Mag-log inClarissa berdiri di depan jendela ketika pintu kamar kembali terbuka.Langkah kaki itu sangat ia kenal.Tidak berat. Tidak tergesa. Tapi penuh kuasa.Leo.Ia belum menoleh, namun tubuhnya langsung menegang. Seolah setiap sel di dalam dirinya telah menghafal kehadiran laki-laki itu. Bahkan tanpa suara."Kamu tidak mengunci pintu," suara Leo rendah, tenang, namun berbahaya.Clarissa menoleh perlahan. Tatapan mereka bertemu. Ada jeda singkat, cukup untuk membuat udara di antara mereka memanas."Aku tahu kamu akan kembali," jawab Clarissa jujur.Leo menutup pintu. Kali ini, ia menguncinya.Klik.Suara kecil itu terdengar jauh lebih keras dari seharusnya."Aku selalu kembali," katanya sambil berjalan mendekat. "Tapi, masalahnya… aku tidak suka melihatmu berdiri sendirian seperti itu."Clarissa menelan ludahnya kasar, keningnya mengernyit bingung. "Kenapa?""Karena dunia tidak pantas melihatmu," jawab Leo tanpa ragu. "Dan karena aku tidak suka ketika ada jarak antara kita." Lanjutnya lagi.
Pagi menyusup pelan melalui celah tirai. Cahaya pucat jatuh di wajah Clarissa, membangunkannya dari tidur yang terlalu hangat untuk disebut tenang. Ia bergerak sedikit dan kembali merasakan itu.Lengan Leo.Masih melingkar di pinggangnya. Erat. Nyata. Seolah sepanjang malam ia tidak pernah melepaskannya. Clarissa menahan napas, jantungnya berdetak lebih cepat dari seharusnya. Ia memiringkan kepala, mendapati wajah Leo begitu dekat, mata terpejam, rahang mengeras bahkan dalam tidur sekalipun. Laki-laki itu seperti singa yang tertidur setengah tenang, namun siap menerkam kapan saja.Clarissa mengangkat tangannya, ragu. Ujung jarinya menyentuh dada Leo, merasakan detak jantung yang stabil dan kuat. Sentuhan sekecil itu cukup membuat Leo membuka mata. Tatapannya langsung tajam, lalu melunak ketika mengenali siapa yang ada dalam pelukannya. Tangannya mengencang sesaat, refleks posesif yang nyaris naluriah."Kau sudah bangun, baby?" suaranya serak, khas bangun tidur. Clarissa mengangguk
Malam semakin larut, hujan di luar tak lagi sekadar jatuh, melainkan mencurah tanpa ampun. Angin mengguncang pepohonan, menciptakan bayangan bergerak di balik tirai. Namun di dalam kamar itu, dunia terasa menyempit, hanya ada dua napas, dua denyut jantung yang saling mencari ritme.Clarissa terbangun di tengah malam. Bukan karena mimpi buruk, melainkan karena ia sadar… ia tidak sendirian.Leo masih memeluknya. Lengannya melingkar kuat di pinggang Clarissa, tubuhnya menempel dari belakang. Posesif. Protektif. Seolah Clarissa adalah sesuatu yang bisa diambil kapan saja jika ia lengah sedetik saja. Nafas Leo hangat di tengkuknya, teratur namun waspada.Clarissa bergerak sedikit.Genggaman itu langsung mengencang."Kau mau ke mana, baby?" suara Leo serak, masih setengah terjaga.Clarissa terdiam, jantungnya berdegup lebih cepat. "Aku hanya… memastikan ini nyata." Kata gadis itu pelan. Leo membuka matanya. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Clarissa, menghirup aromanya dalam-dalam, bukan d
"Bagaimana keadaan Assa, pah? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Merry pada suaminya. Kekhawatiran jelas terpancar dari raut wajahnya perempuan paruh bayah itu. "Mama tenang saja. Assa baik-baik saja. Leo menjaganya dengan ketat. Dia tidak membiarkan siapapun mendekati Assa. Termasuk Arsen. Leo benar-benar sangat posesif, tapi papa yakin, Assa akan aman bersamanya," jawab Ronald membuat Merry bernafas lega. "Syukurlah. Keamanan Assa emang paling penting sekarang," lirih Merry sambil menjatuhkan bokongnya di atas kursi sofa. "Lalu, bagaimana dengan Raya, pah? Apakah sudah ada kabar?" tanyanya sambil menatap suaminya. Sudah berapa hari ini, Raya tidak ada kabar sama sekali, bahkan ponselnya pun tidak aktif. Membuat Merry khawatir. Ronald menghela nafasnya kasar, ia melangkah dan duduk di kursi sofa yang berada di samping istrinya. "Belum, mah. Orang suruhan papa juga belum ada kabar. Berdoa saja, semoga Raya baik-baik saja.""Ya, semoga saja, pah. Bagaimana pun juga, Raya itu penyel
Hujan turun menjelang senja, menepuk kaca jendela dengan irama pelan. Clarissa terbangun di tengah kesunyian kamar besar itu. Selimut masih menyelimuti tubuhnya, hangat dan jemarinya masih terikat pada sesuatu yang nyata.Leo.Laki-laki itu masih duduk di sisi ranjang. Jasnya sudah dilepas, kemeja hitamnya digulung sampai siku. Satu tangannya menggenggam jemari Clarissa, seolah takut kehilangan bahkan dalam tidur.Clarissa menatap wajah itu lama. Garis rahang yang tegas, alis yang selalu tampak dingin, mata yang… kini tertutup, namun tetap waspada. Ia baru menyadari satu hal yang membuat dadanya sesak. Leo menjaga bukan karena kewajiban.Ia menjaga karena takut kehilangan.Clarissa bergerak sedikit. Leo langsung membuka mata.Tatapan mereka bertemu. Seketika dunia menyempit."Kau sudah bangun," kata Leo pelan."Sejak kapan kau tidak tidur?" Clarissa bertanya lirih.Leo mengangkat bahu tipis. "Tidak penting sejak kapan aku tidak tidur. Yang terpenting, kamu bangun, aku ada di sisimu."
Mobil hitam itu melaju membelah pagi dengan kecepatan stabil, terlalu tenang untuk situasi yang sebenarnya genting. Kaca gelap menutup dunia luar, seakan Clarissa benar-benar terpisah dari realitas. Di kursi belakang, ia duduk diam, punggungnya menempel pada jok kulit dingin.Leo duduk di sampingnya.Dekat. Terlalu dekat.Satu lengannya terentang di sandaran kursi belakang Clarissa, membentuk pagar tak kasat mata. Tidak menyentuh, tapi jelas membatasi. Posesif dalam diam. Tatapannya fokus ke depan, namun Clarissa tahu setiap detak napasnya diperhitungkan oleh laki-laki itu."Kau tidak nyaman?" tanya Leo tanpa menoleh.Clarissa menggeleng pelan, lalu menjawab pelan. "Aku hanya… merasa seperti sedang diculik."Sudut bibir Leo terangkat tipis. "Kalau aku ingin menculikmu, caranya akan jauh lebih kejam." Kalimat itu seharusnya membuat takut. Tapi entah mengapa, Clarissa justru merasa… aman."Kau ingat saat aku menculikmu dulu?" lanjut pria itu lagi. "Aku tidak ingin mengingatnya lagi. K







