INICIAR SESIÓNNadine tak mengira, sepeninggal ayahnya ibunya menikah lagi dengan pria tua kaya raya bernama Sebastian Moretti. Namun dibalik keluarga barunya, Nadine terseret masuk ke dunia keluarga elite yang dingin dan penuh racun. Dominic Moretti—dingin, tenang, penuh misteri dan memandang Nadine seolah ia tak pernah ada. Dan Matteo Moretti—liar, berbahaya, penuh gairah, dengan tatapan yang membuat kulit Nadine meremang bahkan sebelum ia bicara. “Apa kesalahanmu?” desis Matteo. “Kesalahanmu adalah datang ke rumahku… dan membiarkan ibumu merangkak naik ke ranjang ayahku.” "Lepaskan! Kau gila!" Nadine meronta. "Kau ingin tahu seberapa gila aku?" Matteo mendekatkan wajahnya. "Aku benci barang asing di rumahku. Dan cara terbaik untuk merusak barang asing... adalah dengan menandainya."
Ver másPLAK!
Pandangan mataku seketika berkunang-kunang. Rasa panas menjalar di pipi kiriku, membakar kulit hingga ke tulang. Suara tamparan itu memecah keheningan malam di ruang tamu kami yang sempit dan pengap, ruangan tua dengan dinding kusam yang seolah menyimpan terlalu banyak luka dan pertengkaran. Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga wajahku terlempar ke samping. Aku tersungkur, sudut bibirku yang tipis seketika pecah, mengalirkan anyir darah yang merembes di lidahku, membuat dadaku sesak. “Anak tidak tahu diuntung!” teriak ibuku. Napasnya memburu, matanya yang tajam menatapku penuh amarah. “Dari mana saja kau, hah?!” Aku mendongak perlahan, menatap Sarah Maheswari, wanita yang melahirkanku, namun kini menatapku seolah aku adalah sampah paling menjijikkan yang pernah ada. Tatapannya tidak berhenti di wajahku. Matanya terpaku pada leherku. Aku tahu apa yang dia lihat. Dua tanda merah keunguan bekas kecupan. Dua tanda kissmark terpampang jelas di sana. Sial. Aku lupa menutupinya dengan rambut. “Semenjak ayahmu meninggal, kau jadi anak tidak tahu aturan!” bentaknya lagi. Tangannya mencengkeram bahuku, mengguncang tubuhku dengan kasar. “Kau mau jadi jalang seperti yang dibicarakan orang-orang?!” Aku hanya mendengus getir. Namaku Nadine Clarisa Sanjaya. Usiaku dua puluh lima tahun. Dan enam bulan terakhir hidupku adalah neraka. Sejak Ayahku meninggal karena ditipu kolega bisnisnya, dunia kami runtuh. Hutang menumpuk, Ayah jatuh sakit karena tertekan, lalu pergi meninggalkan kami dalam kubangan kemiskinan. Aku terkekeh kecil, meski rasa perih di bibirku kian menusuk. Aku mendongak, menatap ibuku dengan tatapan kosong namun menantang. "Jalang? Bukankah itu kata yang lebih cocok untuk Ibu? Ke mana Ibu saat Ayah menghembuskan napas terakhirnya? Di mana Ibu saat jasad Ayah diturunkan ke liang lahat?" "Nadine! Jaga bicaramu!" teriak ibuku, wajahnya memerah padam. "Kenapa? Sakit mendengar kenyataan bahwa Ibu bahkan tidak datang ke pemakaman suamimu sendiri?" suaraku meninggi, serak karena emosi yang tertahan berbulan-bulan. "Ibu selalu menyalahkan Ayah. Menyalahkan hutang-hutangnya, menyalahkan