LOGINNadine tak mengira, sepeninggal ayahnya ibunya menikah lagi dengan pria tua kaya raya bernama Sebastian Moretti. Namun dibalik keluarga barunya, Nadine terseret masuk ke dunia keluarga elite yang dingin dan penuh darah. Dominic Moretti—dingin, tenang, penuh misteri dan memandang Nadine seolah ia tak pernah ada, namun dibalik sikapnya ada sesuatu yang berbahaya. Dan Matteo Moretti—liar, berbahaya, penuh gairah, dengan tatapan yang membuat kulit Nadine meremang bahkan sebelum ia bicara. *** "Nghh..." “Jika kau berbicara sesuka hatimu lagi,” desis Dominic tepat di telinga Nadine, “aku sendiri yang akan melibas dan melalap habis mulut tipismu. Mematikan suaramu, menghabiskan setiap sisa napas yang kau punya… hingga kau tidak bisa lagi mengeluarkan satu kata pun selain erangan." *** “Apa kesalahanmu?” desis Matteo. “Kesalahanmu adalah datang ke rumahku… dan membiarkan ibumu merangkak naik ke ranjang ayahku.” "Lepaskan! Kau gila!" Nadine meronta. "Kau ingin tahu seberapa gila aku?" Matteo mendekatkan wajahnya. "Aku benci barang asing di rumahku. Dan cara terbaik untuk merusak barang asing... adalah dengan menandainya."
View MorePLAK!
Pandangan mataku seketika berkunang-kunang. Rasa panas menjalar di pipi kiriku, membakar kulit hingga ke tulang. Suara tamparan itu memecah keheningan malam di ruang tamu kami yang sempit dan pengap, ruangan tua dengan dinding kusam yang seolah menyimpan terlalu banyak luka dan pertengkaran. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga wajahku terlempar ke samping. Aku tersungkur, sudut bibirku yang tipis seketika pecah, mengalirkan anyir darah yang merembes di lidahku, membuat dadaku sesak. “Anak tidak tahu diuntung!” teriak ibuku. Napasnya memburu, matanya yang tajam menatapku penuh amarah. “Dari mana saja kau, hah?!” Aku mendongak perlahan, menatap Sarah Maheswari, wanita yang melahirkanku, namun kini menatapku seolah aku adalah sampah paling menjijikkan yang pernah ada. Tatapannya tidak berhenti di wajahku. Matanya terpaku pada leherku. Aku tahu apa yang dia lihat. Dua tanda merah keunguan bekas kecupan. Dua tanda kissmark terpampang jelas di sana. Sial. Aku lupa menutupinya dengan rambut. “Semenjak ayahmu meninggal, kau jadi anak tidak tahu aturan!” bentaknya lagi. Tangannya mencengkeram bahuku, mengguncang tubuhku dengan kasar. “Kau mau jadi jalang seperti yang dibicarakan orang-orang?!” Aku hanya mendengus getir. Namaku Nadine Clarisa Sanjaya. Usiaku dua puluh lima tahun. Dan enam bulan terakhir hidupku adalah neraka. Sejak Ayahku meninggal karena ditipu kolega bisnisnya, dunia kami runtuh. Hutang menumpuk, Ayah jatuh sakit karena tertekan, lalu pergi meninggalkan kami dalam kubangan kemiskinan. Aku terkekeh kecil, meski rasa perih di bibirku kian menusuk. Aku mendongak, menatap ibuku dengan tatapan kosong namun menantang. "Jalang? Bukankah itu kata yang lebih cocok untuk Ibu? Ke mana Ibu saat Ayah menghembuskan napas terakhirnya? Di mana Ibu saat jasad Ayah diturunkan ke liang lahat?" "Nadine! Jaga bicaramu!" teriak ibuku, wajahnya memerah padam. "Kenapa? Sakit mendengar kenyataan bahwa Ibu bahkan tidak datang ke pemakaman suamimu sendiri?" suaraku meninggi, serak karena emosi yang tertahan berbulan-bulan. "Ibu selalu menyalahkan Ayah. Menyalahkan hutang-hutangnya, menyalahkan kecerobohannya ditipu kolega bisnis. Tapi Ibu tidak pernah sadar kalau Ibu juga penyebab Ayah menyerah pada hidupnya!" Ibuku terdiam sejenak, wajah cantiknya memerah padam. Rumor yang beredar memang kejam. Ada yang bilang Ayah bunuh diri karena hutang yang menumpuk, ada yang bilang karena ibuku terlalu sering menghamburkan uang, namun yang paling menyakitkan bagiku adalah desas-desus bahwa ibuku berselingkuh dan berniat meninggalkan kami tepat sebelum ayahku jatuh sakit. "Kau tidak tahu apa-apa, Nadine! Jangan sok tahu!" ibuku berteriak, suaranya parau. "Sekarang lihat dirimu! Pulang malam dengan bekas menjijikkan di leher. Apa itu yang kau lakukan saat bekerja di bar? Menjual dirimu?" Aku tertawa getir. Ibuku tidak tahu bahwa selama ini aku