujuh ditemukan."Suara itu terdengar seperti mesin. Tidak memiliki intonasi marah. Tidak pula ramah. Hanya menyampaikan fakta."Aku tidak akan ikut."Pria itu mengangguk pelan. "Kalau begitu...kami akan membawa Anda secara paksa."William langsung mengangkat pistol. "Satu langkah lagi, aku tembak."Pria itu bahkan tidak melirik senjata tersebut. "Perintah utama. Bawa Subjek Tujuh. Target lain tidak diprioritaskan."Adrian akhirnya maju selangkah. "Kau harus melewatiku dulu."Tatapan kosong pria itu beralih kepada Adrian. Beberapa detik berlalu. Lalu...untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah. Sangat tipis, seolah ada sesuatu yang dikenalnya."Adrian..." Ia mengucapkan nama itu pe
Embusan uap putih memenuhi ruangan di balik kaca.mSemua mata spontan tertuju pada monitor yang kini menampilkan gambar dari sebuah laboratorium lain. Kualitas rekamannya tidak sempurna, seolah berasal dari kamera pengawas tua yang masih aktif.Di tengah ruangan berdiri sebuah kapsul silinder setinggi dua meter. Cairan bening di dalamnya perlahan surut.Alarm pendek berbunyi tiga kali.Bip... Bip... Bip...Lalu penutup kapsul terbuka. Sesosok tubuh terjatuh berlutut ke lantai. Rambutnya basah menutupi wajah. Napasnya terdengar berat, seperti seseorang yang baru muncul ke permukaan setelah tenggelam sangat lama.Clarissa tanpa sadar melangkah mendekati layar. "Siapa dia...?"Tak ada jawaban.Orang itu perlahan mengangkat kepala. Wajahnya belum terlihat jelas karena kamera berada cukup jauh.Namun satu hal langsung menarik perhatian Clarissa.Di pergelangan tangan kirinya terdapat gelang logam tipis dengan ukiran yang sama persis seperti simbol phoenix di pintu Elysium.Nathan memejamkan