kecerobohannya ditipu kolega bisnis. Tapi Ibu tidak pernah sadar kalau Ibu juga penyebab Ayah menyerah pada hidupnya!" Ibuku terdiam sejenak, wajah cantiknya memerah padam. Rumor yang beredar memang kejam. Ada yang bilang Ayah bunuh diri karena hutang yang menumpuk, ada yang bilang karena ibuku terlalu sering menghamburkan uang, namun yang paling menyakitkan bagiku adalah desas-desus bahwa ibuku berselingkuh dan berniat meninggalkan kami tepat sebelum ayahku jatuh sakit. "Kau tidak tahu apa-apa, Nadine! Jangan sok tahu!" ibuku berteriak, suaranya parau. "Sekarang lihat dirimu! Pulang malam dengan bekas menjijikkan di leher. Apa itu yang kau lakukan saat bekerja di bar? Menjual dirimu?" Aku tertawa getir. Ibuku tidak tahu bahwa selama ini aku bekerja di dua tempat sekaligus demi menyambung hidup. Pagi hari bekerja sebagai pelayan restoran, malamnya menjadi staf di sebuah bar mewah. Aku jarang tidur, mataku berkantung, dan tubuhku makin kurus. "Aku bekerja, Bu. Sesuatu yang tidak pernah Ibu lakukan dengan benar sejak kita jatuh miskin," sahutku dingin. Ibuku tidak membalas lagi soal pekerjaan itu. Ia mengibaskan tangan, seolah ingin membuang semua argumenku. "Hah! Percuma aku bicara denganmu. Sekarang, masuk ke kamarmu. Bereskan semua bajumu. Kita pindah sekarang juga!" Aku terbelalak. Rasa perih di pipiku sejenak terlupakan. "Pindah? Apa maksud Ibu? Ini rumah terakhir yang kita punya. Kita mau pindah ke mana malam-malam begini?" "Rumah ini sudah disita, Nadine! Hutang Ayahmu sudah sampai ke akar-akarnya, dan semua ini gara-gara kecerobohan Ayahmu, kita jadi gelandangan! Cepat bereskan barangmu! Kita pindah sekarang juga." Aku terpaku. Duniaku seolah runtuh untuk kesekian kalinya. Aku tidak menyangka situasi finansial kami jauh lebih buruk dari yang kubayangkan. Tanpa kata lagi, Aku berbalik dan menuju kamarku yang hanya dibatasi sekat triplek. BRAKK! Pintu kamar tertutup keras. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya luruh. Aku menyandarkan punggung di pintu, lalu merosot hingga terduduk di lantai berdebu. "ARGHHH! Brengsek!" makiku, mengacak rambutku dengan frustasi. Bukan hanya masalah pengusiran ini yang membebani pikiranku. Namun, rasa ngilu yang asing di bagian inti tubuhku yang sejak tadi kutahan. Kejadian semalam berputar kembali seperti kaset rusak di kepalaku. Aku ingat saat itu aku merasa sangat haus setelah melayani pelanggan di bar yang penuh sesak. Seseorang memberiku segelas minuman. Aku pikir itu hanya air putih biasa. Tapi lima menit kemudian, duniaku mulai berputar. Tubuhku terasa panas, kesadaranku perlahan menguap. Samar-samar, aku ingat aroma itu. Aroma kayu cendana yang mahal dipadukan dengan wangi citrus yang tajam dan dingin. Aku ingat tangan yang besar, jari-jari panjang yang mencengkeram pinggangku dengan posesif, dan bisikan rendah di telingaku yang membuat bulu kudukku meremang. "Kau milikku malam ini, Little Bird..." Suara itu... begitu dalam, begitu berkuasa. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena lampu yang redup, tapi aku ingat sensasi kulitnya yang dingin saat bersentuhan dengan kulitku yang membara. Aku tidak akan pernah lupa. Di bawah remang lampu hotel malam itu, saat tubuhnya menindihku, aku melihatnya. Sebuah tato hitam pekat, tato ular melilit pedang yang meliuk di perut sebelah kanannya, seolah makhluk itu mengawasi... menikmati setiap rintihanku. Itu adalah tanda... tanda yang kini membuatku gemetar. Dan setelahnya, hanya ada rasa sakit dan kesenangan yang mencekam sebelum akhirnya aku jatuh pingsan. Pagi harinya, aku terbangun sendirian di sebuah kamar hotel mewah dengan tubuh hancur. Pria itu sudah pergi, hanya menyisakan cek dengan nominal uang besar di atas nakas yang tidak kusentuh sama sekali. Aku merasa kotor. Aku merasa telah menjual sisa harga diri yang kumiliki. "Brengsek... siapa pria itu?" gumamku lirih. Aku bangkit dengan sisa tenaga, menarik koper tua dari bawah tempat tidur dan memasukkan pakaianku dengan gerakan cepat. Ibuku bilang ada seseorang yang menunggu kami. Siapa yang cukup gila menampung dua wanita penuh hutang? Atau… apakah ibuku telah menjual dirinya? Atau lebih buruk... menjualku? Aku menatap cermin kecil yang retak. Rambut berantakan. Mata sembab. Lebam di pipi. Tanda di leher berdenyut seolah mengingatkanku bahwa hidupku tidak akan pernah sama. "Ayah... maafkan Nadine," bisikku lirih. Aku merasa seperti sedang melangkah masuk ke dalam mulut singa tanpa tahu apa yang menantiku di sana. Tapi aku tidak punya pilihan. Di dunia ini, orang miskin sepertiku tidak diberikan kemewahan untuk memilih. Aku menutup koperku, menghela napas panjang, merapikan diriku dan keluar dari kamar. Ibu sudah berdiri di sana, menatapku dengan tidak sabar. Di luar, suara klakson mobil mewah terdengar membahana di gang sempit tempat kami tinggal, sebuah pertanda bahwa hidupku yang tenang, meski miskin, telah berakhir hari ini. “Elias, kau sudah menghubungi ponselnya?”“Sudah, Tuan. Ponsel Nona Nadine masih aktif, namun tidak ada jawaban sama sekali. Sinyal selulernya terlacak diam di kediaman utama Moretti. Sepertinya… dia dibawa pergi secara paksa tanpa diizinkan membawa apa pun.” Lukas menarik napas panjang. Pelan. Terukur.Mencoba menekan insting liarnya yang ingin segera membakar habis seluruh Kota Nasan demi menemukan satu orang. “Nadine…” Nama itu keluar lebih lembut. Lebih personal. “Ma Chérie… kenapa kau membiarkan dirimu terjebak dalam kekacauan mereka?" Ia menutup mata sejenak, mendengar kembali suara rekaman yang sempat ia dengar beberapa saat lalu. “Kenapa kau membuatku seperti ini…” Ia membuka mata. Dan sekarang… tidak ada lagi kehangatan di sana. Hanya kegelapan. Ia mengambil ponselnya, menekan nomor Nadine. Nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hingga akhirnya... “Halo, ini Nadine… maaf saya sedang tidak bisa menjawab telepon saat ini…” Suara itu.