bekerja di dua tempat sekaligus demi menyambung hidup. Pagi hari bekerja sebagai pelayan restoran, malamnya menjadi staf di sebuah bar mewah. Aku jarang tidur, mataku berkantung, dan tubuhku makin kurus. "Aku bekerja, Bu. Sesuatu yang tidak pernah Ibu lakukan dengan benar sejak kita jatuh miskin," sahutku dingin. Ibuku tidak membalas lagi soal pekerjaan itu. Ia mengibaskan tangan, seolah ingin membuang semua argumenku. "Hah! Percuma aku bicara denganmu. Sekarang, masuk ke kamarmu. Bereskan semua bajumu. Kita pindah sekarang juga!" Aku terbelalak. Rasa perih di pipiku sejenak terlupakan. "Pindah? Apa maksud Ibu? Ini rumah terakhir yang kita punya. Kita mau pindah ke mana malam-malam begini?" "Rumah ini sudah disita, Nadine! Hutang Ayahmu sudah sampai ke akar-akarnya, dan semua ini gara-gara kecerobohan Ayahmu, kita jadi gelandangan! Cepat bereskan barangmu! Kita pindah sekarang juga." Aku terpaku. Duniaku seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Aku tidak menyangka situasi finansial kami jauh lebih buruk dari yang kubayangkan. Tanpa kata lagi, Aku berbalik dan menuju kamarku yang hanya dibatasi sekat triplek. BRAKK! Pintu kamar tertutup keras. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh. Aku menyandarkan punggung di pintu, lalu merosot hingga terduduk di lantai berdebu. "ARGHHH! Brengsek!" makiku, mengacak rambutku dengan frustasi. Bukan hanya masalah pengusiran ini yang membebani pikiranku. Namun, rasa ngilu yang asing di bagian inti tubuhku yang sejak tadi kutahan. Kejadian semalam berputar kembali seperti kaset rusak di kepalaku. Aku ingat saat itu aku merasa sangat haus setelah melayani pelanggan di bar yang penuh sesak. Seseorang memberiku segelas minuman. Aku pikir itu hanya air putih biasa. Tapi lima menit kemudian, duniaku mulai berputar. Tubuhku terasa panas, kesadaranku perlahan menguap. Samar-samar, aku ingat aroma itu. Aroma kayu cendana yang mahal dipadukan dengan wangi citrus yang tajam dan dingin. Aku ingat tangan yang besar, jari-jari panjang yang mencengkeram pinggangku dengan posesif, dan bisikan rendah di telingaku yang membuat bulu kudukku meremang. "Kau milikku malam ini, Little Bird..." Suara itu... begitu dalam, begitu berkuasa. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena lampu yang redup, tapi aku ingat sensasi kulitnya yang dingin saat bersentuhan dengan kulitku yang membara. Aku tidak akan pernah lupa. Di bawah remang lampu hotel malam itu, saat tubuhnya menindihku, aku melihatnya. Sebuah tato hitam pekat, tato ular melilit pedang yang meliuk di perut sebelah kanannya, seolah makhluk itu mengawasi... menikmati setiap rintihanku. Itu adalah tanda... tanda yang kini membuatku gemetar. Dan setelahnya, hanya ada rasa sakit dan kesenangan yang mencekam sebelum akhirnya aku jatuh pingsan. Pagi harinya, aku terbangun sendirian di sebuah kamar hotel mewah dengan tubuh hancur. Pria itu sudah pergi, hanya menyisakan cek dengan nominal uang besar di atas nakas yang tidak kusentuh sama sekali. Aku merasa kotor. Aku merasa telah menjual sisa harga diri yang kumiliki. "Brengsek... siapa pria itu?" gumamku lirih. Aku bangkit dengan sisa tenaga, menarik koper tua dari bawah tempat tidur dan memasukkan pakaianku dengan gerakan cepat. Ibuku bilang ada seseorang yang menunggu kami. Siapa yang cukup gila menampung dua wanita penuh hutang? Atau… apakah ibuku telah menjual dirinya? Atau lebih buruk... menjualku? Aku menatap cermin kecil yang retak. Rambut berantakan. Mata sembab. Lebam di pipi. Tanda di leher berdenyut seolah mengingatkanku bahwa hidupku tidak akan pernah sama. "Ayah... maafkan Nadine," bisikku lirih. Aku merasa seperti sedang melangkah masuk ke dalam mulut singa tanpa tahu apa yang menantiku di sana. Tapi aku tidak punya pilihan. Di dunia ini, orang miskin sepertiku tidak diberikan kemewahan untuk memilih. Aku menutup koperku, menghela napas panjang, merapikan diriku dan keluar dari kamar. Ibu sudah berdiri di sana, menatapku dengan tidak sabar. Di luar, suara klakson mobil mewah terdengar membahana di