Malam di Kota Nasan seharusnya menjadi panggung kemenangan bagi Lukas Kaiser Vance. Segalanya sudah dirancang dengan presisi yang nyaris sempurna, seperti jam tangan Swiss yang tidak pernah meleset sedetik pun. Aula pesta telah disiapkan, tamu-tamu elite dari berbagai belahan dunia sudah berkumpul, kontrak-kontrak siap ditandatangani, dan satu hal yang paling penting: Nadine seharusnya berdiri di sisinya malam ini. Namun kenyataan tidak pernah tunduk sepenuhnya pada kendali, bahkan untuk pria seperti Lukas. Setelan jas bespoke berwarna arang gelap yang dikenakannya masih sempurna tanpa cela. Potongannya tajam, menjahit tubuhnya seperti kulit kedua, dingin, elegan, dan mahal. Setiap detailnya mencerminkan kontrol. Disiplin. Kekuasaan. Tapi di balik semua itu, sesuatu bergerak tidak pada tempatnya. Detak jantungnya tidak stabil. Tidak sinkron. Ada satu nada yang hilang, sebuah hal kecil yang bagi orang biasa mungkin tak berarti, tapi bagi Lukas… itu adalah alarm. Ia berdiri
Dominic berdiri tegak, nyaris tak bergerak. Hanya rahangnya yang mengeras, garis tegas di wajahnya semakin tajam. Ia tampak seperti patung es yang hidup—dingin, tak tersentuh, tak tergoyahkan. Namun di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang bergejolak… sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang yang cukup dekat untuk membaca retakan kecil di permukaannya.Di hadapannya, Matteo berdiri dengan dada naik turun, napasnya berat, matanya menyala seperti api liar yang siap membakar apa pun di sekitarnya. Kata-kata Matteo sebelumnya masih menggantung di udara. Namun, ia tidak membiarkan kata-kata adiknya melukainya, setidaknya tidak secara terang-terangan. “Kau pikir kejujuran dalam kejahatan membuatmu lebih baik?” balas Dominic dingin. Matteo menyipitkan mata, sudut bibirnya terangkat sinis.“Kau hanya seekor binatang yang bangga akan taringnya, Matteo,” lanjutnya dingin, setiap kata diucapkan dengan tekanan yang terukur. “Kau mengira karena kau jujur tentang kebrutalanmu, itu membuatmu
Begitu sosok Nadine menghilang di balik pintu kamar lantai atas dan suara kunci otomatis menggema, atmosfer di ruang tamu villa itu mendadak berubah menjadi medan perang tanpa suara. Udara yang tadi dipenuhi sisa tangisan Nadine kini terasa dingin, menusuk, seperti salju tipis yang turun diam-diam dan membekukan segala emosi yang tersisa. Bahkan nyala lampu kristal di langit-langit seakan meredup, memantulkan bayangan dua pria yang berdiri dalam diam, dua sisi dari kegelapan yang sama. Dominic tidak langsung bergerak.Ia berdiri diam, mematung, menatap ke arah tangga tempat Nadine terakhir kali menghilang. Tatapannya kosong, tapi bukan berarti tanpa isi. Justru di dalam kekosongan itu, ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya—sesuatu yang berdenyut perlahan, seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.Beberapa detik berlalu.Lalu ia berbalik.Dan saat mata abu-abunya bertemu dengan Matteo, tidak ada lagi sisa-sisa kelembutan yang tadi sempat ia tunjukkan pada Nadine.Hilang.Lenya
Tiga hari penuh aku terjebak di dalam kamar ini. Di balik tirai tebal yang selalu tertutup setengah, dinding berlapis marmer yang dinginnya merembes hingga ke tulang, dan perhatian berlebihan yang terasa lebih mirip jeruji emas daripada kepedulian. Demam itu melumpuhkanku, membuat tubuhku lemah, k
Aku tertegun. Nama itu. Miller. Nama yang seharusnya tidak pernah terdengar di kamar ini, di tempat yang bahkan udara pun tunduk pada aturan keluarga Moretti. Namun kini, seperti peluru dingin yang menembus daging tanpa suara, nama itu menghantam dadaku. Christian Alexander Miller. Dan ki
Pagi menyusup masuk ke kamarku dengan cara yang terlalu lembut untuk tempat sekejam ini. Cahaya pucat merembes melalui celah tirai sutra yang berat, menimpa lantai marmer berkilau seperti bayangan cahaya dari dunia yang tidak pernah benar-benar bisa kujamah lagi. Kamar mewah ini, dengan ukiran ema
Dominic tidak marah. Ia justru mengangguk tipis. "Itu cara kerja seorang Moretti yang cerdas, bukan binatang yang hanya tahu cara menggigit?" balas Dominic dingin. “Dan kau,” balasnya tenang, “selalu terlihat brutal di luar, tapi rapuh dalam keputusan. Itu yang membuatmu berbahaya.” Kalimat it
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Calificaciones
reseñasMás