gang sempit tempat kami tinggal, sebuah pertanda bahwa hidupku yang tenang, meski miskin, telah berakhir hari ini. BEEP! BEEP! BEEP!Suara sirene bahaya di dalam ruang ICU terisolasi melengking tajam, memotong keheningan malam yang sunyi.Pintu ganda berlapis baja seketika terbuka kasar. Tim medis darurat bersama dua dokter spesialis jantung berhamburan masuk dengan langkah tergesa-gesa. Mereka bergerak cepat mengelilingi ranjang Dominic yang terbaring kaku."Tekanan darah merosot drastis! Cardiac arrest!" teriak dokter utama seraya menarik alat defibrillator mesin kejut jantung mendekati ranjang. "Siapkan 200 Joules! Cepat!"Di luar ruang ICU, panik melanda tanpa ampun."KAK DOMINIC! KAKAK!"Nadine menjerit histeris. Wajahnya yang pucat bertambah hilang darah. Kedua tangannya menghantam dinding kaca tebal yang memisahkan mereka, matanya menyaksikan dengan jelas bagaimana tubuh tegap Dominic tersentak keras ke atas setiap kali sengatan listrik menghantam dadanya yang terbalut perban."Tenang, Nadine! Jangan maju!" seru Matteo serak. Pria itu merangkul dan menah
Aroma sabun pembersih menggantikan bau amis darah yang menyengat.Nadine berdiri mematung di depan cermin kamar mandi VIP. Pakaian gaun pengantin krem yang penuh noda darah telah tergantikan oleh pakaian piyama katun longgar berwarna biru muda. Wajahnya yang polos tampak begitu kuyu, dengan lingkaran hitam memayungi matanya yang bengkak.Di atas meja rias, jemari Sarah Maheswari mengusap lembut punggung putri tunggalnya. "Nadine... makanlah sedikit sup hangat ini. Kau belum menyentuh makanan sejak pagi."Nadine menggeleng pelan, suaranya terdengar begitu tipis dan serak. "Tidak lapar, Bu...""Ingat anak di dalam rahimmu, Nak," pangkas Sarah lembut namun menyiratkan ketegasan seorang ibu. "Kalau kau sakit dan tubuhmu drop, bayimu yang akan menanggung akibatnya. Kau mau anak ini kenapa-kenapa?"Mendengar penekanan ibunya, Nadine menunduk kaku. Pandangannya jatuh ke arah perutnya yang masih datar. Ada gejolak rasa bersalah yang teramat dalam. Demi melindungi anak i
"Koma...?" Bisikan lirih itu meluncur sangat pelan dari bibir Nadine yang pucat. Dunia di sekitarnya terasa berputar hebat. Rasa bising di koridor mendadak senyap, menyisakan gema kata mematikan itu di dalam kepalanya. "Pendarahan berhasil dikendalikan," lanjut dokter bedah dengan nada berhati-hati, menatap lurus pada Sebastian. "Namun, benturan trauma pada organ vital serta kehilangan banyak darah membuat tubuhnya masuk ke fase kritis. Duapuluh empat jam ke depan adalah masa paling krusial. Kami harus memindahkannya ke ruang ICU terisolasi." Sebastian memejamkan mata rapat-rapat. Bahunya yang tegap tampak sedikit merosot, sebuah pertanda langka dari sesosok pria berhati besi yang kini hancur melihat putranya di ambang kematian. "Lakukan apa saja," desis Sebastian dengan suara serak yang bergetar. "Gunakan seluruh fasilitas dan ahli medis terbaik yang kita miliki. Jangan biarkan dia kehilangan nyawanya." "Kami akan berusaha semaksim
Aroma antiseptik yang tajam menyengat hidung, menggantikan wangi mawar putih dan parfum mewah yang beberapa jam lalu memenuhi ballroom. Lampu indikator berwarna merah menyala terang di atas pintu ganda berlapis baja bertuliskan Operating Theater 01 di St. Jude Private Hospital, rumah sakit milik konsorsium Moretti. Suara ritmis dari peralatan medis di dalam ruangan samar-samar terdengar, beradu dengan suara derap langkah gelisah di sepanjang koridor VIP yang steril. Nadine duduk bersandar kaku di kursi tunggu. Gaun krem mewahnya kini dipenuhi noda darah mengering yang berubah warna menjadi cokelat pekat, darah milik Dominic. Jemari mungilnya saling bertaut erat di atas pangkuan, bergetar tanpa henti.Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan merah akibat air mata yang tak kunjung berhenti menetes. "Nadine... minumlah sedikit air," bisik Sarah Maheswari penuh kelembutan. Ibu kandungnya itu berlutut di hadapan Nadine, menyodorkan segelas air mineral dengan raut wa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore